Rabu, 28 Februari 2018

PARTAI POLITIK YANG POPULIS


Pendahuluan

          Memilih untuk berpolitik praktis melalui organisasi partai politik, harus selalu siap untuk melaksanakan segala kepentingan tugas dan tanggungjawab ke-partai-an, sesuai beban jabatan yang disandang dalam organisasi partai.

Berpartai untuk berpolitik praktis, harus memahami latar belakang dan alasan untuk tujuan apa, dan apa yang dapat dilakukan baik dalam jabatan atau hanya selaku anggota biasa, maupun sekadar simpatisan. Keinginan untuk berpartai secara aktif haruslah bisa ikut berkontribusi melalui pernyataan pikiran, pendapat, dan rasa, guna berperan aktif bersama-sama para kader dan simpatisan partai yang lain memajukan dan menguatkan peran maupun kapasitas partai, hingga menjadikan partai politiknya menjadi partai populis di mata publik.

Tentunya bukan sesuatu yang mudah, semudah membalik telapak tangan, akan tetapi kesungguhan niat dan komitmen kerja keras yang konstruktif dan taktis dalam mengelola potensi partai, baik di dalam maupun di luar struktur partai di semua tingkatan hingga pada tataran konstituen serta publik atau masyarakat. Adanya perbaikan dan perubahan berarti, sebagai usaha mewujudkan keinginan dan cita-cita menjadikan partai yang akrab dikenal dan disukai luas, agar nantinya berdampak positif kepada kader partai dapat terpilih sebagai legislator dalam pemilihan umum(Pemilu).  


Fungsi Partai
Politik itu sifatnya dinamis, dan partai politik pun berperan sebagai pelaku utama pengarah haluan perpolitikan yang tentu akan mewujudkan warna dan bentuk politik negara Indonesia. Partai politik sebagai political recruitment memiliki posisi yang kuat dan strategis menentukan haluan negara, berperan dalam pergantian kepemimpinan politik di lembaga negara, utamanya lembaga legislatif dan kepemimpinan di kelembagaan eksekutif.
Secara ilmiah menurut Prof.Meriam Budihardjo)1, partai politik memiliki 4(empat) fungsi, yakni ;
1         .      Partai sebagai sarana komunikasi politik
2         .      Partai sebagai sarana sosialisasi politik
3         .      Partai sebagai sarana rekruitmen politik
4         .      Partai sebagai sarana pengatur konflik
Pelaksanaan fungsi partai dimaksud, dibutuhkan kepemimpinan yang mampu mengatur ritme operasional partai sehingga dengan gagasan serta tawaran penataan partai secara internal, dimulai dengan proses rekruitmen politik. Demikian juga secara eksternal, yakni proses yang berhubungan langsung dengan basis pendukung atau konstituen sebagai pendukung partai.
Di dalam dinamika politik modern, partai politik dapat diposisikan sebagai institusi sosialisasi politik, yang mampu merubah dan membawa kehidupan sosial kemasyarakatan searah tujuan berbangsa dan bernegara, dalam mana sebuah negara merdeka. Karena partai politik sebagai suatu organisasi paling mapan, mampu berfungsi sebagai penyalur kepentingan politik dalam sebuah sistem politik modern, yaitu menjadi corong bagi lisan rakyat agar suara rakyat mampu tersalurkan dan diimplementasikan dalam pemerintahan di tingkat negara, atau pemerintahan di bawahnya, provinsi, maupun kabupaten/kota.

Konsolidasi dan Penguatan Idiologi Partai
Membangun dan memperjuangkan sebuah partai tidak semudah membalikan telapak tangan,  faktor phisikologis, maupun sosiologis masa atau publik sangat menentukan seberapa mampu dan pantas diterima oleh publik dan mendapatkan keanggotaan serta konstituen partai yang kalau bisa yang benar-benar loyal dan fanatik. Kematangan strategi konsolidasi kader struktural partai hingga tataran keanggotaan dan konstituen, menjadikan partai kuat dan matang untuk berkiprah dan berjuang dalam kanca perpolitikan praktis.
Tentunya, dibutuhkan kerja keras serta upaya maksimal guna menjadikan partai sebagai partai yang populis di mata dan di hati rakyat, yang tanggap dan selalu peduli secara aktif memberi solusi terbaik dan maksimal bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa dan negara.
Sejatinya, keberadaan sebagai partai politik, adalah jembatan penghubung antara rakyat dan pemerintah, karena partai politik adalah salah satu pilar terpenting dalam negara demokrasi seperti negara Indonesia pasca-reformasi tahun 1998. Disamping sebagai jembatan penghubung atau sarana komunikasi politik, juga berfungsi memegang dan mempertahankan kekuasaan, guna menyalurkan atau mewujudkan visi, misi, dan program-program partai yang telah dirancang. Berfungsi menyebarluaskan dan menyalurkan nilai-nilai, norma-norma, aturan-aturan, dan kebiasaan-kebiasaan berpolitik yang benar kepada masyarakat.
Idiologi partai yang tidak bersifat sektarian, lebih membebaskan kader partai untuk bersosialisasi dan mengambil peran signifikan tanpa harus dibatasi hal-hal yang bersifat sosiologis maupun idiologis di tengah masyarakat, karena suatu partai politik  dibentuk untuk semua, siapa saja, di mana saja. Tentu kebebasan itu dilakukan secara beretika, santun, bermoral, taat azas dan aturan partai, maupun hukum.
Penguatan posisi dan peran partai ke depan, melalui aksi populis haruslah yang benar-benar peduli dengan kepentingan rakyat, dibutuhkan bagi penguatan demokrasi bangsa. Memberikan atau mencontohkan pendidikan politik yang baik dan positif. Membangun manajemen kepartaian secara modern, hingga mampu dan berani tampil paling depan menyelesaikan hal-hal krusial, baik di internal partai  maupun di masyarakat.
Cerdas dan tanggap mengelolah konflik politik di masyarakat, menjadikannya energi politik positif, mengutamakan kepentingan persatuan dan kebersamaan membangun kekuatan politik bangsa, demi kebaikan dan kesejahteran umum semua lapisan di masyarakat. Idiologi partai menginspirasi bagaimana mengelola keberagaman dan perbedaan menjadi sinergisitas partai.
Untuk hal dimaksud di atas, dibutuhkan sumber daya kader partai yang  tangguh dengan kualitas dan moral individual yang pantang mundur dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan  tantangan dan hambatan.
Beban yang tidak ringan, akan tetapi dengan kesepakatan bersama untuk membangun soliditas sesama kader, antara kader dengan konstituen, apapun itu bukan sesuatu yang sulit, apalagi hingga harus memilih langkah negatif mengabaikan tanggung jawab, membiarkan kesempatan mengambil peran yang berdampak menguntungkan dan membesarkan inftruktur politik partai maupun nama baik partai.

Konsolidasi peran dan kekuatan jaringan partai dalam struktur maupun di luar struktur partai, harus terus menerus dibangun, baik melalui kelembagaan partai politik, peran legislasi di lembaga legilatif, tugas kepartaian di lembaga eksekutif, dan dalam peran serta di tengah  masyarakat.  Setiap kader partai diharapkan perannya agar selalu siap berbuat kebaikan, dan  partai menghasilkan elite politik yang selalu siap menjadi tempat untuk menampung dan meneruskan keluhan masyarakat bangsa.  Mampu memulihkan dan mewujudkan keluhan di masyarakat sesuai yang diharapkan, bahkan melebihi yang diekspektasikan.

Kebersamaan yang solid, dengan landasan idiologi partai yang melintas batas dinding sosio-kultural dan politik di masyarakat Indonsia, adalah kunci dan modal motivasi tak terhingga, guna membesarkan peran dan nama baik partai melalui kepedulian dan aksi cepat tanggap, kapan pun, di mana pun, tidak ada beda siapa pun. Berharap akan berefek pada adanya polarisasi publikasi  tentang partai yang selalu peduli kepentingan apapun aspirasi rakyat. Menjadikan posisi partai politik yang akrab dengan pandangan positif di masyarakat, partai bakal dikenal dekat dan disukai, ya populis tentunya.



Pemberdayaan Partai

          Setiap Partai Politik memiliki idiologi sebagai landasan dan pedoman perjuangan partainya, apakah sebagai partai yang hanya menghimpun masa, atau sekaligus sebagai partai yang menciptakan kader. Suatu organisasi partai politik, menurut sifat dan orientasi organisasinya memiliki dua jenis model partai, yaitu sebagai partai lindung (patronage programatic partie)2 dan partai idiolog atau partai azas (Weltanchauungs Partie atau programmatic partie)3.

Dari kombinasi sifat dan aliran partai yang dianut bila seperti disebutkan di atas, maka sangat dimungkinkan suatu partai politik tetap akan bertahan dan mampu berkembang seterusnya. Sehingga untuk menjadikannya partai populis, bermodalkan landasan model sebagai partai lindung dan jelas idiologinya, selanjutnya bagaimana membuat partai dekat dengan masyarakat. Kedekatan dengan melalui program stategis, yaitu pemberdayaan politik yang terprogram dan dilakanakan secara kontinyu.

Hal ini sebagai jawaban bagaimana suatu oraganisasi partai politik dapat berevolusi menjadi bagian dari kekuatan rakyat dan benar-benar dapat mewakili kepentingan rakyat dalam keterwakilan politik, sekaligus dalam tanggung jawab sebagai partai yang berbasis kader.
Dalam konsep sebuah partai yang diragukan keberpihakannya kepada rakyat, bakal menuai sinisme, maupun berakumulasi menjadi kekecewaan konstituen terhadap partai, bahkan hingga berakibat mutasi(perpindahan) basis konstituen kepada partai lain yang dianggap lebih menjamin hak dan segala kebutuhan konstituen. Sebagai partai, akan mengalami distori kuantitas kader dan konstituen, selanjutnya berimbas kepada perolehan jumlah suara disaat pemilu nanti.

Untuk itulah gagasan perubahan wacana pemberdayaan politik kader dan konstituen atau arus bawah, hendaknya ditangkap dan dijadikan suatu gagasan perubahan dalam intern orientasi program-program partai.
Gagasan perubahan pemberdayaan politik arus bawah sudah harus dilakukan, untuk mendorong transformasi sosial, dimana konstituen maupun masyarakat diberikan peran utama. Pada saat bersamaan proses ini membuka kemungkinan terbukanya ruang dialog maupun refleksi kritis, berkaitan dengan kapasitas dalam meluaskan pemahaman-pemahaman kejangkauan politik yang lebih luas)4.

Sangat dibutuhkan “kemampuan komunikasi para aktor)4, caranya dengan membuka ruang publik yang bebas, yang dapat menjamin kemungkinan diskursus yang tidak terdistorsi. Kemampuan ini secara tidak langsung menunjukan hubungan sosial yang non represif yang memungkinkan para aktor menjalankan politik bebas dari tekanan baik phisikolog maupun fisik, artinya mereka membutuhkan “keterbukaan dan perluasan ruang publik)5. Pada akhirnya pemberdayaan politik arus bawah akan terbentuk kemandirian politik, yang kemudian direfleksikan dalam seluruh ruang kehidupan, baik politik, ekonomi, juga budaya. Pada saatnya bila tujuannya ini tercapai, akan dengan sendirinya kesadaran politik akan menggiring masyarakat secara emosional terhadap upaya bagaimana menjalankan roda kinerja partai.

Masyarakat akan melihat, siapa yang melakukan apa bagi mereka, hingga pada saatnya ketika suara mereka dibutuhkan dalam hajatan demokrasi pemilihan umum, suaranya tidak akan kemana-mana.
Sesuatu yang tidak instan adanya, melainkan membutuhkan kinerja sistematis dari seluruh elemen organisasi atau perangkat partai.
Hal itu dilakukan melalui konsep pemberdayaan yang matang, terjadwal, terukur, dan kontinyu pelaksanaannya, sehingga perkembangan dan pencapaian hasil mencapai target.
     
Beberapa langkah pemberdayaan kami sarankan dan bila perlu dijadikan sebagai visi dan misi partai, antara lain ;

1.   Penguatan struktur partai di semua tingkat kepengurusan partai, mulai dari   tingkat  cabang,anak cabang, ranting hingga jaringan konstituen partai, yang   bertujuan untuk  menjadikan personal pengurus yang sekaligus adalah kader         partai, mampu  menjadi kelompok penggerak di partai dan di masyarakat.
2.   Kapasitas dan Jaringan struktural kader partai difungsikan dan diintensifkan   secara  maksimal memberikan komitmen terhadap kebijakan-kebijakan yang   akan  diperjuangkan dalam upaya memajukan masyarakat.
3.  Menyelenggarakan pendidikan politik, agar masyarakat memiliki kesadaran   politik,  hingga dapat membangun kedekatan emosional dengan konstituen.
4. Sistem rekruitmen politik yang jelas, bertujuan untuk menghasilkan kader yang berproses, kritis, kreatif, dan loyal terhadap partai, dan mencegah kader yang instan,  lebih cendrung pragmatis, dan juga mencegah pembusukan di dalam partai.
5.   Bertekad memperbesar rekruitmen dan kuota keterlibatan perempuan dalam tingkatan  kepengurusan, maupun keterwakilan perempuan  dalam pencalonan legislatif.
6. Penguatan kapasitas publikasi aktifitas partai dan intens memanfaatkan media  informasi, sebagai sarana sosialisasi politik dan pendidikan politik ke masyarakat,  untuk meningkatkan eksistensi dan publisitas aktifitas partai kepada publik.

Selanjutnya masih dapat dirincikan melalui musyawarah untuk disesuaikan dengan konteks kebutuhan wilayah dan konstituen yang hendak disosialisasikan dan diberdayakan oleh partai menurut tingkatan dan kebutuhannya.




Penutup

Sebuah partai politik, sangat bergantung pada sistem penataan organisasi partainya, dan mampu membaca dan menghimpun aspirasi publik, kemudian dijadikan pedoman langkah dan perjuangan partainya.


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            Depok, Januari 2018

                                                                                                                            Penulis

                                                                                                Muhammad Thaha Pattiiha)*


--------------
Referensi ;

1)     Prof.Meriam Budihardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1997, hal.163-164
2)     Op.Cit, Prof Meriam Budihardjo
3)     Op.Cit, Prof Meriam Budihardjo
4)     J. Habermas, Communication and the Aevolution of Societ, New York, Beacon Press, 1979
5)     Berbagai sumber

--------------------------------------------------------------------------------------------------
)* Penulis, pernah 20 tahun di sebuah Partai Politik sebagai Pengurus Harian Tingkat Kota dan Provinsi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini