Senin, 15 Februari 2016

Pariwisata dan Mahalnya Biaya Transportasi di Maluku



           Kota Ambon (Photo by #embun01 08/11/05)


           Mendengarkan cerita dari seorang teman pendaki gunung  di Jakarta, tentang betapa mahalnya ongkos untuk dapat mendaki ke puncak Gunung Binaiya di Pulau Seram, sebagai salah satu gunung yang masuk nominasi daftar gunung yang menarik bagi pendaki gunung di Indonesia karena keindahan dan tantangannya. Ada kewajiban “aneh” biaya yang mengada-ada dan sangat berlebihan diberlakukan kepada para pendaki oleh warga kampung yang berdiam di jalur pendakian utara kaki gunung Binaiya. Mau hendak ke pantai Ora di pulau Seram bagian utara, harus elus dompet,  kalau terasa tebal bolehlah ke sana( news.liputan6.com ). Bermaksud  ke Banda Neira ? Sayangnya bakal membuang banyak biaya dan waktu. Jangan tanya berapa dan bagaimana anda bisa sampai ke bagian tenggara kepulauan Maluku, padahal Maluku bukan hanya kota Ambon.

Biaya transportasi dan jarak jangkau dari Bandar udara Pattimura atau Pelabuhan laut Ambon sebagai sentral akses pintu masuk dan transit satu-satunya di Maluku untuk menuju objek-objek wisata di seluruh kepulauan Maluku, begitu dianggap sangat mahal, butuh waktu yang banyak, belum lagi kesulitan mendapatkan sarana transportasi. Untuk ke dan dari Ambon saja, ongkos penerbangan dan pilihan maskapai penerbangan terasa masih mahal dan seperti dibatasi perluasan perusahaan penerbangannya. Seperti dipaksa untuk tidak dapat memilih dan menawar. Belum lagi nanti dari kota Ambon ke abjek wisata dan sebaliknya, via udara ? Masih langka dan boleh jadi juga mahal, transportasi darat atau laut ? Pandai-pandailah menawar.

Bagaimana bisa potensi kekayaan alam sebagai objek wisata guna menikmati keindahan dan juga untuk kebutuhan lainnya dapat didatangi, bilamana tidak ada kemudahan-kemudahan termasuk biaya yang mudah terjangkau. Jangankan buat orang dari luar daerah, buat orang Maluku sendiri masih terasa begitu mahal dan sulit. Sejauh pengamatan, biaya transportasi kendaraan darat dan antar pulau masih bertarif “bebas”, semau empunya kendaraan, tidak ada terlihat tarif resmi dan kontrol aktif pihak aparat berwenang dari pemerintahan daerah di Maluku. 


 Pantai Ora, salah satu objek wisata di pulau Seram bagian utara, Maluku (Foto Istimewa)


Potensi wisata alam pantai, laut,  karang dan biota laut, burung-burung indah dan hewan liar lainnya, gua, air terjun, lembah dan gunung, danau dan telaga, hutan mangrove, hutan alami dan masih perawan, benteng-benteng peninggalan zaman kolonial, obyek wisata alam, sejarah, budaya – adat,  dan ilmu pengetahuan, menyebar se anteru bumi kepulauan Maluku. Sangat eksotis. Hanya menjadi bayang-bayang dan impian banyak orang, karena minimnya fasilitas, sarana, plus kemudahan-kemudahan.

Setiap tahun ada kegiatan Ambon-Darwin Yacht Race, saking rutinnya menjadi tidak lagi menarik bagi publik, bahkan untuk masyarakat kota Ambon sendiri pun mungkin tidak bosan tetapi seperti acuh tak acuh dengan kegiatan dimaksud. Paling merasa beda karena ada “bule” lalu-lalang di kotanya. Pemerintah Kota Ambon seperti kehilangan kreatifitas dan inovasi mengelolah even tersebut, dengan tidak adanya hal baru yang dapat di”jual” kepada khalayak. Pembiayaan oleh APBD, terasa memang memberatkan. Hanya saja bila disitu ganjalannya, pembiayaan bisa dengan mengajak pihak swasta sebagai sponsor, dengan inovasi dan kreatifitas sebagai daya tarik  agar ada nilai plus untuk kemeriahannya. Misalnya menambahkan lomba Manggurebe Arumbai dengan Arumbai yang representatif dan indah hiasannya, dimana pesertanya adalah perwakilan resmi dari negeri-negeri atau kota-kabupaten di Maluku.  bahkan dilaksanakan dengan kemasan penyelenggaraan secara professional, berhadiah menarik sebagai event tahunan yang rutin, maka peserta dari luar Maluku pun akan ikut.

Teluk Ambon, memiliki pesona dan lokasi sangat baik untuk dikembangkan olah raga laut, seperti dayung, salah satunya Manggurebe Arumbai, juga renang dan selam.  Triatlon Teluk Ambon ; lomba renang-lari-bersepeda, sangat mungkin diadakan serta kegiatan menarik lainnya, apalagi karena disatukan dalam rangka perayaan rutin Hari Ulang Tahun Kota Ambon. Bila kemasannya bagus, menarik, professional, rutin dan ramai oleh peserta, penonton atau pengunjung, akan sangat menarik bagi pihak swasta untuk berpartisipasi sebagai sponsor karena menarik sebagai media promosi produknya. Kendala pembiayaan dapat tertanggulangi oleh sponsor, dan menambah agenda wisata para wisatawan.

Dalam beberapa kesempatan penyelenggaraan acara  khususnya di kota Ambon yang bahkan bersifat nasional, sering terkesan ada ruang yang tak terisi penuh sebagai bagian dari maksud akan adanya dampak secara positif dalam multi manfaat dari penyelenggaraan suatu acara atau kegiatan besar.

Pernah ada penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional, Pesparawi Tingkat Nasional dan sebelumnya dulu ada hajatan Sail Banda. Sail Banda saat itu pun terasa aneh dan sepi, acara memakai nama Banda tetapi kota Ambon menjadi pusat kegiatan, sayangnya faktor cuaca saat itu ikut serta pula meramaikannya dengan mendung dan gerimis, sehingga masyarakat pun tidak antusias dan tidak terlihat keramaian berarti di kota Ambon. Sama dengan dua hajatan tingkat nasional bidang keagamaan dimaksud, dalam prestasi penyediaan sarana dan prasarana, pelayanan serta penyelenggaraan seremonial maupun jadwal rutin kegiatannya, boleh dibilang sudah baik dan berkesan bagi pesertanya. Bagi masyarakat setempat, kemeriahan hanya ada pada lokasi penyelenggaraan tetapi berharap banyak mendapatkan manfaat secara ekonomi, sosial dan politik, serta publisitas bagi daerah masih begitu belum berarti apa-apa. Selesai acara, pupus pula ingatan tentang Ambon, Maluku dan orang-orangnya. Perekonomian masyarakat biasa-biasa saja, mereka yang kembali datang mengunjungi Maluku kemudian hari sepi-sepi saja. Hal seperti ini tidak sulit memantau dan mengetahui kondisi yang terbentuk dari setiap suatu aktifitas, pintu gerbang Maluku hanya ada Bandara Pattimura dan pelabuhan laut Jos Sudarso Ambon. Demikian bisa melalui jalur media modern komunikasi sosial dunia maya atau internet, sangat mudah memantau perkembangannya.


 Pelabuhan Jos Sudarso Ambon (Photo by #embun01 09/11/05)

Masalah terasa rumit mungkin karena hanya kota Ambon yang selalu sering menjadi pusat akifitas untuk Maluku, sehingga wilayah lain menjadi seperti terabaikan dalam banyak hal. Infrastruktur,  sarana dan prasarana yang terbangun hanya masih berpusat seputar kota Ambon. Akses pintu masuk dan keluar Maluku hanya bisa melalui kota Ambon yang hanya sebuah pulau kecil dan terpisah dari wilayah lain yang lebih luas di daerah provinsi Maluku. Setelah di kota Ambon, ketika harus kemana lagi di Maluku, maka masalah transportasi dan jarak jangkau menjadi persoalan rumit karena butuh banyak hal lebih untuk itu. Ketersediaan transportasi yang mudah, cepat, ramah dengan biaya serta waktu untuk jarak tempuh, merupakan kendala menebar langkah lebih jauh menapaki guna menikmati kekayaan alam dan keindahan Maluku. Maluku bukan hanya kota dan teluk Ambon, tidak hanya tarian cakalele dan tari lenso, lebih dari itu masih tersedia kekayaan budaya, sejarah dan bermacam potensi wisata yang pantas diandalkan dan di-jual.

Rentang jangkauan wilayah Maluku yang berbasis pulau-pulau, sudah waktunya bandar udara bertaraf internasional tidak hanya Pattimura di Ambon, sudah waktunya dikembangkan lagi bandar udara lokal setidaknya satu di wilayah bagian tenggara Maluku serta satu lagi di pulau Seram. Maskapai penerbangan akan menyesuaikan dan mengikuti kemana jalur terbangnya, pada tujuan ada tidaknya kesesuaian fasilitas bandar udara dengan dengan armadanya hingga dengan kapasitas sarana pesawat yang lebih besar. Apalagi ada geliat konsentrasi pembangunan dan pengembangan ekonomi serta  pariwisata yang menarik dan menawan oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah setempat.

Keleluasaan bagi beragam usaha perusahaan penerbangan menerbangi jalur udara menuju dan dari Maluku pun disematkan suasana bahwa tidak ada semacam “kartel” yang menghambat, agar ada pilihan jenis alat transportasi udara dan kemudahan karena kebaikan lainnya.


 Bandar Udara Internasional Pattimura, Ambon (Photo by #embun01 22/11/05)

Penghubung antar pulau melalui laut, jadi pilihan lain yang harus diperbaiki segala sesuatunya dan dimaksimalkan kemudahannya, agar laut menjadi “hanya” jembatan antara yang tidak menjauhkan karena harus menempuh jarak melewati lautan.

Menjawab dan menjelaskan alur perjalanan wisata di bumi Maluku kepada wisatawan dari luar daerah, kadang harus me-manis-kan wajah dan menapis kata-kata indah, sambil menahan rasa dongkol dan  ketakutan akan mengecewakan peminat yang hendak ke Maluku. Belum lagi masalah issu keamanan dan kenyamanan yang mesti ditambahkan dalam penjelasan kepada wisatawan dan juga peminat usaha, Maluku sudah aman atau bagaimana, pertanyaan yang membuat kita terlanjur membuang waktu dan peluang.

Sebagus apapun keindahan dan daya tarik suatu objek wisata, bila cara pengelolaannya tidak beraturan dan asal urus, jangan berharap dapat menghadirkan keramaian wisatawan dalam berkunjung. Olah secara profesional dan rasional, itu kuncinya, sehingga sektor pariwisata Maluku dapat lebih menarik, berkembang dan maju, bersaing dengan daerah lain yang mampu menghadirkan wisatawan lokal daerah Maluku, dalam negeri Indonesia dan manca negara sebanyak mungkin ke objek-objek wisata di Maluku.

Kemajuan pariwisata berbanding lurus dengan geliat manfaat ekonomi masyarakat dan pemerintah daerah, namun demikian kontrol sosial terhadap dampak tidak diinginkan dari dunia pariwisata terkemas melekat dalam gerak maju membangun pariwisata, agar keinginan baik membuka diri tidak berujung kecewa oleh akibat buruknya.


Depok 16 Februari 2016

M. Thaha Pattiiha)*

----------------------------------

)* Orang Maluku, domisili di Kota Depok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini