Kamis, 21 Januari 2016

SUKU-BANGSA ALIFURU




Orang(Manusia) Alifuru atau Upao - bahasa tanah, adalah identitas jati diri dan nama sukubangsa yang mendiami wilayah kepulauan Maluku, termasuk juga yang mendiami deretan kepulauan di timur pulau Papua, dan bagian timur kepulauan Nusa Tenggara. Berbatas di bagian barat dengan pulau Sulawesi, di sebelah timur dengan pulau Papua, di selatan dengan negara Timor Leste serta Australia, di utara dengan kepulauan negara Philipina. Suku-bangsa Alifuru - secara garis besar agar tidak mengulang, merupakan Ras Melanesia)1, yang bahkan bila diurut secara geografis ada keterkaitan ras serumpun dengan suku-bangsa di kepulauan Palau, Samoa, Nauru dan lainnya yang mendiami wilayah kepulauan di Samudera Pasifik. Menurut para ahli sejarah dan antropologi mengatakan demikian setelah membandingkan dan mempertimbangkan berbagai hal kesamaan dan perbedaan ras, bahasa, kehidupan sosial, dan budaya, diantara suku-bangsa tersebut menurut hasil pengamatan atau penelitiannya. Seperti itu masih diyakini hingga saat ini oleh orang Maluku keturunan suku-bangsa Alifuru.
Kepustakaan untuk sumber data yang akurat dan pasti tentang Alifuru tidak dapat ditemukan secara lengkap, baik secara tertulis ataupun melalui hal-hal bukti kebendaan yang menerangkan jejak-jejak awal sejarah keberadaan sukubangsa Alifuru yang mendiami kepulauan Maluku saat ini. Sama sekali tidak dapat ditelusur secara detail sejak awal mula keberadaannya sebagaimana bangsa-bangsa lain, kecuali melalui informasi lisan orang per orang. Melalui informasi penuturanlah kemudian melahirkan data tulisan sejak adanya kehadiran bangsa lain dari luar kepulauan Maluku. Melalui literature yang telah ada, keberadaan sukubangsa Alifuru mula dibukukan kurang-lebih abad ke-16, yang ditulis oleh para penulis bangsa Eropa. 
Bangsa China di daratan benua Asia yang bertetangga dengan kepulauan Maluku dan dikenal sebagai bangsa penjelajah samudera sejak masa sebelum perhitungan tahun Masehi. Dalam literaturnya hanya diketahui keterangan sebatas penggunaan rempah-rempah, yang antara lain menerangkan tentang cengkeh, sekalipun tidak secara spesifik menjelaskan secara detail lokasi serta kondisi masyarakat dimana cengkeh itu berada. Setidaknya itu yang bisa saya dapatkan sedikit pedoman setelah membaca tulisan dengan judul “Jejak China di Maluku” yang ditulis oleh Elifas Tomix Maspaitella)2. Tulisan tersebut cukup istimewa dan aktual, karena merujuk pada beberapa buku yang pernah ditulis, walau tidak dalam konteks khusus mengulas tentang sejarah sukubangsa Alifuru. Tetapi ada banyak hal yang termuat dan setidaknya mengindikasikan petunjuk, tentang jejak lain sebagai informasi dan pedoman menelusur sejarah sukubangsa Alifuru lebih jauh ke belakang. Tidak semata Nederlanscentris – kata penulis di atas. 
Kecuali itu, terdapat “cahaya berbeda” sejarah sukubangsa Alifuru, juga versi mitologis, lokus Supa-Maraina – Gunung Murkele)3, tetapi lebih merangkum dan menjelaskan mulai dari tanjung Sial di barat hingga tanjung Siritoun di timur pulau Seram. Pieter Jacob Pelupessy dalam Esurium Orang Bati, Disertasi Doktor – telah dibukukan, adalah hasil dari 23 tahun (1985-2008) pengabdian beliau meneliti keberadaan Orang Bati, sub-sukubangsa Alifuru, patut diapresiasi maksimal segenap Orang Maluku. Bahwa ada pencerahan, perspektif baru, yang memungkinkan ditemukan rangkaian yang hilang atau menjadi jalur yang lebih melebar untuk menelusur lebih luas dan dalam pada yang mungkin masih samar, begitupun peluang menuju kesesuaian untuk menemukan kebenaran sesungguhnya dari “misteri” sejarah perjalanan sukubangsa Alifuru. 

Antara Nunu-Saku dan Supa-Maraina 
          Sejarah masa lalu sukubangsa Alifuru secara tertulis adanya setelah kehadiran pendatang bangsa asing dari luar kepulauan Maluku, sayangnya lebih banyak mengungkap tentang sejarah bertendensi politis demi kepentingan ekonomi dan penyebaran agama. Apakah itu dari wilayah barat kepulauan Nusantara, dari Asia timur, Asia tengah, Jazirah Arab, hingga bangsa-bangsa dari benua Eropa, sama dan sebangun. Rekam jejak sukubangsa Alifuru tidak berbeda dalam cara pengungkapannya, semua bersumber dari penuturan lisan sebagai data primer yang belum tentu mewakili secara lengkap gambaran sesungguhnya. Harus dipahami bahwa persaingan diantara sesama sukubangsa Alifuru untuk saling mendominasi dalam banyak hal dan khususnya kekuasaan, adalah bagian dari sifat asli sukubangsa Alifuru, tidak hanya oleh sukubangsa lain. Namun demikian ada kebaikannya yaitu pada ikatan persaudaraan dan persahabatan yang tak mudah dianeksasi, sekali terkait untuk selamanya. 
Sejauh ini sejarah awal mula keberadaan sukubangsa Alifuru, versi terpublikasi selama ini umumnya dipahami berasal dari suatu tempat di bagian paling barat pulau Seram yang disebut Nunu-Saku, terletak di hulu sumber tiga sungai besar yaitu Tala, Eti dan Sapalewa. Pemahaman merujuk kepada sumber-sumber penulisan sebelumnya yang diketahui ditulis oleh para penulis bangsa asing bermula sejak adanya kehadiran pendatang bangsa-bangsa asing dari luar kepulauan Maluku di abad pertengahan Masehi, baru sekitar empat hingga lima abad yang lalu, itulah yang dijadikan referensi pembenaran sejarah Alifuru. 
Sejarah Alifuru hanya berpatokan kepada satu bagian tempat tertentu dari luasnya wilayah pulau Seram. Lalu bagaimana dengan wilayah lain di pulau Seram, Alifuru pulau Buru dan juga pulau Halmahera, ketiganya merupakan pulau terbesar di kepulauan Maluku. Dalam sejarah ratusan tahun penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa, mereka berhasil menguasai paling banyak seper-empat dari area pulau Seram, hanya yang terdapat di bagian ujung barat dan sebagian pesisir selatan. Begitupun sama seperti oleh kerajaan-kerajaan dari utara kepulauan Maluku, sebelum bangsa Eropa. 
Sebaliknya, keyakinan turun-temurun oleh sukubangsa Alifuru khususnya yang hingga saat ini masih berdiam di pedalaman hutan dataran tinggi pegunungan Manusela, bagian tengah pulau Seram, maupun sebagian yang telah bermukim di pesisir pantai selatan dan bagian timur pulau Seram. Mereka percaya nenek-moyang Alifuru, lahir dari gunung Murkele dan menjalani kehidupan awalnya di wilayah bernama Supa-Maraina. Tempat ini berada di dataran tinggi pegunungan Manusela, bagian timur laut gunung tertinggi di pulau Seram dan kepulauan Maluku yaitu gunung Binaya (3027meter.dpl). 
Masyarakat yang ada di perbukitan dan kaki pegunungan Manusela bagian selatan, hingga pesisir pantai selatan pulau Seram, khususnya di wilayah Teluk Telutih (Tounlutih – ujung/tanjung putih - buih ombak) mulanya adalah penyebaran dari Supa-Maraina, dan dari kelompok dengan komunitas terbesar. 
Ketika menyebar dari Supa-Maraina di dataran tinggi pegunungan Manusela, mereka lebih memilih untuk menuju wilayah selatan, karena lebih bisa menghindari ancaman dan serangan terus-menerus orang-orang asing dari arah utara, maupun dari barat yang selalu melewati laut utara pulau Seram. Wilayah bagian utara topografinya tidak strategis dari sisi keamanan untuk didiami, selain kesulitan untuk memantau pendatang dari luar, wilayah utara cenderung datar hingga pesisir. Sehingga ribuan tahun pesisir pantai utara tidak pernah ditempati, baru beberapa ratus tahun belakangan ini setelah kehadiran orang-orang dari kerajaan-kerajaan di utara kepulauan Maluku. Kondisi berbeda dengan pantai selatan yang berbukit bergunung dan curam, sangat menguntungkan dari sisi pemantauan dan pertahanan terhadap musuh dari luar pulau. 
Alifuru Selatan atau disebut juga Upao Malia-mato adalah yang menyebar di selatan dataran tinggi Manusela berpusat di lembah Malia-mato,  diperkirakan pada abad ke-15, kehadiran penyiar agama Islam yang diantar atau datang bersama Alifuru Nunu-Saku dari Huamual, yaitu dari mata-rumah Wala, Mahu, Lesi, Tuni, Moni, Peisina, dan Iha-Tansailo)4. Sebagian Upao Malimato kemudian masuk menganut Agama Islam, tetapi tetap masih bermukim menyebar di pedalaman. Hingga saat penjajah Belanda telah menguasai Maluku dan dengan kepentingan politik Hongi-nya di abad ke-17, yang membutuhkan banyak tenaga lokal untuk perang, tebang dan tanam – cengkeh dan pala, maka terjadi semacam “pemaksaan” untuk dimukimkan di pesisir pantai, maka terbentuklah pemukiman pertama di pesisir selatan teluk Telutih dengan nama Namasina. Tentang “Sejarah Namasina” akan penulis jelaskan di lain tulisan. 
Supa-Maraina terletak di dataran tinggi pegunungan Manusela, menyatu dengan gunung Murkele Besar dan Murkele Kecil sebagai area mitologi sukubangsa, adalah merupakan situs atau tempat keramat yang paling dihormati dan dilindungi. Kedua gunung tersebut masih tetap terjaga dan tidak tersentuh atau dimasuki oleh “orang luar”. Tidak diijinkan untuk siapapun orang luar atau sembarang orang, jangankan menginjakan kaki di tempat itu, mendekatinyapun tidak diperkenankan, bila nekad nyawa taruhannya. Hanya bisa oleh mata-rumah tertentu, dan harus terlebih dahulu melalui prosesi ritual adat sumpah sirih-pinang, untuk memastikan benar-tidaknya yang bersangkutan memang berasal dari tempat dimaksud, barulah dapat menjelajahi dan menjejakkan kaki di dua gunung tersebut. 
Sakralnya gunung Murkele (besar dan kecil) bagi sukubangsa Alifuru khususnya di Seram bagian tengah adalah keniscayaan yang tidak dapat dinafikan, walaupun telah lama menganut agama-agama samawi, Islam atau Kristen. Gunung Murkele oleh yang mengakar mitologi Alifuru, masih dipercaya sebagai tempat lahirnya “Manusia Alifuru”, nenek-moyang suku bangsa Alifuru. Sampai pun Orang Bati atau “manusia ilang-ilang” dan komunitas yang selama ini dianggap bisa pergi kemana saja dengan cara terbang, sebagai salah satu sub-sukubangsa Alifuru yang mendiami gunung Bati – pegunungan di bagian paling timur pulau Seram, gunung Murkele merupakan tempat paling utama dikeramatkan selain gunung Bati, karena diyakini adalah tempat asal usul Manusia Bati, nenek-moyang Orang Bati)6. 
Di dataran tinggi pegunungan Manusela yang sekarang telah menjadi bagian dari area Taman Nasional Manusela, terdapat pemukiman yang sejak ribuan tahun lalu telah ada, seperti kampung atau negeri Manusela, Maraina, Serumena – tiga kampung besar tertua, dan banyak lagi perkampungan kecil. Masih sebagaimana jaman dahulu, lingkungan dimana mereka berada tetap terjaga dan lestari hingga kini, dan bukan hal yang perlu dipertanyakan. Tempat asal “Manusia Alifuru”, nenek-moyang sukubangsa Alifuru menjadi alasan utama dalam ritme kehidupan menempati wilayah ini, sehingga ragam keburukan dan ambisi keduniaan diminimalisir melalui kearifan untuk selamanya menjaga, melindungi, diselaraskan dengan kebaikan alam, karena dipercaya telah memelihara dan mengantar kehidupannya hingga kini. 
Beta tidak bermaksud mengatakan hanya Supa-Maraina sebagai satu-satunya tempat asal-usul sukubangsa Alifuru dan menyepelekan atau mengabaikan Nunu-Saku, tetapi dari rangkaian pemahaman mempelajari penulisan sejarah sukubangsa Alifuru sejauh ini, sepertinya ada satu dua matarantai yang terlewatkan atau hilang, sehingga sejarah sukubangsa Alifuru masih dibaca terputus-putus. Nunu-Saku di barat, dan Supa-Maraina di tengah - timur pulau Seram, keduanya aikon awal sejarah sukubangsa Alifuru secara mitologi, tapaknya – bakas tampa kaki, masih harus terus ditelusur, apakah tapak langkah maju atau berjalan mundur, agar ditemui pemiliknya, siapa dia dan dimana sesungguhnya berada. 

Bahasa Alifuru 
          Sukubangsa Alifuru sangat kaya dengan perbendaharaan bahasa komunikasi, saat ini setidaknya terdapat 117 bahasa lokal yang masih digunakan dari yang pernah ada lebih 130-an bahasa lokal)7. Terdapat masing-masing bahasa komunikasi di setiap area komunitas suatu wilayah tertentu, sehingga sangat banyak bahasa setempat yang ditemui pada semua pemukiman masyarakat atau orang-orang sukubangsa Alifuru diseluruh kepulauan Maluku. Ada perbedaan dialek dalam irama masing-masing bahasa, tetapi sebagian besar bahasa memiliki kesamaan pengertian. Dialek atau irama dan tekanan ucap berbahasa dan pengaruh tambahan pada awalan, imbuhan maupun akhiran kata ketika berbahasa, memunculkan anggapan ada perbedaan. Ternyata tidak, bila secara saksama dan detail diteliti, apalagi pada bahasa tanah, kental dan padu penggunaan bahasa yang hampir sama persis di semua tempat kediaman komunitas sukubangsa Alifuru. 
Dari sekian banyak bahasa yang dipergunakan sebagai sarana atau alat komunikasi bercakap dalam kehidupan sosial diantara mereka, terdapat hanya ada satu jenis bahasa khusus yang tidak dapat dipercakapkan atau tidak untuk digunakan sebagai bahasa komunikasi dua arah, yaitu Bahasa Tana(h) atau Kapata, di wilayah pulau Seram bagian tengah-selatan disebut juga dengan Talili. 
Tatanan kehidupan sukubangsa Alifuru, sejarahnya dapat diketahui dan dipahami melalui pemahaman tutur Bahasa Kapata sebagai Ibu dari bahasa-bahasa sukubangsa Alifuru, karena “Bahasa Kapata” adalah bahasa pustaka sebagai cara Alifuru merekam dan menuliskan sejarahnya dalam bentuk lisan)8. Khusus bahasa ini, hanya pergunakan sebagai alat tutur menceriterakan suatu peristiwa, menerangkan suatu kejadian, menunjuk dan menerangkan suatu tempat, dan paling utama adalah untuk menyampaikan suatu pesan bijak. Sebab sukubangsa Alifuru pada masa lalu tidak memiliki dan mengenal bahasa tulis, tetapi perbendaharaan kekayaan intelektual berbahasa telah melahirkan ratusan bahasa pada masing-masing wilayah kediamanan komunitas sukubangsa Alifuru. 
Akan sangat mudah memahami bahasa-bahasa seluruh sukubangsa Alifuru, diyakini demikian dengan terlebih dahulu memiliki pengetahuan berbahasa dari salah satu jenis bahasa lokal yang digunakan masyarakat setempat. Belajar lebih dahulu berbahasa lokal, barulah kemudian menelusur bahasa-bahasa lainnya, karena akan diketahui bahwa ternyata ada kesamaan-kesamaan dan memungkinkan dapat menelusur untuk mengerti bahasa pustaka Alifuru yaitu bahasa Kapata. 
Menurut dialektika Alifuru maka dapat dibedah untuk mendapatkan pemahaman kata atau kalimat sebutan yang menunjuk keterangan terhadap suatu tempat, sehingga kata sebutan tentang sesuatu dalam percakapan bisa saja diartikan memiliki keragaman dan kedalaman maksud yang bisa saja berbeda makna. Bukan perbedaan, tetapi pergeseran dalam ucapan akibat irama atau ritme berucap dan oleh penyebutan berulang-ulang dari waktu ke waktu akan menghasilkan kata sebagaimana saat ini dikenal atau didengar. 
"Supa-Maraina" sebagai kata contoh rujukan, berasal dari ucapan penyebutan terhadap penamaan tempat yang dianggap sebagai tempat asal-usul Manusia Alifuru. Pengaruh oleh ucapan, dialek atau irama bahasa, maka dapat memunculkan beberapa pengertian dan maksud dari sukukata supa-maraina. Secara dialektika, Supa berarti beringin – pohon, dan Maraina terdapat dua suku kata yaitu marai yang artinya dialek, aksen, atau irama bahasa dan na adalah kata sambung tanpa makna karena oleh pengaruh irama ucapan. Lebih jauh, Supa, mungkin juga berasal dari kata sopa yang artinya sembah, atau dari dua kata sou dan paSou artinya bahasa,dan pa artinya seperti, pa atau apakahMaraina, pengertiannya seperti pecahan dua kata di atas. Dalam praktek ucapan ; sou pa - (pamo na), marai na, sehingga Supa-Maraina, berarti bahasa apa dialek
Dalam pengertian lain - supa-maraina, bila supa yang dimaksud sopa – somba, atau sembah dan marai adalah bahasa,ucapan, atau suara berirama seperti nyanyian, maka bisa diartikan nyanyian yang indah - untuk persembahan, kepada leluhur dan pencipta alam semesta. Tempat dimana dilakukannya ritual persembahan kepada nenek-moyang Alifuru dengan cara menyanyi dan menari, oleh karena diyakini sebagai tempat asal-usul lahirnya nenek moyang suku-bangsa Alifuru. Yang terakhir ini, tari-tarian sambil bernyanyi, mengarah kepada perbendaharaan adat upacara ritual Alifuru, seperti tari Maku-makutari Pukare)9, tari Toti)10, Kahua)11 dan beberapa tarian persembahan lainnya, bukanlah tarian biasa sebagaimana dikenal tari cakalele sebagai tari perang karena tidak menggunakan nyanyian hanya irama pukulan tifa. Tetapi tari maku-maku, pukare, toti, ditarikan dengan diiringi nyanyian, diselenggarakan dalam suatu upacara ritual adat karena kebutuhan. Isi nyanyian dalam bahasa tanah (kapata) yang mengandung kisah dan pesan sejarah, nasehat bijak, puji-pujian kepada nenek-moyang dan alam lingkungannya dan penghotmatan kepada sang Penguasa manusia serta alam semesta. 
Contoh lain, Manusela atau Mansela. Terdiri dari dari dua kosa kata, Manu - man dan selaManu atau man artinya burung dan sela artinya sisir -menyisirburung yang terbang menyisir rendah ke tanah atau pepohonan. Manusela disematkan untuk menyebut wilayah dataran tinggi di tengah-tengah pulau Seram, masih satu area dengan Supa-Maraina, yang sangat kaya oleh melimpahnya keberadaan jenis burung-burung cantik dan indah khas Wallacea, “birds of paradise”)12. Burung-burung ini memang liar, tetapi senang hinggap di cabang dan ranting pepohonan yang dekat dari tanah, ketika terbangpun secara rendah menyisir permukaan tanah, itulah Manusela. 
Supa-Maraina, apapun artinya – dalam terjemahan penulis di atas, tidak bermaksud dapat mempengaruhi apalagi untuk merubah keyakinan terhadap posisi tempat dimaksud, tetap saja tempat bersejarah, yang dipercaya sebagai lokasi awal asa-usul Manusia Alifuru, nenek-moyang sukubangsa Alifuru. 
Sejarah masa lalu sukubangsa Alifuru hanya dapat ditelusur dan diketahui melalui sumber lisan(oral story). Dalam penafsiran sejarah berdasarkan perekaman dari sumber lisan atau penuturan, bisa saja bergeser bahkan berbeda makna dan berbeda dari maksud, sehingga kehati-hatian dengan tela'ah lebih dalam, dapat meminimalisir kekeliruan suatu informasi atas suatu rekaman lisan peristiwa sejarah. Mengetahui latar belakang penutur, kemampuan daya ingat dan struktur bertutur, merupakan cara cerdas mengukur kualitas informasi atau keterangan yang disampaikan. Kelemahan oral story, selalu ada pada kurang dan lebih-nya, oleh banyak sebab. 
Sarana utama sebagai pengantar mengetahui dan memahami lebih baik sejarah Alifuru, adalah bisa berbahasa salah satu dari sekian banyak bahasa lokal sukubangsa Alifuru, pelajari dan cakaplah berbahasa Alifuru, terutama oleh anak-cucu masyarakat Alifuru di sebagian negeri-negeri yang saat ini telah lenyap bahasa lokalnya. 

Hanya ada Suku-Bangsa Alifuru 
          Seringkali dalam pemahaman terucap maupun tulisan yang dipublikasikan banyak orang, disebut terdapat begitu banyak suku-suku di Maluku, lebih khusus komunitas-komunitas masyarakat di pulau Seram yang sebelumnya atau masih berkediaman jauh dari pesisir pantai yaitu di pedalaman hutan-hutan, dataran tinggi, maupun pegunungan. Dimaksudkan seperti masyarakat Nuaulu, Fuauru, Huauru, saat ini dan bahkan seperti masyarakat Alune dan Wemale di masa lalu. 
Kerancuan akibat ketidak pemahaman terhadap bahasa ucap dan komunikasi, juga dikeruhkan dengan memformalkan suatu sebutan atas dasar kekurang-pengertian terhadap keberadaan identitas asli penduduk sukubangsa Alifuru pada suatu tempat. Nama komunitas sukubangsa Alifuru didasari letak keberadaan pemukimannya pada suatu tempat atau wilayah, yang kemudian menjadi identitas keterangan tempat tinggal atau asal-usul mereka. Harusnya seperti demikian, sebab penduduk asli pulau Seram, pulau Buru dan seluruh pulau di kepulauan Maluku, hanya ada satu nama suku atau bangsa, yaitu Alifuru. Tidak ada nama suku lain, yang benar hanya ada nama tempat atau lokasi(area) di mana komunitas subsuku dari sukubangsa Alifuru bermukim. 
Nuaulu atau Nuauru? Bukanlah nama suku ! Tetapi nama tempat(kampung) pemukiman orang atau masyarakat Alifuru yang menempati atau tinggal dan berdiam di hulu sungai Nua. Sungai(wae)Nua – wae Nua, berhulu di sebelah selatan – barat laut kaki gunung Binaya dan mengalir ke arah timur, bermuara di teluk Telutih, selatan negeri Sunolu Kecamatan Tehoru. Ulu atau uru artinya orang, Nuaulu artinya orang (dari) sungai Nua. Demikian dengan Fuaru atau ucapan aslinya Vouaru, untuk pemukim di area hutan yang banyak terdapat tumbuhan paku-paku dan pakis Seram – pakis binaya(cyathea binayana). Huaru, di wilayah sekitar gunung Huale di sebelah timur Supa-Maraina, yang banyak terdapat tumbuhan pohon pinang, khususnya pinang buah putih besar. Hua artinya buah(pohon) pinang. 
 Nuauru, Fouauru atau Huauru, dan masih banyak lagi, sedemikian sama saja dengan Alune maupun Wemale. Alune, adalah sebutan bahasa Alifuru yang artinya dari atas, di atas, di atau dari gunung, Alifuru dari gunung. Alune padanan kata Alifuru-nya laun atau a laun artinya di atau berarti juga daun, menunjuk pada sesuatu yang adanya dari atau di atas. Wemale padanannya mahale, sama-sama artinya ke bawah, kesana – di atau ke pantai, Alifuru yang tinggal atau turun ke bawah gunung atau pantai. Kata lain male yang artinya pergi – jalan, petualang(berkeliling). Alune untuk menyebut masyarakat Alifuru yang berada di pegunungan dan Wemale sebutan bagi yang telah keluar, pergi dari gunung dan berdomisili atau menempati wilayah di pesisir pantai. 
Pemukim di pegunungan atau di pesisir pantai adalah masyarakat sukubangsa Alifuru, hanya berbeda lokasi, tidak ada nama suku lain. Menyebut “suku-bangsa” mengartikan Alifuru bukan hanya sekadar identitas sebatas suku, tetapi sekaligus suatu bangsa, tetapi sebutan demikian menjadi tidak lazim. Disadari bahwa masyarakat Alifuru hari ini berada dalam satu kesatuan sistem ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI), yang juga dikonotasikan sebagai sebuah bangsa yaitu Bangsa Indonesia. Alifuru pun menjadi sub dari bangsa Indonesia, atau diposisikan hanya sebagai suku dari yang seharusnya sebuah bangsa. Maka ditulis menjadi sukubangsa(suku-bangsa), walaupun dalam kenyataan identitas ras dan karakter Alifuru memang berbeda dengan umumnya sukubangsa lain di Indonesia. 
Sub-suku atau Anak-suku Alifuru, lebih mungkin bisa digunakan dalam penyebutan maupun penulisan, tidak menggunakan sebutan kata “suku” untuk suatu komunitas masyarakat Alifuru di wilayah tertentu, selain hanya ada Suku-bangsa Alifuru. Kepada Orang Maluku Alifuru khususnya, virus devide at ampera, bila itu niatnya, lenyapkanlah segera bila tidak ingin kehilangan identitas jatidiri. Bila pun tidak, apakah mungkin anda setuju bila setiap negeri, kampung, atau pulau, berdasarkan nama domisilinya masing-masing saat ini disebut juga dengan suku ? Misalnya suku Amahei, suku Kairatu, suku Tulehu, suku Eti, suku Sawai, suku Tehoru, suku Pelaw, suku Geser, suku Taniwel, suku Namlea, suku Luhu, suku Tual, suku Saparua, suku Ternate, suku Tidore, dan lain negeri, kota, pulau, masing-masing di Maluku mulai sekarang dikelompokkan sebagai suku. 
Apakah ini semacam upaya mendegradasi, amputasi, atau mungkin mutilasi, yang bisa dimaknai bermaksud mengingkari kesatuan identitas, dengan diretakkannya dalam subsistem atas dasar kesadaran yang bermaksud pemecah-belah atau memang karena ketidak pemahaman sehingga melabelkannya demikian. Semacam kerancuan pola pikir dan pemahaman yang terjadi secara tergeneralisasi, apakah dari orang luar atau dari oleh anak-cucu keturunan sukubangsa Alifuru sendiri. Disadari atau tidak sejarah keberadaan masyarakat asli kepulauan Maluku yang terjadi di masa lalu dan hingga sekarang, tulis iko beta pung mau – sesuka penulisnya, semoga saja tidak demikian. 

Fenomena Kembalinya Jatidiri Alifuru 
         “Sampai saat ini sebutan Alifuru masih dianggap negatif dikalangan orang Maluku sendiri karena menunjukan pada orang liar, kotor, bodoh, menakutkan, menyeramkan, dan sebagainya. Sebutan ini sering dihindari ketika berlangsungnya interaksi dikalangan masyarakat Maluku)13. 
Beta mengulang lagi sekadar mengingat, bahwa kerancuan dan kekeliruan pemahaman mengenal identitas penduduk asli Maluku, setidaknya sejarahnya bermula dari dan demi kepentingan kolonialisme bangsa Belanda di Maluku. Politik ekonomi Hongi - Tochten)14, untuk memonopoli perdagangan komoditas cengkeh di pertengahan abad ke-17, disertai dengan menjalankan falsafah politik kotor dan tidak beradab ; devide at impera, pecah belah dan kuasai. Bukan hanya menguasai wilayah, orang, dan sumber hidup ekonomi penduduk, tetapi juga merubah perjalanan sejarah tentang identitas dan jatidirinya, pranata adat, budaya dan sistem kepemimpinan ribuan tahun, sengaja dan terencana diganti, dirubah, hingga dilenyapkan. 
Pilihan kepada orang Maluku (suku-bangsa Alifuru) saat itu, yang mau bergabung dengan Belanda akan mendapat berbagai hak dan keistimewaan, serta yang paling bergengsi adalah mendapat predikat dan stempel lebih beradab, pintar, bersih, dan maju. Bagi yang tidak akan dipandang dan dijuluki sebagaimana kalimat di atas. Masyarakat Alifuru terpecah-belah dalam pengaruh dan kungkungan Belanda, hingga melahirkan anggapan salah, bahkan masih hingga kini, yang sebenarnya telah menghina diri sendiri. 
Virus politik penganuliran dan pembodohan oleh bangsa imperealis Belanda disuntikkan secara sengaja dan berkesinambungan ke segenap persendihan dan otak masyarakat orang Maluku. Kemudian terpelihara lalu dijangkitkan secara sadar dan diluaskan wabahnya, diendemikkan, diinformasikan dan bahkan dikukuhkan kepada para cendekiawan peneliti pendatang dari luar Maluku yang dating untuk menulis tentang sejarah Alifuru, baik di masa lalu, bahkan dikemudian hari hingga saat ini. 
Belakangan ini terdapat beberapa fenomena menarik dikalangan masyarakat Maluku – Alifuru, yang menganggap diri telah pintar, bersih dan lebih modern, kebalikan dari gambaran di awal sub judul tulisan ini, ternyata ketika menyelenggarakan upacara adat mereka, nyata dan tanpa malu-malu mempraktekkan tata cara upacara adat sukubangsa Alifuru, identitas dan budaya yang sudah pernah dengan sadar telah dihina dan disingkirkan. Mungkinkah ini pertanda telah kembalinya ingat setelah sadar selama ini ternyata telah kehilangan identitas sehingga merasa tidak mengenal lagi jatidirinya, semoga demikian, tetapi harus apa adanya alias jujur. 
Dalam fenomena lain, sekarang masyarakat Maluku sedang dalam proses pengembalian identitas jati diri sebagai sukubangsa Alifuru. Lembaran-lembaran baru sejarah ditulis, dikarang, lalu dipublikasikan. Meluas hingga komunitas geneologis pada masing-masing mata-rumah, bahkan ada dalam satu mata-rumah bisa lebih dari satu versi sejarah. Cenderung mengagungkan dan melebih-lebihkan secara sepihak matarumah, soa, negeri atau wilayah masing-masing, sementara versi akurat dan lengkap mungkin saja masih retak dan sebagian serpihannya entah di mana. Sayangnya, tidak membantu menjadikan sejarah Alifuru lebih baik, kian menjauh dari kebenaran sesungguhnya, serta makin memperkeruh perseteruan melalui silang pendapat atas keakuratan sumber dan relatifnya data sejarah Alifuru yang dapat diterima semua pihak. 
Untuk itu, penulis cenderung pada penyampaian yang sifatnya menggugah semua pihak, lepas dari keinginan dan egosentris sebagai anak-cucu keturunan Alifuru Supa-Maraina. Jangan membacanya dari sisi pemikiran seakan sok tau dan dalam keinginan terselubung untuk memperkeruh atau melebarkan silang pendapat. Sebagai harapan agar kita lebih bijak bersikap dan kembali secara cerdas dan seimbang, sama-sama melihat dan mentelusur sejarah Alifuru. Menemukan pangkalnya tanpa melebih-lebihkan yang kurang, menghindari ego yang dapat mengurangi apalagi menghilangkan kebenaran sesungguhnya. 
Kepustakaan yang ditulis tentang jejak awal sukubangsa Alifuru sepertinya belum lengkap dan selesai penelusuran dan pengungkapannya, beberapa hal kebendaan dan lingkungan alam, sama dengan melalui penuturan orang per orang atau sumber lisan, juga karena waktu yang kian menjauh menjadikannya makin bias tak beraturan. 
Tulisan ini sebagai penggugah dan ungkapan rasa, sekaligus pengetahuan sejarah yang diketahui yang tentu mungkin belum sempurna, mungkin juga ada hal yang kemudian dipertanyakan. Sejatinya, menjadi kewajiban dan pengenalan penulis sebagai anak-cucu sukubangsa Alifuru dari garis-lurus keturunan Kapitane Lele Iha-Tehuayo. Satu dari tiga keluarga Kapitang – TehuayoIlela dan Lilihata, yang pernah memiliki kekuasaan dan komunitas besar pada jamannya di wilayah Seram bagian tengah, khususnya dataran tinggi pegunungan Manusela hingga pesisir dan laut selatan teluk Telutih. 
Mungkin belum banyak, tetapi dari sekian literatur yang pernah ditelusur, dihimpun, dibaca dan dipelajari, beta berkesimpulan bahwa pengungkapan tentang sejarah sukubangsa Alifuru belum final. 
Misteri, tetapi bukan mustahil, itulah sukubangsa Alifuru. 
Alifuru mesee ! 

                                                                                                                                                                           Depok 20 Januari 2016 

M.Thaha Pattiiha )* 

Catatan : Tulisan ini sementara dalam perbaikan(revisi). Edisi revisi akan berisi sub-judul tentang ; Alifuru Nunusaku, Penyebaran Alifuru, Falsafah Siwa-Lima, Bahasa-bahasa Lokal, Pengaruh dari Dunia Luar, dan Struktur Adat Alifuru, serta penajaman sub judul Antara Nunusaku dan Supamaraina, dalam rencana baru akan beta ditampilkan pada bulan Mei 2018.

---------------------------------------------------------- 
)*Pemerhati Alifuru, berdomisili di Kota Depok. 

 Sumber 
1)  - Stephanie Lawson, ‘Melanesia’ (CS) - The History and Politics of an Idea, The Journal of Pacific History Vol.48, Issue 1, 2013. 
     -  Foreign bodies : Oceania and the science of race 1750-1940 /editors: Bronwen Douglas, Chris Ballard. ANU(The Australian National                         University) E Press, by E-mail. 
2)    Elifas Tomix Maspaitella; Jejak China di Maluku, http://kutikata.blogspot.co.id/2010/05/jejak-dina-di-maluku.html
3)    Pieter Jacob Pelupessy ; Eseriun Orang Bati, hal. 96 dan 167, Universitas Kristen Satya Wacana, item:  
        http://repository.uksw.edu/handle/123456789/736 
4)    Arsyad Leuli(Wolu), Sejarah Perjalanan Guru Leuli di Telutih, penuturan – Ambon 1995. 
5)    Abdullah ‘Rinjani’ Tehuayo, Tutur Sejarah matarumah Kapitang Tehuayo, Telutih Baru 1990 
6)    Pieter Jacob Pelupessy ; hal. 96 dan 167, idem 
7)    Bahasa, Profil Investasi Provinsi Maluku hal.9, BKMD Provinsi Maluku 2005 
8)    Bahasa Tana(h) - Kapata; http://alifurusupamaraina.blogspot.co.id/2015/12/alifuru-hanya-bisa-diketahui-sejarahnya.html
9)    Pukare, upacara ritual-“vulgar dan liar”, (tari & nyanyi)waktunya malam hari tanpa penerangan. Ket.peserta“SN”,1996. 
10)  Toti adalah tarian persembahan ( perang)–Kapata diringi tifa, penari laki-laki. A. Kumkelo(Laimu), Bekasi 2007. 
11)  Kahua, upacara ritual persembahan(tarian & nyanyi) mengawali pembangunan rumah atau pemukiman. Ket.“SN”,1996 
12)  Zonasi Taman Nasional Manusela, Kab.Malteng.Prov.Maluku hal.1, Balai Taman Nasional Manusla, 2011. 
13)  Pieter Jacob Pelupessy ; hal. 96 dan 167, idem. 
14)  Hany Tuarissa, AGAMA, BUDAYA DAN ADAT NEGERI TIHULALE            
       http://kartope.blogspot.co.id/2014/03/agama-budaya-dan-adat-negeri-tihulale.html


                                                                                                    -0-

17 komentar:

  1. Bung, beta pemahaman masih sadiki ttg maluku. Banyak browsing banyak baca rata-rata blog ttg maluku (suku/bangsa alifuru) sepihak dan mendiskriminasikan berbagai lokasi. Tapi ketika baca ini beta rasa hati tasonto. Salam 👏🏻👍

    BalasHapus
  2. Saya fam. TUNYLUHULIMA. Leluhur papa dari Ihamahu fam. Luhulima, pindah ke Seram, nikah dengan putri raja Alifuru "Pattikupa", dan nama fam. menjadi Tuniluhulima. Ibunya papa orang Belanda (oma Johanna Valentijn), kakek di KNIL (dibunuh Jepang), nama fam. TUNYLUHULIMA.
    Ketika saya berumur kira-kira 3 tahun, tahun 1950, papa ke Seram, di Liang. Mama hrs. ikut upacara leluhur (7 hari-7 malam, pakai kain warna hitam, 7 lapis, krn. mama dari Oma, pulau Haruku, fam. KAYHATU). Mama tidak mau ikut aturan, papa harus ke gunung, menghadap leluhur (dalam gua- arwah-2), minta dibebaskan dari aturan. Mama pernah dikunjungi orang Alifuru (hanya kelihatan, kalau mereka mau memperlihatkan diri) mungkin krn. mereka mau lihat mama, lalu minta bahan seperti garam, dan lain. JADI SAYA JUGA ORANG ALIFURU. Nama lengkap saya Johanna Seeba Christina Tunyluhulima).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tante Johanna, saya Rogér Leuwol (dari Belanda), ibunja saya Tunyluhulima. Jng bulan oktober saya di ibunja saya punja saudara2 Tunyluhulima di Liang (Ceram). Ini saya punja alamat email rogerleuwol@gmail.com Tante Johanna bisak kontakt saya?

      Hapus
    2. Roger, Tante sudah kirim email ke alamat yang kamu berikan. Terima kasih sekali untuk perhatianmu. Salam.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Bapak M. Thaha Pattiiha tingal di Depok, boleh saya dapat alamat lengkap Bapak? saya tinggal di Komplek Kranggan Permai, Jatisampurna (area jln alternatif Cibubur - Jln. Transyogi, dekat Plaza Cibubur) Terima kasih, untuk informasi yang obyektif dan baik ini.

    BalasHapus
  5. Sesungguhnya,mari berbangga dgn identitas diri sbg keturunan sukubangsa Alifuru. Ttg sejarahnya, bijaklah berpikir dan bersikap tanpa tendensia salīng melebihi atau mengurangi, apapun itu alasanya:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon ijin Pak..., tulisannya boleh diunduh ya Pak...,

      Hapus
  6. Hormat Pak M.Thaha Pattiiha....., semoga ini bisa bermanfat tuk generasi skarang...., dangke banya Pak

    BalasHapus
  7. Bapa Pattiha ..beta ada pertanyaan satu untuk bapa ...apakah marga Pattiha turunan dari Latu Sopacua latu (raja Iha) turun dari iha bangun negeri baru Ihamahu disitu Pattiha jadi raja/Upu latu ..Pati =raja/upu latu dari Iha...apa ini benar atau tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sudara, Sopacua itu Upu Latu yang awalnya berdiam di puncak Ama Iha, yang "mengalirkan" sekian matarumah yg ada sekarang di Saparua dan lain tempat. Turunannya yg sudah keluar salah satunya yaitu Latukaisupi di Iha-Luhu(Seram) peralihan("ganti kulit") dari Pattiiha demi keselamatan, setelah terusir di jaman perang dgn Portogis. Di Iha Salam harusnya jg
      Pattiiha juga, sebagaimana Iha Sarani(Ihamahu)setelah kalah perang dgn Belanda. Kalau beta, keturunan dari moyang yang menyelamatkan diri ke Telutih, Selatan pulau Seram. Di Telutih matarumah beta juga disebut "Iha Tehuayo".

      Hapus
  8. Terima kasih jelasin saudara..ada satu lagi ...sopacua amahai dan tamaela soahuku satu matarumah ...berarti saudara khan..darimana datang berdua ini ..? ..datang dari Iha ?..atau beberapa saudara ini ( katanya menurut satu cerita 7 sdr) turun dari Hukuanakota 2 sdr ke amahai dan beberapa turun ke Iha saparua dan pulau lain2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum di Saparua mereka memang dari daratan pulau Seram. Ok sudara, tetapi beta harap identitasnya dulu bukan "Anonim", bila email saja ke ; komunitasembun90green@gmail.com

      Hapus

Newsletter

Cari Blog Ini