Alifuru Supamaraina: August 2019

Friday, August 30, 2019

Gas Maluku Dan Emas Papua, Indonesia Kaya

Oleh ; M. Thaha Pattiiha

(Bagian kedua dari tulisan ;  Blok Masela Maluku Hanya Layanglayang )

        Setelah emas di Timika Papua, maka gas Blok Masela, merupakan tambang yang menjanjikan kekayaan terbesar dalam jangka waktu yang melebihi dua generasi umur manusia normal. Emas di Timika Papua dan Gas Alam di Masela perairan laut Arafura Maluku. Dua-duanya dinyatakan memiliki nilai(harga) kekayaan SDA tak terhingga. Letak kekayaan itu dua-duanya berada di bagian wilayah paling timur peta negara Indonesia, di wilayah yang sangat kaya sumber daya alamnya, tetapi sebagian  penduduk asli – pribumi, masih menjalani kehidupan dalam posisi miskin dan nyaris terkebelakang.
Gas Maluku Dan Emas Papua, Indonesia Kaya
Aksi protes pemuda Maluku untuk Blok Masela (Foto; Antara)

Dengan potensi cadangan gas sebesar 10,73 TCF atau 10,73 miliar MMBtu - Million British Thermal Unit, bahkan sesuai sertifikasi Lemigas pada tahun 2018, cadangan gas mencapai 18,54 TCF. SKK Migas memproyeksikan masih terdapat cadangan gas di Blok Masela sebesar 4 TCF, saat masa akhir kontrak di tahun 2055 mendatang. Potensi kekayaan yang jauh melebihi kekayaan gas negara Uni Emirat Arab, yang dihidupkan secara mewah hanya dari kekayaan gas alamnya. Potensi gas terkandung di perut bumi lautan Maluku – di perairan laut Aru, diperkirakan dapat diekploitasi selama lebih dari 70 tahun secara efektif apabila dengan nafsu menguras penuh, artinya umur proyek tambang gas Blok Masela bisa mencapai kurun waktu operasi hingga 1(satu) abad – 100 tahun.

Pengembangan proyek Blok Masela akan menggunakan skema kilang LNG di darat, yang direncanakan akan menghasilkan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 MTPA atau setara 330.000 boepd , dan gas pipa sebesar 150 Juta Kaki Kubik per Hari(Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) atau setara 1 juta ton LNG per tahun. Untuk jangka waktu 2027-2055, secara komulatif total produksi gas sebesar 16,38 TSCF dengan total penjualan gas sebesar 12,95 TSCF. Masih terdapat hasil lain yaitu kondensat, dengan kumulatif produksi sebesar 255,28 MMSTB.8) Biaya investasi atau belanja modal diperkirakan menelan dana sebesar US$ 18.5-19.8 Milyar.9) Karena itu, bagi negara, Lapangan Gas Abadi Blok Masela akan meningkatkan rasio penggantian cadangan migas Indonesia sebesar 300%.10)

Poin kesepakatan Pemerintah Indonesia den Inpex Corporation tentang proyek Blok Masela
Poin kesepakatan Pemerintah Indonesia den Inpex Corporation tentang proyek Blok Masela (Sumber Infografis ;  bisnis.com)

Dengan potensi cadangan gas sebesar 10,73 TCF atau 10,73 miliar MMBtu - Million British Thermal Unit, bahkan sesuai sertifikasi Lemigas pada tahun 2018, cadangan gas mencapai 18,54 TCF. SKK Migas memproyeksikan masih terdapat cadangan gas di Blok Masela sebesar 4 TCF, saat masa akhir kontrak di tahun 2055 mendatang. Potensi kekayaan yang jauh melebihi kekayaan gas negara Uni Emirat Arab, yang dihidupkan secara mewah hanya dari kekayaan gas alamnya. Potensi gas terkandung di perut bumi lautan Maluku – di perairan laut Aru, diperkirakan dapat diekploitasi selama lebih dari 70 tahun secara efektif apabila dengan nafsu menguras penuh, artinya umur proyek tambang gas Blok Masela bisa mencapai kurun waktu operasi hingga 1(satu) abad – 100 tahun.

Pengembangan proyek Blok Masela akan menggunakan skema kilang LNG di darat, yang direncanakan akan menghasilkan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 MTPA atau setara 330.000 boepd , dan gas pipa sebesar 150 Juta Kaki Kubik per Hari(Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD) atau setara 1 juta ton LNG per tahun. Untuk jangka waktu 2027-2055, secara komulatif total produksi gas sebesar 16,38 TSCF dengan total penjualan gas sebesar 12,95 TSCF. Masih terdapat hasil lain yaitu kondensat, dengan kumulatif produksi sebesar 255,28 MMSTB.8) Biaya investasi atau belanja modal diperkirakan menelan dana sebesar US$ 18.5-19.8 Milyar.9) Karena itu, bagi negara, Lapangan Gas Abadi Blok Masela akan meningkatkan rasio penggantian cadangan migas Indonesia sebesar 300%.10)

Keterangan yang disampikan Kementerian ESDM, nilai investasi pengembangan Blok Masela mencapai US$18 – US$20 miliar atau Rp259,2 triliun-RP288 triliun, atau US$6-US$7 per barel setara minyak(bae), yang berarti 20% lebih murah dibandingkan biaya di Offshore US$8-US$9 per bae. Kesepakatan penting lainnya adalah pemerintah negara Indonesia dan pihak kontraktor Blok Masella berhasil menyepakati Win-win Solution dengan skema bagi hasil, di mana pemerintah Indonesia sekurangnya mendapat bagian (Split) 50%.11) Itu berarti, dengan cadangan gas Blok Masela yang tercatat 10,73 TCF atau 10,73 miliar MMBtu, dengan asumsi harga gas saat ini US$ 8 per MMBtu, maka cadangan gas tersebut akan menghasilkan uang US$ 85,6 miliar. Inpex hanya butuh belanja modal hingga US$ 20 miliar, yang akan menghasilkan  keuntungan sekitar US$ 65,6 miliar.

Dari pendapatan tersebut, berdasarkan skema bagi hasil, Pemerintah Indonesia akan mendapatkan penerimaan setara US$ 32,8 miliar. Hasil itu untuk selama waktu 33 tahun penerimaan hanya dari produksi LNG Blok Masela untuk masa kontrak hingga 2055. Bila dirupiahkan 14.000/US$1, Indonesia akan mengantongi keuntungan setidaknya sebesar Rp 459,200 triliun. Penerimaan yang  belum termasuk penerimaan pajak, biaya dan/atau kewajiban maupun kontribusi lain yang menjadi beban maupun yang harus disetorkan pihak kontraktor sesuai perjanjian kontrak yang telah disepakati.

Gas Maluku dan emas Papua, sama-sama hasil dari eksploitasi dari SDA di kedua wilayah itu, yang berkontribusi besar – luar biasa, bagi kebutuhan dana anggaran belanja pembangunan negara Indonesia. Emas Papua yang digarap Freeport, menurut klaim Manajemen Freeport Indonesia, sepanjang 1992-2014 perusahaan mengontribusi sebesar US$ 15,8 miliar terhadap penerimaan negara Indonesia secara langsung. Sementara kontribusi berupa keuntungan tidak langsung senilai US$ 29,5 miliar.12)

Gas Maluku Dan Emas Papua, Indonesia Kaya
Emas Papua,(Sumber Infografis ; CNBCIndonesia.com)

Proyek Abadi adalah proyek pengembangan LNG skala besar terintegrasi pertama yang dioperasikan oleh Inpex Corporation di Indonesia sebagai operator sesudah proyek LNG Ichthys di Australia. Penandatanganan kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract /PSC) Blok Masela untuk jangka waktu 30 tahun pada tanggal 16 November 1998. Inpex Corporation adalah perusahaan eksplorasi dan produksi (E&P) terbesar di Jepang, dan pemain E&P tingkat menengah perminyakan dunia, dan saat ini terlibat di sekitar 70 proyek di lebih dari 20 negara, termasuk Ichthys LNG13). Begitupun dengan Freeport, tiga pekan setelah dilantik sebagai pejabat presiden pada 7 April 1967 Soeharto meneken “Kontrak Karya” kepada Freeport yang berlaku selama 30 tahun.14) Berbeda waktu dengan Freeport yang sudah lebih dulu berkontribusi hasil penjualan kekayaan emasnya plus tembaga, perak, bahkan "mungkin" uranium Papua kepada negara Indonesia. Sementara ini, akan menyusul Maluku. Maluku  dengan hasil kekayaan gas alam cair - LNG, dari Blok Masela setelah tahun 2027, plus kondensat - hasil pemisahan dari gas, hingga seterusnya sampai tahun 2055, bahkan kemungkinan dipastikan lebih di tahun-tahun berikutnya.

                                                                                         Kampung Bulak, 31 Agustus 2019
                                                                                                                                                                          
Bersambung tulisan bagian ke tiga ; Iming-iming Multiplier-effect

Thursday, August 29, 2019

BLOK MASELA, MALUKU HANYA “LAYANG_LAYANG”?

Oleh ; M. Thaha Pattiiha
BLOK MASELA,  MALUKU HANYA “LAYANG_LAYANG”?
            Ilustrasi Lapangan Abadi Blok Mesela di wilayah Kepulauan Maluku(Oleh; @embun01)

  -   “Sirih-pinang” 

       Tahun lalu, setelah mengikuti secara serius perjalanan dan perkembangan proyek Blok Masela sambil menghimpun dan merangkum berbagai informasi, dan berita -  data sekunder, kemudian di“racik” dan menghasilkan tulisan dengan judul ; ABADI FIELD BLOK MASELA ; JALAN TERJAL MEREBUT HAK MALUKU. Tulisan tersebut di publikasikan - dengan judul berbeda yaitu Blok Masela juga di upload pada website masyarakat ilmiah internasional  ;  Maluku.academia.edu/MThahaPattiiha, serta dibagikan di berbagai Social Media.

Tulisan tersebut sepertinya “tidak menarik” khususnya bagi Orang Maluku, tetapi beberapa tanggapan positif dari beberapa pembaca di dalam dan luar Indonesia, khususnya pemerhati energi dan pegiat migas. Tanggapan positif serta dilanjutkan dengan diskusi untuk beberapa hal, dilakukan via email. Setidaknya ada apresiasi, dan karena itu beta bersyukur dan bersemangat untuk terus menyajikan yang dipikirkan. Perlu persembahan “sirih-pinang” – pengantar, sekalian menjawab kata tanya mengapa beta - semampu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, akan sering bersuara tentang Blok Masela.

Tanggungjawab secara moral sebagai Pribumi Maluku, menjadi dasar motivasi untuk terus bersuara tentang kepentingan Maluku di proyek raksasa berskala global, Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Titik tumpu perhatian, dikhususkan kepada bagaimana kepentingan porsi Maluku benar-benar mendapat perhatian pembagiannya serta manfaat sebesar-besarnya dari kekayaan SDA Maluku di Blok Masela untuk kesejahteraan hidup penduduk(pribumi) Maluku. Melalui “kata yang bermakna” dan dipublikasikan, diharapkan akan berfungsi sebagai pisau sayatan untuk mengupas buah masalah lebih rapi dan pantas demi mendapatkan kualitas dan keunggulan  hasil guna memenuhi kepentingan yang diimpikan Maluku. Dalam istilah bahasa pribumi Alifuru – Maluku, disebut Tabaos, yaitu menyuarakan atau menyampaikan sesuatu hal atau pesan penting ke publik, sang penyampai pesan disebut Marinyo. Beta sebagai salah satu pribumi Maluku, adalah marinyo yang akan selalu ber-tabaos tentang Blok Masela.


Prolog

          Proyek Lapangan Gas Abadi Bloka Masela, bukan proyek biasa.  Proyek sangat padat modal, tekhnologi, keahlian- teknis, administrasi, dan diplomasi, serta kepentingan – ekonomi maupun politik. Kebutuhan akan energi di era indistrialisai ekonomi modern telah menghadirkan kesulitan pemenuhannya, yang tentu berakibat terjadi perebutan dan menimbulkan perseturuan.

Berbagai fenomena menarik yang muncul dari proyek energi gas raksasa di Blok Masela yang berskala global, untuk berpendapat setelah diamati dan disimak dalam pandangan sebagai ”anak daerah Maluku”. Negara hadir dengan power luar biasa dalam hal hak penguasaannya terhadap sumber daya alam (SDA), di lain pihak, di lokasi keberadaan SDA – sebagai penghasil, seperti terabaikan secara sengaja hak kepemilikannya. Belajar dari pengalaman kasus yang lain, yang dimana tidak terpenuhinya manfaat secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat sekitar wilayah SDA yang dieksploitasi. Sesuatu yang mengganggu nalar dan kesadaran anak bangsa dalam memandang manfaat bernegara.

Pembahasan tentang potensi luar biasa dan kemungkinan-kemungkinan hal baik maupun buruk dari proyek raksasa Lapangan Gas Abadi Bloka Masela, masih saja dan akan terus menjadi kajian menarik. Sayang untuk tidak diperhatikan secara serius sebagai Orang Maluku, begitupan beta. Terkesan ada hal-hal yang seperti sengaja memposisikan wilayah/daerah penghasil, hanya “Satpam” – Satuan Pengaman, bagi kekuasaan negara. Atas dasar kekuasaan negara yang diatur melalui regulasi, telah membuntukan hak-hak kepemilikan kekayaan SDA oleh wilayah/daerah penghasil, yang seharusnya diposisikan dalam pemanfaatan dan hasilnya harus lebih proporsional agar terbaca ada keadilan dalam bernegara.

Sebagai rangkaian dari tulisan sebelumnya, pada tulisan ini – yang terdiri dari beberapa bagian bahasan, lebih difokuskan kepada penjelasan pada beberapa hal yang sepertinya masih agak keliru dipahami, khususnya oleh masyarakat Maluku. Selain untuk mengingatkan dan membangun sikap kehati-hatian dalam mengamati dan mengikuti perkembangan proyek super nilai dari kekayaan sumber daya alam (SDA) bumi Maluku, yang cenderung kehilangan daya dan posisi. Apakah Maluku akan diuntungkan atau sebaliknya malah akan mengalami nasib lebih buruk dari emas Papua.


Apresiasi Usaha Pemerintah Indonesia Untuk Blok Masela

          Blok Masela adalah Lapangan gas abadi dengan potensi luar biasa, salah satu terbesar di dunia dan berskala global. Perbandingan  luas area Lapangan gas abadi Blok Masela, bila disandingkan dengan peta wilayah DKI Jakarta – lihat peta, malah bisa melampaui hingga menjangkau kota Depok, kota Bekasi, dan Tangerang. Blok Masela dikelolah Inpex Corporation melalui anak perusahaan Inpex Masela, bersama Shell Upstream Overseas Service Ltd. Inpex memulai pengelolaannya sejak Kontrak Bagi Hasil Produksi (Production Sharing Contract /PSC) ditandatangani tanggal 16 November 1998 untuk jangka waktu 30 tahun. Awal waktu – tahun 1998, yang menunjuk kepada masa akhir pemerintahan Orde Baru. Tentu negosiasi awal masih dalam masa kekuasaan Presiden Soeharto, kemudian masuk dalam masa pemerintahan B.J. Habibie – Orde Reformasi, saat kontrak pertama kali ditandatangani. Pemerintahan berikutnya adalah Presiden Abdurrakhman Wahid, Megawati Soekarno Puteri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan hingga saat ini era pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Perbandingan  luas area Lapangan gas abadi Blok Masela, bila disandingkan dengan peta wilayah DKI Jakarta, malah bisa melampaui hingga menjangkau kota Depok, kota Bekasi, dan Tangerang
Perbandingan  luas area Lapangan gas abadi Blok Masela, bila disandingkan dengan peta wilayah DKI Jakarta, malah bisa melampaui hingga menjangkau kota Depok, kota Bekasi, dan Tangerang(Sumber; SKK Migas)

Pada bulan Desember 2010, di tahun pertama periode kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Proposal Rencana Pengembangan (Plan of Development /PoD) pertama Blok Masela ditandatangani pemerintah, dengan hak partisispasi Inpex Corporation (65%) dan mitranya Shell Upstream Overseas Services Ltd (35%). Karena kembali ditemukan potensi baru yang lebih besar yaitu 10,73 TCF - Trillion Cubic Feet (triliun kaki kubik) dari sebelumnya 6,97 TCF, sehingga kapasitas produksi dari yang sebelumnya 2,5 MTPA - Metrik Ton Per Annum ( juta ton per tahun) ditingkatkan menjadi 7,5 MTPA dengan skema kilang LNG - Liquefield Natural Gas (gas alam cair), di laut – Offshore. Skema atau opsi tersebut kemudian berubah setelah Presiden Joko Widodo memutuskan kilang di darat – Onshore, pada Maret 2016. Inpex kembali mengulang proses kajian dan merevisi PoD sebelumnya disesuaikan dengan skema baru yaitu kilang LNG di darat, dengan rencana kapasitas produksi kilang LNG 9,5 MTPA, dan gas pipa sebesar 150 MMSCFD - Million Standard Cubic Feet per Day (Juta kaki kubik per hari).1)

Perubahan skema kilang di darat, setidaknya telah merubah banyak hal dan tarik-ulur terjadi antara pemerintah dan kontraktor, termasuk pihak lain yang berkepentingan. Berakibat pada perlunya pertemuan-pertemuan untuk melakukan  diskusi, maupun perundingan, guna mencapai kesepakatan. Kesepakatan untuk memastikan akan segera dimulai beroperasinya proyek pengembangan pertambangan gas di lapangan Abadi Blok Masela, baru dapat jelas terlihat di pertengahan tahun ini. Beberapa pertemuan secara intensif antara SKK Migas – mewakili Pemerintah, dengan pihak kontraktor Inpex maupun Shell dilakukan. 

Dalam pertemuan Senin 27 Mei 2019 di Tokyo, 2) sebagai lanjutan dari pertemuan sebelumnya pada 16 Mei 2019, antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Chief Executive Officer Inpex Corporation Takayuki Ueda, sejumlah poin strategis disepakati. Dalam pertemuan tersebut Menteri Jonan di damping Kepala dan Wakil Kepala SKK Migas - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, serta seorang Deputi. Secara final Pemerintah dan Inpex bersepakat mengenai 3(tiga) hal, yaitu biaya pengembangan, besaran split, dan insentif. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan  Minute of Meeting3) oleh Dwi Soetjipto – Kepala SKK Migas, dan Takayuki Ueda - CEO Inpex Corporation.

Selanjutnya pada 16 Juni 2019, SKK Migas dan Inpex Corporation, sama-sama menandatangani Pokok-pokok Kesepakatan Kerja Sama (Head of Agreement /HoA) pengembangan lapangan hulu migas Masela oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Ignasius Jonan, Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Hiroshige Seko, dan CEO dan Presiden Direktur Inpex Corporation, Takayuki Ueda, di Karuizawa Jepang.4) Melalui perundingan dan kesepakatan tersebut, pada akhirnya Proposal Revisi PoD Blok Masela pada akhirnya dapat disetujui pemerintah, dan diserahkan oleh Kepala SKK Migas ke Inpex dan Shell, Selasa, 16 Juli 2019, disaksikan Menteri ESDM dan Presiden Joko Widodo.

Pemerintah Indonesia pun telah setuju alokasi tambahan waktu 7(tujuh) tahun tambahan waktu produksi. Maka targetkan mulai produksi – Onstream,  di tahun 2027 – satu tahun sebelum masa tambahan waktu berakhir di tahun 2028, dan kontrak kerja sama yang akan berakhir di tahun 2028, diperpanjang selama selama 20(duapuluh) tahun, yaitu sampai tahun 2048. Dengan tambahan waktu produksi 7(tujuh) tahun yang dijanjikan pemerintah, maka kontrak baru akan berakhir di tanggal 15 November tahun 2055. Sehingga total waktu produksi selama 28 tahun (2027 – 2055) pertama, dan sudah pula dilakukan perpanjangan lagi selama 20 tahun kedua, yaitu mulau tahun 2055 hingga tahun 2075.5)

Proses yang panjang dalam rentang waktu yang lama, dengan sejumlah pergantian Presiden dan era pemerintahan. Kerja besar dan melelahkan yang patut diapresiasi. Sebaliknya, bila dikatakan dalam kurun waktu selama itu, masalah Blok Masela dibiarkan tergantung atau terkatung-katung pun sangat egois rasanya, apalagi sampai dibilang negosiasi pengelolaan Blok Masela sampai berlangsung selama 20(duapuluh) tahun, 6) itu keliru baca dan tafsir. Sebab memang perjalanan proyek raksasa ini tidak mungkin bisa cepat selama fase eksplorasi – pelajari Sejarah Perjalanan Blok Masela – lihat info grafis di bawah ini, kecuali di fase eksploitasi tentu kalau prosesnya lamban itu yang perlu dipertanyakan sekaligus harus dikritisi. Dan demi kebaikan negara dan bangsa, lenyapkan intrik bermakna politis yang bermaksud menafikan peran pemerintahan dan presiden-presiden Indonesia sebelumnya.
Perbandingan  luas area Lapangan gas abadi Blok Masela, bila disandingkan dengan peta wilayah DKI Jakarta, malah bisa melampaui hingga menjangkau kota Depok, kota Bekasi, dan Tangerang
Sejarah perjalanan Blok Masela, sejak Kontrak pertamakali ditandatangni(16/11/1998) hingga Januari 2013 (Sumber; SKK Migas7) )



Kampung Bulak, 28 Agustus 2019


Bersambung ke bagiann kedua  ; Gas Maluku dan Emas Papua Indonesia Kaya

Thursday, August 15, 2019

BETA RASA ALE DONG PARLENTE (Puisi)


BETA RASA ALE DONG PARLENTE (Puisi)

*
beta samudera ikan mutiara dan tahuri
alam lautan bumi maluku yang kaya berlimpah
arus aru dibendung dengan ribuan kapal nelayan dari barat
tuna dan cakalang cekungan seram seperti juga palung banda  
dilingkar umpan tonda armada asing berbendera republik
selat-selat indah rimba lautan kepulauan aru
dipagar larangan ribuan kilometer tali tambang
jadi benteng kebun mutiara tuan-tuan kapitalis
kita telah lalai menyuburkan hasrat menjaga negeri
tanah air yang ditinggalkan para datuk dengan berkah
tak pernah berhenti menuai kebaikan dengan limpahan harta
belum juga memberi kebaikan yang adil dan merata
kecuali jadi bantal empuk bermimpi oleh sekte oligark
hanya sedikit dari yang terbuang yang disisikan bila ingat
beta pikir ale dong pun rasa,
beta rasa ale dong parlente


**
beta hutan perawan cengkeh pala kelapa
meranti eboni bintanggor kenari di tanah ulayat
terjaga ragam flora endemik khas oleh kearifan adat
betapa subur di punggung bukit alur bumi cincin api
setelah bertahan beribu tahun hutan-hutan perawan
yang mengalunkan suara merdu burung-burung surgawi
dipiara di pulau seram di buru di yamdena di aru
agar lestari sebagai warisan dari anak cucu ke depan
hanya sebentar waktu dengan sadar digunduli
dalam peta rencana yang sengaja dibutakan
dilenyapkan dari kasat mata dan pikir empunya
tebang satu pohon tumbang ratusan pohon
pohon-pohon cengkeh kering papah jadi kayu bakar
buah pala tidak lagi membelah diri menyosor fulinya
telah ditamatkan kisah the spices islands
siapa yang peduli dengan romantika masa lalu
kecuali empati yang lusuh berbasah iler di sudut bibir
birokrat korup dan politisi mafia tukang kewel
lahirlah kemiskinan milik di kehidupan bumi berpunya
potong di kuku rasa di daging,
beta rasa ale dong parlente

***
beta tanah emas tembaga nikel minyak
panas bumi gas air bening di area petuanan
telah dibikin jadi ilusi yang menggantung asa diruang hampa
romang yang terus ditepikan sendiri merana dalam derita
sementara ria berjamaah berebut gunung botak
dalam tontonan bisu alifuru buru
lempeng tembaga wetar diisolasi
seukuran memori kartu sim telepon seluler
lumpur emas hitam perut seram secara cerdas
dibendung cukupkan sembul satu titik api di ujung pulau
masih dua puluh lima titik api perut bumi dihayalkan
gas blok masela kata berita setara milik negara qatar
tetapi pemilik dibuat galau ke rana hampa tak berhak
sungai kali mata air bakal kering jadi padang tandus
oleh hutan yang digundul dan tebaran racun tambang
laut pun kehilangan kuasa melindungi rumah ikannya
bumi dan air yang mengandung kekayaan seperti petaka
nyaris lepaskan ikatan satu tubuh kehidupan pela gandong 
maluku itu alifuru
maluku memang satu darah,
beta rasa ale dong parlente 


****
beta laut darat tanah pulau pantai angin dan udara
warisan nenek moyang yang telah dihilangan haknya
seirama masih terpelihara mental opas walanda
yang buntu dalam pikir hingga selalu kalah tampil kreatif
padahal waktu bisa merubah sadar pikir dan perilaku
mampu tembus gelombang bak arumbai sang tanase
tidak ambigu dihempas angin timur sebelum berlayar
pantang ditantang penantang tanpa dibanting
darah maluku adalah raga kapitang di ujung parang
lambungkan jiwa juang dan kibarkan kemerdekan hidup
lawan kemiskinan maluku yang masih setia dipelihara 
bongkar bungkus kemunafikan atas nama kebersamaan
yang selalu menelantarkan seruan suara menantang
dengan ragam cara manis yang memoles ambisi dan ego
setelah milik dirampas lalu dihempaskan ke pantai berkarang
beta alifuru beta adalah maluku,
beta rasa ale dong parlente


*****
beta ada dari masa lalu dan akan terus menapak ke masa depan
beta renungkan hari ini untuk membaca hari esok
beta tidak sedang bicara sendiri di ruang sunyi
beta tidak sedang bercerita sendiri di tempat sepi
beta tidak sedang bicara untuk diri sendiri
beta bangsa alifuru, memang iya,
beta sedang tabaos demi maluku
  
                                                                                                                                              Kampung Bulak 15/08/2019
                                                                                                                                                         (Edisi Revisi)

                                                                                              M. Thaha Pattiiha
--------------------------------
Beta                     = aku, saya
Ale                       = kamu (orang kedua tunggal)
Dong                   = kalian
Parlente              = bohong, menipu
Tahuri(bia)          = lola
Umpan tonda     = cara penangkapan ikan dengan upan yang di seret
Kapitalis               = orang atau kelompok yang bermodal atau memiliki banyak uang
Oligark                 = seseorang atau sekelompok yang mempertahankan kekuasaannya dengan cara yang tidak demokratis, menggunakan
                               cara kekerasan atau sogokan.
Ulayat                  = Hak Adat atas suatu area tanah atau hutan secara turun temurun berdasarkan sejarah kepemilikan awal.
Fuli                        = kembang biji pala
The Spices Islands   = Kepulauan Rempah-rempah, sebutan oleh bangsa Eropa di masa lalu untuk kepulauan Maluku yang menghasilkan
                                rempah-rempah cengkeh, pala dan kayu manis.
Kewel                   = omong kosong
Petuanan             = hak kuasa –ilayat, wilayah secara adat oleh suatu negeri adat di Maluku.
Tabaos                 = mengumumkan.