Alifuru Supamaraina: PARANG DAN SALAWAKU PATASIWA PATALIMA

Sunday, October 13, 2019

PARANG DAN SALAWAKU PATASIWA PATALIMA

Oleh ; M. Thaha Pattiiha
Patasiwa Patalima
 Parang Patalima dan Salawaku Patasiwa(Desain;@embun01)

          Parang atau golok, salah satu dari peralatan yang merupakan perlengkapan manusia umumnya. Bukanlah alat yang baru dikenal belakangan ini, tetapi sudah lebih dari tiga ribu dua ratus tahun sejak manusia mengenal dan menggunakan alat – perkakas, berbahan logam. Selepas zaman batu – manusia purba, berganti dengan manusia manusia modern, karena telah memiliki pengetahuan untuk tidak lagi menggunakan batu, tetapi sudah mampu mengelola peralatan berbahan logam. Tercipta parang maupun pedang dan alat tajam lainnya untuk memotong sesuatu,  baik benda mati atau sesuatu yang hidup.  

Dimulai dengan logam tembaga, lalu perunggu, dan kemudian besi, selain timah sebagai bahan campuran logam lain.  Pada zaman besi, barulah peralatan seperti pisau, mata tombak, hingga pedang dan parang – pedang dalam bentuk dan pembuatan yang lebih sederhana dan mudah. Bukti pedang atau parang dari masa zaman logam tidak dapat ditemukan di zaman sekarang, sebab berbahan logam besi yang mudah berkarat(korosi) hingga rusak dan melebur apabila tertimbun tanah dalam waktu lama. Logam besi berkembang menjadi besi baja setelah ditemukan karbon sebagai bahan penguat logam besi, yang menghasilkan peralatan seperti sekarang dengan kualitas kekerasan yang dibutuhkan dan tahan korosi. Perkembangan itu ditandai sebagai berakhirnya zaman besi, dengan mulai bangkitnya budaya Hellenisme atau kebudayaan Athena,  di sekitar  abad ke-6 dan ke-5 Sebelum Masehi, pada masa Pericles (pericles age), berpusat di kota Iskandariyah. Bersamaan terbentuknya Kekaisaran Romawi, dan perubahan di Eropa bagian utara, yang ditandai sebagai zaman pertengahan awal.

Sebagaimana senjata – senapan, dan lainnya, bagi seorang prajurit di ketentaraan – senjata itu istri  pertama seorang tentara, begitu pun dengan parang. Sama halnya perumpamaan itu dengan parang bagi Orang Maluku. Tetapi sejak kapan – sejarahnya, parang digunakan pertama kali oleh bangsa Alifuru – pemukim kepulauan Maluku, belum ada catatan tertulis(ilmiah) yang menerangkan hal tersebut. Karena itu, tulisan ini pun dibatasi pada kajian yang menjelaskan setelah parang sudah dikenal dan tentang fungsi penggunaannya, dan kecuali itu, disinggung juga tentang “pasangan” parang, yaitu salawaku. Keduanya dikaji, dari sudut pandang budaya Maluku sebagaimana latar sejarah Bangsa Alifuru.


Parang Bagi Orang Maluku

          Golok dalam sebutan bahasa Indonesia, yang dalam bahasa melayu Maluku disebut parang, sangat dominan penggunaannya karena bentuk, ukuran, dan fungsinya dapat menggantikan alat potong lainnya. Menurut bahasa tana(h) – bahasa ibu bangsa Alifuru, disebut lopu, dan terdapat banyak istilah lain dalam bahasa-bahasa komunitas lokal di Maluku.  Misalnya ; sabad(asbad) atau sad, dalam bahasa lokal kepulauan Kei.

Parang bagi Orang Maluku tidak sekedar alat perlengkapan rumah tangga, tetapi sudah merupakan bagian dari keutuhan kebutuhan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan individual masyarakat Maluku. Umumnya berfungsi sebagai alat yang hampir setiap waktu diperlukan penggunaannya, sekaligus sebagai perlengkapan utama yang wajib disediakan dan disiapkan berkenaan dengan kebutuhan akan rasa aman. Parang adalah alat perang utama dalam tradisi sistem perlindungan dan keamanan bangsa Alifuru, juga senjata tombak, panah, serta salawaku.

Baca juga ;
Alifuru; Istilah, Pengertian, dan Filosofi

Maluku: Dilema Nama Warisan Kolonial

Telah menjadi tradisi yang tidak boleh tidak ada, karena parang memiliki fungsi perlambang budaya kemalukuan yang berkaitan erat dengan unsur “ke-beta-an“ atau keakuan sebagai bangsa Alifuru yang memaknai unsur kejantanan/kelaki-lakian, yang secara turun temurun berdasarkan kesejarahan bangsa Alifuru. Secara mitologis – dalam tradisi kepercayaan  bangsa Alifuru, diyakini memiliki aura kekuatan magis – secara naluri, yang secara tidak langsung memberi perlindungan sehingga melahirkan rasa aman bagi keselamatan diri pribadi, keluarga, dan masyarakat sekitar komunitas dan lingkungan aktifitasnya.

Ketajaman sebuah parang pun sampai pula dapat dinilai secara gender atau berjenis kelamin. Apabila ketajamannya relatif, maka akan disebut “itu parang perempuan”. Sampai pun di zaman modern saat ini, parang masih tetap dilestarikan adanya di setiap rumah orang Maluku. Sudah menjadi salah satu “barang simpanan”, sekalipun kadang fungsi penggunaan tidak setiap waktu atau rutin setiap hari. Berbeda dengan di masa lalu, parang selalu menempel bersama pemiliknya kemana dan apapun aktifitasnya waktu siang maupun malam, bahkan di kala tidur pun parang diletakkan di samping atau di posisi yang mudah dijangkau atau raih ketika terbangun.

Di masa lalu, selain parang ada juga pasangan intimnya, yaitu salawaku. Salawaku atau tameng, terbuat dari bahan kayu berserat padat dan keras, yang tahan terhadap ketajaman senjata – parang, lawan atau musuh. Banyak jenis pepohonan di Maluku dengan tingkat kekerasan kayu sebagai bahan pembuatan salawaku. Saat ini, salawaku sudah tidak lagi dibutuhkan, kecuali dibuat untuk digunakan pada tari-tarian perang ; cakalele, selebihnya hanya untuk hiasan dinding.

Adapun terdapat pernik-pernik ragam hias pada permukaan salawaku, tujuannya semata guna memperindah tidak memiliki fungsi lain. Kalau pun untuk fungsi menghadang serangan senjata musuh(lawan), kayu yang digunakan untuk salawaku sudah sebelumnya dipilih dari kayu yang berserat keras dan kuat.


Ciri Khas Patasiwa dan Patalima

          Bangsa Alifuru di masa lalu pernah terbagi dalam dua kelompok besar dengan ciri khas yang saling membedakan, yang semula berawal dari pemisahan karena suatu perseturuan. Ternyata pengelompokan itu terjadi tidak sebatas karena secara kejiwaan terdapat perbedaan karakter diri antara keduanya, tetapi sifat dan sikap juga tercermin dalam penampilan. Dikukuhkan melalui perbedaan penggunaan alat dan cara melalui lambang-lambang budaya Alifuru oleh masing-masing kelompok.

Masing-masing merupakan representasi ciri khas kelompoknya, bisa dikenali dan dibedakan melalui parang dan salawaku yang digunakan. Sama-sama menggunakan parang panjang, dengan sisi(mata) bilah parang hanya tajam di satu sisi dengan ujung parang sejajar lurus ke depan dan lancip ke satu titik(ujung). Pada bagian belakang ujung parang pada sisi yang tumpul – disebut “konde” parang. Sedangkan perbedaannya, terdapat pada (h)ulu – pegangan, parang.


Ilustrasi Bentuk/model ulu parang dan salawaku Pata-Siwa dan Pata-Lima(Desain;@embun01/Sumber foto; Google)

Ulu parang kelompok Patasiwa mengambil bentuk tapal kaki binatang babi sebagai model ulu parang mereka, dan bentuk tapal kaki binatang rusa oleh kelompok Patalima. Dua jenis binatang liar yang umum dan habitatnya ada hampir di seluruh pulau di kepulauan Maluku. Hal tersebut juga melambangkan sifat – tabiat, positif dan sekaligus sifat negatif dari kedua jenis binatang itu yang ikut tercermin pula pada sifat kedua kelompok. Pemahaman dimaksud menurut kepercayaan - Agama, Nenek Moyang Bangsa Alifuru, jauh waktu sebelum hadirnya Agama-agama Samawi di Maluku. Ulu parang dengan tapal rata dan bulat seperti itu juga karena dapat difungsikan – bila diperlukan sewaktu-waktu, untuk menumbuk sirih – pinang.  Parang Maluku hanya tajam di satu sisi. Makna filosofi ; “Orang Maluku – Patasiwa Patalima, tidak pernah dan jangan sampai memiliki sifat khianat, bermuka dua, tajam muka-belakang seperti pedang.” Nilai penting yang tidak diwakili model parang pada patung Pahlawan Pattimura yang ada sekarang – segeralah diganti.


Parang Maluku pada patung dan gambar Pahlawan Pattimura
Parang Maluku pada patung dan gambar Pahlawan Pattimura(Desain;@embun01/Sumber foto; Google, Pribadi)

Perbedaan juga pada salawaku. Ukuran tinggi(panjang) salawaku Patasiwa, lebih panjang atau bila didirikan, tinggi hampir sejajar dada orang dewasa, dengan kedua ujung agak lancip. Sebagai tameng, salawaku model Patasiwa dapat ditancapkan ke tanah atau ditahan dengan ditancapkan di sela jari jempol dan jari manis kaki. Cara berperang Patasiwa, cenderung defensive – bertahan, dengn berlindung dibalik salawaku. Sedangkan salawaku Patalima, agak lebih pendek. Seukuran panjang satu lengan orang dewasa, dan dengan kedua ujung salawaku tidak berbentuk, hanya rata. Sehingga mudah dan lincah digerakkan menghalau serangan musuh. Cara perang Patalima bersifat offensive tetapi juga hit and run.

Kebudayaan Maluku hari ini, yang terlahir dari rahim kandung adat istiadat dari dalam sejarah di masa lalu. Terutama budaya positif yang bijak sesuai kebutuhan zaman, sebagai warisan nilai-nilai kearifan histori  Bangsa Alifuru, agar tetap terlindungi dari pengaruh akulturasi dari luar Maluku.

Kampung  Bulak, 14 Oktober 2019

No comments:

Post a Comment