Sabtu, 05 Desember 2015

Alifuru ; Identitas Yang Tergerus Zaman


             
          Menyebut Alifuru, sama dengan mengungkit permasalahan dalam kegelapan pemahaman pikiran para pemimpi tentang jati diri yang telah lama kehilangan landasan dan arah. Setelah untuk jangka waktu yang begitu lama, identitas ini diabaikan dan bahkan dengan sengaja di”delet”, oleh akibat terbawah arus politik kepentingan saat di masa lalu menjalani kehidupan menurut tatalaku sang tuan besar, Belanda - bangsa penjajah yang menguasai negeri kepulauan komunitas ras bangsa Alifuru.

Kepulauan yang membentang dan menghubungkan dua benua besar dunia, dari utara dengan samudera Pasifik hingga sampai samudera Hindia di bagian selatan. Memiliki luas wilayah 85,728 km2. Potensial oleh kekayaan sumber daya alam, sehingga menyebabkan catatan sejarah dunia tentang peradaban bangsa-bangsa besar harus berubah, antara lain dalam pemetaan lautan dan daratan permukaan bumi.

Maluku, adalah penamaan untuk menyebut kepulauan bangsa Alifuru ini oleh para bangsa pendatang dari Jazirah Arab. Al-Mulk atau negeri para raja, mereka menyebutnya. Penyebutan demikian lebih pada kenyataan kesaksian bahwa di bagian wilayah utara kepulauan saat itu, telah banyak terbentuk kerajaan-kerajaan kecil sebagai penguasa dan menyebar hampir di semua pulau. Untuk selanjutnya hingga saat ini, kepulauan yang berpenghuni bangsa Alifuru lebih dikenal dengan nama kepulauan Maluku. Saat ini berada dalam kesatuan gugus kepulauan Nusantara,  wilayah negara Republik Indonesia.

Alifuru nau-nau

          Dalam bahasa Alifuru, nau-nau berarti bodoh. Dikatakan bodoh untuk semua hal tentang pengetahuan modern, menurut mereka yang menganggap diri telah pintar, maju dan madern. Tetapi sayangnya, seperti menampar diri sendiri, karena disampaikan oleh mereka yang patut tidak menghina asal-usul dan identitas diri pribadi sendiri. Pengingkaran secara sadar, hanya karena telah merasa lebih pintar dan modern. Sementara yang dikatakan bodoh, adalah untuk membedakan dan secara tidak langsung telah menghina  bangsa Alifuru, hanya karena bangsa Alifuru – saat itu, belum mengenal pengetahuan modern akibat tidak atau belum tersentuh dunia pendidikan sekolah.

Sekedar gambaran dari kesan dan pengalaman secara pribadi,  ketika di penghujung tahun 1970-an, saya datang dari sebuah kampung di selatan pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah. Berkesempatan melanjutkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama di kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku. Sebagai anak kampung atau desa dari luar dan jauh dari kota Ambon, tentu terlihat kaku dan serba bingung untuk hal tertentu dalam menyesuaikan diri dengan gaya dan cara kehidupan teman-teman selingkungan sekolah, yang berasal dari masyarakat kota. Gelar paling dikenal hingga kini adalah kampungan, sebutan penghinaan bagi orang yang pola tingkahnya konyol menurut orang(mayarakat)perkotaan. Karena baru dari kampung atau desa, tentu cara bicara, aksen, dan kebiasaan anak kampung, masih terbawah dalam keseharian menjalani kehidupan di kota. Hal ini menimbulkan ketidak cocokan pergaulan yang merujung pada perselisihan diantara saya dengan teman sesama murid satu sekolah, dan juga kadang dengan orang lain di luar lingkungan sekolah. Ucapan khas ketika itu, berupa kalimat umpatan, misalnya “dasar alifuru, alifuru nau-nau, alifuru seram - buru  belakang tanah, dan lain kata sebutan yang kesannya melecehkan dan menghina.

Sudah sangat sering sebutan-sebutan tidak pantas terdengar kepada saya maupun orang lain khususnya yang berasal dari pulau Seram, sebagaimana juga ternyata terjadi kepada  mereka yang berasal dari lain daerah seperti pulau Buru, pulau Ambalau atau kepulauan Gorom. Selama bertahun-tahun, lontaran kalimat demikian oleh mereka yang merasa diri telah lebih pintar dan menganggap dirinya sudah sangat modern kehidupannya, tanpa sedikitpun menyadari dampak tekanan secara kejiwaan bagi yang tertuju.

Penghakiman tanpa penyesalan dan koreksi terhadap diri sendiri, karena tidak pernah merasa bahwa  itu sesuatu yang tidak pantas diucapkan sebab bukan kalimat candaan biasa.
Andaikan yang menyampaikan demikian oleh mereka yang secara kasatmata diketahui adalah bukan dari anak-cucu keturunan bangsa Alifuru, maka mungkin tidak menjadi masalah, tetapi kenyataannya sangat mudah diketahui adalah dari dan oleh orang lingkungan anak-cucu bangsa Alifuru sendiri. Sesuatu yang aneh dan memutarbalikkan kecerdasan bagi yang mengganggap diri lebih telah berpendidikan. Cara pandang keliru, konyol, terkesan lucu, dan mestinya malah mereka para penghina tersebut yang patut disebut bodoh. Kebodohan akut akibat dibodohi selama ratusan tahun oleh bangsa Belanda sebagai penjajah tanah leluhur bangsa Alifuru.


Hilangnya Identitas Alifuru

Bangsa Belanda sejak abad ke 16, telah hadir dan menggantikan bangsa Portogis yang sebelumnya berkuasa di Maluku. Belanda menguasai dan menjajah kepulauan bangsa Alifuru, Maluku. Kepentingan politik penjajahan, mengatasnamakan kekuasaan absolut, Belanda melancarkan upaya penghilangan paksa identitas asli sebagai jati diri bangsa Alifuru. Bahasa daerah setempat dilarang penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari. Pola hidup dan pola menu makanan diterapkan menurut kebiasaan bangsa Belanda. Pemisahan pergaulan antara penduduk pribumi yang telah menjadi kakitangan bangsa Belanda, dijauhkan dari peduduk penentang atau yang masih sulit dijangkau dan atau penduduk pribumi yang masih sulit dimukimkan dalam jangkauan dan penguasaan sang tuan penjajah. Mengganti busana tradisional cawat berupa potongan kain atau serat kulit kayu yang hanya menutupi alat vital dengan pakaian terjahit ala tata busana Belanda–Eropa.

Pemukiman penduduk oleh Belanda dibuat di mana-mana, setelah sebelumnya misi keagamaan pengkristenan bangsa pribumi Alifuru berhasil. Yang telah beragama Kristen, dipisahkan dengan membangun kampung sendiri yang baru, terpisah dari pemukiman masyarakat pribumi sebelumnya yang bukan beragama Kristen. Hal ini menjadi acuan dan cikal bakal kesaksian saat ini, akan adanya perkampungan yang terpisah berdasarkan identitas kepemelukan agamanya masing-masing. Demikian juga Penguasa (Raja, sebutan umum dikemudian hari) atas wilayah dan kampung-kampung bentukan pribumi Alifuru yang ribuan tahun sebelumnya secara hirarkis berkuasa secara tradisi adat berdasarkan kemampuan dan kekuatan kepemimpinan sebagai kepala Kapitan – orang yang memiliki ilmu kekebalan tubuh luar biasa terhadap senjata tajam, tetapi tidak dalam penguasaan bangsa penjajah, maka akan diserang, dipaksa, disiasati secara politis, untuk selanjutnya diganti dengan orang yang tunduk dan patuh kepada Belanda.  Mereka ini merupakan anak emas yang selalu dimanjakan oleh pihak penjajah, disekolahkan, dipekerjakan sebagai jongos, pegawai, atau tentara, dan tentu mendapat gaji dan fasilitas lain.

Ratusan tahun hidup ala bangsa penjajah dengan kekentalan maenstream eropa dan serta  pembiusan impian kemuliaan semu namun dalam kontrol dan aura politik misi jajahannya. Bahwa mereka yang menghambakan diri bertuankan bangsa penjajah Belanda, secara sadar menganggap budaya barat lebih beradab, modern, berkelas dan bergengsi, tentu saja telah berimbas langsung maupun setidaknya telah membentuk dan merubah pola pikir, cara pandang, dan kepribadian, sekaligus mengganti identitas dan jati diri sebagian besar anak-cucu bangsa Alifuru, sejak saat itu bahkan masih terasa dinampakkan hingga saat ini. Akhirnya terbetik ada rasa malu, bahkan bodoh, mengakui diri sebagai keturunan bangsa Alifuru.



Jati Diri Alifuru

                 Betapa tidak berarti keberadaan seseorang, bila menafikkan asa-usul dan garis keturunan, karena sama saja dengan mengingkari keberadaannya saat ini, yang berarti pula telah menghapus pengenalan sejarah silsilah identitas diri, selanjutnya akan kehilangan jati diri kemanusiaannya.

Dimanapun di muka bumi, seseorang akan selalu dikenali oleh karena memiliki garis keturunan dan wilayah tempat asal-usulnya, dengan begitu akan diketahui ada-tidaknya serta seperti apa budaya, karakter, kemampuan,  atau kekayaan seperti apa yang dimiliki dalam catatan era perjalanan sejarahnya.

Perubahan situasi zaman, dimana kesempatan memperoleh pendidikan lebih baik, telah menghadirkan pengetahuan dan wawasan lebih luas dan detail tentang kebutuhan akan sejarah perjalanan hidup, dengan pengenalan lebih detail terhadap asa-usul dan garus keturunan dalam suatu kesatuan kelompok ras dan akses kepemilikan atas kewilayahan.
Setidaknya telah memaksa untuk kembali mengenali siapa dirinya sesungguhnya, dari mana dia berasal, dan dimana seharusnya menjalani hidup atau paling tidak untuk menoreh kisah kepada ana-cucu keturunan atau orang lain, hanya bisa bila memiliki wilayah menurut garis keturunan dan diakui di komunitasnya.

Jati diri sebagai bangsa Alifuru,  sepertinya mulai disadari memang perlu untuk diakui dan diangkat ke permukaan, sebagai identitas dan jati diri sesungguhnya komunitas asli pemukim kepulauan Maluku.

Ras Bangsa Alifuru adalah identitas dan jati diri Orang Maluku, banggalah karenanya.



Depok, 05 Desember 2015

Oleh ; M.Thaha Pattiiha
(Iha- Tehuayo)

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini