Minggu, 01 Juli 2018

BAHASA-TANA, AKSARA ALIFURU, DAN NASIB BAHASA LOKAL DI MALUKU



Alifuru (Desain; M.Th.Pattiiha-foto latar; Istimewa)

           Maluku, Indonesia, dan bangsa lain di dunia Internasional, dalam beberapa waktu terakhir ini, dirisaukan dengan pemberitaan tentang hasil penelitian terhadap bahasa-bahasa umat manusia diseluruh dunia. Sebagian bahasa yang sebelumnya digunakan dalam komunitas masyarakat lokal dipastikan telah punah, sebagian lagi dikawatirkan karena sedang berada didalam situasi terancam dan bahkan menuju kepunahan.

Kepulauan Maluku, selain memiliki kekayaan bahasa khusus yang disebut bahasa tana, juga terdapat ratusan bahasa lokal. Tetapi bahasa-bahasa lokal yang sudah dimasukan di dalam dafatar bahasa-bahasa, sebagian bahasa ternyata dinyatakan telah punah, dan sejumlah bahasa lagi masuk daftar tunggu katagori sedang menuju kepunahan.

Bahasa Tanah (baca ; bahasa-tana), disebut dalam bahasa Alifuru ; Souw Upuko-Lusikolu - bahasa nenek-moyang Alifuru, kata rujukan yang pasti menunjuk kepada bahasa asli bangsa Alifuru. Bahasa-tana adalah bahasa ibu - Mather Language, karena merupakan ibu dari berbagai bahasa lokal yang tercipta kemudian hari dan digunakan oleh komunitas-komunitas masyarakat lokal yang ada di seluruh kepulauan Maluku.

Istilah bahasa-tana adalah sebutan untuk jenis bahasa yang dipergunakan saat masa awal proses pembentukan kebudayaan nenek moyang bangsa Alifuru mendiami pulau Seram serta kemudian bermigrasi ke pulau-pulau lain di kepulauan Maluku. Sebutan dimaksud merujuk kepada sejarah asal-usul bahasa tersebut, yaitu bahasa awal yang tercipta dan dipergunakan sebagai alat berkomunikasi  oleh nenek-moyang bangsa Alifuru di tanah(pulau) Seram dalam beradaptasi dan berinteraksi.

Secara turun-temurun bahasa-tana diwariskan secara genetis di kalangan dalam masyarakat bangsa Alifuru. Dapat dikatakan bahasa-tana menjadi bahasa induk atau bahasa-ibu yang kemudian berkembang dan melahirkan bahasa-bahasa lokal yang tercipta sesudahnya dan dipergunakan di masing-masing komunitas di seluruh kepulauan Maluku saat ini.

Bahasa-tana telah mengalami dan menjalani perjalanan waktu dan cara yang unik, tetapi khas kemampuan intelegensi luar biasa suatu pencapaian pengetahuan bangsa Alifuru. Kemampuan daya cipta yang berbeda dengan bangsa lain di belahan dunia yang lain. Alifuru tidak menciptakan bahasa tulis, tetapi menjadikan bahasa lisan untuk menulis kapata.


Bahasa sebagai unsur Kebudayaan

          Peradaban bangsa Alifuru, yang telah berlangsung dan berproses selama beribu tahun, telah menciptakan warna tersendiri yang menjadi kekayaan kebudayaan Maluku saat ini. Kebudayaan Maluku kaya dengan salah satu unsur kebudayaannya yaitu bahasa, karena memiliki beragam bahasa lokal, selain bahasa-tana. Peradaban bangsa Alifuru dari masa lalu yang menjadi identitas kebudayaan Maluku saat ini, artinya tidak ada yang namanya kebudayaan suku Ambon, sebagaimana yang salah dipahami dan ditulis sebagian orang. Sama salahnya dengan kekeliruan sejarah pemakaian kata Maluku, untuk nama kepulauan bangsa Alifuru.

Sebagai penghormatan dan penghargaan kepada bahasa-ibu, UNESCO1) - Lembaga yang membantu Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, pada tahun 2002 telah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai International Mother Language Day - Hari Bahasa Ibu Internasional, untuk diperingati secara internasional oleh semua negara di seluruh dunia. Bersamaan dengan penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional, diterbitkan Deklarasi Universal UNESCO tentang Keanekaragaman Budaya - Universal Declaration on Cultural Diversity, yang diimplementasikan melalui pelaksanaan 20(dua puluh) rencana aksi. Poin ke-5 rencana aksi, adalah tentang bahasa, disebutkan ; “Safeguarding the linguistic heritage of humanity and giving support to expression, creation and dissemination in the greatest possible number of languages”.

Negara-negara anggota UNESCO setuju untuk mengambil langkah yang tepat untuk melakukan perlindungan kepada warisan bahasa umat manusia dan memberikan dukungan untuk bahasa-bahasa dapat diekspresikan, dikreasikan dan disebarluaskan seluas-luasnya. Poin ke-6, menyatakan mendorong keberagaman linguistik - sambil menghormati bahasa ibu - di semua tingkat pendidikan, sedapat mungkin, dan mendorong pembelajaran beberapa bahasa dari usia termuda.

Dunia internasional telah ada kesadaran bersama dan sepakat melindungi serta menyelamatkan bahasa-bahasa di seluruh dunia, terutama pada komunitas terbatas masyarakat asli yang memiliki budaya tersendiri, dengan kepemilikan bahasa ibu. Alifuru memiliki bahasa-tanah yang adalah bahasa ibu dan bahasa-bahasa lokal Maluku, harus diperlakukan dan dibanggakan sebagai kekayaan budaya secara patut, dan tentu wajib dilestarikan dengan tidaka sekadar di”hafalkan” tetapi mestinya didokumentasikan.

Bahasa sebagai bagian dari unsur kebudayaan, dinyatakan oleh Ilmuan perintis berdirinya sebelas jurusan Antropologi di berbagai universitas di Indonesia Prof. DR. Koentjoroningrat2), menyatakan satu dari tujuh unsur kebudayaan secara universal adalah bahasa. Menurut Koentjoroningrat, bahasa merupakan suatu bentuk pengucapan yang indah dalam sebuah kebudayaan. Bahasa menjadi alat perantara utama manusia dalam melanjutkan atau mengadaptasikan sebuah kebudayaan, yang terdiri dari bahasa lisan dan tulisan.

Bahasa-tana memang tidak tertulis, hanya didokumentasikan secara lisan melalui kapata, tetapi sebagai produk budaya, bahasa-tana telah berkontribusi maksimal sebagai sumber yang melahirkan bahasa-bahasa lokal Maluku. Bahasa-tana yang memperkaya dan sekaligus membentuk batang-tubuh kebudayaan Maluku.

Seiring perjalanan waktu dan sejarah, bahasa-tanah memang tidak terbebas dari akulturasi budaya bahasa khususnya dari bahasa Melayu, karena sebagian perbendaharaan kosa kata dalam bahasa-tana hampir mirip dengan bahasa Melayu.

Bahasa Melayu, bahasa Austronesia dan bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Sansekerta sendiri, bersumber dari Paleo-Sansekerta2) sebagai nenek-moyang bahasa-bahasa dunia. Pertanyaannya, bila ditelusur dari jalur selatan migrasi manusia awal dari benua Afrika hingga daratan Sunda (Paparan Sunda) - anak benua Asia, menuju Melanesia(melalui kepulauan Maluku) dan menempati benua Australia – daratan Sahul, 40.000 - 45.000 tahun lalu3), di masa  permukaan laut turun selama zaman es Pleistocene, termasuk maksimum glasial terakhir sekitar 18.000 tahun yang lalu4). Apakah saat itu bahasa Melayu sudah menjadi salah satu bahasa komunikasi bagi komunitas daratan Sunda, atau oleh pengaruh setelah kepulauan Maluku di”serbu” para pendatang di awal masa (Sebelum Masehi/SM) dalam periode zaman perdagangan rempah, hingga masa-masa penjajahan oleh bangsa Eropa. Sulit dipastikan, butuh penelitian lebih lanjut oleh para ahli Etimologi dan Linguistik, tentang sejarah bahasa-tanah, bahasa lokal, dan  seperti apa serta kapan pengaruh bahasa asing – khususnya bahasa Melayu,  terhadap perkembangan bahasa-tana bangsa Alifuru.    

Sebagai produk budaya, bahasa-tana telah mampu melewati masa kritis tekanan evolusi waktu dan lingkungan sosial di masa lalu. Selamat dari tekanan infiltrasi dan tantangan akulturasi multikulturalisme bahkan semasa kolonialis bangsa asing. Kesadaran yang luar biasa dan bijak sehingga bahasa-tana masih dapat diselamatkan secara mandiri orang per orang dari generasi ke generasi. Karena itu, walaupun bahasa-tana sudah tidak digunakan lagi sebagai bahasa untuk percakapan sehari-hari, tetapi telah menjadi pustaka yang mendokumentasikan tribalisme sejarah evolusi dan unsur lain sebagai satu kesatuan menjadi kebudayaan bangsa Alifuru. 




Kapata – Bangsa Alifuru(Disain ; M.Thaha Pattiiha)

“Sei hale hatu, hatu lepe’eiy”,  contoh sebuah kalimat kapata dalam bahasa-tana, yang artinya ; siapa yang membalik batu, batu akan menindihnya. Pengucapan dalam bahasa Melayu-Ambon5), sapa bale batu, batu gepe dia. Hanya sebuah kalimat pendek, yang bila ditelusuri asal usulnya dan dimaknai yang sesungguhnya, tidak akan menyatakan sesuatu yang tidak sesingkat tulisannya.  Kalimat-kalimat kapata, yang bila boleh diperumpamakan, sebagaimana sebuah ayat dalam firman Tuhan pada kitab suci agama-agama. Terkecuali dari siapa dan sejak kapan pastinya kalimat tersebut pertama kali diucapkan, itu yang berbeda. Tetapi kalimat kapata sedemikian, hanya diyakini bahwa sumbernya adalah kalimat lisan yang sudah sangat tua yang berasal dari para leluhur nenek-moyang orang Maluku yaitu bangsa Alifuru.

Kalimat lisan dalam tata-bahasa bahasa-tanah, tidak semudah menterjemahkan hanya berdasarkan kosa katanya, sebab arti dari satu saja kata dari sebagian kata baku bahasa-tana bisa saja mengandung makna yang butuh lebih dari satu tafsir. Beta sempat membaca dan mempelajari beberapa terjemahan kalimat kapata pada beberapa sumber, terkesan rancu karena asal terjemahan dan tentu saja menjadi keliru hasil tafsirnya.

Perbendaharaan kalimat Kapata,  karena selain tidak tertulis juga tidak secara berurutan dan tidak diketahui seberapa banyak adanya. Selama ini diketahui melalui cara penyampaian secara lisan atau Oral Story. Mengandalkan penutur orang atau berkisah secara lisan,  dari para pengingat yang diperoleh secara turun temurun dari dalam keluarga atau suatu komunitas masyarakat adat. Melalui kemampuan daya ingat para penutur, barulah dapat ditemui perbendaharaan kalimat-kalimat kapata. Sayangnya, hingga dengan tulisan ini, beta belum menemukan kalimat-kalimat kapata yang masih hingga saat ini diingat dan diucapkan, telah dikumpulkan dalam bentuk suatu catatan resmi berbentuk buku atau kamus kapata.


Bahasa-tana sebagai Pustaka

           Bahasa merupakan identitas yang mudah untuk membaca perbedaan dan mengenali kesamaan di antara komunitas dalam pergaulan dan interaksi antara manusia. Bahasa menunjukan bangsa, dengan bahasa komunikasi tersambang dan terbangun. 

Tidak salah bila secara etnosentris mengenalkan identitas diri melalui bahasa, karena bahasa menunjukan seperti apa peradaban suatu suku-bangsa. Tingkat peradaban dapat diukur melalui kemampuan memiliki bahasa sendiri dan ciri khas bahasa yang digunakan, karena merupakan unsur dari identitas kebudayaan yang dicapai dan dimiliki. Secara etnosentris patut dibanggakan untuk membedakan suku-bangsanya dengan suku-bangsa yang lain.

Nenek-moyang orang Maluku adalah Bangsa Alifuru, bangsa yang mendiami kepulauan Maluku. Sejarah asal muasal bangsa Alifuru dan nama Alifuru – tidak dibahas pada tulisan ini, dapat ditelusuri untuk diketahui secara lebih baik hanya bisa dengan melalui kalimat-kalimat kapata yang aslinya menggunkan bahasa-tana. Sekalipun memang kenyataannya sudah makin sedikit orang yang masih bisa mengingat kalimat-kalimat kapata, maupun memahami secara benar perbedaan antara bahasa-tana dengan bahasa lokalnya.

Sejarah Maluku yang utuh dan benar adalah sejarah yang dapat dibaca melalui sumber bahasa lisan. Sumber sejarah melalui penuturan atau bahasa lisan dalam kapata, dengan keterbatasannya, paling tidak itu yang menjadi kepustakaan acuan mengetahuan sejarah masa lalu orang Maluku. Inti sumbernya ada pada kepustakaan kapata berbahasa-tanah, yang ber-referensi penterjemahan melalui pemahaman bahasa-bahasa lokal Maluku. Akan sulit memahami dan menterjemahkan bahasa-tana bila tidak cakap berbahasa salah satu bahasa lokal Maluku, khususnya yang umum digunakan di kalangan masyarakat di pulau Seram. Terdapat persamaan-persamaan, juga perbedaan ucapan antar komunitas atau wilayah, tetapi sudah dapat mendekati  dan bisa memahami dan menterjemahkan kapata yang aslinya menggunakan bahasa-tana.

Umumnya bahasa-tana dianggap sama dengan kapata, atau dalam istilah lain seperti kahua, talili, lan atau lani, bahkan boleh juga evav. Terdapat semacam kekeliruan pemahaman antara yang dimaksud dengan bahasa-tana dan kapata – atau istilah yang lainnya.

Kapata hanya sebagai media penyampai pesan dalam bahasa-tanah. Kata dan kalimat yang diucap atau disampaikan saat ber-kapata dalam bahasa-tana, mengandung maksud tertentu. Menyampaikan kisah atau informasi tidak sebatas tentang sejarah atau suatu peristiwa di masa lalu. Kapata berisikan pula pesan-pesan kebijakan dari para leluhur atau nenek-moyang, berisikan aturan tentang hukum dan tatanan adat. Bercerita tentang asal-usul suatu komunitas mata-ruma(marga-fam-nama keluarga), soa, uku(o), atau wilayah adat(nama/naman/aman) atau negeri, tentang hubungan genekologis atau yang bersifat sosiokultural. Karena itu, untuk bisa mendengar seperti apa isi pesan yang di-kapata-kan, hanya melalui suatu kesempatan baik itu acara, tempat, waktu, dan untuk kebutuhan sesuai keperluan penyelenggaraan menurut adat-istiadat.

Dalam penyelenggaraan upacara-upacara adat dalam kebudayaan Maluku, kapata baru bisa diperdengarkan atau sampaikan, bisa dalam bentuk pidato, nyanyian, pantun, atau diucapkan berbentuk “do’a” seperti dalam cara beribadah agama-agama samawi.  Acara atau upacara seperti saat pelantikan Adat Raja Negeri(pemimpin), prosesi hendak membangun atau merenovasi rumah adat Baeleu, rumah Raja Adat, rumah induk mata-rumah, panas pela dan gandong. Dalam prosesi pemasangan sasi adat, upacara persembahan di batu-pamali, dudu(sidang atau rapat) adat, atau dinyanyikan dalam tari-tarian adat seperti maku-maku(nama lain ; kahua, toti) di pulau Seram, tari Ma’atenu di pulau Haruku, atau berbentu do’a seperti pada tari bambu-gila, serta upacara ritual adat lainnya.

Mempelajari sejarah dan kebudayaan bangsa Alifuru, hendaknya jadikan kalimat-kalimat Kapata sebagai referensi paling mendekati kebenaran sejarah tutur atau sejarah lisan (oral history) yang umum dianut bangsa Alifuru tetapi cenderung seperti mitos.

Pelajari Kapata, karena kapata adalah “Literatur karya cipta kesusasteraan lisan yang mencatat sejarah dan memperkenalkan kebudayaan bangsa Alifuru”. Kapata sesungguhnya merupakan karya sastera tidak tertulis khas Alifuru, dan tidak banyak ditemukan pada bangsa lain. Kalimat-kalimat kapata memang tidak tertulis, kecuali menggunakan daya ingat yang dapat disampaikan dengan cara bertutur atau bercerita. Alasannya, terbangun dari sifat – tabiat, kebiasaan bangsa Alifuru yang memang sangat tertutup, jangankan dengan orang luar(asing) dengan sesamanya saja bisa saling merahasiakan. Apalagi kalimat-kalimat kapata tidak umum dapat diketahui dan boleh disampaikan secara bebas kepada siapa saja, hanya dari dan kepada orang dalam lingkungan terbatas dan saat paling dibutuhkan.


Adakah Aksara Bangsa Alifuru

           Bangsa Alifuru tidak memiliki pengetahuan tertulis, apalagi memiliki aksara tersendiri. Bila pun seperti yang terpublikasi belakangan ini, bukanlah alfabet bangsa Alifuru, hanya “ciptaan” imajiner yang tidak dapat dipertanggung jawabkan baik dari sisi sejarah, apalagi secara ilmiah. Bentuk-bentuk gambar yang dikatakan adalah aksara Alifuru yang dihebokan, hanya kreatifitas seni biasa bersifat umum, perlu diapresiasi, tetapi tidak bermanfaat untuk didiskusikan secara akademis, tetapi akan beta jelaskan nanti secara singkat pada bagian berikutnya dari tulisan ini.  

Bentuk-bentuk yang disebut aksara Alifuru, adalah kreasi ornament-ornamen etnik yang memang secara tradisional berasal dari tradisi bangsa Alifuru dalam membuat tanda sebagai alat penyampai pesan. Setiap tanda berbentuk sesuatu, dan bermaksud atau berisi pesan yang dapat diterjemahkan arti atau masud dan tujuannya. Tanda-tanda tersebut, dapat dibuat dengan cara menggambarnya di permukaan tanah, pasir, atau di dinding batu. Dapat juga menggunakan media batu, batangan kayu atau bilah bambu, daun-daunan, digantung, ditempel atau disisip di pepohonan, diletakkan atau disusun merata atau ditumpuk di tanah. Alat atau bahan-bahan dan dibentuk disusun menyerupai sesuatu, hal itu dijadikan media penyampai pesan yang melambangkan maksud tertentu atau sebagai petunjuk untu suatu tujuan.

Bangsa Alifuru tidak memiliki aksara atau alphabet untuk menulis, mereka tidak memiliki pengetahuan tulisan, hanya ada bahasa-tana sebagai pengetahuan lisan yang didokumentasikan dalam bentuk kapata. Tidak ada petunjuk yang dapat dijadikan alat bukti dan kesaksian, yang dapat diyakini serta secara ilmiah terbukti benar ada. Bila aksara dimaksud memang benar ada, berarti pernah digunakan untuk menuliskan sesuatu.  Penulisan melalui menggunakan media kertas, kain, kulit, daun, bilah bambu, logam, dinding batu, atau terpahat pada situs megalitik. Sebagaimana contoh aksara yang diciptakan dan digunakan bangsa lain, buktinya memang ada dan dapat disaksikan saat sekarang. Sementara aksara Alifuru tidak seperti demikian.

Saat ini terdapat “Aksara Alifuru” yang marak dipublikasikan di media sosial sejak beberapa waktu lalu, sepertinya sempat pula dicetak berbentuk buku. Sebagian orang terbius dan percaya, bahkan di sebuah sekolah kejuruan menengah atas di kota Masohi – Kabupaten Maluku Tengah, sudah diajarkan dan di praktekkan seperti yang kemudian dibuat dalam bentuk kerajinan untuk hiasan dinding.



Contoh kerajinan “Aksara Alifuru” yang di publikasikan( Copas. dari Jimmy Nur Manuputty, Facebook)


Mengamati bentuknya, aksara Alifuru – jadi-jadian, ini sangat tidak mudah digunakan hanya untuk menulis tangan sebuah kata saja, apalagi untuk menulis sebuah kalimat. Bandingkan dengan aksara Latin, Arab, China, Sansekerta, atau aksara lokal Indonesia seperti aksara Palawa(Kawi), Hanacaraka, Rencong(Aceh), Batak, Bali, Lampung, atau aksara Lontara - Sulawesi Selatan. Tulisan paku6) yang ditemukan bangsa Sumeria – di Irak Selatan, yang kemudian setelah dipelajari bangsa Mesir kuno sekitar tahun 3050 SM(Sebelum Masehi) melahirkan sistem penulisan hieroglif, masih dapat disaksikan hingga kini pada situs-situs kuno  di negara Mesir. Hampir semua aksara bangsa-bangsa tersebut meninggalkan bukti berupa tulisan dalam berbagai media yang digunakan. Apakah aksara(alfabet) atau bukti tertulis – tulisan, bangsa Alifuru, adakah seperti bangsa lain yang dimaksudkan di atas ?

Kecuali sebagai karya seni hasil kerajinan patut diapresiasi, tetapi tidak sampai dijadikan pengetahuan yang syaratnya mal-ilmu dan tentunya mengarah kepada kebohongan terhadap sejarah kebudayaan bangsa Alifuru.  Bentu-bentuk yang tergambar dan dikira adalah aksara bangsa Alifuru, merupakan gambar ornamen seni hias tradisional Alifuru, yang diilhami kekayaan sumber daya alam bumi bangsa Alifuru. Dikatakan sudah lama ada, memang benar, karena penggunaannya juga sebagai lambang-lambang adat. Pada negeri-negeri adat di Maluku, secara tradisional ada sebagian negeri yang memiliki lambang adat, dengan motif lambang yang atas terjemahan adat negerinya.  

Ilmu pengetahuan dan sejarah tidak ditulis dengan kebohongan dan kepalsuan, atas dorongan kehendak sepihak yang direkayasa dan dipaksakan, sebab selalu dapat dibuktikan kebenaran sesungguhnya.


Pesan peringatan kepada bangsa Alifuru, dari Amsterdam – Belanda


Ancaman Kepunahan Bahasa

           UNESCO sudah menetapkan rencana aksi untuk penyelamatan bahasa-bahasa dunia, sementara di Indonesia bisanya mungkin sebatas membuat daftar identifikasi dan hanya mencatat permasalahan nasib bahasa-bahasa lokal, termasuk di kepulauan Maluku.

Saat ini sejumlah bahasa lokal Maluku yang dinyatakan sudah punah7), seperti yang diberitakan media online liputan6dotcom dan yang diumumkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia8) yaitu ; bahasa Kayeli, Palumata, Moksela, dan Hukumina di pulau Buru,  bahasa Piru(Eti ?) di Seram Bagian Barat, bahasa Loun di pulau Seram bagian utara, serta bahasa Nila dan Serua (dari kepulauan TNS – Teon, Nila, Serua) yang telah bermukim di dataran Waepia - pulau Seram bagian selatan. Bahasa Suru9) di pulau Seram bagian timur, pun sudah punah, tidak ada lagi. Bahasa Meher di Maluku Tenggara Barat, dinyatakan berstatus keritis atau sangat terancam, dan yang terancam punah yaitu bahasa Hulung, Samasuru. Bahasa (Lei)Hitu dinyatakan mengalami kemunduran. Sementara itu, bahasa (pulau)Buru, Luhu,  dan Lisabata, stabil tapi terancam punah. Hanya 19(sembilan belas) bahasa daerah di Indonesia yang dinyatakan aman, karena penuturnya berjumlah ribuan bahkan jutaan.

Daftar masalah dari penyelenggara pemerintahan yang merisaukan, yang bisa saja tidak mudah menyembuhkan penyebabnya, sudah berlangsung lama rasa sakit itu akibat virus kolonialisme dan modernisme yang berinkubasi secara berkesinambungan. Menurut Kantor Bahasa Provinsi Maluku10), punahnya bahasa tersebut disebabkan beberapa faktor, seperti pada zaman Belanda hingga masa kemerdekaan terjadi pelarangan penggunaan bahasa itu di lembaga pendidikan, rumah ibadah bahkan kantor-kantor Belanda. 

Telah cukup lama ancaman dan bahaya kepunahan terhadap bahasa-bahasa lokal, tentu memiliki beragam alasan. Masyarakat komunitas pemilik bahasa-bahasa yang mestinya sendiri menyadari dan disadarkan untuk bangkit menyelamatkan kekayaan identitas budaya lokalnya. Langkah penyelamatan tidak mudah dan cepat, harus menemukan cara efektif tidak sekadar mengidentifikasi, mendokumentasikan, menerbitkan kamus bahasa, lalu membiarkan komunitas pemilik bahasa yang bersangkutan belajar sendiri.

Banyak alasan dan cara yang patut dilakukan, karena penyebabnya sangat komplek dan penuh tantangan seiring perkembangan waktu dan perubahan budaya yang menyertai kemajuan teknologi saat sekarang. Perubahan perilaku dan pola pikir yang lepas kendali oleh kekurang pengetahuan atas keunggulan budaya sendiri, bisa membuat jarak hingga sampai sengaja meninggalkan identitas budaya sendiri.  Akibat yang terjadi adalah kehilangan rasa percaya diri pada budaya milik, sebaliknya merasa budaya lain – asing, lebih baik.

Bahasa-tana tidak terkecuali, dari waktu ke waktu makin berkurang para penuturnya. Sementara bahasa-bahasa lokal, penuturnya mengalami pengurangan pengguna karena cenderung ditinggalkan dan diganti dengan bahasa-bahasa “gaul” – asing, akibat pengaruh lingkungan oleh perubahan zaman yang memunculkan kemudahan komunikasi dan informasi.

Bahasa-bahasa lokal saatnya wajib digunakan selalu dalam berkomunikasi dan berinteraksi di lingkungan sesama komunitas berbahasa lokal bersangkutan, dan dimasukan sebagai Mulok(muatan lokal) mata pelajaran di sekolah-sekolah setempat. Dengan cara demikian bahasa-bahasa lokal khususnya, bisa diselamatkan, tidak akan terancam punah ditergerus wabah erosi identitas, akibat akulturasi budaya yang malah mengikis dan hingga menguburkan budaya sendiri.

Infiltarsi budaya asing adalah ancaman serius yang telah merambat dan merasuk ke relung-relung kehidupan masyarakat seperti tidak lagi berbatas, tidak terkecuali akan turut menggerus budaya-budaya lokal, antara lain unsur bahasa-bahasa lokal asli Maluku. Walau sudah terlambat, waktunya memulai sekarang untuk kembali menyemai, memelihara, melindungi, dan menggunakan bahasa sendiri dalam komunikasi disetiap kesempatan di antara masing-masing sesama komunitas berbahasa lokal.

Kesadaran pada pemeliharaan budaya sendiri, menjadi cara membangun pertahanan identitas local, dalam kenyataan kebudayaan bangsa-bangsa di seluruh dunia yang sedang diperhadapkan dalam situasi pengaruh luar biasa globalisasi budaya11), fenomena yang dapat dirasakan saat ini yang dipengaruhi difusi komoditas dan gagasan sebagai standarisasi ekspresi budaya dunia. Situasi demikian didorong oleh efisiensi atau daya tarik komunikasi nirkabel, perdagangan elektronik, budaya populer dan lalulintas perjalanan internasional. Beakibat yang mungkin saja akan melahirkan pandangan yang bisa saja benar atau bisa saja tidak terjadi. Bahwa globalisasi sementara ini dilihat sebagai kecenderungan ke arah homogenitas yang bisa saja pada akhirnya membuat pengalaman manusia tidak lagi saling berbeda secara budaya.

Kapata Alifuru ; “Sei lesi soue, soue male eiy” (Doc-design ; M.Th.Pattiiha)


Pesan Upuko Lusikolu, nenek moyang bangsa Alifuru terpahat sebagai prasasti dalam dokumentasi lisan melalui kalimat  kapata ;“Sei hale souw, souw male eiy”, sapa bale bahasa, bahasa akang lingkar dia. Maksudnya pelihara bahasa sebagai sumber pesan(amanat) yang mengatur tatanan adat istiadat dan sejarah, jangan pernah dirubah apalagi diganti dengan yang lain, tidak pula merubah sejarah dari yang sebenarnya, bila tidak ingin kehilangan identitas dan jati diri sebagai suatu bangsa. Singkatnya, patuhi amanat, jangan pernah ingkar janji, bila tidak ingin sengsara di kemudian hari.


                                                                                                                            Depok, 1 Juli 2018

                                                                                                                          M. Thaha Pattiiha

---------------------------
Catatan ;  Tulisan, foto, atau gambar ilustrasi pada blog ini, memiliki hak cipta yang dilindungsi Undang-Undang. Meminta ijin lebih dahulu atau cantumkan sumbernya, bila hendak di gunakan untuk keperluannya. Tinggalkan e-mail untuk balasan.


-      Referensi ;

        Retrieved: 2006-06-23.  http://www.unesco.org/education/imld_2002/unversal_decla.shtml   Diundu 20 Juni 2010
2)     Dhani Irwanto ; Asal-usul Peradaban Pasca Banjir http://atlantislautjawa.blogspot.com/p/asal-usul-peradaban-pasca-banjir.html
3)     Hirst, K. Kris ; Sahul: Pleistocene Continent of Australia, Tasmania, and New Guinea   https://www.thoughtco.com/sahul-pleistocene-continent-172704     Diundu 20 Juni 2017  
4)     Sahul Shelf(Geologi) ; https://en.wikipedia.org/wiki/Sahul_Shelf    diundu 13 April 2018
5)     Melayu Ambon ; adalah bahasa komunikasi sehari-hari, dasarnya adalah bahasa Indonesia, tetapi  dengan aksen dan pilihan kata yang umumnya biasa digunakan di kalangan masyarakat Maluku.
6)     Culture  ; https://www2.palomar.edu/anthro/culture/default.htm  diundu 21 April 216
7)     Status Bahasa-Bahasa Daerah Di Indonesia ; liputan6dotcom/ Liputan6online, diundu(screenshot dari WA) 11 Nopember 2017
8)     11 Bahasa Daerah Maluku dan Papua sudah punah ;  https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180221183001-282-277848/11-bahasa-daerah-maluku-dan-papua-sudah-punah  12 Maret 2018
9)     Kantor Bahasa Provinsi Maluku ; https://ambon.antaranews.com/berita/43134/tujuh-bahasa-daerah-maluku-punah diundu 20 /6/ 2018
10)  Kantor Bahasa Provinsi Maluku ; Op.Cit.
11)  Watson, James L ; Cultural Globalization ; https://www.britannica.com/science/cultural-globalization



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini