Minggu, 24 Januari 2016

KOMODITAS UNGGULAN MALUKU YANG MERANA


Pohon Cengkeh yang tidak lagi berproduksi (Photo Doc..10/015)

           
          Komoditas cengkeh dan pala sebagai komoditas bernilai sejarah, bukan berarti di-amin-kan karena dianggap telah selesai masa jaya dan periode emas-nya. Mengembalikan kejayaan cengkeh dan pala, memang bukan hal mudah, tetapi harus dilakukan. Harapan hidup selama ini dipertaruhkan padanya. Wajar kalau masyarakat menuntut adanya adanya campur tangan pemerintah daerah, untuk lebih serius  menata ulang sistem tata niaga dan membangun semangat masyarakat untuk penanaman kembali, mengganti pohon-pohon yang telah kering dan mati. Kekeringan hingga kematian pohon-pohon cengkeh dan pala meluas terjadi di seanteru wilayah baku komoditas istimewa ini.


 Sebabnya adalah kekecewaan terhadap harga jual khususnya cengkeh, yang terus menurun sejak tahun sembilan puluhan akhir. Harga menurun sebagai akibat dari adanya pasokan yang berlebihan oleh hasil panen dari penanaman secara besar-besaran di daerah lain, seperti di pulau Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Daerah lain ikut-ikutan menanam cengkeh, itu karena adanya penjualan bibit – polong, cengkeh oleh masyarakat secara bebas dan besar-besaran.
Sementara tidak terlihat ada kontrol dan pembatasan oleh pemerintah daerah Maluku saat itu, sekalipun memang  ada hal yang menggembirakan  saat ini, karena pohon-pohon cengkeh tersebut sebagian besar tidak lagi menghasilkan sebanyak sebelumnya. 

Apa yang terjadi, terjadi begitu saja. Sama sekali tidak ada tindakan atau langkah kebijakan nyata oleh pemerintah Daerah dalam melihat kondisi demikian di masyarakat saat itu, padahal sudah seharusnya ada memproteksi untuk menghindari akibat sebagaimana yang tengah berlangsung saat itu. Sekarang pun masih sama saja, harga penjualan cengkeh   membaik tetapi produksi petani menurun oleh pembiaran selama ini yang telah pupus harapan para petani untuk  memelihara kebun cengkeh.

Saat ini oleh petani, tanaman cengkeh khususnya cenderung membiarkan begitu saja, menjadi mati segan hidup juga dalam rongrongan hama pohon.  Petani cengkeh merasa berjuang sendiri, sejak penanaman, pemeliharaan, hingga hasil panen, seperti berada di wilayah tak bertuan. Harga jual hasil panen menjadi kuasa pedagang pengumpul, lagi-lagi pemerintah daerah entah seperti apa pertimbangan pemikirannya sehingga komoditas unggulan Maluku ini tidak menarik bagi mereka untuk serius diurus, kecuali mungkin hanya mengurus penarikan “ngase” atau pungutan bea lalulintas perdagangan komoditas. Keadaan yang sama dan satu sahabat dalam nasib terhadap komoditas pala, petani pala yang juga adalah petani cengkeh, tidak berbeda perlakuan dan gantungan harapan pada hasil panen pala.

Pasokan cengkeh untuk kebutuhan industri rokok khususnya, serta obat-obatan dan lain-lain, bahkan mengandalkan impor cengkeh dari luar negeri atas ijin dan kemudahan oleh pemerintah pusat. Pemerintah Daerah yang berkepentingan dengan nilai keunggulan sumber daya alam di daerahnya, tidak banyak berbuat untuk menyelamatkan sumber kekayaan pendapatan hidup masyarakatnya. Kebijakan impor cengkeh telah mengorbankan nasib kehidupan jutaan orang, untuk itu dibutuhkan lobby pemerintah daerah Maluku secara intensif untuk pemerintah pusat segera penghentian impor cengkeh dan hanya menggunakan produksi dari dalam negeri yaitu dari Maluku, apalagi kualitas cengkeh Maluku adalah yang terbaik di Indonesia maupun dunia.

Diperlukan penciptaan solusi inovatif dan kreatif guna mengembalikan kejayaan dan menebarkan kembali harumnya “bunga lilin” serta  “kembang  fuli dan biji pala” yang pernah menjadi tampuh kesejahteraan Orang Maluku. Pengembangannya harus seiring dengan komoditas lain seperti kakao, kelapa, kopi, vanili, padi,  jagung, kacang-kacangan, dan hasil perkebunan maupun pertanian lainnya.


Buah Pala (Photo specials)

Komoditas perkebunan lainnya yang secara alami tumbuh sendiri menjadi areal hutan adalah pohon sagu, sebagai sumber makanan pokok yang telah berumur sama dengan masyarakat penghuni bumi Maluku sejak awal. Mengalami nasib sama seperti cengkeh dan pala, lahan perkebunan sagu semakin berkurang dan sebagian telah lenyap areal habitatnya.


Pohon Sagu(Rumbia).(Photo.Doc.10/2015)

Dampak pergeseran pola konsumsi pangan yang semula sagu, kini berganti dengan beras. Padahal sagu memiliki keunggulan karbohidrat lebih tinggi dari beras atau nasi. Sagu memasok gizi untuk stamina tubuh lebih sehat dan bertenaga, juga adalah bahan baku pembuatan panganan khas Maluku lainnya.

Bumi Maluku adalah habitat asli dan cocok untuk pertumbuhan pohon sagu, sekaligus sebagai pohon konservasi perlindungan lingkungan. Pohon sagu yang hidup secara rumpun berguna sebagai penampung dan pelindung sumber air baku, efektif untuk penyerapan gas karbon dioksida, sehingga ikut membantu mitigasi perubahan iklim. Jangan sampai diabaikan, dibiarkan merana tanpa kepedulian berarti,  apalagi hingga lenyap begitu saja dari daftar sejarah kekayaan sumber daya alam bumi Maluku.


 Cara Tradisional pengolahan pati sagu, menggunakan "Goti"(Photo Doc.10/2015)


Secara tradisional tepung sagu tidak banyak inovasi untuk menjadikannya beragam jenis produk makanan, tetapi kebutuhan terhadap konsumsi makanan berbahan sagu masih saja tinggi permintaannya, baik oleh masyarakat Maluku di daerah maupun yang sudah berdomisili di lain daerah, bahkan di luar negeri. Pasar sagu belum dan tidak akan mati sampai kapanpun, selama masih ada orang Maluku. Karena sagu dalam kenyataannya masih lebih unggul gizinya dari pada beras, kandungan karbohidrat dan tidak banyak halangan bagi kesehatan dalam mengkonsumsi sagu, bandingkan dengan beras atau nasi. Tepung sagu maupun sagu matang lempengan, dapat disimpan dalam waktu yang lama dan praktis untuk dibawa sebagai bekal atau oleh-ole.

Peran motivasi dan inovasi oleh Pemerintah Daerah sangat diharapkan untuk tetap dan selalu menjadikan komuditas tepung sagu sebagai bahan makanan bukan sekadar makanan pilihan lain, tetapi makanan utama bagi masyarakat Maluku, karena manfaat keunggulan gizinya dan sejarahnya. Demikian juga dengan cengkeh dan pala, mesti ada inovasi beragam untuk menjadikan hasil panen buah dan daun cengkeh, juga daging buah pala, berarti dan bermanfaat secara ekonomis untuk masyarakat Maluku.
 
Masih tersedia dan membentang luas areal lahan untuk perkebunan dan pertanian di bumi Maluku. Ragam komoditi tidak sulit tumbuh dan berkembang oleh tanah yang masih subur alami. Demikian juga dengan peternakan, tersedia lahan dan padang sabana yang sangat sesuai untuk pemeliharaan dan pengembangan usaha peternakan seluas mungkin, baik oleh masyarakat maupun korporasi. Tanam dan peliharan serta urus kembali dengan baik dan serius komuditas cengkeh, pala dan sagu, sebagai sumber penghidupan dan kesejahteraan masyarakat Maluku. Kembalikan kecintaan dan kejayaan masa-masa penuh kebahagiaan terhadap komuditas unggulan daerah Maluku dimaksud.

Bangun kembali semangat bertani, bentangkan optimisme kembali membangun negeri, sediakan kemudahan berarti bagi masyarakat oleh pemerintah, khususnya oleh pemerintah daerah, yang memiliki perangkat struktural aparat, program, cara, dan anggaran, untuk melakukan lebih banyak hal. Proteksi secara maksimal untuk perlindungan petani dan hasil panennya. Lakukan yang seharusnya untuk kepentingan peningkatan kualitas penghidupan masyarakat Maluku, hindari jangan cepat berpuas diri seakan sudah maksimal berbuat. Mata rakyat sudah lebih baik melihat dan sudah lebih cerdas membaca.

Depok, 25 Januari 2016


M.Thaha Pattiiha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini