Alifuru Supamaraina: November 2019

Saturday, November 30, 2019

Di Blok Masela ; Perjuangan Maluku Belum Berakhir

Oleh: M. Thaha Pattiiha

(Bagian IX dari tulisan ; Blok-Masela )


          Di Blok Masela masih jauh dan bahkan terjal, perjuang untuk merebut secara penuh hak rakyat Maluku, belum selesai, belum berakhir dengan ditetapkannya opsi Onshore oleh Presiden Indonesia. Masih ada jalan panjang melewati berbagai hal yang dimungkinkan menjadi hak dan memberi manfaat kepada rakyat Maluku. Sementara ini saja sudah muncul lagi gangguan yang mengancam hak kepemilikan Maluku, yaitu keinginan Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperoleh bagian dari hak 10 persen Participating Interest(PI) yang harusnya hanya menjadi milik Provinsi Maluku.

Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) sangat ngotot, memaksa dengan memanfaatkan “ruang sempit” pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Pemerintah Daerah, yang membatasi hak pengelolaan wilayah laut hanya mencapai 12 mil laut oleh Provinsi. Alasan klaimnya bahwa letak Blok Masela lebih dari 12 mil laut garis pantai terdekat kepulauan Maluku, dan bahkan menyatakan Bloka Masela berada di cekungan laut Timor, bukan di laut Arafuru, sehingga NTT juga berhak untuk mendapat PI pengelolaan gas alam di Blok Masela.

Upaya luar-biasa sedang dilakukan oleh pihak NTT, melalui Pemda Provinsi NTT(Gubernur) mereka rajin melakukan upaya pendekatan kepada Pemerintah Pusat dan Pemda Maluku, memanfaat juga anggota parlemen asal NTT. Bagi NTT, Blok Masela berada pada wilayah abu-abu, sehingga keputusannya ada pada Pemerintah Pusat.

Aturan lain yang dijadikan oleh Provinsi NTT, adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 37 tahun 2016 tentang hak kelola daerah. Pasal 17 menyebutkan, dengan mempertimbangkan kepentingan nasional, Menteri dapat menetapkan kebijakan penawaran PI 10% untuk lapangan yang pertama kali akan diproduksi yang berada di perairan lepas pantai di atas 12 mil laut pada suatu Wilayah  Kerja kepada Badan Usaha Milik Daerah atau BUMN84)Sepertinya tafsir aturan ini, kembali diambil alih pihak Pemerintah Pusat.

Mungkinkah pihak Provinsi NTT sudah mendapat “angin segar” dari pihak Pemerintah Pusat ? Ditengarahi bisa jadi benar,  hal ini dibuktikan dengan pernyataan Menteri ESDM – Ignasius Jonan, saat berceramah di hadapan peserta Kongres HMI XXX di Auditorium Universitas Pattimura Ambon(14 Februari 2017). Menteri Ignasius menyatakan PI 10 persen Blok Masela dikelolah Maluku dan NTT85).

Guna mempertahankan hak atas PI 10 persen pada Blok Masela oleh Maluku, penulis telah membuat Petisi86) atas nama dan ditanda-tangani bersama oleh Koalisi Masyarakat Adat Maluku Untuk Blok Masela. Petisi tersebut ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Kordinator Maritim dan Sumber Daya, dan Menteri ESDM. Isi petisi menegaskan Masyarakat Adat Maluku menolak membagi PI 10 persen hak Maluku di Blok Masela dengan Provinsi NTT.

Pernyataan Menteri Ignasius juga diprotes oleh Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua "Saya tidak setuju dengan pernyataan Menteri Ignasius karena pemerintah pusat melalui Presiden, baik saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Joko Widodo mengakui PI 10 persen pengelolaan gas alam abadi Blok Masela milik Maluku"87).

Tantangan lain, adalah berburu waktu untuk menghadirkan kesiapan SDM Maluku, baik Pemda serta BUMD-nya, Tenaga Ahli dan Terampil putra-putri asli Maluku, dan hal-hal lain yang menyertainya yang pada intinya maluku siap hadir, siap kerja, dan siap menikmati “kebaikan” dari Blok Masela.  

Maluku diingatkan agar jangan sampai kalah siap dengan serbuan tenaga kerja dari luar Maluku, dan bahkan dari luar negara Indonesia. Sebab sudah makin sama peluang antara tenaga kerja dalam negeri dan dari luar negeri, dengan adanya pembukaan keran kemudahan tenaga kerja asing(TKA) melalui  Peraturan Presiden(Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing, dan telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly, pada 29 Maret 201888).

Melalui Perda, proteksi terhadap tenaga kerja lokal benar-benar dapat melindungi peluang kesempatan kerja pada proyek dimaksud, agar tidak dengan mudah dan sengaja diisi oleh tenaga kerja dari luar putera-puteri asli Maluku. Dilain pihak tanggungjawab pemerintah provinsi dan kabupaten/kota disertai program yang terukur dan bertarget, wajib menyiapkan tenaga kerja siap pakai dan siap kerja, dengan memprogramkan jenjang pendidikan formal pada Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) dan Perguruan Tinggi, pelatihan ketrampilan pada Balai Latihan Kerja(BLK) serta program magang sesuai bidang yang dibutuhkan ke luar Maluku dan Luar Negeri.

Program tersebut harus ditunjang dengan ketersediaan anggaran yang cukup dan terukur, melalui pembiayaan dalam APBD oleh Pemerintah Provinsi Maluku dan seluruh Kabupaten/Kota di Maluku.  Dana pembiayaan masih dapat diusahakan dari Pemerintah Pusat dan diusahakan melalui dana CSR dari perusahaan-perusahaan kontraktor Minyak dan Gas(Migas) yang beroperasi di Maluku dan khususnya di Blok Masela.

Perhatian dan pengawasan untuk memperoleh manfaat positif dari proyek Blok Masela, diseimbangkan dengan meminimalkan dampak negatifnya. Butuh kesungguhan peran Pemda Provinsi, Kabupaten, Kota, hingga pemerintahan paling bawah, dan segenap komponen Masyarakat Adat Maluku. Perlu di terapkan “sistem cincin egg of sustainability dalam tata-kelola pembangunan gas Blok Masela di Maluku, agar dapat meredusir risiko-risiko ekstraksi sumber-sumber alam selama ini dan menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk Rakyat89).

Hal lain yang perlu dibaca dan dikaji oleh Maluku adalah adanya pemetaan(pembagian klaster) yang sedang disiapkan Kementerian ESDM untuk rencana sistim distribusi pemanfaatan gas bumi cara pipa virtual, selain menyiapkan infrastruktur migas di Indonesia bagian timur. Pertanyaannya, mengapa klaster Maluku tidak dalam satu peta wilayah utuh peta wilayah Provinsi Maluku, tetapi wilayah Maluku dipecah dalam tiga klaster ? 
 Pembagian Klaster Pemanfaatan Gas Bumi di Indonesia Timur menggunakan pipa virtual

Pembagian Klaster Pemanfaatan Gas Bumi di Indonesia Timur menggunakan pipa virtual 
( Sumber ; http://www.petroenergy.id/article/infrastruktur-energi-untuk-indonesia-timur?c=investment )

Terbesit hal lain yang muncul belakangan ini secara intern di Masyarakat Maluku pada wilayah tertentu, dan itu terasa mengganggu dalam kebersamaan perjuangan oleh seluruh masyarakat Maluku. Hal ini bisa saja  melemahkan posisi Maluku secara umum, yaitu berkembangnya pola pikir yang membatasi dan menyempitkan status wilayah, menjadi seakan hanya milik masyarakat seputaran Blok Masela. Padahal Maluku dengan segala yang dimilikinya selama ini saja kedodoran dalam posisi tawarnya.

Terindikasi, dengan adanya “booming” gas Blok Masela, berkembang pola pikir sempit meraih manfaat oleh sekelompok “politisi lokal”, sedang berusaha hingga sebisa mungkin melepaskan diri dari induk wilayah secara bersama dalam kesatuan Maluku. Miris, bila itu benar demikian, tetapi semoga tidak. Sebab tidak menutup kemungkinan selalu dicari peluang dari para petualang pemanfaat. Kesempatan dimanfaatkan mereka yang secara sepihak baik pribadi maupun berkelompok, tanpa harus menunjuk tempat keberadaan, tega mengambil untung baik secara ekonomi maupun politik dari keberadaan Blok Masela. Tentu dengan mengabaikan secara sengaja kepentingan bersama demi kesejahteraan seluruh Rakyat Maluku.
                                                                                                                                                                                   Depok, 24 Mei 2018

Bersambung ke bagian akhir ; X. PENUTUP
--------------------
Sumber ;
84)      sp.beritasatu.com ; Maluku-NTT Berhak Atas Blok Masela ;  http://sp.beritasatu.com/home/maluku-ntt-berhak-atas-blok-masela/107957?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter diundu 8/2/2016 ,19:18

85)      Antaranews Maluku ; Maluku akan protes Menteri ESDM  ( 19/2/ 2018) ; https://ambon.antaranews.com/berita/43181/maluku-akan-protes-menteri-esdm    diundu 20/2/2018

87)      Antaranews Maluku ; Op.Cit.
88)      Perpres tentang TKA ; https://jpp.go.id/polkam/regulasi/31...ga-kerja-asing diundu 10/5/2018. 16:02
89)      Watubun, Komarudin ; Op.cit.

Ada Apa Dengan Masela

Oleh: M. Thaha Pattiiha


(Bagian III dari tulisan ; Blok-Masela



             a.     Nama Masela
                   
           Masela atau Marsela – nama sebutan menurut masyarakat setempat, adalah nama yang digunakan untuk menamai blok gas yang terletak di bagian wilayah dasar lautan Arafuru, perairan di antara daerah Kabupaten Maluku Barat Daya(MBD) dan Maluku Tenggara Barat(MTB). Nama Masela menjadi perhatian publik Indonesia bahkan dunia Internasional karena  di tahun 2014, dari hasil eksploitasi telah ditemukan memiliki kelimpahan kandungan sumber kekayaan energi gas alam, yang diperkirakan kandungan gas di dalamnya bersifat abadi. Artinya hampir tidak terkira jumlah kandungan gas bumi dan periode masa eksploitasinya. 

Masela sendiri adalah nama pulau kecil yang berada di bagian selatan, satu dari pulau-pulau terselatan kepulauan Maluku, yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Australia. Di selatan pulau Masela tahun 2000 telah ditemukan (discovery) sumber energi gas bumi dalam kapasitas kandungan yang luar biasa besar, bisa mengalahkan sumber gas bumi negara Qatar dan diperkirakan dapat diproduksi selama lebih dari 70 tahun9). Sehingga dikatakan lapangan gas bumi Abadi, karena hampir tidak terkira dan terbatas jumlah potensi dan masa waktu produksinya. Terbukti cadangan gas Blok Masela, sebesar 10,73 triliun kaki kubik (Trillion Cubic Feet - TCF). 

Cadangan yang diteliti Lemigas ini sekaligus membuktikan Blok Masela adalah salah satu blok dengan potensi gas alam cair terbesar.  
Blok Masela juga diketahui sebagai cadangan migas yang terakhir ditemukan sejak 15 tahun lalu. Kini Indonesia berhadapan dengan krisis sumber daya migas dengan rasio pengembalian cadangan sekitar 0,510).
Pulau Masela memiliki luas 4600Ha11), berjarak 130 Km dari lapangan GBA-Blok Masela, berdekatan dengan pulau Babar(17.000,Ha) di bagian utara. Posisi pulau Masela hampir sejajar – sedikit lebih ke utara, dengan pulau Sermata di bagian barat – kabupaten Maluku Barat Daya(MBD) dan pulau Selaru(35.400,Ha) yang berada di bagian timur. Pulau Selaru sedikit lebih dekat dengan Lapangan Gas Abadi - Blok Masela, berjarak sekitar 90 km. Di bagian timur laut pulau Selaru terdapat pulau Yamdena (5.085 Km persegi - 310.000,Ha– adalah pulau ketiga terbesar di Provinsi Maluku, dengan kota Saumlaki sebagai ibukota kabupaten Maluku Tenggara Barat, berjarak 95 Km. Sedangkan pulau Aru  - Kabupaten Kepulauan Aru dengan luas 642.800 Ha, berada di bagian timur laut Masela yang berjarak 475 Km dari lapangan gas Abadi Blok Masela.

Jarak pulau-pulau dengan Blok Masela/Grafis MI
Jarak pulau-pulau dengan Blok Masela/Grafis MI (edit Pen.)12)

Abadi Field Blok Masela ditemukan (discovery) di tahun 2000, dilanjutkan dengan pengeboran sumur Appraisal di tahun 2007-"2008 dan 2013-"2014, yang perkiraan cadangan gas terambilnya + 22 TCF (Wood Mckenzie, 2015)13).

INPEX
INPEX  (Sumber ; www.inpex.co.jp)

Inpex Corporation mendapat persetujuan kontrak kerjasama(KKS) - Production Sharing Contract(PSC), dari Pemerintah Indonesia pertama kali tahun 2008 untuk jangka waktu 30 tahun. 10 Tahun pertama merupakan tahap eksplorasi dan 20 tahun selanjutnya adalah pengembangan dan produksi atau eksploitasi. Sampai tahun ke-6 sejak tandatangan kontrak, Inpex telah melakukan uji seismic dua dimensi dan tiga dimensi, serta pengeboran pada tiga sumur. Sejak tahun 2003 sampai 2006, Inpex mengkaji tentang reservoir atau cadangan gas, tiga sumur gas, dan rencana pengembangan ke depan. Hingga hampir berakhir masa eksplorasi yaitu tahun 2008, Inpex telah mengebor 4 sumur, dengan biaya investasi mencapai 85 juta dollar AS per sumur, belum termasuk biaya seismic dan operasional perusahaan14).

PoD (Plan of Development) Sementara Inpex disetujui pemerintah pada bulan Desember 2008, hingga PoD I secara resmi disetujui pada Desember 2010. Saat  eksplorasi oleh Inpex dilanjutkan ke tahap ke empat pada sumur 8, 9, dan 10, ternyata cadangan gas diidentifikasi lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Dengan ditemukannya limpahan cadangan gas yang besar, telah ikut merubah rencana pengembangan Blok Masela selanjutnya.


              b.  Letak Blok Masela
Blok Masela ; Letak Abadi Field Blok Masela
 Ilustrasi Blok Masela ; Letak Abadi Field Blok Masela
 (Sumber; http://sinarharapan.net/2016/03/blok-masela-jokowi-mendengarkan-suara-rakyat/ diundu 30 Maret 2016 )

Letak Lapangan gas Abadi(Abadi Field) Blok Masela 15), yaitu terletak bagian selatan Indonesia, diperbatasan internasional dengan Australia, dengan kedalaman air(laut) – water depth, 400 - 800 meter. Abadi Field berada pada Blok Masela PSC (Production Sharing Contract) di bagian timur Laut Timor dan selatan Palung Timor(Deep Timor Trough), dengan water depth lebih dari  1,500 m berada diantara outer ridge of the Banda Arc dan Blok Masela. Blok Masela berada pada area upper slope dari paparan kontinental Australia dengan water depth 300 m to 1,000 m. 350 km dari pulau Timor dan 350 km di utara kota Darwin Australia.

Secara Astronomi Blok Masela terletak di antara 080 05’ 25,29” - 0813’ 58,94” LS dan 12948’ 11” - 12956’ 9,55” BT. Perkiraan luas area Blok Masela sekitar 4.291, 35 km persegi 16)
Garis kontur menandakan water depth (m). Lapangan gas Abadi berlokasi di Blok Masela PSC di bagian timur Laut Timor, Indonesia bagian timur, sepanjang perbatasan internasional Indonesia dan Australia. Deep Timor Trough dengan water depth lebih dari  1,500 m berada diantara outer ridge of the Banda Arc dan Blok Masela. Blok Masela berada pada area upper slope dari paparan kontinental Australia dengan water depth 300 m to 1,000 m
Peta lokasi dari Lapangan Gas Abadi. Garis kontur menandakan water depth (m). Lapangan gas Abadi berlokasi di Blok Masela PSC di bagian timur Laut Timor, Indonesia bagian timur, sepanjang perbatasan internasional Indonesia dan Australia. Deep Timor Trough dengan water depth lebih dari  1,500 m berada diantara outer ridge of the Banda Arc dan Blok Masela. Blok Masela berada pada area upper slope dari paparan kontinental Australia dengan water depth 300 m to 1,000 m.17)

Secara geologi, Abadi Field terdiri dari relatively undeformed Australian continental margin yang memanjang hingga perairan Indonesia. Lapangan ini terletak pada ujung timur dari Sahul Platform dan menempati larged tilted fault block yang dibatasi di sebelah timur dan selatan oleh Calder-Malita Grabens. Abadi Field mempunyai akumulasi kolom gas yang signifikan, reservoir berada pada lingkungan  shallow marine,  highly mature,  quartzose sandstone  dari Formasi  Middle Jurassic Plover. Analog terdekat pada  Giant Greater Sunrise dan Bayu - Undan fields. Kualitas reservoir, pada kedalaman ~3,900 m, bervariasi dari  good to poor, menggambarkan interaksi kompleks dari kontrol pengendapan utama dan pengaruh diagenesis pada tahap akhir.

Kurang lebih 250 km sebelah barat Abadi, Lapangan Gas Sunrise-Troubadour (proved & probable recoverable reserves: 8.4 tcf ; informasi publik dari Northern Territory Government of Australia) menempati sumbu Sunrise-Troubadour High. Lapangan Gas Evans Shoal (proved & probable recoverable reserves: 6.6 tcf ; informasi publik dari Northern Territory Government of Australia) berada kurang lebih 150 km sebelah baratdaya Abadi diantara Sunrise-Troubadour High dan Malita Graben. 

Perkembangan dari Cekungan Northern Bonaparte dipengaruhi oleh rifting dan pemisahan kontinen pada middle Jurassic - early Cretaceous sepanjang margin sebelah barat laut Australia, dan pada akhirnya dimodifikasi oleh collision antara Indo-Australian dan Sunda plates dari Miocene - present(Whittam et al. 1996).

Abadi field berada pada Cekungan Northern Bonaparte, di Sahul Platform sebelah timur akhir dari Sunrise-Troubadour High. Ini dibatasi kesebelah timur oleh Masela Deep, yang merupakan perpanjangan kesebelah utara dari Calder Graben. The Malita Graben berada disebelah barat daya dan terdiri dari sedimen tebal Cretaceous-Tertiary (Courtesy Inpex Masela, Ltd - PROCEEDINGS, INDONESIAN PETROLEUM ASSOCIATION Twenty-Ninth Annual Convention & Exhibition, October 2003 "The Abadi Gas Field")18).

Peta Tectonic elements dari Cekungan Northern Bonaparte
Peta Tectonic elements dari Cekungan Northern Bonaparte19)


c.  Kontrak Kerja Sama Blok Masela

     Kontrak Kerja Sama (KKS/PSC)20) Blok Masela antara Pemerintah Indonesia dengan Inpex Masela Ltd (65% saham) bersama Shell Upstream Overseas Services Ltd(35 persen saham) ditandatangani pada tanggal 16 Nopember 1998 dan direncanakan berakhir pada tahun 2028, yaitu Masa Kontrak selama 30 tahun, 10 tahun pertama untuk masa eksplorasi, dan 20 tahun selanjutnya untuk masa produksi.  Tahun 1999-2000 ditemukan cadangan gas di lapangan Abadi. Selanjutnya tanggal 30 Desember 2008 PoD Sementara disetujui Menteri ESDM, secara resmi PoD (Plan of Development) I(Pertama) Lapangan Abadi dengan kapasitas produksi 2,5 MTPA disetujui tanggal 6 Desember 2010. Pada kontrak tersebut, disebutkan 15 persen hasil gross penjualan diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan Maluku mendapatkan 10 persen.

Perkiraan awal dalam PoD I(Pertama), cadangan gas Masela adalah 6 – 7 TCF (Trillion Cubic Feet), yang berarti hanya bisa memproduksi gas sebanyak 2,5 MTPA. Sehingga pengembangannya diusulkan menggunakan kilang terapung di laut(FNLG), karena lebih feasible dari pada dibawa ke darat dan membangun kilang di darat.  7 Tahun kemudian setelah dilakukan eksplorasi tahap ke-4 pada tahun 2013-2014, yaitu pengeboran Sumur Abadi 8, Abadi 9, dan Abadi 10, Inpex kemudian pada 12 September 2014 mengajukan Revisi PoD I dengan perubahan pada kapasitas FLNG yang naik dari sebelumnya 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA. Perubahan menjadi 7,5 MTPA, ikut merubah rencana sistem produksi yang sebelumnya di laut menjadi pindah di darat.

Skenario awal dirubah oleh adanya perubahan pada penemuan baru cadangan gas yang semula hanya 6-7 TCF, teridentifikasi ternyata lebih besar yaitu 10,37 TCF. Cadangan gas terbukti bertambah 4 TCF dengan kapasitas produksi direncanakan mencapai 7,5 MTPA dari sebelumnya 2,5 MTPA dengan fasilitas produksi Floting LNG(FLNG), berarti produksi melonjak sekitar 300 persen21).

Perubahan atau revisi PoD dimungkinkan dalam Peraturan Tata Kelola (PTK) PoD, apabila terjadi perubahan pada salah satu dari 3(tiga) perubahan. Yaitu ; Pertama, volume besaran cadangannya berubah(membesar atau mengecil). Kedua, terjadi perubahan rencana besaran biaya pengembangan, dan Ketiga, ada perubahan atas skenario pengembangan. Satu saja dari tiga perubahan itu terjadi, maka PoD harus direvisi22)

Peta Lokasi Lapangan  Gas Abadi Blok Masela
Peta Lokasi Lapangan  Gas Abadi Blok Masela23)

Perkiraan cadangan gas Blok Masela sebesar 10,37 TCF (Trillion Cubic Feet) cadangan tersertifikasi, dengan kadar CO2 tinggi sebesar 9,3 persen. Butuh kapasitas kilang 7,5 MTPA yang akan memproduksi gas sebesar 1.200 MMSCFD, produksi Kondensat 24.460 BPD  dari cadangan kondensat 209 MMSTB24).
Blok Masela bagi Indonesia menjadi salah satu andalan mega proyek gas, karena dianggap merupakan jumlah yang sangat besar, sehingga Blok Masela disebut Lapangan Gas Abadi atau Abadi Field.

Depok, 24 Mei 2018


Bersambung ke bagianIV. Seteru Konstitusi vs Neolib Di Blok Masela
----------------------
Sumber ; 
9)       “Kalau dikelola dengan baik, kekayaan (gas) ini akan mengalahkan Qatar dalam bidang gas, Qatar itu hidup dari gas,” ujar Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli seraya menambahkan, bahwa gas di Blok Masela takkan habis selama 70 tahun ke depan. http://abdulmuissyam.blogspot.com/2016/01/soal-blok-masela-sudirman-said-cs.html

10)     TEMPO.CO KAMIS, 17 DESEMBER 2015 | 04:09 WIB.Keputusan Blok Masela Jadi Penentu Investasi Migas Laut Dalam ;

           https://bisnis.tempo.co/read/728401/keputusan-blok-masela-jadi-penentu-investasi-migas-laut-dalam  diundu;5/2/2016,20:33

11)      Buku RPJMD Provinsi Maluku Tahun 2005-2019, hal 22, www.malukuprov.go.id  diundu-PDF 03/6/2016, 04,17
12)      Kementerian ESDM – Grafis; Media Indonesia (MI) http://www.mediaindonesia.com/news/read/41008/kementerian-pupr-siap-bangun-infrastruktur-dasar-blok-masela/2016-04-18  diundu 24/10/2016, 21:36
13)     NAPITUPULU, HAPOSAN. PH.D. Op.Cit
14)     Alfred Manayang ; Manager Communication and Relations Inpex Corporation ; Tabloid KONTAN, Senin 8/7/2013, kliping
15)     Abadi Gas Field ; di-copypaste dan di-edit dari bloger Irfan Yuliandri Syukri  (Lulus dari Institut Teknologi Bandung jurusan Geofisika - tinggal di Jakarta), blog ; inibumi.blogspot.co.id/2012/05/abadi-gas-field.html  diposkan 28 Mei 2012, 20:12, di undu 11 November 2013, 20:34
16)      Sahrurroni ; https://www.slideshare.net/Ronysyahrur/blok-masela  diundu 23 Maret 2018, 23:32
17)      Abadi Gas Field ;  Op.Cit.
18)      Abadi Gas Field. Op.It.
19)      Abadi Gas Field. Op.It.
20)      ambonekspres.fajar.co.id; Temuan Baru Di Blok Maselahttp://ambonekspres.fajar.co.id/2016/02/09/temuan-baru-di-blok-masela/
21)      Edy Mulyadi (Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies/CEDeS) – “Blok Masela, Antara Bemo dan Bus Trans Jakarta”   http://batamtoday.com/berita-68946-Blok-Masela,-Antara-Bemo-dan-Bus-Trans-Jakarta.html Diundu 20 Maret 2016, 16:35
22)      NAPITUPULU, HAPOSAN. PH.D. Op.Cit
23)      Malakalamere, M.  2014 ; Masela.  e-journal.uajy.ac.id/6434/5/KOM404043 pdf
24)      NAPITUPULU, HAPOSAN. PH.D. Op.Cit

Posisi Maluku Di Masela

Oleh ; M. Thaha Pattiiha

(Bagian VI dari tulisan ; Blok-Masela)



          Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah(RTRW) Provinsi Maluku Tahun 2013-2033, yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Maluku Nomor 16 Tahun 2013, telah terkonsep untuk rencana percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan antar wilayah sebagai wilayah kepulauan. Pembangunan diimplementasikan menggunakan pendekatan wilayah berdasarkan konsep Gugus Pulau.

Pulau Masela oleh Pemerintah Daerah(Pemda) Provinsi Maluku ditempatkan dalam konsep Gugus Pulau XI - meliputi wilayah kepulauan Babar, Leti, Moa dan Damer, dari pemetaan konsep 12 Gugus Pulau di Provinsi Maluku.

RTRW Provinsi Maluku merupakan acuan menyusun Rencana Program Jangka Menengah Daerah(RPJMD) Provinsi Maluku 2014-201961). Khusus untuk bidang pertambangan dan energi yang dibaca dalam RPJMD, tidak ada disinggung tentang posisi keberadaan dan/atau keterlibatan Pemda Maluku dalam urusan proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela, yang berada dalam konsep wilayah Gugus  XI, maupun Gugus Wilayah X yang meliputi kepulauan Tanimbar. Bisa jadi karena urusan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat(Pempus), Pemda diposisikan hanya sebatas “informan” wilayah saja.

Pemda yang harusnya “mewakili” hak dan suara masyarakat daerah setempat, dibendung Pempus melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2004 (PP 35/2004) Tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi, Pasal 3 Ayat 2 ; “Dalam penetapan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri berkonsultasi dengan Gubernur yang wilayah administrasinya meliputi Wilayah Kerja yang akan ditawarkan”. Ayat (3) ; “Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dimaksudkan untuk memberikan penjelasan dan memperoleh informasi mengenai rencana penawaran wilayah-wilayah tertentu yang dianggap potensial mengandung sumber daya Minyak dan Gas Bumi menjadi Wilayah Kerja”.

Daerah hanya diposisikan mendengar, menerima, mengikuti apa kata Pusat, desentralisasi dan dekonsentrasi kewenangan yang tersaring halus, hanya menyisahkan hak dan kewenangan “sampah”. “Konsultasi tersebut bukan untuk meminta izin dari Pemerintah Daerah”, penjelasan Pasal (95) Ayat (2) PP 35/2004, untuk pemberian ijin oleh Menteri untuk rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dalam suatu wilayah kerja.

Gubernur Maluku Said Assegaf, terkesan “pasrah” dengan menyatakan menyerahkan keputusan penting sistem pengelolaan Lapangan gas Abadi Blok Masela kepada Presiden, tanpa menyatakan sikap sebagai representasi suara rakyat Maluku yang berkehendak pengelolaan dengan membangun kilang di darat – skema Onshore(Pipanisasi),  dan menolak opsi kilang terapung di Laut – skema Offshore(Floting). Bisa saja dibaca, karena ketidak-berdayaan Gubernur berdasarkan aturan dimaksud, atau sebagaimana komentar beliau “sebaiknya orang-orang yang tidak paham masalah ini tidak perlu berkomentar62), mungkin hendak mengingatkan yang lain bahwa posisinya adalah sebagai wakil Pempus di daerah, sebagai “penguasa”. Pada akhirnya – untuk saat itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memutuskan di darat(Onshore/Pipanisasi), yang berarti pengelolaan berada di daratan, sebagaimana  harapan dan keinginan(komentar) bersama Orang-Maluku63).

Daerah tidak memiliki posisi tawar dan kewenangan menentukan dalam masalah hak wilayah, bahkan dalam hal penyertaan modal (Participating Intrest - PI)64) daerah melalui Badan Usaha Milik Daerah, yang besarannya telah ditentukan sebesar 10 persen (Pasal 34 PP 35/2004) harus lagi menunggu keputusan dari Shell melalui Kementerian ESDM. Participating Intrest wajib ditawarkan oleh Kontraktor  sejak disetujuinya rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dari suatu Wilayah Kerja.

Provinsi Maluku melalui Pemda Maluku pada awal bulan Juni 2015, melalui Kementerian ESDM telah mendapat persetujuan untuk hak  PI 10 persen65), yang akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah(BUMD) - PT. Maluku Energi. Selanjutnya sebagaimana diberitakan, Pemerintah Provinsi Maluku telah menyetor Rp.14 Triliun untuk Pengelolaan Blok Masela sebagai bagian penyertaan saham, untuk pengelolaan Blok Masela66).

Beta belum mau tau dari mana dan bagaimana uang sebanyak itu (Rp.14 Triliun) didapat oleh Pemda Provinsi Maluku, yang perlu dipertanyakan adalah kesiapan SDM Maluku dan BUMD Provinsi Maluku, untuk ikut serta ketika tiba waktunya Blok Masela telah siap beroperasi. Selanjutnya bagaimana mengelola perolehan keuntungan dari penyertaan saham, untuk percepatan pembangunan mensejahterakan Rakyat Maluku.

Depok, 24 Mei 2018


Bersambung ke bagian ; VII. Menyiapkan Sumber Daya Maluku

Sumber;
61)      RPJMD(Rencana Program Jangka Menengah Daerah) Provinsi Maluku 2014-2019, www.malukuprov.org.iddiundu pdf
            05 /7/2016,
62)      Gubernur Maluku Serahkan Keputusan Blok Masela ke Presiden ;
           diundu 4/3/2016, 08:30
63)      Jokowi Yakin Blok Masela ...,

Potensi Ekonomi Blok Masela

Oleh ; M. Thaha Pattiiha

(Bagian VIII dari tulisan ; Blok-Masela)

       Edy Mulyadi79)menyampaikan pemikirannya, bahwa seharusnya gas Masela bisa memberi nilai tambah dengan membangun kilang di darat, sebab ada banyak multi effect buat Maluku. Gas dapat dialirkan ke pulau Selaru melalui pipa sepanjang 90 km atau pulau Yamdena, sebagian gas bisa dimanfaatkan untuk pengembangan wilayah Maluku. CNG didistribusikan ke pulau-pulau sekitarnya untuk pembangkit listrik dan industri lainnya. Akan ada kota baru di Maluku seperti kota Balikpapan dan Bontang.

Aspek multi effect inilah yang akan mengakselerasi pembangunan ekonomi Maluku dan sekitarnya, akan terjadi penyerapan tenaga kerja, penyerapan tingkat kandungan lokal, trasfer teknologi, maupun pembangunan petrokimia dan lainnya. Dari sini negara bakal menerima pemasukan sekitar 6,5 milyar dollar AS per tahun.
Saat ini Provinsi Maluku memiliki 25 Blok Migas sebagaimana sudah disebutkan di atas, dimana 15 Blok yang sudah dikelola KKKS. Dampak positif pendapatan dari potensi ekonomi dan pengembangannya secara luas, sebagai acuan diambil proyek lapangan gas Abadi Blok Masela. Multy player effect economic khususnya terhadap pendapatan BUMD, oleh Rumalutur80) diperincikan sebagaimana dalam tabel di bawah ini ;
Tabel Potensi Pendapatan BUMD Maluku per tahun dari Blok Masela

Tabel Potensi Pendapatan BUMD Maluku per tahun dari Blok Masela

Sesuai mapping yang dilakukan terhadap 8(delapan) jenis potensi ekonomi jangka panjang yang dapat memberikan multy player effect economic selama 30-90 tahun terhadap kesejahteraan Rakyat Maluku & Peningkatan PAD yang ditimbulkan oleh  Industri LNG di Blok Masela (tabel di atas) seperti: (a) Pekerjaan pembangunan kapal patroli, kapal crew boat, kapal tunda (b) Pekerjaan jasa operator kapal, (c) Pekerjaan jasa operator pelabuhan, (d) Pekerjaan jasa pemeliharaan & perbaikan, (e) Pekerjaan jasa eksport & import,  (f) Pekerjaan jasa katering higenis, (g) Pekerjaan jasa kelistrikan/power supply, dan (h) Pekerjaan jasa supply tenaga kerja/labor supply. Disimpulkan : (a) Total kebutuhan investasi ± Rp. 1,86 triliun, (b)  Omzet yang dapat dikelola BUMD sebesar ±Rp. 992,37 milyar per tahun (c) Pendapatan/revenue ± Rp. 341,78 milyar per tahun atau Break Event Point (BEP) selama ± 5,4 tahun.

Tentu analisa BEP belum cukup kuat untuk di-follow up, namun dari analisa sederhana dapat dilanjutkan dengan analisa untuk menghitung NPV/Nett Present Value  & IRR/Intrest Rate of Return. Setidaknya dengan sample revenue sebesar ± Rp. 341,78 milyar per tahun, maka nantinya bila dikemudian hari 25 Blok Migas sudah tahap eksploitasi, maka Maluku akan menjadi Provinsi terkaya di Indonesia.

Gas Masela juga bisa diolah menjadi CNG(Compressed Natural Gas) untuk memenuhi energi pembangkit listrik yang dapat disalurkan ke pulau-pulau di wilayah Maluku. Multiplier effect lain, adalah akan muncul aktifitas-aktifitas baru bernilai ekonomi dan terbentuknya pusat-pusat perekonomian bagi masyarakat dan pekerja disekitar lokasi proyek kilang Gas Blok Masela.

Nilai tambah dari perubahan paradigma pengelolaan SDA khususnya Blok Masela, dengan pembangunan kilang di darat, sangat banyak dampak positif dan keuntungannya.
Dalam tabel di bawah ini, dikemukakan kelebihan dan kekurangan pembangunan kilang di darat (Onshore) serta manfaat ekonominya, menurut kajian LPEM Universitas Indonesia.
Kelebihan dan Kekurangan Pembangunan Kilang Onshore(di darat) - Blok Masela

                                                                              Kelebihan dan Kekurangan Pembangunan Kilang Onshore(di darat) - Blok Masela                                                                              (Sumber ; LPEM-UI/SKK Migas/Tim MIGrfs/Grafis;CAKSONO)

Saat ini diperkirakan - penawaran sekarang, harga gas sekitar 300 dollar AS per ton, bila setelah diolah menjadi LNG, harga jualnya menjadi 550 dollar AS per ton. Akan meningkat lagi harganya setelah menjadi Ammonia, yaitu 750 dollar AS per ton, GTL 1.000 dollar AS per ton, propylene dan ethylene masing-masing 1.500 dollar AS per ton, dan polymer 1.800 dollar AS per ton81).

Sebagai catatan, saat ini82) berlaku harga pembelian gas pipa per MMBTu(juta kaki kubik), menurut SKK Migas yang dibeli dari Teluk Bintuni Papua adalah 5,2 dollar per MMBTu, dan oleh industri Petrokimia di China adalah 6,2 dollar per MMBTu.

Pendapatan negara dari Blok Masela bila gas langsung diekspor sekitar 2,52 milyar dollar AS per tahun, apabila lebih dulu dihilirisasi, pendapatan negara secara langsung adalah 6,5 milyar dollar AS per tahun. Bila ditambah berbagai multiplier effect yang tidak langsung, jumlah bisa melebihi 8 milyar dollar AS per tahun.

Dampak dari hilirisasi menjadi produk petrokimia, dapat menghemat sekitar Rp 100 triliun devisa negara dari pengeluaran untuk impor Indonesia terhadap berbagai produk petrokimia berbentuk bahan baku pakaian, sepatu, topi, aneka kemasan makanan dan barang jadi lain, serta berbagai benda kebutuhan bangunan rumah seperti jendela, pintu, lantai, atap, dan lain-lain. Bahkan 40 persen kendaraan mobil adalah aneka produk petrokimia. 
Perbandingan Peluang Pengembangan Gas Bumi Untuk LNG dan Industri Petrokimia di Lapangan Abadi - Blok Masela

Perbandingan Peluang Pengembangan Gas Bumi Untuk LNG dan Industri Petrokimia di Lapangan Abadi - Blok Masela 

Indonesia seperti tidak mau belajar dari banyak negara di dunia, atau para pejabat negara memang malas berpikir untuk kepentingan rakyat banyak. Malaysia misalnya, dengan investasi sekitar 32 milyar dollar AS di kawasan kilang Kertih yang sebagian gasnya dipasok dari Natuna-Indonesia, mampu menciptakan 150.000 tenaga kerja dengan nilai tambah luar biasa. Ironisnya, produk petrokimianya sebagian diekspor ke Indonesia. Taiwan, juga industri petrokimianya berkontribusi 29 persen bagi penerimaan negaranya dengan nilai tambah mencapai 446 miliyar dollar per tahun.

Terdapat 9 dari 50 perusahaan petrokimia terbesar di dunia, bahan baku gasnya ternyata dipasok dari Indonesia. Hebatnya Indonesia adalah sebagai pengekspor sekaligus pengimpor gas, dan penonton kecerdasan dan kehebatan negara lain.

Blok Masela harus dijadikan pusat industri petrokimia selain di Teluk Bintuni. Industri petrokimia berbasis gas dengan total investasi sebesar 3,9 miliar dollar AS, yang  mendukung pembangunan pabrik metanol dan turunannya.

Proyek Blok Masela ditargetkan mampu menyerap 39 ribu tenaga kerja langsung dan 370 ribu tenaga kerja tidak langsung. Dengan skenario investasi semacam ini diharapkan Blok Masela menjadi mesin pembangunan di Maluku, Kawasan Timur Indonesia, dan Negara RI abad 2182).
Depok, 24 Mei 2018


Bersambung bagian ; IX. Perjuangan Maluku Belum Berakhir

Sumber ;
80)      Rumalutur, Ishak S,Ir. Op.Cit
81)      Napitupulu, Haposan dan Edy Mulyadi ; Op.Cit.

82)      Pebrianto Eko WicaksonoPenawaran Harga Gas Blok Masela Murah, SKK Migas Duga Ada Calo,