Alifuru Supamaraina

Monday, August 20, 2018

Surat Terbuka dari Maluku kepada Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo

Kepada Yth

Ir Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia

Putra bangsa yang saya banggakan
Presiden yang saya hormati…

17 Agustus 2018 tepat 73 tahun perjalanan bangsa ini, NKRI telah dinyatakan merdeka artinya telah terbebas dari segala bentuk penjajahan.
Ijinkan saya memberitahu kepada Bapak Presiden bahwa hari ini masih ada sekumpulan anak bangsa yang sangat merasakan belum adanya sebuah kemerdekaan. Anak bangsa yang saya maksud adalah bangsa MALUKU yang sampai detik ini masih tetap setia dalam bingkai NKRI walaupun segala bentuk ketidakadilan dan kezhaliman negara selalu mereka dapatkan.
Bapak Presiden H Ir Joko Widodo yang saya banggakan, sekali lagi ijinkan saya untuk sedikit mengingatkan apa yang pernah disampaikan atau diucapkan pendiri bangsa ini, Sang Proklamator, Bapak Ir Soekarno, 64 tahun silam:
“TERIMA KASIH KEPADA RAKYAT MALUKU ATAS KESETIAANNYA KEPADA CITA CITA NASIONAL.
INDONESIA TANPA MALUKU,INDONESIA BUKANLAH INDONESIA”
-17 AGUSTUS 1954-
Dari perkataan Presiden Soekarno saat itu, maka sudah dipastikan Soekarno sangat tahu arti Maluku bagi NKRI ini. Namun para pemimpin setelah Soekarno telah melupakan pernyataan penuh makna dari beliau.
Bapak Presiden yang saya banggakan,sebagai generasi MALUKU, tentunya saya sangat miris dan tidak dapat diterima,jika MALUKU yang kaya akan SDA namun MALUKU tetap miskin dan menderita.
Terpilihnya Bapak Joko Widodo sebagai Presiden ke-7 negara ini merupakan sebuah anugrah ALLAH SWT, TUHAN YANG MAHA KUASA, serta kepercayaan rakyat Indonesia yang mana terdapat pula masyarakat Maluku dan tentunya Bapak Presiden tidak lupa kalau MALUKU selain merupakan salah satu dari delapan daerah pendiri bangsa ini, Maluku juga merupakan salah satu daerah yang berhasil memenangkan Bapak Joko Widodo saat Pilpres 2014 silam.
Bapak Presiden yang sangat saya banggakan,
Bukan menjadi sebuah rahasia lagi,10-20 tahun kedepan MALUKU dengan segala kekayaan SDA akan mampu membiayai NKRI ini…namun untuk kesekian kali ijinkan saya mengingatkan Bapak Presiden terkait:
1.PERPRES 131 TAHUN 2015 YANG TELAH DIUNDANGKAN SECARA RESMI TERTANGGAL 9 NOVEMBER 2015,DIMANA DELAPAN KABUPATEN YANG ADA DI MALUKU DITETAPKAN SEBAGAI DAERAH TERTINGGAL (DITINGGALKAN) LIMA TAHUN KEDEPAN.
Apakah ada solusi yang coba negara hadirkan untuk persoalan ini, sama sekali tidak ada, jika ada pasti dengan mudah atas nama keadilan dana perimbangan daerah untuk Maluku sudah selesai dibahas.
APAKAH INI ADIL BAGI MALUKU????
2.SELAMA HAMPIR EMPAT DEKADE, RAKYAT MALUKU MELALUI PEMERINTAH DAERAH,MEMPERJUANGKAN YANG NAMANYA “TUNJANGAN KEMAHALAN” NAMUN TIDAK PERNAH DIRESPOND OLEH NEGARA/PEMERINTAH PUSAT.
APAKAH INI SEBUAH KEADILAN BAGI MALUKU????
3. LUAS WILAYAH MALUKU YANG MANA 93% ADALAH LAUTAN DAN 7% ADALAH DARATAN,
PERLU DIINGAT BAHWA 93% WILAYAH LAUT MENJADI SALAH SATU SUMBER PENDAPATAN TERBESAR BAGI NEGARA INI,hanya saja dalam penghitungan DAU dalam APBN untuk MALUKU, 93% ini diabaikan begitu saja,sehingga 7% luas daratan yang dipakai sebagai indikator hitungan.
APAKAH INI YANG DINAMAKAN SEBUAH KEADILAN????
Bapak Presiden H Ir Joko Widodo,pada momentum Perjalanan bangsa dalam 73 tahun kemerdekaan, saya dengan bangga berani mengatakan bahwa tidak ada satupun daerah di negara ini yang begitu mencintai serta menjunjung tinggi NKRI melebihi MALUKU, walaupun berbagai macam bentuk ketidakadilan dan kedzhaliman hingga detik ini selalu masih melekat pada Rakyat MALUKU dan hingga detik ini juga MALUKU masih tetap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari NKRI.
Indonesia boleh merdeka namun rasanya Maluku masih terus dijajah oleh segala regulasi-regulasi yang sangat tidak memihak pada kepentingan masyarakat MALUKU.
Untuk itu pada MOMENTUM KEMERDEKAAN kali ini, saya meminta bangsa ini melalui Bapak Prediden Joko Widodo untuk lebih memperhatikan Maluku.
BERIKAN APA YANG SEHARUSNYA MENJADI MILIK RAKYAT MALUKU.
Dalam pasal 33 ayat 3 UUD1945 dengan jelas menyatakan;
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Tahukah bapak, bahwa dalam sebulan terakhir di Maluku tepatnya di Kabupaten Maluku Tengah, telah terjadi bencana kelaparan hingga mengakibatkan korban jiwa. Apakah negara sadar kontradiksi yang terjadi antara amanat konstitusi dengan realitas hari ini?
BERIKANLAH KEADILAN BAGI RAKYAT MALUKU, karena sangatlah tidak wajar dengan segala yang dimilik namun MALUKU dibiarkan miskin maupun dimiskinkan, dibuat tertinggal ataupun ditinggalkan.
“JANGAN PERNAH TINGGALKAN MALUKU,SETELAH MILIK MALUKU DIRAMPAS”
Bapak Presiden yang saya banggakan,,,
Kesenjangan merupakan hasil dari ketidakadilan dan ketidakadilan itu sendiri merupakn akar dari perpecahan yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.
Jangan pernah salahkan rakyat Maluku jika hari ini ada suara maupun nyanyian merdeka,sebab Maluku sungguh dimarginalkan. MALUKU BAGAIKAN ANAK HARAM DI IBU PERTIWI INI.
Untuk itu saya sebagai generasi muda Maluku menyurati Bapak Presiden Joko Widodo agar kiranya momentum Kemerdekaajvyang ke-73 tahun ini, MALUKU DAPAT DIPERLAKUKAN SECARA ADIL,SEADIL-ADILNYA.
TERAKHIR yang ingin saya sampaikan, “JANGAN PERNAH MEMBIARKAN PELUANG TERULANGNYA KEMBALI SEJARAH MASA LALU DALAM VERSI YANG BERBEDA”.
Akhirnya saya ucapkan DIRGAHAYU NKRI YANG KE 73 Tahun. Jadikan MALUKU SEJAHTERA, MALUKU BERMARTABAT BUKAN MALUKU KAYA, MALUKU MERANA.
Terima kasih, salam sejahtera

Ambon,16 AGUSTUS 2018
KOORDINATOR PAPARISA PERJUANGAN MALUKU
ADHY FADHLY

Thursday, August 16, 2018

Poco-poco dan Derita Sang Pencipta ; Arie Sapulette

Prolog

Saat sedang membersihkan dan merapikan lemari, terdapat satu kotak kecil yang berisi sejumlah compact disk(CD) dan digital vidio disc(DVD) berisi lagu-lagu Maluku. Satu per satu dilihat dan dirapikan. Rencananya akan diserahkan ke orang lain, karena sudah lama juga di dalam rumah tidak lagi digunakan, sudah digantikan dengan musik langsung dari telepon pintar. Beta tertarik untuk melihat satu album CD kompilasi lagu berirama pop melayu, yang pada sampulnya tertulis lagu poco-poco, dinyanyikan oleh Yopi Latul. Lagu tersebut sudah lama tidak diperdengarkan di dalam rumah. Kecuali dua hingga tiga tahun lalu masih sering diputarkan, baik untuk sekadar didengarkan atau sekalian untuk berjoget atau bergoyang gaya poco-poco.

Selama itu pula, beta tidak pernah tau siapa pencipta lagunya dan cerita latar-belakang terciptanya lagu tersebut. Kadang seperti itu, mungkin juga sama dengan sebagian orang lain, yang cenderung hanya tau sebuah lagu dan siapa penyanyinya, tetapi jarang mau tau siapa pencipta lagunya. Seperti itu juga yang terjadi dengan lagu poco-poco. Sebuah lagu etnik khas kepulauan Maluku dan sekitarnya, termasuk Sulawesi Utara dan Papua, tetapi kemudian menjadi dikenal dimana-mana di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.


The Largest Poco-poco Dance

Pada sebuah stasiun televisi nasional, ada siaran berita pagi yang menayangkan sebuah acara senam masal di tengah kota Jakarta. Pagi itu, hari minggu 5 Agustus 2018, terlihat udara cerah disepanjang jalan Jenderal Sudirman, terus Jalan M.H. Thamrin, hingga masuk ke area seputaran Monumen Nasional(Monas) Jakarta. Berjejer dengan rapi dan berseragam olah raga yang sama model dan sama warna, ribuan orang bersama-sama sedang bersenam dalam gaya menari dengan satu gerak tari dan irama lagu yang sama, poco-poco.

Sebagaimana yang dilaporkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Iman Nahrawi sesaat sebelum acara dimulai, kegiatan itu diikuti peserta sebanyak 65.000 orang, dan 1.500 Instruktur, serta 5.000 orang Panitia pendukung, sebagaimana diberitakan secara online oleh beritahati.co.  Ternyata pula tidak itu saja, viva.co.id melaporkan bahwa ribuan orang narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan(LP) di seluruh Indonesia, ikut berpartisipasi tetapi dimasing-masing lokasi LP. tribunnews.com merincinya lagi dengan Tentara Nasional Indonesia(TNI) 10.000 orang, Polri 5.000. Kementerian/Lembaga 6.700 orang, siswa SLTA se-DKI Jakarta 27.000 orang, Guru olahraga SLTA se-DKI 3.000, Satuan Kerja pemerintah Daerah DKI 1.000 orang, 10.500 orang dari lingkungan RT/RW dan perumahan, sanggar senam dan fitness centre, dan lain-lain.

Poco-poco dan  Derita  Sang Pencipta ; Arie Sapulette

Peserta The Largest Poco-poco Dance depa PP.Sarinah Jalan Thamrin Jakarta( Sumber foto ;  www.brilio.net )

Mereka menari sekaligus bersenam dalam gaya tarian poco-poco. Terdapat Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dan beberapa Menteri Anggota Kabinetnya, Gubernur DKI Jakarta, dan berbagai kalangan pejabat, pengusaha, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Keramaian itu direncanakan dan dimaksudkan untuk selain menyambut perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, juga sekaligus dalam usaha memecahkan Rekor Dunia Senam. Diberi label The Largest Poco-poco Dance, dengan jumlah peserta terbanyak dan serta barisan peserta terpanjang.

Semua orang dalam satu komando dan satu gerak yang sama, peserta secara harmonis sama-sama menari dalam suasana riang dan gembira, dinamis, dan tentu sangat positif untuk kesehatan tubuh dan mental. Bisa seperti itu karena hal itu dihasilkan dari motivasi irama sebuah lagu yang menyatu dengan gerak yang tercipta bersama lagu tersebut, lagu poco-poco dan tarian(joget) poco-poco.

Napi peserta The Largest Poco-poco Dance di LP Cipinang Jakarta

Napi peserta The Largest Poco-poco Dance di LP Cipinang Jakarta(Sumber foto; Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham)

Tragisnya Nasib Pencipta Lagu Poco-poco

Adalah Arie Sapulette, seorang putra Maluku yang lahir 58 tahun lalu di kota Ternate, dialah sebagai pencipta lagu dan sekaligus goyang poco-poco.
Disaat keramaian yang penuh kegembiraan oleh ribuan orang sedang menarikan gaya goyang poco-poco dan diiringi lagu poco-poco, sebaliknya sang “maestro poco-poco” sedang meraung-raung, dan mengurung diri di dalam kamar kecil dan gelap berukuran 3 meter x 4 meter di lantai dua, pada sebuah rumah sederhana di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kenyataan yang terjadi ketika ditemui pewarta dari kompas.id dan seperti diberitakan, bahwa Arie saat ini sedang berada dalam kondisi kesehatan penuh penderitaan dan sangat menyedihkan, Arie menderita penyakit yang disebut skizofrenia.


Skizofrenia bukan penyakit gila dan bukan tidak dapat disembuhkan. Sebagaimana beta kutip dari hellosehat.com Penyakit skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan (berempati), dan berperilaku. Orang dengan skizofrenia mungkin tampak seperti telah kehilangan kontak dengan realitas. Orang dengan skizofrenia akan sulit membedakan mana dunia nyata dengan dunia khayalan. Ini karena gejala penyakit skizofrenia sering mencakup pengalaman psikotik, seperti mendengar suara-suara tak berwujud, halusinasi atau delusi.

Melalui, Ayah Arie, Zefnath Sapulette (84 tahun), diceritakan bahwa putranya sering menghindar saat ada orang yang tidak dikenalnya datang ke rumahnya. Arie dirawat dan dipenuhi kebutuhan hidupnya oleh sang ayah, seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat, dan adik Arie, Ferry Sapulette (56 tahun), yang bekerja serabutan. Sementara itu anak dan istri Arie sudah tidak lagi tinggal bersama, saat Arie mulai sakit dan walau sudah diusahakan dengan dibawa untuk dirawat di beberapa rumah sakit jiwa, penyakit Arie tetap saja belum juga sembuh. Sehingga diputuskan untuk dirawat saja di dalam rumah.

Arie Sapulette adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, pendidikannya sejak dari SD hingga SMA di Ternate, dan melanjutkan ke Akademi Bahasa Asing di Jakarta. Kemudian kembali ke Ternate, dan menjadi tenaga honorer di kantor Depnaker. Selama sepuluh tahun bekerja, dia tidak juga dapat diangkat sebagai pegawai tetap. Sejak itu Arie mulai sering menjadi pemurung dan pemarah. Pada tahun 1990, Arie berangkat ke Jakarta, menyusul kakaknya Melky Sapulette. Setahun kemudian menyusul adiknya Ferry Sapulette. Bersama saudara sepupu mereka Roni, dibentuk group band bernama Nanaku Group. Sementara kondisi Arie setelah sibuk dengan musik menjadi lebih baik, tidak lagi pemurung dan pemarah.


Riwayat Poco-poco

Lagu poco-poco merupakan lagu dari album pertama Nanaku Group yang diproduksi yaitu PT Kie Raha Intraprindo (KRI), perusahaan rekaman sendiri yang juga mereka bentuk dan Melki sebagai Direktur. Lagu poco-poco menjadi sangat laku di industri musik Indonesia. Pada tahun 1993, mereka lalu masuk studio rekaman di Gemini Record. Lalu pada tahun 1995, Yopi Latul menyanyikan kembali lagu poco-poco, dan hasilnya pun semakin dikenal masyarakat secara luas. Selain itu mereka juga menghasilkan beberapa album lagu pop dan lagu rohani.

Arie yang menciptakan lagu poco-poco, disesuaikan dengan perkembangan hidup anak muda tahun 90-an, yang menceritakan seorang anak bayi mungil yang lucu dan menjadi seorang gadis cantik yang diistilahkan dengan bahasa “gaul” orang Manado maupun Ternate yaitu ; poco-poco. Sementara gerakannya, terinspirasi dari gerakan tentara yang sedang senam pagi. Gerakan senam yang sangat dikenal oleh Arie, ketika masih bersama orang tua – bapaknya yang tentara, dan saudara-saudaranya tinggal di asrama TNI-AD di Ternate.

Irama Lagu dan musik serta gerak tarian poco-poco, sangat dinamis, lincah, indah dan menyenangkan. Mendengar lagu itu, kita seperti diajak untuk tetap tidak diam, selain itu syair lagunya pun menggambarkan karakter sosial masyarakat umumnya, khususnya tentang “nakal”nya mata laki-laki ketika memandang seorang perempuan dengan kriteria yang sungguh menarik. Gerak tari poco-poco yang dilhami gerak senam tentara, boleh jadi pada tentara terilhami juga tari Yospan dari Papua, seperti juga goyang(joget) Wayase dari daerah Maluku bagian tengah. 
  
Sangat menyenangkan dan menggembirakan, dan tentu monumental karena fenomena yang berkembang, menjadikan lagu dan tari atau goyangan poco-poco masih tetap saja diminati masyarakat luas dari berbagai elemen. Itu ungkapan yang pantas untuk karya cipta lagu dan goyangan tari poco-poco yang diciptakan Arie Sapulette, yang dipopulerkan pertamakalinya bersama Nanaku Group di awal tahun 90-an. Sayangnya, harga pendapatan secara finansial atas karya cipta itu tidak sebesar nilai penggunaan dan kegunaannya. 

Seperti yang diceritakan Ferry lebih lanjut kepada kompas.id, sekalipun mereka merasa bangga karena lagu poco-poco menjadi terkenal dan disukai banyak orang, akan tetapi kegiatan-kegiatan besar yang menggunakan lagu dan gerakan poco-poco, mereka tidak pernah dilibatkan. Seiring pula maraknya aksi pembajakan lagu poco-poco, yang berarti royalty pun tidak maksimal didapat. Aktifitas musik mereka pun kian meredup, dan sepertinya hal itu ikut mempengaruhi kejiwaan Arie, karena kemudian kondisi kesehatan Arie kembali lagi seperti sebelumnya, hingga semakin parah sebagaimana sekarang ini.

Menurut Ketua Umum Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) HakCipta Karya Cipta Indonesia, menyatakan bahwa Arie masih ada setiap tahun mendapatkan hak royalty dari semua hak cipta lagu-lagunya sebesar Rp 3 juta, tetapi diterima oleh istrinya Sondang Paulina.


Epilog

CD poco-poco beta pisahkan dari CD dan DVD yang lain, diletakkan kembali ke lemari, urung untuk “diungsikan”. Setidaknya beta seng pernah kenal dan bertemu dengan sang penciptanya Arie Sapulette, tetapi sebagai bentuk penghargaan walau sekadar menyimpan saja CD berisi lagu poco-poco tersebut. CD dimaksud, setelah diperhatikan cover dan labelnya ternyata juga bukan yang asli, alias bajakan. Padahal dibeli lebih dari sepuluh tahun lalu pada sebuah toko musik di kawasan pasar Kranji kota Bekasi, bukan di kaki lima.

Sebuah karya cipta, seperti lagu poco-poco, hanya contoh fenomena yang menggambarkan masih minimnya apreasi yang pantas untuk sebuah penciptaan, di Indonesia.

Arie Sapulette sebagai pencipta dan serta Yopi Latul sebagai penyanyi lagu poco-poco, sempat diberikan penghargaan oleh Menpora atas nama Pemerintah Indonesia, pada saat penyelenggara The Largest Poco-poco Dance. Penghargaan “biasa”, yang tidak sebanding dengan nilai dan kegunaan penciptaan dan tidak berarti apa-apa untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan  yang sementara diderita Arie Sapulette, sang pencipta lagu dan tarian poco-poco.

                                                                                                                   Depok, 10 Agustus 2018
                                                                                                  Penulis
                                                                                                                 M. Thaha Pattiiha )*

--------------------------------
)* Pemerhati Politik, Sosial, dan Budaya
- beta ; saya, aku
Sumber Bacaan ;
-        https://kompas.id/baca/utama/2018/08/09/nasib-tragis-pencipta-lagu-poco-poco/
-        https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20180809/281535111814007
-        http://www.beritahati.com/berita/48242/Presiden%2BJokowi%2BSenam%2BPoco-Poco%2BRakyat%2BSehat%2BNegara%2BKuat
-        https://www.viva.co.id/berita/nasional/1061389-ratusan-ribu-napi-ikut-pecahkan-rekor-dunia-poco-poco
-        http://jakarta.tribunnews.com/2018/07/21/65000-orang-bakal-menari-poco-poco-secara-kolosal-sambut-asian-games

Sunday, August 5, 2018

TUKEL, ITU ORANG MALUKU

TUKEL, ITU ORANG MALUKU
 Ilustrasi(Sunset in Ambon bay) pic.doc

Tukel, sebagai istilah untuk menyebut suatu kebiasaan yang seringkali dilakukan dalam hal berbicara apa saja dengan semangat tinggi tetapi sekadar mengungkap hal-hal yang belum tentu benar, cenderng tidak memiliki tujuan yang bermanfaat atau positif. Tentu apa yang dibicarakan tidak dapat dibuktikan kenyataan atau realisasinya. Sama saja sifatnya dengan istilah yang sudah umum yaitu omong kosong.
Istilah khas di kalangan masyarakat Maluku, untuk menyebut orang yang sering berbicara, bercerita, atau menebar omongan kosong sedemikian, disebut "tukang #kewel", disingkat #Tukel. Sebutan Tukel digunakan untuk mengatakan atau menanggapi orang lain yang banyak bicara, terbiasa bercerita panjang lebar tentang sesuatu, bahkan seakan tau banyak hal, tetapi pada kenyataan di akhirnya, tidak pernah terbukti kebenarannya, atau bukan sesungguhnya.
Sudah lama menjadi istilah umum di kalangan sesama Orang-Maluku. Kadang sebagai candaan menyebut seseorang pada sesama teman, tetapi juga gelar yang cenderung bersifat negatif untuk menghakimi seseorang yang sering kali mengatakan sesuatu yang hanya omong kosong, karena hanya sebatas itu tanpa bisa dibuktikan atau direalisasikan. Bahkan boleh juga disematkan istilah itu kepada yang orang menganggap diri merasa paling mengetahui segala sesuatu, yang ketika dipertanyakan lebih rinci atas apa yang dibicarakan, yang bersangkutan akan menghindar dan berbelit jawabannya atau asal bisa menjawab.
“Suka ba puji orang pung hal(barang), atau suka makang puji deng orang pung barang”. Kalimat yang sering terucap dikalangan masyarakat katong Orang-Maluku. Menggambarkan suatu bentuk kebiasaan yang harusnya dipandang buruk, dan tidak boleh lagi sampai menjadi “budaya”. Harus ditiadakan karena merupakan kebiasaan yang berpangkal pada menganggap segala sesuatu sekalipun itu bukan milik sendiri tetapi disebut seakan menjadi miliknya juga.
Karakteristik kehidupan yang terbentuk dari keberadaan lingkungan yang ditempati, seperti di kepulauan Maluku, dengan ketersediaan sumber daya alam di darat maupun di laut, telah membentuk sifat penghuninya. Lebih banyak waktu luang dari kehidupannya yang meminimalkan usaha saling berburu dan bersaing. Berlebihan dari yang dibutuhkan, berpengaruh dalam membentuk sifat keseharian, termasuk banyaknya waktu luang. Pola kehidupan yang terbentuk dari ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, telah menata pola hidup merasa segala sesuatu dianggap muda. Mudah mendapatkan sesuatu, karena tersedia lebih dari yang dibutuhkan.
Terdapat sisi humanis yang positif dari “budaya” tukel, yang boleh jadi telah menjadi bagian dari pembentukan karakter Orang Maluku, karena terbiasa banyak bicara, telah menjadikan budaya bicara terus terang dan spontan. Mengatakan sesuatu secara langsung, apakah itu menyampaikan rasa marah, pendapat terhadap ketidak setujuan, yang menjelaskan Orang Maluku tidak suka mendiamkan isi pikiran dan pendapatnya, apalagi menyimpan di hatinya sebagai rasa dendam.
“Abis situ, abis”. Maksudnya sehabis bicara – terus terang, maka masalah dianggap selesai. Sosio-kultural Orang-Maluku bukan berarti memang sama persis seperti itu, tetapi setidaknya itu gambaran umum yang dianggap suatu kebiasaan selama ini. Bahwa, tidak pandai menyimpan hal buruk berlama-lama di hati dan pikirannya. Merasa lebih baik, dan itu ciri khasnya, bila sesuatu itu tidak dipendam apalagi hingga membentuk dendam. Tidak suka, ya tidak suka, mau atau tidak, diperpendek atau diperpanjang, jelas disampaikan, tidak disimpan yang mungkin saja menyerupai awal bibit pembentukan jaringan kanker dendam kesumat, yang suatu waktu tiba-tiba menyerang diam-diam dari arah belakang tanpa diketahui. Lebih baik sesuatu itu disampaikan, karena dengan begitu dapat diketahui baik buruknya, kurang lebihnya, untung ruginya, atau benar tidaknya.
Kadang suatu kebiasaan bila terus menerus dilakukan akan menjadi terbiasa, tidak lagi menimbulkan sensitifitas untuk memilah baik buruknya, bisa juga menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah. Tidak ada positifnya, negatif pun juga belum tentu. Seperti meraba di dalam gelap, sulit menemukan yang dicari, hanya bisa menerka untuk menentukan mana yang seharusnya. Tentu sisi moral menjadi tatanan untuk memangkas alasan dan dampak ketidak-manufaatan karena asal bicara atau banyak bicara, sebaliknya dengan terbiasa diam, pun tidak berarti lebih baik. Maka tukel karena orang dan apanya, tetapi itu pas waktu dan tempatnya saat ketika sedang menikmati segelas kopi, sambil bersiul mendengarkan lagu “bulan pake payung”.

Tuesday, July 31, 2018

Ibukota Provinsi Maluku Akan Dipindahkan ke Pulau Seram


Ibukota Provinsi Maluku Pasti Dipindahkan

Juli 31, 2018 

Tiakur, Wartamaluku.com – Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Maluku terpilih Murad Ismail dan Barnabas Orno sangat serius memindahkan ibukota Provinsi ke Makariki pulau Seram kabupaten Maluku Tengah. Demikian dikatakan Wakil Gubernur terpilih Barnabas Orno kepada media ini di Tiakur.

Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Maluku terpilih (Pilkada Maluku 2018) Murad Ismail dan Barnabas Orno (Foto; Wartamaluku.com)

Menurutnya, salah satu visi misi yakni memindahkan ibukota Provinsi merupakan satu kepastian.

Oleh sebab itu, untuk 100 hari kerja kata Wagub Orno,akan membuat regulasi yang bisa memungkinkan adanya Ranperda untuk secepatnya ibukota Provinsi di pindahkan ke pulau Seram. “Kita pasti pindahkan Ibukota ke Makariki pulau seram”. Ungkap Orno.

Sebab, pemindahan ibu kota Provinsi Maluku ke Pulau Seram ini mampu membawa perubahan yang lebih baik berdasarkan sejumlah kajian yang sudah dilakukan.

Pindahnya ibukota dapat dipastikan akan mengakselerasi pengembangan masyarakat Pulau Seram.
Selain itu, untuk memenuhi janji – janji semasa kampanye, Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih ini akan mempersiapkan program- program dalam menjalankan roda pemerintahan pada tahun 2019.
Sebab, kemenangan pilkada bukan tujuan akhir tapi memastikan janji sesuai janji kampanye lima tahun kedepan.

“Untuk 100 hari kerja kami akan membicarakan dengan Pemerintahan sekarang untuk singkronisasi program tahun 2019. Paparnya. (WM)

sumber ;

Pemimpin yang baik dan bijak adalah ketika amanah yang sudah dijanjikan dapat direalisasikan segera.

Kelaparan Di Pulau Seram Maluku


Kelaparan  di Pulau Seram Maluku / #kelaparan_di_seram (foto istimewa)

Kenapa Ada Kamu Dan Kita
MOZAIKCoffee - Puisi )

kita atau seharusnya aku ?
karena kami tidak merasa kamu adalah kita
kamu berteriak aku adalah kita
dan mereka bukan kita
saat itu kamu sedang mengigau

kita adalah kita saat kamu berkata mereka
mereka bukan siapa-siapa
dan tidak perlu diteriakan
agar tidak menampakkan kamu sedang bermimpi
mimpi yang tidak dari tidur sempurna

aku tidak harus kita untuk membeda
antara kamu dan kita
sementara terus saja kamu membuat batas
sama saja dengan kita yang tidak ada kamu
masing-masing akan merasa benar di pihaknya

sama-sama salah
sama-sama benar 
hambatan ada pada kamu dan kita


 Kelaparan  di Pulau Seram Maluku/ #kelaparan_di_seram (foto istimewa)


Monday, July 30, 2018

BETA ALIFURU

Puisi

Gambar Ilustrasi ; Beta Alifuru (Desain @embun01/Foto ; Istimewa)


hena yama latu serano

henato

beta akan selamanya ada di pulau
bersama tanah hitam yang basah
di punggung hatuolo hingga pucuk huale
menebar wangi  lumut hutan pakis puncak binaiya
somba penuh hormat di kaki tebing murkele
singgahsana abadi aupu latu upao

beta adalah gelombang
bebas berenang hingga ke ujung laut
mendekap buih arus dalam pikiran yang basah
menyapu riak gelombang bersama suara angin
dan rasa asin yang bersimpuh di telapak
sungguh jiwa ini ingin jauh menyelam
merangkul hutan akar bahar dan mengelus tali arus
mendamaikan musim agar berhenti meratap
sebarkan ragam asa saat ombak bersahabat
cinta dilebur dibalik sisik ikan-ikan karang
tidak akan raga ini akan pernah lemah
setia tegak untuk menghalau rasa gundah
yang datang bersama usia waktu di bibir pantai
karena beta adalah laut biru

a’sosopa aupulu hoiloto heiyon sa na
mina-mina’o seseuwe iko lufue’ko
seseuweko helie hahan supamaraina

hanya satu berinduk dalam alam rimba
berselimut kulit pepohonan dan daun riu
disapa suara nuri jatuhkan kembang lenggua
karena berbagi sedikit kenangan masa lalu
satu satu anak alifuru pergi bersama impian
setelah melipat kain berang di kantong kewano
menyebarlah dengan ragam uku’olu siwa taun lima taun

 hari la’atinalu helie sey sa na salae tunjai seuweti
luim, umalu, yama-nolu, huinilu salae hiano nalio tehe’e
pasawelae’m maha’o ma’ana lalia lalau
nam kaiye la’atina tunjai’lu

sahu, sela, kohu, laitani’lu waelo’lu
kae tomun taminolu sali kae yamanolu
lesi-lesim pa’alasa lakan ki tomun nilu
kohasi

abaikan apapun suara-suara yang menggerus
bersama angin timur abaikan angin barat

selu lawa kaha heka
toto miki totu salae totun

tapak jarak sejauh fajar di ufuk horizon
dekap senja di sela selat dan batas tanjung
rubah wajah matahari di rimbunan hijau bintanggur
goreslah malam dengan warna sinar bintang
seperti gerak hari seumur bumi alifuru

tinggalkan tanda dan buat pesan
ukir prasasti di batas tanah dan hutan
tabuh tifa cakalele seirama hentakan dayung
jangan berhenti walau di batas

pahune sow tuali’olu
pahunelu moso-moso

 selebihny beta tetap alifuru

Beta Alifuru
  #AlifuruItuMaluku #AlifuruItuKatong #SaveAlifuru #SaveMaluku

Keterangan ;
 (Terjemahan Bahasa Tana(h), bahasa induk – mother language (Mother Land),  Sukubangsa Alifuru – penduduk asli Kepulauan Maluku)

-   hena yama latu serano ; tempat kediaman awal leluhur(induk) - Sukubangsa Alifuru, di pulau Seram
-   henato ; tenang, damai, di tempat kediaman
-   Hatuolo, Huale, Binaiya, Murkele ; nama-nama gunung di dataran tinggi Manusela pulau Seram
-   aupu latu upao ; induk leluhur-nenek moyang, sukubangsa Alifuru
-   a’sosopa aupulu hoiloto heiyon sa na ; yang saya sembah(hormati) tuan-tuan dari atas, dari mana pun
-   mina-mina’o seseuwe iko lufue’ko ; dulu-dulu kita semua berkumpul-menyatu
-   seseuweko helie hahan supamaraina ; kita semua berasal dari dataran supamaraina
-   berang ; merah
-   kewano ; kantung yang terbuat dari kulit pelepah daun sagu
-   uku’olu siwa taun, lima taun ; masyarakat dunia berkarakter kelompok sembilan, kelompok lima
-   hari la’atinalu helie sey sa na salae tunjai seuweti; pergi dari tanahnya, dari apa pun hingga ujung dunia
-   luim, umalu, yamanolu huinilu salae hiano nalio tehe’e ; tanda bekas rumah, kampung, ditinggal kosong berbulan-bulan hingga tahunan
-   pasawelae’m maha’o ma’ana lalia lalau ; berpencar ke barat, ke timur, kedarat, ke laut
-   nam kaiye la’atina tunjai’lu ; jalani kemana pun luasnya bumi
-   koha(si)  ; patah-patahkan(tundukan) mereka
-   sahu, sela, kohu, laitani’lu, waelo’lu ; lompat(melewati), telusur/sisir,  sergap/kurung, tanah, dan air
-   kae tomun taminolu sali kae yamanolu ; di tempat orang lain mendatangi kampong-kampung
-   lesi-lesim pa’alasa lakan ki tomun nilu ; semangat pantang menyerah tundukan wilayah orang lain
-   selumina,  lawamiki,  kaha, heka ; melangkah paling depan, bergerak cepat, terjang, bongkar
-   toto miki totu salae totun ; tebas tepat cepat hingga penghabisan
-   cakalele ; tarian perang bangsa Alifuru
-   alifuru ; nama sukubangsa asli Maluku
-   pahune sow tuali’olu ; rahasiakan pesan-pesan(sejarah) dari  para leluhur
-   pahunelu moso-moso ; simpan rapat-rapat.