Rabu, 11 Juli 2018

DAUN GATAL ; TANAMAN OBAT TRADISIONAL KHAS MALUKU DAN PAPUA

 Daun Gatal(Laportea decumana (roxb.) chew)(Foto Doc.)


          Daun gatal sudah sejak lama dikenal dan digunakan oleh Orang Maluku dan juga Papua, untuk kebutuhan menjaga kesehatan dan mengobati rasa sakit yang diderita. Namanya mengenalkan pada rasanya, karena rasa dari daun gatal baik sengaja atau tidak bila terkena pada tubuh kita akan berefek menumbulkan rasa gatal. Efek rasa gatal berbeda tingkat gatalnya menurut jenis daun gatal, fungsi penggunaannya juga berbeda menurut jenisnya.

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh daun gatal ketika disentuh atau digosokkan ke tubuh, menimbulkan rasa sensasi khas, berasa gatal selama beberapa menit, kemudian hilang dan menimbulkan benjolan-benjolan pada kulit tubuh. Rasa ini akan beralih, apabila itu digosokkan pada bagian tubuh yang sakit, setelah rasa gatal itu menghilang, rasa sakit pun perlahan tidak terasakan. Sensasi rasa gatal kemudian memunculkan rasa nyaman karena rasa sakit yang hilang inilah, menjadikan daun gatal disukai bagi yang terbiasa menggunakannya.

Di dunia pengobatan tradisional cara Tiongkok(China), mengenal cara pengobatan akupuntur atau tusuk jarum yaitu pengobatan menggunakan jarum yang ditusukkan ke bagian tubuh melalui pori-pori manusia. Memang berbeda cara dan efek yang dirasakan, tetapi maksudnya memakai cara mengobati melalui pori-pori tubuh manusia untuk menimbulkan efek penyembuhan kedalam bagian tubuh yang sakit. Jarum yang digunakan jelas berbahan metal dan buatan, tidak alami sebagaimana jarum-jarum halus alami yang menempel pada daun gatal.

Tidak persis sama antara fungsi dan cara kedua jenis alat pengobatan tersebut – jarum akupuntur dan daun gatal, tetapi sebagai contoh lain alternatif pengobatan cara tradisionil, bahwa daun gatal ternyata juga sangat bermanfaat dan dapat digunakan dalam pengobatan untuk penyembuhan rasa sakit.

Bagi orang Maluku, daun gatal sudah tidak asing di dengar dan digunakan sebagai penghilang rasa sakit, rasa pegal atau rasa lelah. Di hutan pulau-pulau di Maluku tanaman daun gatal tumbuh subur, khususnya di hutan dengan pepohonan rimbun dan tingkat kelembabaan tanah yang tinggi. Tanaman ini mudah dibudidayakan, bisa ditanam di halaman rumah atau menggunakan pot tanaman.


Tanaman Daun Gatal  dibudidayakan di halaman rumah(Foto Doc.)

           Wailau Sila, sebutan orang di pulau Seram bagian selatan untuk daun gatal, terdapat sebutan lain di tempat lain di Maluku. Daun yang sudah sangat akrab dikenal sejak zaman nenek moyang Maluku dahulu kala, karena merupakan salah satu obat herbal dari dedaunan untuk pengobatan cara tradisonal.

Di kota Ambon khususnya, daun gatal secara tradisionil dijual bersama dengan buah pinang dan daun atau buah sirih. Entah sejak kapan persisnya, tetapi sudah sejak dahulu daun gatal bisa ditemukan di sekitar jalan Baru depan masjid tua Jami’ kota Ambon. Pemasok daun gatal di kota Ambon, berasal dari negeri-negeri di sekitar pulau Ambon. Pelanggan pembeli biasanya orang-orang Maluku asli yang sebelumnya berasal dari negeri di luar kota Ambon, dari hampir seluruh kepulauan Maluku, bahkan sudah mulai diminati orang dari luar Maluku.

Daun Gatal merupakan tumbuhan perdu daerah tropis Famili Urticaceae, adalah jenis tanaman yang terdiri atas beberapa spesies dan sepertinya hanya tumbuh dan menyebar di daerah kepulauan Maluku dan Papua. Dikutip dari hasil penelitian Ir. M.J. Sadsoeitoeboen, M.Si, Dosen Taksonomi Tumbuhan Jurusan Biologi UNIP Manokwari Papua Barat  melalui sonirambo.blogspot (12/3/2015). Dijelaskan bahwa jenis daun gatal yang umumnya dijual di pasar tradisional seperti kota Manokwari (untuk digunakan dalam pengobatan, termasuk yang di Maluku), berasal dari spesies Laportea decumana (roxb.) chew. Spesies ini juga punya nama lain atau sinonim, tergantung aturan taksonomi mana yang diikuti, bisa juga disebut Laportea Indica. Ia menambahkan ada spesies lain yang tengah batang daunnya berwarna putih (Dendronicde Sp) ataupun yang kecil (Laportea interupta) walau pemanfaatannya cukup berbeda.

Sadsoeitoeboen menjelaskan, bahwa daun gatal spesies Laportea decumana (roxb.) chew dari tumbuhan famili  Urticaceae,  umumnya memang  memiliki kandungan kimiawi seperti  monoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, asam formiat dan authraguinones. Asam formiat( asam semut) terkandung di dalam kelenjar ‘duri’ pada permukaan daun. Saat ‘duri’ tersebut mengenai tubuh, asam semut  dalam kelenjar itu terlepaskan dan mempengaruhi terjadinya pelebaran pori – pori tubuh. Pelebaran pori – pori ini rupanya meransang peredaran darah. Itulah sebabnya pemanfaat daun gatal umumnya, rasa sakit, linu, atau rasa pegal, akan lenyap ataupun merasa lebih baik setelah efek gatal menghilang.

Tanaman daun gatal yang tumbuh di dataran tinggi dan terlindung dari sinar matahari langsung, warna daun lebih hijau kegelapan, dengan rasa gatal lebih “menyengat”, tinggi tanaman pun bisa mencapai 180 Cm.  Tanaman yang tumbuh  di dataran rendah dan berudara kering atau sering terkena matahari langsung warna daun hijau kekuningan dan tinggi tanaman lebih rendah. Tanaman ini mudah untuk dibudidayakan dan perlu karena khasiat sengatannya.

Cara memoles daun gatal ke tubuh, pegang dari bagian ujung daun  dengan posisi daun bagian dibalik punggung daun yang dioles atau digosok mengenai tubuh. Rasa gatal yang terasa, hanya berlangsung sekitar 4-5 menit, diikuti benjolan kecil dan berwarna merah pada semua bagian tubuh yang terkenan olesan daun gatal. Setelah itu, rasa sakit, pegal, atau linu, kecapean, akan menghilang.  

Sengatan atau rasa gatal berbeda fungsi penggunaannya menurut jenis atau spesies tanaman daun gatal. Untuk yang digunakan untuk pengobatan secara tradisionil hanya  spesies Laportea decumana (roxb.) chew, tidak direkomendasikan untuk jenis atau spesies lain. Apalagi jenis daun gatal yang tulang daunnya berwarna merah, hindari jangan sampai terkena tubuh, rasa gatalnya aneh, sulit dijelaskan.

Jenis daun gatal yang tulang daunnya berwarna merah, secara “mitos” digunakan oleh sebagian masyarakat tradisionil di pulau Seram untuk membuat buah durian yang sudah matang di pohon agar bisa segera jatuh dengan sendirinya. Caranya dengan melukai bagi pohon dan akar pohon durian, luka sebatas kulit itu lalu disisipkan daun gatal jenis ini, namanya daun gatal babi. Setelah itu buah durian yang sudah matang akan berjatuhan.

Sulit dijelaskan mitos ini, tetapi sering dan masih digunakan hingga kini saat musim durian. Silahkan coba, tetapi sebelum itu silahkan laburi tubuh lebih dulu dengan daun gatal penghilang pegal, setelah itu tunggulah kejatuhan buah durian. Saat sedang makan durian, pikirkan bagaimana daun obat dari sejarah pengobatan tradisionil masyarakat di Maluku dan juga Papua yang masih diminati ini bisa lebih diberdayakan dan mutahirkan.
                                                                                                         
                                                                                                            Depok, 24 Juni 2018

                                                                                                          M.Thaha Pattiiha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini