Alifuru Supamaraina: ALIFURU ; Istilah, Pengertian, dan Filosofi

Tuesday, February 11, 2020

ALIFURU ; Istilah, Pengertian, dan Filosofi

Oleh; M. Thaha Pattiiha

Melalui bahasa sebagai alat berkomunikasi, sejarah dan kebudayaan etnis Alifuru disampaikan untuk diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dengan cara ditulis dalam catatan-catatan bahasa lisan kemudian didokumentasikan melalui kemampuan daya ingat. Etnis Alifuru tidak menciptakan aksara sendiri sebagai bahasa tulis, kecuali lambang-lambang sebagai penanda sekaligus alat komunikasi visual melalui benda atau goresan pada obyek tertentu sebagai pengingat atau alat penyampai pesan. Adapun model atau bentuk-bentuk aksara yang belakangan ini ramai dipublikasikan, bukan sesungguhnya merupakan “Aksara Alifuru”, tetapi dipastikan adalah kreasi - baru, imajinatif berdasarkan lambang-lambang tradisional etnis Alifuru di masa lalu. Tidak terdapat artefak - situs kuno - bukti kebendaan dari masa lalu, tidak ada sebentuk tulisan atau catatan kuno dengan aksara yang membuktikan pernah tercipta aksara etnis Alifuru, sebagaimana etnis lain. Etnis Alifuru hanya mengenal bahasa lisan - sebagaimana salahsatunya adalah sastra epos Kapata, yang mengandalkan kemampuan daya ingat sebagai cara mendokumentasi sejarah dan budaya Alifuru. Melalui bahasan lisan, para Datuk - Nenekmoyang etnis Alifuru menulis pesan kearifan dan membukukan berbagai kekayaan budaya sebagai pustaka yang menjadi warisan tak ternilai kepada generasi Alifuru hari ini. 
ALIFURU ;  Istilah, Pengertian, dan Filosofi
 Penulis menghadiri Pameran Arsitektur Vernakuler Alifuru
di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Kota Depok,  Jawa Barat (21/11/2018)


Istilah Alifuru

Beragam istilah atau sebutan selain kata “Alifuru” yang sekarang dipergunakan. Beberapa sebutan di masa lalu sempat direkam dan dicatat oleh Ilmuan, Penjelajah laut dan samudra, seperti; "Alfores", "Harafora", "Haraforas", "Alfours", “Arafuru”, atau “Arafura- lihat ; MALUKU DAN ALIFURU DALAM DILEMA NAMA YANG TERTUKAR - tentang Etnis dan Nama Alifuru. Sebutan-sebutan tersebut berasal dari orang-orang etnis Alifuru yang mereka temui, yang hingga saat ini sebutan dimaksud mengerucut menjadi “Alifuru”. Demikian juga dengan Antropolog AH. Keane, FJP. Sachese dan OD. Tauren, mereka menyebut suku bangsa Alfuros”.

Makna Alifuru atau beragam sebutan sebelumnya - oleh para Ilmuan dan Penjelajah, tidak lain selain merujuk dan menunjuk kepada nama identitas pribumi pemukim wilayah kepulauan yang disebut Maluku dan Maluku Utara, tanpa menyebut dan membedakan pulau maupun gugusan pulau kecuali menunjuk arah posisi berada di barat New Guinea. Kecuali cara penulisan dari ucapan yang didengar yang terkesan berbeda karena bunyi yang dieja, termasuk pengaruh bahasa asal negara penulisnya.

Kata sebutan “Alifuru” sendiri memang sudah bergeser ucapan dan serta penulisannya dari keaslian sumber awal berucap, hanya saja bukan berarti berubah konteks maksud dan pengertiannya. Karena untuk bisa mengartikannya, mesti memahami latar belakang bahasa yang digunakan. Sama halnya ketika hendak mengartikan berbagai epos dalam karya-karya monumental yang disebut Kapata. Kapata merupakan sastra lisan warisan para Datuk -Nenekmoyang etnis Alifuru yang dalam bahasa-bahasa lokal komunitas sub-Alifuru disebut Nahu, Lan, Lani, Kahua, dan lain-lain. Epos dalam sebagian Kapata, sama halnya “Tom-Tad” pada komunitas masyarakat Alifuru kepulauan Key, yakni hikayat lisan - oral story, yang ditutur berdasarkan atau menyertai warisan benda-benda pusaka yang dimiliki.

Sebab itu, kata Alifuru tidak samasekali berasal dari Bahasa Arab, yang dikatakan ; Alif - huruf  pertama aksara Arab - ditafsirkan yang pertama atau manusia awal - awal atau pertama di kepulauan ini bolehlah, dan uru yang nyatanya bahasa tana - apa padanannya dalam bahasa Arab? Sesuatu yang bukan sekadar keliru, tetapi sudah sesat pikir dan tafsir dalam kebiasaan sering “meng-agama-kan” tatanan adat - seperti istilah Alifuru, yang tidak ditemukan simpulnya kecuali makin terbelit lilitan.

Sebutan Alifuru adalah nama yang bukan sama sekali berasal dari sebutan bangsa asing dari Eropa atau dari manapun, tetapi merupakan sebutan dalam bahasa asli etnis bangsa Alifuru sendiri. Alifuru merupakan nama induk etnis atau suku-bangsa dari ratusan suku dan sub-suku yang tersebar di kepulauan yang disebut “Maluku” – “adopsi nama”, dan Maluku “Asli” di bagian utara.

Mengherankan, ketika masih saja ada yang tidak mengakui identitasnya merupakan bagian dari komuniti etnis Alifuru, hanya karena beda pulau bermukim. Dianggapnya Alifuru hanya di pulau Seram - baca ; “SUKU BANGSA ALIFURU BUKAN HANYA DI PULAU SERAM”, tanpa upaya lebih dalam atau lebih jauh mempelajari asal-usulnya secara komprehensif, kecuali menyalin cerita lisan dari sumber yang hanya berpijak pada “oral story” dan cerita mithos yang tidak ada ujung pangkalnya, malah menyesatkan dan mengaburkan kebenaran sesungguhnya.

Konotasi negatif terhadap etnis Alifuru oleh orang-orang “beradab” selama ratusan tahun bersama dalam masa kerakusan kolonialisasi bangsa asing Eropa dan kerajaan lokal, saat menundukkan pribumi guna merampok kekayaan hasil bumi etnis Alifuru, ternyata masih terpelihara hingga zaman modern saat ini. Etnis Alifuru diidentikkan dengan istilah primitif, bodoh, kotor, terkebelakang, serta istilah lain sejenis. Ketika itu disebut orang dari luar kepulauan – bukan pribumi, itu peduli setan. Menjadi hal aneh dan membodohi diri bila disematkan oleh pribumi, bukankah sama saja menghina nenek-moyang diri sendiri. Kecuali siapapun itu - pribumi, tidak terlahir dari garis keturunan nenekmoyang di masa lalu, maksudnya tidak memiliki nenekmoyang.

Pengertian Alifuru

Istilah “Alifuru” atau sebutan sejenis, berasal dari Bahasa Tana yang merupakan  Bahasa Ibu - mather longgue, Alifuru. Terdapat sebagian kata-kata dalam bahasa tana yang ketika diucapkan yang me makai huruf “r”, kadang berubah ucap jadi huruf “l”, tetapi tidak sebaliknya.  Misal, “Risa” - menerjang(sambil mengurung), jadi “Lisa”, tetapi misal kata “Lawa” - lari, tidak bisa dirubah jadi “Rawa”.  Atau kata “Lata” - menahan - tertahan, tidak bisa jadi “Rata”, karena tidak miliki arti dalam bahasa tana kecuali menurut bahasa Indonesia.

Selain itu, antara fonem “r”  dan “l” dalam pengucapan terdengar seakan menyatu, diucap “arl”, lebih mengarah - ketebalan bunyi, ke fonem “r” dari “l”.  Sebagaimana kata “Alifuru”, bila diucap - dieja, sesuai kosa kata dan aksen asli bahasa tana adalah ; “(H)Aurl-v-uru”. Kadang di ujung ucapan disambung dengan fonem “a” - walau tidak selalu, sebagai penekanan kata - sebelumnya, menjadi “(H)Aurlvurua”. Fonem “H” dan “A” diucap bersama dengan penekanan pada fonem “A”, sehingga fonem “H” hampir tidak jelas terdengar.

Demikian juga dengan fonem “F”, harusnya “V” - sama seperti bahasa lokal kepulauan Key yang juga dominan dengan fonem F,  dalam cara ucap bahasa tana.  Adanya huruf “i” - harusnya tidak ada, pada tulisan Alifuru, karena pengaruh bunyi ucapan, sebagaimana fonem “a” di akhir. Kosa kata dasar “Alifuru” atau seperti sebutan-sebutan di atas, direkam dari gaya pengucapan asli hanya terdiri dari; “Au “ dan “uru”, “rf “ hanya pengaruh bunyi tengah ucapan dan “a” pengaruh bunyi akhir - kadang pun tidak digunakan. Diartikan, “au” adalah aku - saya - beta, dan uru menunjuk kepada orang - manusia. Sehingga, Kata asli Alifuru harusnya dibaca atau diucap (H)Au(rf)uru atau Aurfuru, yang kemudian menjadi - selain yang sudah disebut sebelumnya, Arfur - Alfur - Alfuren - Arfuru - Arafuru atau  Arafura, hingga menjadi Alifuru, yang artinya saya orang atau saya manusia.

Pengertian, saya - adalah, orang atau saya manusia, ditafsir balik kepada penyebutan yang direkam oleh “orang asing” tentang istilah nama Alifuru. Merupakan ucapan – balasan dari Orang Alifuru, menjawab pertanyaan orang asing. Jawaban yang menerangkan peng-aku-an diri seseorang  - yang ditanya, bahwa dia – juga, manusia. Nama yang diterangkan oleh pemberi informasi – Ilmuan dan Penjelajah, adalah pengakuan dari pribumi kepulauan di barat daya New Guinea, yang berarti sebutan tersebut bukan dinamai atau berasal dari istilah yang diciptakan orang asing.
Pola hidup orang Alifuru selalu menutup diri atau menghindar untuk menampakkan diri dari orang luar. Dilakukan demi keamanan dan keselamatan mereka, sehingga ketika sedang berburu atau jauh dari pemukimannya, mereka akan merubah penampilannya dengan melaburi seluruh tubuh, kecuali mata, dengan tanah bercampur arang bekas pembakaran. Cara lain berkamuflase, dengan menutupi tubuh menggunakan dedaunan dan rerumputan. Maksudnya agar mudah bersembunyi, dan agar tidak mudah dikenali atau terlihat - contoh seperti gambar di bawah ini. Dengan tampilan demikian, bagi orang luar ketika pertama kali berjumpa, bisa jadi berprasangka macam-macam, dikira hantu, setan, dan sejenisnya, atau dikira sebangsa binatang.

Alifuru memiliki padanan kata lain yaitu Upao atau Ufao, atau sebutan lain dari istilah Alifuru. Secara etimologi kata “upao” berarti wajah manusia yang berkonotasi menunjuk kepada sosok Alifuru – saya orang – saya manusia. 
ALIFURU ;  Istilah, Pengertian, dan Filosofi
Ilustrasi tampilan kamuflase Alifuru (Desain; mth_@embun1/01022020)

Hati-hati menafsir, atau mengartikan Bahasa Tana, sebab memiliki kaidah pola tafsir yang bila keliru ataupun sampai salah memahami makna dan maksudnya, maka tidak bakal menemu kandungan pesan dari nilai filosofinya. Butuh pengetahuan bahasa tana – beta pun masih terus belajar,  dengan pemahaman yang tidak “dangkal”. Sebab bisa jadi malah menyesatkan orang lain, selain diri sendiri. Apalagi antara bahasa tana dan bahasa lokal di banyak tempat sudah mengalami perbedaan oleh perubahan aksentuasi, penambahan perbendaharaan kosakata, maupun karena akulturasi bahasa dari wilayah di luar lingkungan komuniti Alifuru.


Filosofi Alifuru

Konsep kebudayaan Alifuru tentang kesatuan dalam perbedaan - Indonesia mengenal Bhineka Tunggal Ika, yaitu falsafah Patasiwa-Patalima atau Siwalima. Konsepsi kemasyarakatan etnis Alifuru paling demokratis dan bijak, karena efektif berfungsi menghimpun dan menyatukan berbagai perbedaan dan serta perubahan kehidupan sosial dan perilaku dengan munculnya kepentingan kelompok maupun perseorangan. Sebutan berdasarkan bahasa lokal - terdapat 113 bahasa lokal - baca; Bahasa Tana Aksara Alifuru Dan Nasib Bahasa Lokal Di Maluku, Patasiwa-Patalima selain dikenal di pulau Seram - Ceram, dan kepulauan Lease, dikenal secara lokal berdasarkan bahasa setempat. Patasiwa-Patalima di Maluku Utara, Ursiw-Urlima di kepulauan Aru, Lorsiw-Lorlim di Maluku Tenggara, Ulisiwa-Ulilima di pulau Ambon.

Rumah adat Baileu - baca; Baileu Dalam Kebudayaan Maluku, budaya Pela-Gandong  - Pela Gandong Warisan Budaya Tak Benda,  Sastra Epos Kapata - baca; Alifuru Hanya Bisa Diketahui Sejarahnya, budaya Sasi dan Matakau - baca; Sasi dan Matakau, dan masih begitu banyak “warisan luar biasa” kebudayaan produk etnis Alifuru. Semua mengandung pesan filosofi yang mengajarkan rasa cinta dan moral kebaikan, kebijakan, dan kebajikan, jauh waktu sebelum masa-masa kelam setelah kehadiran agama dan orang asing yang kemudian menenggelamkan keberadaan etnis Allifuru.

Kebudayaan Alifuru ditandai dan direkam dalam bentuk lambang-lambang, dengan penekanan pada rasa dan jiwa kemanusiaan dalam hubungannya dengan alam lingkungan kehidupan. Manusia - orang, Alifuru dikultuskan - diposisikan, sebagai penguasa utama di bawa kekuasaan langit - Tuhan, atas segenap isi alam dengan dibebani tanggung jawab melaksanakan perlindungan dan pemeliharaan agar kehidupan tetap terjaga, lestari, dan berkelanjutan demi generasi ke generasi. Persahabatan dijalin tidak sebatas antar sesama manusia, tetapi manusia dengan pepohonan - tumbuhtumbunan, dengan tanah, batu, air, angin, hujan, laut, hewan darat, hewan air, hewan bersayap, ikan, bulan, dan matahari. Alam hutan, bukit, gunung, tebing, dan sungai, adalah ruang berinteraksi yang sangat dihormati dan dilindung, sebagai rumah kehidupan. Alifuru adalah hutan, dan hutan adalah Alifuru.

Seorang tua Alifuru akan menanam suatu pohon tidak semata untuk dirinya, tetapi lebih utama tujuan pikirannya pohon tersebut untuk anakcucunya, bahkan untuk siapapun di kemudian hari. Alam bumi Alifuru terpelihara karena dijaga dengan rasa cinta sepenuh jiwa dan raga, untuk – selalu diingatkan para orang tua Alifuru, bukan sekadar demi kebutuhan saat ini tetapi untuk kehidupan anakcucu yang akan datang - masa depan. Sehingga begitu sangat dilarang, alam dirusak dengan cara eksploitasi yang berlebihan.     

Petuah para Datuk - Nenekmoyang etnis Alifuru yang ditulis secara lisan sejak ribuan tahun lalu dalam salah satu kalimat Kapata, dikatakan; “Sei hali sou, sou male’ei” artinya; Siapa balik bahasa, bahasa putar dia”. Maknanya, tidak sebatas hanya untuk pengartian dan penafsiran istilah “Alifuru”, tetapi nasehat bijak kepada siapapun dalam hal apapun, inti makna pesan filosofinya adalah ke-jujur-an, jujur memenuhi amanah atau janji. Etnis Alifuru telah ada sejak zaman batu awal - pada pulau-pulau yang bahkan sudah muncul di masa jurazik akhir. Karena itu, suatu pesan bijak mengingatkan, apabila “katatidak lagi bermakna, lebih baik diam saja.”

Alifuru mese !
Kampung Bulak, 12/02/2020

No comments:

Post a Comment