Alifuru Supamaraina: July 2019

Sunday, July 28, 2019

The Spice Islands dan Ferdinand Magellan, "Entry Point" Menuju Dunia Baru

M. Thaha Pattiiha

(Seri #MOZAIKCoffee)

          Pernik-pernik kisah di masa lalu dalam peristiwa demi peristiwa yang selalu menarik untuk selalu diperbincangkan, ketika bangsa-bangsa Eropa berupaya menguasai kepulauan Rempah-rempah Maluku, selalu menarik dan tidak pernah bosan dan lelah untuk kembali diangkat dan dipublikasikan. Tentang bagaimana persaingan bangsa-bangsa memperebutkan wilayah penghasil rempah-rempah, dan politik kekuasaan yang dijalankan dengan menempuh berbagai cara, taktik dan strategi. Begitu pun dengan sepenuhnya dikerahkan pengetahuan, kemampuan, dan kekuatan fisik, alat, dan senjata, untuk membangun pertahanan serta mampu menundukkan sasaran dan lawan.

The Spice Islands dan Ferdinand Magellan,  "Entry Point" Menuju Dunia Baru
Ilustrasi First Circumnavigation of the World ; "The Armada de Molucca", Ferdinand Magellan
(Sumber peta; libweb5.princeton.edu)

Manusia dari bangsa-bangsa besar, begitu tergoda dan terpaku pada keinginan dan harapan untuk bisa mendapatkan dan bila perlu menguasai sepenuhnya keharuman semerbak wangi aroma rempah-rempah cengkeh dan pala. Raga terbius wangi rempah-rempah alam tropis, memacu hasrat untuk menggerakkan langkah mencari, di mana gerangan adanya, mungkinkah itu ada di muka bumi tetapi di belahan bumi yang mana letaknya. Bangsa Eropa yang mendapatkan pasokan rempah cengkeh dari pedagang Jazirah Arab sejak sekitar abad keempat Masehi dengan harga sangat mahal dan asalnya yang dirahasiakan tempatnya, kemudian berusaha mencari sendiri di mana asal tumbuhan berbentuk “paku” dengan aroma sangat menawan rasa itu.

Vasco da Gama dari Portogis yang gagal menemukan Maluku dalam pelayarannya di tahun 1497 melalui Tanjung Pengharapan, akhirnya lego jangkar di India. Melalui perjalanan darat dia menuju China, begitu pun saat kembali ke Eropa. Tetapi Vasco da Gama berhasil menguak rahasia asalmuasal cengkeh hingga diperdagangkan di Eropa. Melalui pedagang Arab yang secara estafet didapat dari Persia melalui pedagang Gujarat-India, yang dipasok bangsa China, melalui lintasan perdagangan “Jalur Sutra”. Lebih dari satu Millennium rahasia cengkeh tersimpan rapih oleh bangsa China yang juga sudah satu Millennium sebelumnya telah menemukan cengkeh dan Maluku. Rute yang panjang dalam era yang begitu lama cengkeh diperdagangkan.

Melalui bandar Tyre di Yunani dan Venesia di Italia, cengkeh masuk ke daratan Eropa. Namun dengan harga jual yang luar biasa mahal. Pada sekitar tahun 1599, cengkeh dihargai 35 Real per Bahar – satuan berat yang mendekati 400 pound. Harga terus naik hingga 50 Real, bahkan mencapai 70 Real di tahun 1610. Suatu nilai harga yang disetarakan dengan emas murni seberat 7 gram. Catatan-catatan para biarawan Fransiskan --yang disalin dan dikutip oleh van Frassen-- bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir’aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi.


The Spice Islands dan Ferdinand Magellan,  "Entry Point" Menuju Dunia Baru
Cengkeh dan Pala, Hasil bumi Kepulauan Rempah-rempah


Sejarah panjang dan berurutan persaingan manusia dari berbagai bangsa di muka bumi dengan segudang cerita kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan kejatuhan, hingga kejayaan dalam kemakmuran hingga kebangkrutan. Penjajahan dan pengusiran, perang dan adu domba, telah menyebabkan jutaan nyawa menjadi korban, semata untuk menguasai rempah-rempah cengkeh dan pala yang begitu bernilai dalam harga yang setara emas.

Kerajaan Spanyol, Portogis, Belanda, dan Inggris, dari Eropa  begitu bernafsu dan berambisi, saling bersaing dan saling sikut, saling berperang, untuk bisa memonopoli komoditi hasil bumi sekaligus menguasai wilayah penghasil rempah-rempah kepulauan Maluku. Kecuali kerajaan-kerajaan besar di kepulauan Nusantara, serta para pedagang perorangan dan kelompok dari berbagai negara dan bangsa lain, seperti Arab, Persia, India - Gujarat, China, Jerman, dan Melayu, yang hanya semata hadir untuk berdagang.

Dalam periode waktu pun hampir tidak terbatas, karena selama persaingan itu berlangsung, telah menghabiskan ratusan tahun, dan mencatatkan beragam hal lain yang turut memperluas wawasan tentang luas bumi dan segala kebaikan dan keburukannya, selain dampak yang ditimbulkan.  Dikatakan oleh Blair, Lawrence dan Lorne Blair – Buku “Ring of Fire” : An Indonesian Odissey”, 2010, “Kemampuan menyimpan makanan lebih dari yang kami makan, sekaligus berarti kemampuan menjual dan membelinya dalam jumlah besar – dan kota-kota dagang pun mekar – perekonomian yang dihasilkannya mengarahkan kami ke zaman pencerahan dan kemudian revolusi industri. Tak lama setelah kami menghirup aroma yang kuat (cengkeh) dari Timur itu dan mengubah kimiawi makanan kami, maka kami pun mampu melakukan lompatan besar dalam bidang budaya dan seni.”

 Dari catatan sejarah yang disalin dari  buku Ekspedisi Cengkeh, Kepulauan yang berada di wilayah cincin api, antara tiga lempengan besar bumi yang membentuk kandungan mineral melimpah di perut bumi yang menjadikan alam Maluku begitu subur dan menghasilkan tumbuh-tumbuhan langka dan khas. Aroma lidah ayam – kata bangsa China. Bangsa-bangsa Eropa menyebutnya rempah cakar. Ada juga yang menyebut paku, dan kuku.

The Spice Islands dan Ferdinand Magellan,  "Entry Point" Menuju Dunia Baru
 "The Clove, Carophyllus aromaticus" ; Elozabeth Blackwell(Diedit dari sember ; libweb5.princeton.edu )

Tumbuhan bernama latin syzygium aromaticum, clove dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Latin clavus, clou dalam Bahasa Prancis, untuk menyebut cengkeh – tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Pohon yang tumbuh di pulau Makian serta Ternate, Tidore, Moti, dan Bacan, yang pertama kali tumbuh dan menghasilkan cengkeh kualitas terbaik. Sebelum kemudian setelah kehadiran bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda, cengkeh hanya boleh ditanam di pulau Ambon, Saparua, Haruku, dan Nusalaut. Hal itu sebagai cara kontrol monopoli untuk menstabilkan harga cengkeh dengan menerapkan sistem politik Hongi Tochten, sementara bukan saja kontrol produksi dan perdagangan cengkeh, tetapi juga pala di kepulauan Banda. Cengkeh, juga pala kemudian ramai ditanam di pulau-pulau lain seperti Halmahera dan Ceram(Seram) – dua pulau besar di Maluku, secara tersembunyi oleh penduduk pribumi, dan diperdagangkan secara gelap kepada pembeli lain dengan harga lebih baik dari harga beli pihak Belanda.
Sejarah panjang perjalanan dalam usaha mengelilingi bumi, ditoreh para pengarung samudera dan pelintas benua. Alasan paling menarik adalah guna menemukan bumi bagian kepulauan rempah-rempah - Maluku, yang terletak di garis katulistiwa, yang dengan itu hingga melahirkan peta bumi yang tergambar lengkap. Dari berbagai sumber, secara singkat beta coba ungkap.

Armada ekspedisi untuk melayari laut dan melintasi samudra, serta sistem navigasi dan peta pelayaran berubah drastis, sejalan penemuan benua dan wilayah baru yang kemudian dipetakan. Peta itu menjadi saling terkait, dan disimpulkan dalam satu peta utuh yang mencantumkan permukaan bumi dengan tanah kering benua, pulau, laut, samudra, dan jalur pelayaran. Tergambarlah peta bumi, dan dijadikan pedoman untuk berimigrasi, melintasi, menemukan tempat baru dengan mengelilingi muka bumi. Benar adanya filsuf Yunani yang memperkirakan sebelumnya bahwa “bumi ini bulat”, hal itu terbukti setelah Christopher Columbus “salah jalan” lalu menemukan benua Indian - Amerika sekarang,, tetapi Magelhans meneruskan “peta buta” hingga pada akhirnya peta itu saling tersambung, menghubungkan utara dan selatan, serta timur dan barat posisi muka bumi. Satu peta bumi yang menerangkan bumi ini bulat.


The Spice Islands dan Ferdinand Magellan,  "Entry Point" Menuju Dunia Baru
Kapal layar  Victoria, yang pertama mengelilingi dunia(Sumber Dokumentasi  Alifirusupamaraina)


Di awali dengan pelayaran armada Portogis pimpinan Vasco da Gama tahun 1497 dari benua biru –Eropa, melalui rute timur melewati Tanjung Pengharapan, benua hitam - Afrika. Kemudian Christopher Columbus, penjelajah Italia yang menyeberangi samudra Atlantik melalui rute utara dan menemukan benua merah – Amerika, yang dikira anak benua India dan berakhir di situ. Perjalanannya menandai awal berabad-abad penaklukkan dan kolonisasi trans-atlantik dan trans-benua.

Selanjutnya Ferdinand Magellan, melanjutkan jejak Chritoper Colombus. Berangkat dari Spanyol 20 September 1519, dengan armada ekspedisi lima kapal - Trinidad, San Antonio, Concepcion, Santiago, dan Victoria, yang mengangkut 237 orang. “The Armada de Molucca” nama armada ekspedisinya. Magellan ditemani ahli navigator Juan Sebastián Elcano atau dipanggil El Cano, dan ahli perbintangan Rui Faleiro. Melalui samudra Atlantik, kemudian menyusuri belahan timur benua Amerika Latin. Setelah menyusuri setiap tanjung, teluk dan muara sungai untuk melihat kemungkinan jalur lintas ke sisi barat, armadanya mencapai sebuah tanjung, dan sekitar delapan mil di luarnya mereka menemukan sebuah selat – kemudian dinamai Selat Magellan, yang panjangnya sekitar 200 mil, terbentang dari timur ke barat. Setibanya di sebelah barat selat, dengan hanya 3 kapal -  satu kapal hilang dan kapal San Antonio kabur kembali ke Spanyol. Tanggal 28 November 1520 melintasi samudera Pasifik, Magellan menamainya "Peaceful Sea" laut yang sangat damai atau lautan teduh. Tanggal 6 Maret 1521 tiba di kepulauan Philipina, Magellan dan armadanya mendarat di pulau Mactan. Tetapi, penduduk pribumi setempat tidak menerima kehadiran mereka sehingga terjadi kontak senjata pada 27 April 1521, Magellan beserta sekitar 60 anak buahnya terbunuh. Komando lalu dipegang El Cano dengan 108 anak buah tersisa yang sebagian terluka dan juga sakit. Karena itu satu kapal dibakar dan hanya kapal Victoria dan Trinidad yang berlayar menuju kepulauan Maluku. Setelah sekitar delapan belas bulan berlayar, akhirnya tanggal 8 Nopember 1521, mereka mendarat di Tidore – kepulauan Maluku. Almansur, Sultan Tidore saat itu yang menyambut kedatangan mereka, serta saling sepakat untuk transaksi pembelian cengkeh. 11 November 1521, hanya satu kapal tersisa Victoria yang masih layak digunakan, armada tersisa Magellan bertolak meninggalkan Tidore menuju selatan Maluku hingga pulau Timor dan membelok ke barat melewati samudra Hindia. Tanggal 6 September 1522, kapal Victoria yang di komandoi El Cano, berisi 381 karung cengkeh – senilai biaya armada lima kapal asli, dengan delapan belas anak buah tersisa mencapai Sanlúcar de Barrameda dan dilabuhkan di dermaga Distrik  Triana, Seville – Spanyol, dan melapor kepada Raja Spanyol Charles I. Armada Magellan ekspedisinya tuntas mengelilingi dunia untuk pertama kalinya.

Magellan adalah seorang berkebangsaan Portogis yang ditolak oleh Raja Portogis, tetapi mendapat kepercayaan Raja Spanyol untuk rencana ekspedisinya. Pelayaran tersebut bermula setelah sebelumnya Magellan mendapat surat dari sahabatnya Francisco Serrao yang saat itu sudah menjadi penasehat kerajaan Ternate. Serrao seorang pengusaha pembeli cengkeh yang sudah tiba di Maluku sebelumnya bersama armada Portogis pimpinan Antonio de Abreau pada tahun 1512. Dalam suratnya diceritakan rute ke kepulauan Maluku. Fancisco Serrao  bersama armada Portogis pimpinan Antonio de Abreau, melalui rute selatan menuju kepulauan Maluku. Serrao hadir di Ternate lebih dulu karena dijemput utusan kerajaan Ternate di wilayah Nusatelu – pulau Ambon, sementara itu Abreau dan armadanya masih berlabuh di Banda sebelum menuju ke utara Maluku.

Mata manusia bumi terbelalak, terperangah, terbuka, sesuatu yang tidak terkirakan sebelumnya muncul dan benar-benar mencengangkan, ternyata bumi itu terbukti bulat sebagai akibat positif dari pencarian kepulauan Maluku. Berawal dari godaan manis dan rayuan mematikan aroma “emas coklat”  The Spice Islands - di Kepulauan Rempah-rempah ; cengkeh dan pala. Komoditas langka yang hanya ada di bumi bangsa Alifuru. Bangsa yang hingga hari ini masih didebatkan bahkan di”lecehkan”, seakan bangsa tidak beradab – bodoh, terbelakang, kotor, dan telanjang.

Migrasi dan lalulintas manusia yang diikuti dengan penyebaran agama, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga seni dan budaya. Akulturasi sosial antar bangsa-bangsa di dunia, melahirkan manusia ras campuran, tatanan kebudayaan baru dan modern. Sebaliknya mengancam budaya pribumi yang rentan dan pada akhirnya menggerus identitas asal-usul menjadi terasimilasi melahirkan manusia dengan latar kehidupan lintas bangsa dan wilayah. Buktinya antara lain di Maluku, selain bangsa pribumi, terdapat begitu banyak keturunan ras campuran berbagai bangsa – selain suku di Nusantara.

Sesungguhnya kontribusi bumi Alifuru, bangsa “tidak beradab” pribumi Kepulauan Maluku dengan kepemilikan sumber daya alamnya yang setara emas – tentu emas asli pun ada, inilah yang menjadi salah satu titik awal cikal bakal perubahan dunia. Tersihir emas coklat bumi Alifuru, berakibat manusia bumi saling berebut dan menguasai dengan cara penjajahan. Terbentuk pula sistem perdagangan dunia yang saling terhubung antar benua dan bangsa-bangsa, dengan peta navigasi dan peta dunia yang sudah lebih baik. Terciptalah sistem ekonomi pasar secara global, dan terbentuknya perusahaan holding terbesar dan sangat berkuasa yaitu Perusahaan Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie - VOC) didirikan tanggal 20 Maret 1602 di negara Belanda tetapi beroperasi begitu luasnya. Terjadinya peperangan dengan rentan waktu terlama sejak awal abad limabelas hingga pertengahan abad kesembilan belas dengan puncaknya perang dunia kedua. Peperangan yang melibatkan begitu banyak bangsa-bangsa di dunia dan mengorbankan begitu banyak nyawa manusia dan harta benda. Hampir semua itu, “gara-gara” komoditi unggulan setara emas, yaitu cengkeh dan pala.

Aroma “mistik” rempah bumi terkaya bangsa Alifuru ras Melanesia - pribumi kepulauan  yang terbentang dari pulau Morotai di utara hingga pulau Selaru di selatan, nyata menjadi titik awal jejak perubahan zaman, yaitu cikal bakal munculnya zaman pencerahan, melalui revolusi industri dan sistem perekonomian yang baru,  hingga membentuk kehidupan dunia yang maju lebih modern. Dan satu lagi “jangan dilupakan apalagi dihapus dari catatan sejarah” yaitu kepulauan Nusantara yang keberadaan sebelumnya saling pisah dalam kekuasaan dan pemerintahan - kecuali disatukan demi kepentingan oleh kolonial Belanda, kemudian berubah dengan disatukan dan terbentuklah sebuah negara bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Depok, 28/07/2019
----------------------------------------------
Sumber ; Dokumentasi pada penulis.

Saturday, July 27, 2019

HUTAN ADAT ; HAK MILIK PRIBUMI MALUKU YANG DISAMARKAN ATAS NAMA KEKUASAAN NEGARA

Oleh : M. Thaha Pattiiha

(Seri #MOZAIKCoffee - #AlifuruItuMaluku)

HUTAN ADAT ; HAK MILIK PRIBUMI MALUKU  YANG DISAMARKAN ATAS NAMA KEKUASAAN NEGARA
 Aksi Masyarakat Adat Alifuru di kota Ambon memprotes penggundulan hutan-hutan adat di pulau Seram kepada Gubernur(Foto Istimewa)

          Hutan adalah mata rantai kehidupan masyarakat tradisional yang merupakan “nyawa” antara untuk melanjutkan kehidupan masyarakat suatu komunitas di sekeliling yang menggantungkan kehidupannya dari keberadaan hutan. Hutan menyediakan konsumsi ransum kehidupan yang diperlukan setiap saat, selama peri kehidupan yang telah terbentuk sejak awal membuat ketergantungan yang tidak dapat dilepaspisahkan dengan alasan apapun secara sengaja oleh rekayasa manusia, kecuali karena bencana oleh alam sendiri yang menggerusnya.

Bangsa Alifuru secara entitas antropologis telah tumbuh secara alamiah dan menyatu dengan hutan-hutan kepulauan Maluku sudah sejak ribuan tahun yang lalu, hingga kini. Tidak ada yang berubah atau dirubah sendiri hutan-hutan mereka, sampai tiba dinyatakan dengan atas nama kekuasaan negara kemudian hutan-hutan mereka pun beralih kuasa dengan dipindah tangankan hak pengaturannya oleh negara. Negara lalu yang menentukan ya dan tidak hak tersebut apakah masih menjadi hak milik atau hanya hak kepemilikan semu. Saat masyarakat adat berteriak memprotes perlakuan negara terhadap hutan-hutan mereka, aparat negara segera bertindak dengan tangkas, sigap, dan represif, maka bubar dan pupuslah keinginan untuk menyuarakan keresahannya. Suara-suara rintihan masyarakat adat, bagai dedaunan layu lalu mengering di hutan-hutan adat yang digunduli mesin-mesin penebang dan digilas traktor.

Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35 tahun 2012, atas Undang-Undang(UU) Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, dinyatakan bahwa hutan adat tidak lagi bagian dari hutan negara, tetapi menjadi bagian dari hutan hak masyarakat hukum adat. Putusan MK secara legal telah merevisi klaim sepihak pemerintah(negara), yang memasukkan hutan adat sebagai hutan negara melalui UU Nomor 41/1999. Putusan dimaksud telah membatalkan “negarasasi” tanah-tanah hutan masyarakat (hukum) adat, yang sebelumnya – hingga saat ini pun masih,  telah terjadi pelanggaran hak atas tanah-tanah hutan milik masyarakat adat. Negarasasi berakibat pada pemiskinan, penyingkiran, dan tindakan diskriminasi aparat negara terhadap masyarakat adat.

HUTAN ADAT ; HAK MILIK PRIBUMI MALUKU  YANG DISAMARKAN ATAS NAMA KEKUASAAN NEGARA
Aksi protes Masyarakat Adat Alifuru kepada pengusaha perkebunan sawit di pulau Seram bagian utara (Foto Istimewa)

Masyarakat Adat berhak atas hutan dan tanah yang telah secara turun temurun hidup selama beratus hingga beribu tahun sebelumnya bersama hutan-hutan dan tanah-tanah yang menjadi bagian kehidupannya. Sampai di situasi itu, ternyata negara masih menggantungkan harapan masyarakat adat secara samar dalam aturan yang kembali membutuhkan upaya lanjutan oleh masyarakat adat, sebelum benar-benar secara penuh berhak dan memiliki kuasa atas tanah-tanah dan hutan mereka. Hak itu tidak segera bisa diperoleh, sebab masih harus ditindaklanjutkan dengan legalitas berikutnya, berupa penetapan di tingkat daerah – provinsi dan kota/kabupaten, melalui Peraturan Daerah. Sebabnya, putusan MK dimaksud tidak merevisi pengakuan bersyarat keberadaan masyarakat adat sebagaimana Pasal (67) UU Kehutanan tahun 1999. Untuk itu masyarakat adat harus diposisikan sebagai subjek hukum, dengan dibantu dan disertakan dalam upaya percepatan pengakuan hak oleh pemerintah daerah melalui inisiasi langkah konkrit implementasi putusan Mahkamah Konstitusi melalui Peraturan Daerah (Perda) – bisa saja usulan inisiatif DPRD, atau melalui Peraturan Kepala Daerah – Gubernur, Bupati, dan Walikota.

HUTAN ADAT ; HAK MILIK PRIBUMI MALUKU  YANG DISAMARKAN ATAS NAMA KEKUASAAN NEGARA
 Penebangan kayu di hutan adat pulau Yamdena(Foto ; Koreri.com)


Terdapat Perda Provinsi Maluku Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu.  Perda yang diperuntukan guna perlindungan hutan sagu di Maluku, hanyalah “omong kosong di atas kertas”, karena di lapangan, hutan-hutan sagu di tanah hak ulayat masyarakat adat kian habis dibabat, dialihfungsikan untuk kebutuhan perkebunan besar sawit, lahan transmigrasi, dan pemukiman. Selebihnya, hingga saat ini pemerintah daerah Maluku maupun anggota badan perwakilan rakyat di lembaga legeslatif masih “sono” - tertidur pulas, tidak melakukan apa-apa. Tidak ada inisiatif apapun dari lembaga pengemban aspirasi rakyat – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), baik Provinsi maupun khsusnya kabupaten dan kota, yang tergerak nuraninya mau “menolong” menyelesaikan kebutuhan dan kesulitan masyarakat adat untuk melegalkan hak miliknya atas tana-tanah hutan adat. Lalu kepada siapa lagi harus dimintai pertolongan? Tunggulah ketika tiba saat mereka datang meminta suara dukungan di saat musim kampanye pemilihan umum, karena diluar saat itu suara masyarakat hanya debu di kaca mobil dan jendela gedung parlemennya yang kedap suara dan terhindar dari kepanasan dan kehujanan. Atau harus menanti dulu mereka berangkat dan pulang dari “Studi Banding”

Perbedaan negara dan masyarakat adat, adalah soal kemampuan administrasi dan pengetahuan atas hak milik pada tanah-tanah hutannya. Masyarakat adat dengan “merek” masyarakat tradisionil, lemah posisi tawarnya, cenderung “bodoh” memahami duduk masalah. Sehingga secara terpaksa, karena tidak akan mampu menolak untuk kembali menyerahkan hak miliknya atas hutan untuk diatur oleh negara. Situasi yang menyayat rasa keadilan masyarakat adat, karena terbelit seperti lingkaran setan yang tak berujung pangkal, masalah yang melahirkan persoalan dan titik temu penyelesaiannya bergantung penting tidaknya “kebaikan” yang dibajaki dan diputuskan negara.

Kehadiran negara yang muncul belakangan, telah lebih berkuasa atas hak milik masyarakat warga negara – masyarakat adat, dalam lingkup wilayah kekuasaan negara. Kelemahan masyarakat adat atas administrasi dan pengetahuan hak miliknya atas hutan tidak semakin dipermudah, ketika kepentingan misi pemegang kekuasaan negara hendak dijalankan. Dr. Syafroedin Bahar - Ketua Dewan Pakar Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat, menyatakan hal itu tidak berbeda dengan doktrin hukum penjajah Belanda yang mencantumkan asas domein verklaring dalam sistem hukumnya, yang menyatakan bahwa seluruh tanah yang tidak dapat dibuktikan adanya kepemilikan atasnya, merupakan milik Kerajaan Belanda. Lebih lanjut dinyatakan, pengalaman menunjukkan bahwa pengakuan, penghormatan, dan perlindungan Negara terhadap masyarakat adat tidaklah terjadi secara otomatis, tetapi harus diperjuangkan secara terencana dan terorganisasikan oleh masyarakat adat sendiri.

Negara selalu pandai berkilah dan memiliki banyak alasan menjadikannya peluang dengan pembenaran yang dipaksakan agar masyarakat adat tunduk dan patuh mengikuti kemauan pemegang pemerintahan negara, melalui wewenang kekuasaan dan kedaulatan. Walau harus tersingkir, terusir dan terlantarkan dari tanah dan hutannya, tercabut dari akar budaya tradisionalnya, hilang lenyap situs sejarah dan spritual masyarakat adatnya, hingga memaksa tanpa bisa terbebaskan dari kubangan ketidakmampuan beradaptasi pada lingkungan barunya. Semua itu dipandang ringan pemegang kekuasaan negara, yang bahkan dianggap suatu pengorbanan demi kepentingan negara. Karena setiap pemegang kekuasaan negara hanya menjalankan kebijakannya dengan alasan yang dipoles seakan memang itulah kepentingan negara, dan masyarakat warga negara tanpa pilihan harus menerima dan mengakui kebijakan itu benar negara melakukannya untuk kepentingan rakyatnya. Begitupun masyarakat adat Bangsa Alifuru yang lebih dulu lahir bersama hutan yang harusnya menjadi hak untuk dimiliki sepenuhnya, tanpa pilihan harus rela dan “dilarang” berpikir dan bertindak bertolak belakang dengan kebijakan atas nama kepentingan kekuasaan dan kedaulatan negara. Bila sebaliknya negara memang peduli, maka Rancangan Undang-Undang Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat, yang masih menggantung padahal sudah disusun sejak rezim pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan hingga periode presiden Joko Widodo, dapat segera disahkan dan diberlakukan.

Bangsa Alifuru adalah manusia hutan, selain manusia lautan. Mereka telah terbiasa dan akrab menyusuri belantara hutan dan rimbunnya padang ilalang. Menapaki lembah, bukit dan pegunungan, hingga kembali menemui pasir pantai. Alifuru adalah bangsa petualang yang pandai menundukkan  lawan dan menguasainya wilayahnya serta mampu mempertahankannya hingga darah tidak lagi menetes. Pribumi Maluku yang tetap tegar menjaga wilayahnya dari aneksasi bangsa asing, tetapi juga adalah ras petualangan – rumpun Melanesia, yang santun menyapa alam dan setia menjaga rimbanya. Menjadikan pulau-pulau besar khususnya di kepulauan Maluku tetap rimbun dengan pepohonan yang tinggi menjulang, padat dan tumbuh subur, terawat dan lestari jauh sebelum kehadiran negara baru bernama Republik Indonesia. Manusia pribumi Maluku berbangsa Alifuru, memang adalah manusia hutan yang mampu melintasi lautan antar pulau kepulauan Maluku. Hutan – juga lautan, yang telah merapatkan perilaku manusia Alifuru untuk lekat dan selamanya ada bersama dan selalu dengan hutan.


Thursday, July 18, 2019

Rehabilitasi Lapangan Merdeka Ambon ; Proyek Siluman Yang Merusak Sistim Tata Ruang Sebuah Kota Modern

Rehabilitasi Lapangan Merdeka Ambon ; Proyek Siluman Yang Merusak Sistim Tata Ruang Sebuah Kota Modern
Lapangan Merdeka Ambon (Foto; @embun01)

Lapangan Merdeka Ambon merupakan sarana fasilitas umum yang peruntukkannya multi fungsi, sehingga tidak dengan mudah dialihfungsikan untuk hanya sekadar kebutuhan hajatan upacara yang tentunya tidak secara rutin berlangsung setiap hari, setiap minggu, bahkan tidak pula ada sebulan sekali.

Saat ini, sedang dilakukan rehabilitasi yang indikasinya sebagai fasilitas yang hanya untuk kebutuhan upacara dan hal itu dari kepentingan pemerintah daerah semata. Maka tanah lapangan berumput hijau yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu, akan segera diganti atau ditutupi dengan pavin blok berbahan campuran semen dan pasir. Dan rumput hijau lapangan akan tidak lagi tumbuh menutupi tanah lapangan dimaksud. Alasannya, karena ketika digunakan untuk upacara di saat tertentu dan ketika turun hujan, para peserta upacara menjadi kotor akibat tanah lapang yang becek. Alasan yang benar-benar sederhana, karena disederhanakan maksudnya tanpa mempertimbangkan berbagai hal lain yang sesungguhnya lebih penting dan rutin, dari pada sekadar kebutuhan suatu upacara.

 Penggusuran Lapangan Merdeka Ambon (Sumber foto; Jonry Pirsouw/fb)

Kota Ambon sudah sangat sempit lahan datar dan terbuka, kecuali lapangan Merdeka yang masih merupakan satu-satunya ruang terbuka yang cukup luas di tengah pusat kota. Selama ini menjadi area yang bukan hanya upacara yang belum tentu sebulan sekali, tetapi setiap hari berfungsi sebagai pusat aktifitas olah raga warga kota Ambon. Olahragawan seperti atlit atletik Maluku yang mengharumkan nama Maluku dan bahkan Indonesia, pernah lahir dari lapangan Merdeka, begitupun tidak sedikit pemain sepak bola Maluku yang mahir bermain bola karena setiap hari berlatih di lapangan Merdeka. Sekalipun belakangan ini sudah ada Stadion Mandala Remaja di Karang Panjang, tetapi tidak secara leluasa, bebas, gratis, dan mudah selain minim fasilitas, untuk dapat digunakan sebagaimana keberadaan lapangan Merdeka. Tercatat, lapangan merdeka memiliki nilai historis dalam banyak hal dan untuk begitu banyak orang. Tanah dan rumput hijau lapangan Merdeka memiliki memori panjang dan dalam di benak masyarakat kota Ambon dan Maluku umumnya.

Pandangan yang sangat sempit dalam cara pikir, dengan memandang posisi lapangan Merdeka hanya sekadar fasilitas untuk memenuhi kebutuhan seremonial dan kepentingan insidentil dan sifatnya sepihak aparat pemerintahan. Sementara kepentingan yang lebih luas dan sangat dibutuhkan dalam penataan sebuah kota yang sudah makin padat dan menimbulkan berbagai dampak terhadap kebutuhan masyarakat secara luas begitu mudah diabaikan. Keputusan sepihak pemerintah provinsi dan didukung lembaga legislatif – DPRD Provinsi untuk merubah fungsinya menjadi hanya diperuntukkan untuk lapangan upacara dan area parkir kendaraan bermotor semata, menunjukan kelemahan – untuk tidak dikatakan dangkalnya cara berpikir, sistem penataan sebuah wilayah kota modern yang harusnya dibangun dengan mempertimbangkan berbagai daya dukung lingkungan yang memadai guna kenyamanan seluruh warga penghuni kota. Antara lain, adanya ruang terbuka yang kedap, air, kedap udara, ruang rekreasi yang melegakan, serta tentunya saja harus “hijau”.

Pemerintah Daerah Provinsi Maluku saja yang secara sepihak “menganeksasi” lapangan tersebut, seakan hanya milik sepihak aparat pemerintah daerah. Seperti sengaja mengabaikan kepentingan umum masyarakat terhadap fungsi penggunaan fasilitasnya dan manfaat luas sebagai ruang terbuka yang tentu mestinya tertata secara hijau – berumput.

Lapangan Merdeka ada di tengah pusat kota, sangat dibutuhkan oleh warga kota dan selama ini tidak ada keluhan berarti dalam penggunaannya dengan tanah lapang berumput. Keberadaannya sama sebagaimana keberadaan lapangan seperti itu di wilayah pusat-pusat kota yang bahkan itu terdapat di kota-kota seluruh dunia. Dan lapangan Merdeka adalah bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Ambon. Fungsinya sebagai ruang terbuka publik, selain adanya ruang terbuka privat, memiliki fungsi utama (Intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan(ekstrinsik) yaitu fungsi arsitek-tural, edukatif, sosial, dan ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan, lima fungsi dimaksud dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, kepentingan dan keberlanjutan pembangunan – penataan, kota.

Proyek Siluman?
Beberapa media masa lokal online telah ramai memberitakan bahwa pekerjaan proyek sudah dilaksanakan sejak beberapa hari lalu. Rumput lapangan sudah digusur beberapa alat berat dan pavin blok sudah ditumpuk di sekitar lapangan. Sementara itu tidak ditemukan adanya papan pelaksanaan yang menerangkan keberadaan proyek dimaksud.


Penggusuran Lapangan Merdeka Ambon (Sumber foto; satumaluku.id)
Informasi proyek tersebut yang terbaca pada situs LPSE Provinsi Maluku ; hhtp/www lpse.malukuprov.go.id. dibaca jelas bahwa proyek rehabilitasi dimaksud dianggarkan Rp 2, 499.000.000. Tanpa dicantumkan pemenang tendernya. Tetapi informasi yang diperoleh dari hasil penelusuran media satumaluku.id, tender proyek dimenangkan oleh CV. Pelangi Jaya dengan penawaran pelaksanaan senilai Rp. 2,413.000.000. Di dalam jadwal LPSE pun tercantum penandatanganan Kontrak baru akan dilakukan di tenggat waktu antara 18 Juli hingga 31 Juli 2019, yang berarti pelaksanaan proyek baru dapat dimulai di awal bulan Agustus. Tetapi kenyataan lapangan di lokasi proyek, pekerjaan fisik sudah dilakukan sejak pekan lalu.

Rehabilitasi Lapangan Merdeka Ambon ; Proyek Siluman Yang Merusak Sistim Tata Ruang Sebuah Kota Modern
Tahapan Tender - LPSE Provinsi Maluku(Sumber via satumaluku.id )

Secara tiba-tiba, tanpa ada sosialisasi sebelumnya oleh perencana proyek – dalam hal ini Pemerintah Provinsi Maluku, masyarakat kota Ambon maupun Maluku umumnya dibuat kaget dengan adanya kegiatan penggusuran tanah dan rumput lapangan. Timbul reaksi yang umumnya menyesalkan dan cenderung menolak maksud alih fungsi lapangan yang hanya untuk lokasi upacara dan tempat parkir kendaraan bermotor. Jelas saja ada akibat penolakan demikian oleh masyarakat, karena samasekali tidak diajak dengan diminta atau ditanyakan pendapatnya dalam perencanaan awal proyek. Begitu pula untuk area parkir, itu untuk kendaraan apa dan siapa serta kenapa harus menggunakan lapangan Merdeka. Ruang di sekitar pusat lapangan masih cukup muat, apalagi hanya untuk parkir kendaraan sewaktu-waktu. Masyarakat kota Ambon, berhak berpendapat sebab lapangan Merdeka boleh saja tercatat sebagai aset Pemerintah Provinsi Maluku, akan tetapi fungsi dan penggunaan atau peruntukan merupakan bagian dari fasilitas umum yang tentu ketika hendak dirubah maka masyarakat harus diajak bicara.

Kesan adanya proyek itu seperti sengaja di”atur” agar dikerjakan tiba-tiba dan tetap dipaksakan. Sayangnya, alasan yang dikemukakan dan kronologis munculnya proyek tersebut seperti siluman. Siluman yang sulit dideteksi sosoknya kecuali menebarkan prasangka, sambil menakuti dengan memunculkan taringnya agar yang memburunya berhenti mengejarnya. Hal itu memunculkan tanya, pada ada apa dibalik “pemaksaan” proyek dimaksud. Tidak adakah proyek lain yang lebih penting dan dibutuhkan masyarakat di Maluku, selain proyek pemenuhan kebutuhan sepihak yang tidak berdampak positif luas kepada kesejahteraan masyarakat Maluku yang masih menduduki peringkat juara Provinsi Termiskin?


Pemprov dan DPRD Harus Mendengar Suara Rakyat

Selama beberapa hari terakhir ini, tidak sedikit muncul protes masyarakat yang tidak menghendaki lapangan Merdeka dialih fungsikan peruntukannya yang hanya demi kepentingan sepihak dan dengan perubahan yang sesungguhnya bertolak belakang dengan cara cerdas penataan kota modern. Sementara tanah lapangan sudah digusur, rumput lapangan sudah tercabut habis dan lenyap.

Sudah seharusnya Pemerintah Provinsi Maluku dan DPRD Provinsi Maluku, mendengar suara protes masyarakat dengan menghentikan rencana alih fungsi lapangan serta penataannya yang menghilangkan tanah dan rumput lapangan dengan diganti pavin blok. Dikembalikan ke posisi sediakala, tetap tanah lapang berumput hijau. Begitupun, adakah jaminan tidak akan tergenang air lagi dan tidak berdampak negatif lainnya?

Dengan begitu, karena sudah terlanjur direncanakan dan dianggarkan, maka rehabilitasi lapangan tetap dilanjutkan. Tetapi bukan menghilangkan tanah dan rumput lapangan. Tanah dan rumput lapangan ditata ulang dengan cara struktur lapisan tanah diatur agar sistem drainase penyerapan air saat musim hujan dapat mudah terserap, sehingga tidak menimbulkan efek tanah becek sebagaimana yang dikeluhkan atau dijadikan bagian dari alasan proyek saat ini. Masyarakat bakal menerima bila kemudian anggaran penataan sedemikian dianggap kurang dan hendak ditambahkan dalam anggaran perubahan, yang pasti jangan biasakan mengabaikan suara rakyat, dan kembalikan tanah lapang berumput hijau Lapangan Merdeka Ambon.


Opini oleh ; M. Thaha Pattiiha



Catatan ; Penulis adalah Direktur Eksekutif Komunitas Embun (LSM Perlindungan Lingkungan & Ekosistem)

Monday, July 15, 2019

Bahaya Penggundulan Hutan Di Maluku dan Maluku Utara Untuk Perkebunan Besar

Bahaya Penggundulan Hutan Di Maluku dan Maluku Utara Untuk Perkebunan Besar
Hutan yang gundul di pulau Halmahera.( Dok AMAN Malut)


          Membaca catatan berita tentang hutan-hutan di Maluku, ternyata hampir semua pulau besar, seperti Halmahera, Sula, Seram, Buru, Yamdena, juga Kepulauan Aru, bakal terancam ekologi dan dan menimbulkan dampak negatif bagi masa depan lingkungan dan masyarakat Kepulauan Maluku. Bagaimana mungkin pulau-pulau yang terbatas luasnya, dipaksakan untuk dibukan perkebunan besar, seperti perkebunan kelapa sawit. Tentunya kian terancam tandus dan berakibat buruk bagi kehidupan yang lebih luas.

Hutan di pulau Halmahera dan Sula seluas 59.949,14 Ha di Maluku Utara, oleh 11 Perusahaan Perkebunan telah mengajukan ijin kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada periode Oktober tahun 2015. Entah sudah seperti apa saat ini, hutan-hutan yang hendak digarap perkebunan besar dimaksud.

Menurut data dari AMAN Maluku Utara yang dimuat di ; malut.aman.or.id (2017/01/14), terdapat 11 perusahaan yaitu ;

  1. PT Budi Sula Intim, dengan Nomor : 63/KPTS-II/1994, luas lahan 768,25 Ha, jenis komoditas kelapa sawit, dengan lokasi di Halmahera Tengah.
  2. PT Dede Gandasuling, dengan Nomor SK.374/Menhut-II/2005, luas lahan 19.808,30 Ha, jenis komoditas perkebunan, dengan lokasi di Halmahera Tengah
  3. PT Gelora Mandiri Membangun, dengan Nomor SK.22/Menhut-II/2009, luas 003,90 Ha, jenis komoditas kelapa sawit dengan lokasi di Halmahera Selatan.
  4. PT Ginangfohu Plantation, dengan Nomor SK.324/Menhut-II/2011, luas 8.486,72 Ha, jenis komoditas kelapa sawit, lokasi Kepulauan Sula.
  5. PT Green Jaya Plantation, dengan Nomor SK 705/KPTS-II/92 luas 4.194,00 Ha, jenis komoditas kelapa hibrida, karet, coklat, lokasi Malut
  6. PT Inmal Tani dengan Nomor SK 07/KPTS/Kwl-6/1994 luas 100,00 Ha, jenis komoditas Kelapa Sawit, lokasi Malut
  7. KUD Lay Thohang dengan Nomor SK 178/Kpts-II/2000 total 425,10 Ha, jenis komoditas karet dan kakao, di Halmahera Tengah.
  8. PT Manggala Rimba Sejahtera, dengan Nomor SK. 856/Menhut-II/2014, total luas 11.404,20 Ha, jenis komoditas Kelapa Sawit, di Halmahera Tengah
  9. PT Mega Buana dengan Nomor SK 208/KPTS-II/1994 total 509,85 Ha, jenis komoditas Kelapa Sawit, lokasi Maluku Utara.
  10. PT Weda Bay Nickel dengan Nomor SK 482/Menhut-II/2012 luas 1.432,22 Ha, untuk pengembangan industri pengolahan dan sarana prasarana, lokasi Halmahera Tengah.
  11. PT Yosmas & Sons Sekakarsa PT dengan Nomor SK 186/Kpts-II/99, Total luas  816,60 Ha, jenis komoditas  Kelapa Sawit.

Sumber ; AMAN

Fam - Marga, Orang Maluku (Alphabet N - Z)

Oleh ; M. Thaha Pattiiha
FAM, Marga (Mata Rumah) Orang Maluku

Ilustrasi FAM / Marga (Mata Rumah) Orang Maluku

Halaman kedua ; Alphabet N - Z 
(Link halaman pertama Alphabet A s/d M, ada di bagian bawah halaman ini)

N
Nabal, Nadjar, Naene, Nafali, Naflery, Nagara, Nahaklay, Nahakleky, Nahakleta, Nahatue, NahukoliaNahuleta, Nahumarusy, Nahumarury, Nahumuri (Nahumury/Tuanahumury), Nahusuly,  Nahusona, Nahuway, Naihonam, Naim, NaitioyNalahelu, NamakuleNamasela, Namotemo, Nampasnea, Nam Raja, Namsa, Namserna, Namuru, Nanariain, Nandisa, Nanere, Nanlessy, Nanlohy, Narahawarin, Nares, Naressy, Nanulaitta, Nanuru, Nanusella, Nanuayo, Naraha, Narahaubun, Narahayaan, Narahawarin, Naraya, Narayaan, Narayaman, NarewNarfafen, Narmo, Naroly, Narua, Narwadan, Narwawan, Naryemin, Nasela, Naskay, Nares, Naressy,  Nasarany, NasrengNasri, Natan, Natar, Natasian, Natjikit, Natlayer, Natten, Natro, Nauly, Nauwe, Navan, NawalyNaya, Nayatuen, Nebar, Nederoepoen, Neite, Nelson, Nendissa, Nengkuela, Nengkuelya, Nererain, Nerwel, Nesar, Nettana, Neva, Newnuny, Neyte, Ngelyaratan, Ngabalin, Ngabalin-KilmasNgabalin-Yabru, Ngaderman, Ngaja, Ngalngola, Ngamel(Ngamelubun), Ngangngor, Ngangun, Ngarbingan, Ngebursian, Ngelyaratan, Ngelyaubun (Ngilyaubun), Ngidihu(Ngidiho), Ngilamele, Ngilawane, Ngilitubun, Ngilyab, Ngoranubun, Ngoran, Ngosiem, Ngoyem, NgurmetanNgutra, Niker, Niapele, Nicolaas, Nicolay, Nife, Nifmaskossu, Niker, Nikijuluw(baca;Nikiyulu), Nikodemus, Nimbroskosu, Nimunuho, Nindatu, Ninkeula, Nio, Nirahua, Nisaf, Nisdoam, Nital, Nitakessy, Nitalessy, Nivaan, Niwele, Noach, Noble, Nokpay, Nonmafa, Nomaha, Norimarna, Norwens, Notanubun, Notty, Nova, Novira, Noya(/Noija,baca;Noiya), Nugracia, Nuhuyanan, Nuhulain, NukahaubunNukukoly, Nukuhaly, Nukuhehe, Nuniary, Nunlehu, Nunuela, Nunuette, Nunumette, Nuraha, Nuriata, Nurlatu, Nurlette, Nurtanio, Nurubalu, Nurue, Nusalelu, Nusaly, Nusatjasi, Nusawakan, Nussy, Nyawikuhy(baca;Niawikuhi).

O
Oat, Obhetan, Octovians, Odara, Oefy, Oersepuny, Ofan, Ohert, Ohoibor, Ohoibur, Ohoilean, Ohoiledjaan, Ohoiledwarin, Ohoilulin, Ohoilun, Ohoimar, Ohoimas, Ohoimoar(Ohoimuar)OhoimolOhoinaung, Ohoiner, Ohoinol, Ohoira, Ohoirat, Ohoirenan, OhoitaurOhoitavun(Ohoitawun), Ohoitenan, Ohoitimur, Ohoiulun(baca;Ohoi-ulun), Ohoiwab, Ohoiway, Ohoiwer, Ohoiwirin, Ohoiyuf, Ohoiwutun, Ohomurin, Ohorella, Ohoulun, Ohman, Oikuasta, Oilira, Oita, Okra, Oktosea, Oktoseya, Oladasi, Olamando, Olczweski, Olinger, Olislager, Olla,  Ollong, Oliver, Olivier, Oliviera, Olkteseja, OkimekmaOkmemeraOkololy, Omaratan, Omega,  Onaola, Onardo, Onarely, Onarloy, Ondy, Ongaranubun, Ongels, Ongirwalu, Ongkers, Onoly, Oraile, Oranje, Oraplawal, Oraplean,  Oratmangun, Orindalim, Oosterhuis, Oppier(Opir), Orno, Orobaym, Orun, Ory, Oryoin, Oshaer, Osleky, Ospara, Oszaer, Otmudy, Otta, Oudshoorn, Owandity, Oybur, Ozaer.

P
Paaijs(Paays), Paca, Padang, Padja(Paja), Pahar, Paidara, Paija, Paihaly, Paihra, Paipaihong, Pairhy, Paisina, Paitaha, Pakaila, Pakalessy, Pakay, Pakey, Pakkel, Pakliay, Pakniany, Paknianmewan, Palain, Palajo, Palapessy, PalapiaPalembang, Palencar, Paliaky, Palias, Palica, Palijama(Palyama), Palijate, Palipus, Polirone, Palisoa, Palpia, Pamounda, Panco, Pangase, Panjaito, Panpalares, Papasoka, Palpialy, Papilaya(Papilaja), Parany, Parera, Parety, Parewang, Pariama, Pariela, Parihala, Parinama, Parintah, Parinussa, Pariusamahu, Pariuri(Pariury)Pardjer(Parjer), Paron, Parura, Pary, Pasalbessy, Pasanea, Pasarella, Paselima(Passelima), Pasinau, Pasipari, Pasla, Passa, Passahary, Passal, Passau, Passumain, Pataota, Patawala(Pattawala), Patawaria, Patehaduan, Pati, Patjanan, Patras, Patrouw, Patsina, Pattalala, Patti, Pattianakota, Pattiapon, Pattiasina, Pattiata, Pattiiha, Pattihahuan, Pattihawean, Pattiheuwean, Pattikayhatu, Pattikairatu, Pattikawa, Pattikupang, Pattihua, Pattilekasapia, Pattileamonia, Pattileraonia, Pattileuw, Pattilima, Pattilouw, Pattimahu, Pattimaipauw, Pattimukay, Pattimura, Pattinama, Pattinasarani(Pattinasarany/Pattinaserany), Pattinaya, Pattinussa, Pattipawaej, Pattipeilohi(Pattipeilohy/Pattipilohy), Pattipeiluhu, Pattirajabessy, Pattiradjawane, Pattirane, Pattirousamal, Pattiruhu, Pattirulan, Pattisahusiwa, Pattisamalo, Pattisapacoly, Pattiselanno, Pattiserliun, Pattisina, Pattisinai, Pattisia, Pattiwael, Pattiwaelapia(Pattiwaellapia), Pattiusen, Pattotmen, Patty, Pattynama, Paturia, PatuwoPatyanan, Paul, Paulain, Paulus, Paulusz, Paunno, Pawae, Payara, Payapo, Pay, Payer, Payessy, Pea(Peea), Peca, Pehine, Pehino, Pei, Peilouw, Peimahul, PeirissaPeisamePeisina, Pelamonia, Pelapelapon, Pelapory, Pelasula, Pelaury, Pelletimu, Pellata, Pellaupessy, Pello, Pelman, Pelmelay, Pelu, Peluhuapelu, Pelupessy, Pembuain, Penny, Penu, Pentura, Pentury, Perdijk, Peres, Perez, Perkaly, Perklay, Perley, Perloy, Persulessy, Pertafun, Pertuack, Perulu, Peseletehahan, Pesirahu, Pesireron, Pesiwarissa, Pesilette, Pessi(Pessy), Pesoelima(Pesulima), Pesurnay, Pesuwarissa, Peta(Petta)Petnarubun, Petrof, Petrusz, Peuohaq, Peweloy, Peyzer, Phillips, Philippus, Phoiwuy, Pical, Picalouhatta, Picanussa, Picarima, Picasouw, Picauly, Picaulima(Piculima), Picauria, Piculima, Piél, Pieter(Pieters), Pieterst, Pietersz, Pieris, Pieritsz, Piga, Pikason, Pilando, Pilimau, Pinoa, Pipiana, Piris, Piries, Pirsouw, Pisarahu, Pitna, Pitoty, Pitries, Pocerattu, Pocomase, Pohirey, Pohwain, Pohwainyaan, Poipessy, Pokar, Pokomasse, Pokrena, Polari, Polanunu(Polnunu), Polhaupessy, Poliay, Pollatu, Polnaya, Polpoke, Polsiary, Polway, Polyn, Pomeo, Poniskory, Pontoh, Pony, Pooroe, Popla, Pora, Porce, Porfchy, Porkily, Porlary, Porloy, Pormes, Porsche, Porsiana, Porsisa, Porudara, Porulery, Porwaila, Porway, Postema, Postma, Potoruw, Pottu, Prans, Pronk, Proprey, Prossy, Proym, Pruat, Puaraka, Puiledway, Puimera, Pulhehe, Pulumahuny, Punjanan, Pupella, Purimahua, Putiheruw, Putinela, Putirulan, Putjutju, Putnarubun, Puttileihalat, Puttineta, Puttiray, Putuhena, Putun, Puturuhu, Puyamna, Pynustan.

Q
Que, Queljoe, Quezon.



R
Rabrusun, Rachil, Rada, Radamussa, Radiena, Radjabaycolle, Radjaloa, Radjawane, Radjoelan, Rado, Rafael, Rafel, Rafupaira, Ragalomi, Rahabav(Rahabaf)Rahabau, Rahabeat, Rahadat, Rahaded, Rahado, Rahae, Rahael, Rahaguna, Raha’il, Rahailwarin, Rahailyaan, Rahalus, Rahajaan, Rahajan, Rahanbiran, Rahakbauw, Rahakbaw, Rahakbou, Rahaket, Rahakorat, Rahakratat, Rahalob, Rahallus, Rahamauw(Rahamauv), Rahametwan, Rahametwau, Rahanar, Rahan Enlim, Rahaningmas, Rahankey, Rahankubang, Rahanluan, Rahaor, Rahanra, Rahansikwer, Rahanten, Rahantoknam, Rahanyantel, Rahawarin, Rahanau, Rahanera, Rahangiar, Rahangier, Rahangirit, Rahangmetan, Rahanjaan, Rahakuren, Rahanmitu, Rahanratu, Rahansamar, Rahanserang, Rahantali, Rahanubun, Rahanyamtel, Rahanyanat, Rahareng, Raharusun, Rahantan, Rahanten, Rahanwarin, Rahanwatty, Rahaor, Rahasomar, Rahawadan, Rahawarat, Rahawarin, Rahawarin-Ohoirenan, Rahayaän, Rahayaän-Banyal, Rahayaän-Kodhoa, Rahayaän Ten, Rahayamtel, Rahentus, Rahlus, Rahmetan, Rain, Rainony, Raja Boean, Rajakbauw, Rajab, Rajawane, Ralahallo, Ralahalu, Rambers, Rambino, Ramchic, Ramelan, Ramon, Ramondo, Rampisela, Ramschie, Rananmase, Ranau, Ranbalak, Raneld, RangkoratatRangratu, Ranguly Ranno, Ranolat, Rantoknam, Raoeboen, Raprap, Raropa, Rarsina, Ratila, Ratissa, Ratsehaka, Ratsina, Ratte, Ratuadan, Ratuanak, RatuanikRatuarat, Ratuhalin, Ratukoten, Ratulohain, Ratulohoren, Ratumassa, Raturomon, Ratuteher, Raubun, Raude, Ravales, Raviv, RawulRawulunubunRayabuan, Rea, Reane, Reawaruw, Reasoa, Rebiltaban, Recy, Redonov, Reeyk, Refialy, Refilteman, Refo, Refra, Refualu, Refun, Refwalu, Refwutu, Regel, Regent, Rehalat, Rahanyanat, Rahatalanit, Rehatta, Rehena, Rehiara, Rehiary, Rehiraky, Reihara, Reilely, Reimas, Reinhard, Reinould, Reintjes, Reipiltaman, Reiper, Reitiwal, Rejaan, Reken, RekolRekubun, Relew, Reliubun, Relmasira, Remav, Remetwa, Remialy, Remitas, Remkes, Remmona, RemyaanRenaat, Rendat, Ren-El, RenelRenellatRenfaan, Renfan, Renfarak, RenfouwRengiar, Rengil, Rengirit, Rengngur, Rengngur Vat, Rengrengulu, Rengur, Rengwur, Renhar, Renhoar, Renhoat, Renhoran, Renhuard, Renhungan, Reniban, Reniwuryanan, Reniwuwarin, Renleeuw Renmaur, Renmaur Jaan, Renmaur Wirin, Renmeuw, Renngiwur, Renngur, Renngur RenleeuwRenoat, Renolat, Renoult, Renrusun, Rentanubun, Rentor, Rentua, Renuat, Renuf, RenurRenurth, Renuw, Renwarin, Renwer, Renwet, Renyaän(atau;Renjaan), Renyut, Renvan, Renvav, Renwair, Reras, Rerebain, Reressy, Rerinne, Rering, Rery, Resalean, Resare, Resbal, Resel, Res-El, Reselwab, Reselwaw, Residay, Resie, Resilowy, Resimere, Resimery, Resirwawan, Reslanut, Reslev, Resley, Resmal, Remitas, Resmarth, Resmol, Respessy, Ressel, Resok, Ressok, Restuny, Resubun, Resubunjaän, Resubun JaanResubun WarinResusun, Retraubun, Retuadan, Rettob, Rettobyaan-FadirubunRettob-FelweanubunRettob-Lelehenubun, Reunussa, Revalo, Revo, Revualo, Rewaru, Rewanata, Rey, Reyaän, Reyaan Hemas, Reyez, Reyk, Reymaru, Reyth, Rheebok, Ria, Riamlias, Rianakuay, Ribock, Richard, Rici, Ridtjab, Riupassa, Rieuwpassa, Rihena, Rihna, Rihulay, Rijoly, Rikiwelas, Rikumahu, Ripet, Rirlherta, Rinsampessy, Riri, Riry, Ririasa, Ririhatuela, Ririhena, Ririmasse, Ririmasu, Riripoy, Riruma, Rirsouw, Risahondua, Risakotta, Risamasu, Risamena, Risambessy, Risampessy, Risapori, Risreuw, Risteruw, Ritananuku, Ritawaemahu, Ritho, Ritiauw, Riupassa, Rivai, Riyanda, Road, Roberth, Robertho, Robetubun, Robiwala, Robja, Robubun, Röder, Rodja, Rodriguez, Roffe, Roge, RohiRoinwawan, Roirelmasira, Rokubun, Rolas, Rolhy, Rolobessy, RolobulanRomiwy, Romean, Romalaha, Rombaello, Romeon, Rommer, Romera, Rometna, Romhery, Romkeny, Romlioni, Romlus, Romode, Romohoira, Romony, Rompies, Romrainy, Romraikolai, Romsery, Romumoij, Romtia, Romuty, Romwy, Rongalaha, Roos, Rooy, Ropena, Rorafuy, Rorainy, Rorano, Rosen, Rosevelt, Rosfader, Rossi, Rostary, Rosumbre, Rotasouw, Roteltap, Rotobessy, Royani, Roxas, Ruael, Ruban, Rube, Ruff, Rügebregt, Rugebreith, Ruhukail, Ruhulessin, Ruhulessy, Ruhupessy, Ruhunlela, Ruhunussa, Ruhuputty, Rukka, Ruimassa, Rukka, Ruimassa, Rumata, Rumbatu, Rumadan, Rumadaul, Rumaday, Rumadery, Rumadatu, Rumaf, RumagaRumagia, Rumagiar, Rumagoran, Rumagutawan, Rumaherang, Rumahlaiselan, Rumahlewang, Rumahrewane, Rumahtita, Rumailal(Rumaillo), Rumailay, Rumailili, Rumain, RumajakRumakabis, Rumakamar, Rumakat, Rumakefin, Rumakelrat, Rumakety, Rumakey, Rumakilrat, Rumakuai, Rumakuay, Rumakur, Rumakway, Rumalaiselan, Rumalarua, Rumalaselan, Rumalatea, Rumalatu, Rumalean, Rumalesin, Rumalewang, Rumalili, Rumaloine, Rumalolas, Rumalowak, Rumalutur, Rumamain, Rumamite(Rumahmite), Rumamina, Rumamory, Rumana, Rumanama, Rumangun, Rumantenan, Rumappar, Rumapusule, Rumaratu, Rumaraya, Ramarihu, Rumarisa, Rumaru, Rumaruson, Rumaroeson, Rumasanahu, Rumasilan, Rumasella, Rumasona, Rumasoreng, Rumasukun, Rumasoal, Rumat, Rumata, Rumatamerik, Rumatela, Rumateor, Rumatiga, Rumatora, Rumatoras, Rumatumerik, Rumatumia, Rumauru, Rumau, Rumauw, Rumayara, Rumbalangi, Rumabalifar, Rumbara, Rumbaroa, Rumbaru, Rumbati, Rumbawa, Rumbia, Rumbory, Rumbouw, Rumeon, Rumew, Rumetor, Rumfaan, Rumfaf, Rumfot, Rumheng, Rumkedy, Rumkel, Rumkeny, Rumkoda, Rumluan, Rumlaän, Rumlawang, Rumles, Rumlety, Rumlus, Rumngevur(Rumngewur), Rumngewury, Rumohoira, Rumoga, Rumonin, Rumphius, Rumpis, Rumpuin, Rumra, Rumsory, Rumthe, Rumtutly, Rumtotmey, Rumuar, Rumui, Rumurloly, Rumwokas, Rumyaan, Rupelu, Rupidara, Rupiluw, Rupisiay, Rurume, Rusbal, Rusfadir, Ruslau, Russel, Ruspanna, Rusunwully, Russyn Rusten, Rutumalesi, Rutunalessy. 

S
Saa, Saämena, Saanun, Sabad, Sabar, Saban, Sabandar, Sablohoubun, Sabonno, Sabtu, Sabubun, Sadouw(Sadow), Sadrak, Sadsuitubun, Safenussa, SafikSagat, Sagena, Sahabudin, Sahadin, Sahanaya, Sahalessy, Sahar, Saharui, Sahertian, Sahetapy, Sahetumby, Sahilatua, Sahlan, Sahubawa, Sahuburua, Sahulata, Sahulau, Sahuleka, Sahureka, Sahupalla, Sahusilawane, Said, Saidely, Saija(Saiya), Saihainenia, Saihatua, Saihitua, Sailana, Sailapra, Sailele, Sailon, Saily, Saimima, Saimorsa, Sainafat, Saineran, Sainfalak, Sainlija(baca;Sailiya), Sainyakit, Sahib, Sahupala, Sahureka(Sahuleka), Saipelessy, Sairas, Salasiwa, Sainlia, Sairdama, Sairdekut, Sairduly, Sairkora, Sairlela, Sairlona, Sairlouth, Sairo, Sairpaly, Sairseta, Sairun, Saiselar, Saitian, Sairtory, Saiya, Sakbal, Sakilat, Saklil, Sakliressy, Saknosiwi, Saksily, Sakwalubun, Salahalo, Salahay, Salaka, Salakay, Salakatota, Salakory, Salamahu, Salambessy,  Salambona, Salampessy, Salamena, Salamony, Salamor, Salamun, Salasiwa, Salatalohy, Salatutin, Salauwe, Salawane, Salawaney, Salawono, Salay, Selayar, Saleky, Salelatu, Salelua, SalembunSalenussaSalkey, Sahuteru, Saliama, Saliha, Salissy, Salkery, Sallira, Salmanu, Salomon, Salmon, Salosso, Salouw, Salurilla, Sakbal, Sakilat, Samadara, Samafat, Samal, Samalay, Samalehu, Samalihu, Samall, Samaleleway, Samalo, Samanery, Samangun, Samano, Samar, Samaraman, Samasal, Samatuak, Samder, Samderubun, Sameaputty, Samen, Samet, Samkay, Samly,  Samloy, Sammuel, Samollo, Sampulawa, Sampra, Sampson, Samsaman, Samson, Samual, Samuel, Samurwaru, Samusamu, Sanahiyo, Sanahu, Sanaky, Sanamasse, Sanders, Sandert, Sando, Sanduan, Sangadji, Sangaji, Saniapon, Sanmas, Santiago, Sanussi, Sapacoly, Sapalewa, Sapasuru, Sapia, Sapulette, Saptenno, Sapsuha, Sapsuka, Sapthu, Sapury, Sapya, Saquarella, Sarakh, SaramukuSarbunan, Sardinson, Sarean, Sarimolle, Sarioa,  Sariwating, Sarkol, Sarloy, SarlufSarmaf, Sarmaly, Sarmanella, Sarpan, Sarusway, Sarway, Sasabone, Sasake, Sasauw, Sasole, SatherSatsuitubun, Satumalay, Saude, Saulahirwan, Saulatu, Saulissa, Saulohy, Saununu, Saurette, Sauruy, Savsavubun, Savsiugun, Sawaule, Schaduw, Scharlig, Schenkuysen, Schreurs, Schrifen, Schroder, Sedubun(Sedoeboen), Seamiloy, Seane, Seay, Sebenan, Sehwaky, Seilano(Silano/Selano), Seimahuira, Seimahuwa, Seipalla, Seipattiratu, Seipattiseun, Seir, Seite, Seiteraya, Sekarone, Sekewael, Selan, Selang, Selanno, Selonyanan, Selatnaya, Selawa, Silaya, Seldjatem, Selebes, Selgader, Seleky, Selfenay, Selitubun, Selkioma, Sella, Sellay, Selleck, Selmury, Selra, Selsily, Seltubir, Seluhollo, Selumena(Serumena), Selumenapotoa, Selvara, Selvuan, Seknun, Semarang, Sem'ula, Senor,  Sepa, Sepatkora, Septorday, Septory, SepurliraSeralurinSeran, Serandoma, Serang, Serbunan, Serhalawan, Serin, Seriven, Sermaf, Sernun, Serpara, Serpiela, Serro, Saruning, Serusiay, Sersian, SertawiSerwujaanSesa, Sesson,  Sesye, Setha, SetherSetitit, Setty, Seubun, Seumahu, Seuw, Sewta, Shalom, ShantiShiwat, Siad, Siahainenia, Siahaya, Siahaija, Siaila, Sialana, Sialimbona, Siamahu, Siambo, Siamiloy, Siane, Sianressy, Siarukin, Siasaun, Siatam, Siatele, Sibers, SibuaSibualamo, Sichers, Siegers, Sienaya, Sieto, Sifata, Sigin, Sigiora, Sigmarlatu, Sihanenia, Sihasale, Sikdewa, Sikomena, Sikte, Sikteubun, Sila, Silafona, Silahaly, Silahooij(baca;Silahoy)Selalebit, Silano, Silara, Silaratubun, Silas, Silawane, Silawanebessy, Silehu, Siletty, Sileuw, Silfanay, Silfata, Silgaden, Sil, Silia, Silimena, Silipory, Silitubun, Silkaty, Sillueta, Sillouw, Siloinyanan, Silubun, Siluholo, Silooy, Silvera, Simaira, Simaela, Simantuat, Simao, Simasima, Simauw, Simatouw, SimehiSimintuat, Simson, Simon, Simona, Sina, Sinanu, Sinamona, Sinatti, Sinay(Tuasinay), Singadji, Singerin, Singerubun, Sinia, Sinmiasa, Sintiory, Sinyendir, Siolimbona, Siori, Siota, Sipahelut, Sipasulta, Sipiel, Sipolo, Siradju, Sirdjoir, Sirken, Sirlay, Sirsobad, Sirwutubun, Sitanala, Sitania, Sitaniapessy, Siutta, Siwa, Siwabessy, Siwalette, Siwarette, Siwasiwan, Sklaressy, SkukubunSlamet, Slarmanat, Slassa, Slaurubun, Slubyanik, Snall, Snyeur, Snylau, Snyopwain, So, Soa, Soakakone, Soaputty, Soares, SoarubunSoasiu, Soatomole, Sobal, Sobalely, Socnosiwy, Sodefa, Sodlieb, Soentpiet, Sogalrey, Sohi, Sohilait, Sohilauw, Sohk, Soin, Soindra, Sokanfuty, Sokolay, Solarbisain, Solaulu, Solehuwey, Solelatu, Soleman, Solemeda, Solemede, Solefucy, Solofuey, Solgarey, Solinav, Solissa(Solisa), Solmeda, Solsolay, Solukh, Somae, SomaluaSomar, Sombalatu, Somes, Somey, Somnaikubun, SomoleSongaji, Songbes, Songjanan, Songjanan-TallautSongupnuanSongut, Sonray, Sooch, Sooroe, Sopacua, Sopacuaperu, Sopaheluwakan, Sopamena, Sopaoia, Soparue, Soparve, Sopla, Soplatu, Soplanit, Soplantila, Soplely, Soplera, Soplero, Soplestuny, Soploy, Soprali, Sorfay, Sorfory, Soriale, Soriton, Sorluri(Sorlury), Sormin, Sormudi, Sorsery, Soruday, Sosal, Soselissa, Soselisa, Sotja, Souhally, Souhoka, Souhuken, Souhuwat, Souissa(Souisa), Soukotta, Soukully, Soulinay, Soulissa(Soulisa), Soumahu, Soumena, Soumeru, Soumete, Soumokil, Soumory, Soumual, Soumulin, SounaweSounotta, Sour, Sourbag, Souripet, SauwallaSowakilSowakul, Soyem, Spies, Sriatoon, Srue, Stanly, Stefanus, Stoker, Stom(baca;Stoom), Suailo, Suad, SualaSuarubun, Suat, SuatkabSuatratSuatrianSubwaiubun, Sucelaw, Sugey, Suiker, Suilehu, SuitelaSukunoraSukurSukuwata, Sula, Suli, Sulilatu, Sumaleng, Sumanik, Sumany, SumataSumreskosu, Sumtaki,  Sumual, Suneth, Sunlioy, Supulatu, Supusepa, Surey, Suribory, Suripatty, Surker, SurlialySuruwaky, Sutaner, Sutiray, Sutrahitu, Suttela, Suwakul, Suweileh, Syah, Syahailatua, Syaharanie, Syaranamual, Syarif, Syatauw, Syauta, Syelau, Syeramwain. 
  
T
Tabakwan, Tabalessy, Tabaleku, Tabalubun, Tabaubun, Tabavmolu(Tabavmolo), Tabelssy, Taberima, Taborat, Tackow, Tadubun, Taegarnan, Tagarnana, Tagilaha, Tahalea, Tahalele, Tahalua, Tahamata, Tahanora, Taharob, Tahapary, TahayasuTahitjanan, Tahiya, Tahitoe(Tahitu), Tahnopal,  Tahoes, Tahor, Tahwaibun, Taihitu, Taihuttu, Tail, Tairsobini, Takaba, Takahepis, TakamokanTakandengan, Takarasel, Takarbessy, Takarbobir, Takaria, Takartutun, Taker, Takerubun, Takimpo, Takndare, Talabessy, Talaksuru, Talahatu, Talahaturuson, Talakua, Talaksoru, Talanel, Talanila, Talaohu, Talaperuw, Talapessy, Talapuka, Talaway, TalelaarTaliakoTaliawo, Talubun, Talutu, Talla, Tallane, Tallaut, Tamela, Tamaelasapal, Tamala, Tamalene, Tamalsir, Tamamala, Tamanak, Tamarmans, Tamasiwa, Tamatayo, Tambalangi, Tamdang, Tamher, Tamherwarin, Tamnge, Tamonob, Tamtelahitu, Tan, Tanahatu, Tanahitumessing, Tanalea, Tanalepy, Tanalisan, Tanamal, Tanalessy, Tanarubun, Tanasale, Tanassy, Tanate, Tandisalla, Tanee, Tanesya, Tangahu, Tangke, Tangunubun, Tanic, Tanifan, Tanikwele, TanihahaTanihatu, Taniwel, Tanlain, Tanner, Tanrobak, Tansora, Tantoly, Tanuwele, Tanwey, TapalahweneTapessy, Tapiheru, Tapilaha, Tapilahuwane, Tapilatu, Tapilow, TapioihuTapotubunTarabubun, Tarangi, Tarantein, Tarantein-Ubleeuw, Tarawe, Tarawesi, Tarehy, Tarekar, Taribuka, Tarinathe, Tarumaselly, Taruno, Tarusy, Tasaney, Tasidjawa, Tasinowoyo, Tassane, Tataperuw, Tatipatta, Tatipikalawan, Tatisina, Tatroman, TatuhasTatuhe, Tatuhey, Tatuyaman, Taulany, Tauran, Tauatanasse, Tauwawan, Tawaerubun, Tawain(Tawaing), Tawary, Tawainella, Tawainlatu, Tawasal, TawauluTaweatubunTawurutubun, Tayalla, Tayanan, Tayane, Tayatubun, Tayl, Taaweran, Teapon, Tebi, Tebiary, Tebwai, Tebwaiyanan, Tefara, Teftutul, Tehuayo, Tehubijuluw(baca;Tehubiyulu), Tehuhatuela, Tehuhatuwayo, Tehupeiory, Tehupelasury, Tehusiarana, Tehupuring, Tehusyarana, Tehutora, Teis, Teky, TelaubunTelaTelehala, Telepary, Teliaur, Teyoar Ubun, Temarmans, Temartenan, Tememubun, Temmar, Temorubun, Temarwut, Tempessy, Tenine, Tenine, Tenlima, ten Cate, ten Have, Telussa, TenineTeniwut(Tenivut), Tengens, Tentua, Tepal, Tepinalan, Terinate, Teriraun, Teriubun, Terling, Terlir, Terloit, Termas, Termature, Termey, Ternate, Terry, Terseman, Tertimelay, Tertroman, Terwielsa, Teslatu, Teurupun, Tesno, Tetehuka, Tetelay, Tetelepta, Teterissa, Tethool, Tetikay, Tetimelay, Tetlageni, Tetrapoik, Teturan, Tety, Teubun, Tevtuar, Tewa, Tharob, The, Thebez, Thecher, Thedy, Theis, Thelessy, Themin, Thenager, Thenu, Theny, Theodorusz, Theofilla, Theorupu, Theovilus, Thernando, Theruty, Thesman, Thetius, Theuw, Thiemailattu, Thienus, Thiesman, Thinar, Thio, Thiosubu, Thiotansen, Thobias, Thomas, Thorion, Thovian, Thto, Thung, Thyssen, Tjandua, Tjeho, Tjokro, Tjuparia, Tiakoly, Tiahahu, Tianlean, Tianotak, Tiapon, Tibale, Tibalilatu, Tibalimeten, Tiblola, Tidore, Tielman, Tifof, Tigele, Tihulu, Tihurua, Tildjuir, Tilukay, Timahery, Timbangnusa, Timisela, Tingubun, Tiotor, Timotius, TinggapiTipak, Tilukay, Tikabala, Tipalameten, Tipawael, Tipialy, Tipuria, Tira, Tirel, Tisera, Tistor, Tita, Titaheluw, Titahena, Titaheru, Titaley, Titapasanea, Titapele, Titariuw, Titasam, Titasen, Titasinay, Titarsole, Titarsoley, Titasomi, Titawananno, Titawael, Titihalawa, Titiheru, Titioka, TitirimaTitirloloby, Titus, Tiven, Tiwery, Tjawadono, Tjia, Tjialfa, Tjiu, Tjoanda, Tjodi, Tlingkery, Toanubun, Toatubun, Tohatta,  Tobelo, Toberwaer, Toduho, Toekan, Toeparia, Toffoletti, Toffy, Togubu, Tohalo, Tohiano, Toisuta(Tuasiuta), Tokan, Toker, Tokerwarin, Tokeryaan, Tokjaur(baca;Tokyaur/Tukyaur), Tokmadoran, Tokolang, Tolahulia, Tolsen, Tomadina, Tomagola, Tomaluhu, Tomahu, Tomahua, Tomaluweng, Tomanima, Tomasila, Tomasoa, Tomasouw, Tomatala, Tomaula, Tomhissa, Tomia, Tomio, Tomoria, Tomu, Tomyar, Tong-Hio, Tongidu, Tonikoe, Tonrate, Tooren, Topelissa, Tapotubun, Toppora, Topurlay, Topurmera,Topurtawy, Toras, Torea, Toressy, Torlain, Tormyar, Torry, Tortet, Tosane, Tosil, Totona, Toule, Tousalwa, Touwe, Touwelly, Towait, TowileToyoToysala, Trando, Trenggano, Tromlakor, Tromlay, Trona, Ttehelu, Tuahattu, Tuahaan, Tuatfaru, Tubalawony, Tuahuns, Tuakia, Tuakora, Tualeka, Tualena, Tualepe, Tualey, TuahunsTuamainTuamellyTuanger, Tuanahu, Tuanahumury(Nahumury), Tuanany, Tuanakotta, Tuankotta, Tuanaya, Tuanger, Tuangke, Tuapattinaya, Tuapetel, Tuaputimain, Tuara, Tuarissa, Tuarita, Tuarlela, Tuasa, Tuasaija(Tuasaiya), Tuasalamony, Tuasamu, Tuaseket, TuatfaruTuatoy, Tulaseket, Tuasella(Tuasela), Tuasikal, Tuasinay(Sinay), Tuasuun, Tuatanassy, Tubalawony, Tubaka(Toubaka), Tueka, Tuguis, Tuhalauruw, Tuharea, Tuhateisan, Tuhehay, Tuhepaly, Tuheteru, Tuhilatu, TuheleluTuheituTuhulele, Tuhuleruw, Tuhumena, Tuhumuri(Tuhumury), Tuhuteru, Tuhusula, Tukalpaly, Tukan, Takano, Tukloy, Tukmei, TukuboyaTukuwain, Tukyaur, Tulalesia, Tulalessy, Tulapia, Tulaseket, Tuluheru, Tulumalay, Tumansery, Tumbalifar, Tumober, Tumury, Tuna, TunayTunavarny, Tunjanan, Tuny(Tunny)Tunyanan, Tunyluhulima, Tupalessy, Tupamahu, Tupan, Tupanno, Tupanwael, Tupasouw, Tupawael, Tupenalay, Tuquiha, Turben, Turgey, Turmua, Turubasa, Turuy, Turukay, Tusiek, Tusmain, Tuther, Tutkey, Tutratan, Tutromla, Tutuarima, TutuboyTutubub, Tutuhatunewa, Tutuiha, Tutupary, Tutupoho, Tutupohu, Tutupoly, Tutwaiubun, Tuwanakotta, Tuwatanassy, Tumober, Tuparia, Tupessy, Turkey, Tusyek, Tuurfon, Tuval, Tuwilay, Tyssenraad.

U
Uar, Ubvan, Ubjaan, Ubleeuw, Ubra, Ubro, UbrusunUbwarinUbyaan, Udigary, Udinera,  UelehuUkakale, Ukru, Oktolsea, Oktosya, Ulahayanan, Ulate, Ulath, Umagap, UlayoUlemlemUlialantutinUliata, Ulmatty, Ulorlo, Ulter, Uluputty, Umagaf, Umagapy, UmahatuUmanailo, UmanaiponUmapol, Umarella, Umasangaji, Umasugi, Umaternate, Umawaitina, Umhersuny, Umray, Unarapal, Unatenina, Unawekla, Unemlora, Unenor, Uneputty, Unilefta, Uniplaita, Unitly, Uniwaly, Uniwawiola, Unmehopa, Unoapar, Unola, Unpaper, Unsia, Untailawal, Untarolla, Untajana(Untayana), Unulula, Unwakoly, Unwawirka, Uperessy, Upessy, Ur, Urath, Uray, Urayawa, Urbayani, Urbansini, Urdjel, Urel, Uren, Urilal, Urilette, Urlialy, Urlyoly, Ur rahavak, Ursepuny, Ursia, Urubun, Uruilal, Urupley, Urutmaan, Uryaan, Usemahu, Usmalay, Usman, Usmani(Usmany), Uspessy, Uspitany, Usor, Usvinip, Utan, Utanno, Utuara, Utukaman, Uvuuratuw, Uwajanan,  UwalyananUwaubun, Uwella, Uwen(Uweng), Uweubun, Uyara, Uze.

V
Valmores, Vanath, Vanon, van Afflen, van Amstel, van Belouw, van Bergen, van Bokhove, van Bussel, van Capelle, van Caspel, van Delsen, van de Haare, van den Berg, van der End, van der Kloor, van der Meer, van der Muur, van der Sluis, van der Weden, van der Zee, van Deuw, van Diest, van Dijk (atau van Dyk), van Doorn, van Driel, van Enst, van Etesz, van Exel, van Gils, van Hallen, van Harling, van Hoek, van Hoogmoed, van Houten, van Irsel, van Joost, van Leun, van Motman, van Nieuwenhuizen, van Puffelen, van Rheyn,  van Ringen, van Room, van Saker, van Strijland, van Suiker, van Sukker, van Surker, VarneVatVatyananan, Vavuu, Vederubun, Veerman, Veenendaal, Vehei, Verhagen, Versteegh, Vetegh, Victor, Vidlela, Vidor, Vijsel, Vinola, Visser, Vollebregt, Voly, von Bulow, von Emster, Voriume, Vorst, Vorth, Voth, Vovo, Vriese, Vun. 

W
Waäel, Waasar, Waas, Wa’atwahan, Waber, Wabula, Wacanno, Wadan, Wadanubun, Wadaporu, Wadjo, Wadubun, Waekenal, Waelaruno, Waelauruw, Wael, Waeleruno, Waeleruny, Waelo, Waemesse, Waer, Waerisal, Wagola, Wahaubun, WahilatwanWaigitang, Wakang, Wakano, Wakarole, Walagwaor, Walang, Walaya, Waleuru, Walalayo, Walalohun, Wales, Walla, Wally, Wamona, Wadanubun, Wadaporu, Wadjo, Wadubun, Wangarwy, Wangelobi, Wantaar, Warella, Warhangan, Wariunsora, Waifitu, Wailenzun, Wailisahalong, Wails, Wailussy, Wairoy, Wailissa, Waisama, Wairata, Wairatta, Waisale, Waisapy, WaisiliWaitauWaitina, Wakan, Wakim, Walia, WalewawanWalite, Walmanaf, Waloni, Walsen, Walten, Walumleta, Wamesse, Wance, Wangefela, Wangeloby, Wanne, WansaubunWantaar, Waplau(Waplauw), Warahuwena, Warat, Warawarin, Warayaan, Warbal(Warbala), Warbel, Warella, Warhoa, Wariaka, Waricey, Warikry, Warkey, Warkor, Wartuny, Warwefubun, Wasahua, Wasia, Wasna, Watibessy, Watkaat, Wassar, Wasolo, Wasosoru, Watloly, Watianan, Watimena, Watlilir, Watliter, Watlitir, Watmanlussy, Watmersan, Watngil, Watratan, Watrimny, Watsira, Watubun, WatuletanWaturu, Wattiheluw, Wattilete, Wattimanela, Wattimena, Watimena, Wattimole, Wattimury, Wattrutty, WatuletanWatumlawar, WatunwotukWatyanan, Waulath, Waur Waur TahitWawainWawuan, Wayerjuari, WearWearbitu, Weber, Wedilen, Wee, Weeflaar, Weheb, Wehfany, Welary, Welafubun, Welemuli, Weler, Welesongja, Weljansen, Weller, Wellem, Wellyken, Wellikin, Wemaf, Weman, Wemay, Wemav, Wenehen, Weneheubun, Wenger, Wenno, Wenus, WarawaraWerbal, Weridite, Weringkukly, Werinussa, Wermasubun, Wesplat, Wessy, Wetamsair, Wewarkey, Wewra, Wewza, Wifly, Wilfred, Weljansen, Wellyken, Willemsz, Willys, Wilyams, WiranWiratraur, Witak, Wharat, Wlena, Woersok, Woesing, Wohel, Woherhair, Wohir, Wokamauw, Wokanubun, Wokas, Woley, Wolff, Wolontery, Wompers, Wonatha, Wondola, Wonhery, Wonley, Wonmaly, Wonsera, Wontopur, Woolf, Woriun, Wotheisen, Wothouzen, Wowotubun, Wuarbanaran, Wuarlela, Wuarlijma, Wuarmanuk, Wuctres, Wuisan, Wuka, Wurletta, Wusurwut, Wuters, Wutlanith. 

X
Xamson, Xaverius(Zaverius)

Y
Yabar, Yaban, Yabarmase, YabkenjananYaflean, Yaftoran, Yafur, Yahauubun, Yahawadan, Yahayanan, Yahehet, Yahelisa, Yakob, Yaky, Yalmav, Yaluhun, Yamarua, Yambreswav, Yamco, Yamla'ay, Yamlean, Yam Lean, Yamngangun, Yamrat, Yamsarev,  YamsehuYampapYampapyYampy, Yamvav, Yani, Yantel, Yanuby, Yanwarin, Yanyaan, Yap, Yapiloti, Yapisano, Yapono, Yaran, Yaranmassa, Yarin, Yauply, Yaur, Yauris, Yaurjaan, Yaurwulan, Yebassy, Yeberubun, Yebwerubun, Yefun, Yehelissa, Yehubebyanan, Yehuda, Yemnifan, Yempormase, Yenussy, Yerigair, Yepe Muda, Yernunu, Yerwuan, Yesaya, Yesayas, Yeubun, Yeviwra, Yeuyanan, Ynawarin, Yoel, Yohanes, Yohanis, Yokohael, Yoklely, Yoktery, Yoktotimera, Yolmen, Yoltuwu,  Yoltuwe,  Yonenain, Yongnaim, Yoor, Yoram, Yordan, Yoris, Yoseph, Yosieto, Yousaf, Yubibyanan, Yulianus, Yunus, Yusak, Yusuf.

Z
Zakaria, Zacharias, Zacheus, Zainilessy, Zakeus, Zalkheus, Zamon, Zamrud, Zaverius, Zein, Zet, Zoin, Zubedy, Zue, Zuley, Zijlstra.

*****
          Diperkirakan masih terdapat Fam lain di Maluku yang belum dicantumkan, sebabnya karena faktor keterbatasan informasi dan akses. Untuk itu diharapkan kepada yang mengetahui fam-fam yang belum ada atau terdapat kesalahan atau kekeliruan penulisannya di dalam daftar di atas, silahkan disampaikan via ruang komentar. 



Link Halaman Pertama " A s/d M "
fam-marga-nama-matarumah-orang