Minggu, 22 Mei 2016

MALUKU SATU DARAH ; ALIFURU




Aupulu seseuwe na a sosopam na a kokokum )1

          Menelusur perbincangan yang telah begitu ramai, terbuka dan terkesan apa adanya di dunia maya,  terbaca pola pikir sesungguhnya sehingga dengan mudah mengetahui dan memahami  keinginan,  kepentingan dan situasi perkembangan sosial, kejiwaan, pola pikir dan pola anut seseorang maupun komunitas.

Untuk lebih dalam memahami situasi, beta(saya) ikut bergabung pada berbagai group diskusi di media sosial, seperti facebook, google+, twitter, media massa online daerah(khususnya Maluku), nasional maupun internasional. Menelusur untuk berkomunikasi, berdiskusi dan bertukar informasi pada berbagai website umum dan pribadi, maupun blog. Semua itu untuk membaca, mengetahui, menterjemah dan memahami yang ditemui, dengan maksud untuk menambah pengetahuan dan agar mengerti seperti apa perkembangan  berbagai hal.

Pada konteks ke-Maluku-an, pun telah banyak yang dapat dipelajari melalui adanya ketersediaan media tekhnologi informasi dimaksud, selain bisa ikut berpartisipasi menyumbang pemikiran dalam bentuk komentar atau ulasan. Sebagai bentuk sumbangsih dalam rangka kebaikan bersama katong(kita) Orang Maluku, khususnya yang berdarah keturunan anak-cucu Alifuru (Suku-bangsa asli penduduk Kepulauan Maluku).

Pada siapa yang dimaksud sebagai “Orang Maluku”, beta mengartikan adalah anak-cucu keturunan sukubangsa Alifuru beserta peranakannya yang tersebar dan mendiami gugus kepulauan mulai dari wilayah di utara pulau Morotai - Provinsi Maluku Utara, hingga ujung pulau Selaru - Provinsi (Induk) Maluku, di bagian selatan, yang sedang tinggal menempati daratan wilayah Maluku saat ini, maupun yang telah berdomisili di manapun wilayah di luar kepulauan Maluku. Penjelasan dimaksud sebagai pandangan pembeda yang menunjuk pada keberadaan wilayah Maluku saat ini, yang telah makin terbuka dengan kehadiran berbagai sukubangsa bukan Orang Maluku dari luar.

Pengaruh oleh kehadiran “orang luar” patut dicermati untuk memahami perubahan sosial dan budaya yang berlangsung, berproses dan untuk memastikan nilai-nilai dasar struktur sosial dan budaya asli Maluku tidak berubah, apalagi sampai tergusur dan lenyap.

Dengan melalui sesembahan “sirih-pinang” ini beta hendak bacarita(bercerita) apa adanya, dan berharap dipahami secara positif dalam konteks Orang Maluku yang lahir dari garis keturunan yang sama yaitu Suku-Bangsa Alifuru.  Maluku ; "Satu Darah", Alifuru.



Satu Sudut Pandang

       Sudut pandang adalah cara memandang sesuatu yang tertangkap mata, dicerna akal dan melahirkan pendapat. Memandang dalam pengertian ini adalah sesuatu yang diperoleh dari hasil melakukan, melihat, menyaksikan, mendengar, membaca dan atau hasil berpikir seseorang. Semua orang pada lahirnya memiliki ruang dan kesempatan untuk menghasilkan sudut pandang, hanya saja yang pasti berbeda tingkat kualitas dan kuantitasnya. Namun demikian, adanya teknologi komunikasi internet sebagai media dunia maya, bebas bagi siapa saja untuk menyampaikan sudut pandangnya terhadap suatu hal atau apapun, pribadi maupun umum.

Tebaran sudut pandang di media sosial, menjadi acuan mendapatkan gambaran terhadap sesuatu khususnya tentang seperti apa dan bagaimana pendapat serta pemikiran Orang Maluku saat ini. Kesamaan atau perbedaan pendapat selalu ada, memungkinkan mendapatkan gambaran umum berbagai pandangan yang dikemukakan dan berkembang di masyarakat Maluku.

Karakteristik kejiwaan Orang Maluku sangat kental dengan cara berpendapat dan bersikap apa adanya, menunjukan keinginan dan menyampaikan segala sesuatu secara terbuka, lepas dan langsung ke sasaran. Tidak tersedia interpretasi ganda memahami sikap dan watak, baik buruk pada ujungnya. Hitam – putih, itulah sesungguhnya watak dan jiwa Orang Maluku.

Sekalipun demikian, ada perubahan oleh akibat pengaruh dominan kemudahan interaksi komunikasi dan informasi sehingga tentu berdampak pada pergeseran pola pikir. Dikesankan belum pada kebaikan, guna pembentukan kesatuan watak dan pendapat sebagai satu keluarga besar dengan multi keinginan yang mesti direkatkan dalam kesamaan satu sudut pandang.

Siapa bilang tidak ada perbedaan, dan sebaliknya tidak ada persamaan. Perbedaan, apapun itu, boleh jadi karena adanya perbedaan pemahaman oleh pengaruh pengetahuan yang berbeda kualitas intelegensi seseorang atau masyarakat lingkungannya. Akan tetapi perlu ada upaya sebagai tanggungjawab bersama, guna menyelaraskan hal-hal yang menjadi kesamaan dan meminimalkan perbedaan hingga pada menghalaunya menempati ruang tertutup menjadi bagian terpisan dan sendiri. Apalagi bila sesuatu hal itu akan mengganggu bahkan menghalangi kebersamaan untuk penyatuan demi kepentingan bersama.

Terdapat adanya perbedaan-perbedaan yang harus dipisahkan atau dengan pemikiran bijak dipandang sebagai keberagaman yang memperteguh kekuatan bersama dalam kesatuan.

Tidak selalu perbedaan tidak memiliki cara untuk menemukan persamaan, sekecil apapun selalu ada cara dan itulah nilai berharga untuk dijadikan modal penyelarasan untuk menuju penyatuan dalam bentuk satu sudut pandang oleh satu sikap dan pemikiran kebersamaan kepentingan Orang Maluku, tentang Maluku kemarin, hari ini, dan masa depan.

Hendak kemana dan seperti apa Maluku harus dipandang dan disikapi oleh Orang Maluku sendiri.


                          Prosesi dan upacara adat Alifuru di “batu pamali” Negeri Wolu(Sapoe Lalin) Pulau Seram bagian selatan.  Oleh Anak-cucu Alifuru Supamaraina dari Dusun Yamahena, 
pada Desember 2015. Wolu- negeri induk, penduduknya beragama Islam, sedangkan penduduk dusun Yamahena beragama Kristen Protestan.



Satu Jiwa

       Jangan pernah bilang(mengatakan) bahwa orang Maluku tidak bersatu, dan pula jangan bilang orang Maluku sulit disatukan. Ini kalimat menantang dan sekaligus pembenaran bahwa Orang Maluku pada lahirnya bersatu, merasa satu dalam perbedaan baik oleh daerah pemerintahan, pulau, agama, maupun karakter, sebagai sesama satu darah keturunan suku-bangsa Alifuru di dalam satu wilayah kepulauan Maluku.

Potong di kuku, rasa di daging”,
ale rasa, beta rasa”,
katong satu gandong”,
katong ba pela”,                      
“gandong satu darah”

Seperti apakah hal yang terlintas  pada alam pikiran dan terasakan di bathin anda, ketika “kata-kata keramat” ini terbaca, terdengar atau terucapkan ? Apakah slogan dan atau kalimat pesan tersebut yang sejatinya terlahir melalui proses ritual ikatan pertalian setelah melalui sumpah darah oleh nenek-moyang Orang Maluku yang sifat dan maknanya hanya “omong-kosong” ? Beta seng(tidak) yakin, sebaliknya beta percaya ketika ale dong(anda semua) membaca kata-kata keramat di atas, pasti menyentuh ruang terdalam sanubari - bathin,  masing-masing dan bisa jadi biking bulu badang ta badiri(membuat bulu roma merinding atau berdiri).

Apa artinya ? Karena dalam diri katong(kita) beta deng ale (saya dan anda) mengalir darah asli Orang Maluku dari anak-cucu keturunan Suku-Bangsa Alifuru. Entahlah kalau anda bukan berdarah asli dari garis keturunan dimaksud.

Satu Darah adalah Satu jiwa, yang berarti kesatuan kelembagaan jasmani dan rohani dalam bungkus satu kesamaan identitas dan ikatan yang berlangsung secara terus-menerus hingga kapanpun. Namun demikian bagi Orang Maluku, dalam perjalanan sejarah sejak dari masa lalu tidak pernah lepas dari pengaruh berbagai pihak dari luar Maluku karena kepentingannya.    

Drastis mulai terjadi di jaman ketika kehadiran agama-agama di Maluku, sejak saat itulah muncul pembedaan antara sesama Orang Maluku. Tentu keyakinan agama sebagai salah satu faktor pengaruh, selain mungkin saja adanya kepentingan misi politik ekonomi yang menyertai dibalik penyebaran agama.

Bangsa Arab berperan berabad-abad dalam distribusi penjualan rempah-rempah Cengkeh dan Pala ke daratan Eropa, diperoleh melalui transaksi dengan bangsa China melalui jalur dagang kuno silk road.

Bangsa China yang paling awal menguasai hasil rempah-rempah di kepulauan Maluku. Hingga hadirnya agama Islam oleh Penyiar(Da’i) bangsa Arab di Maluku, juga melalui jalur dan cara perdagangan rempah-rempah Cengkeh dan Pala. Dikemudian hari bangsa-bangsa Eropa, Spanyol, Portogis, Inggris, Jerman dan Belanda, menempuh jalan sendiri melalui laut, untuk mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya di kepulauan Maluku. Sebagaimana bangsa Arab, orang Eropa juga menyebar agama Kristen Katholik dan Kristen Protestan. Apakah bangsa Arab dan Eropa mereka telah sama “membungkus” kepentingan ekonomi dengan cara menyiarkan agama ?

Yang beta perhatikan, ada pengaruh signifikan sejak kehadiran agama-agama, yang mengakibatkan kesatuan Orang Maluku terkesan tercerai-berai, berpisah dan dipisahkan menurut masing-masing komunitas penganut agamanya. Hal berbahaya juga yang sepertinya masih terpelihara, adalah tatkala pola pikir kesatuan asal-usul, ikut teracuni sehingga memperparah dan melebarkan jurang pemisah antara sesama. Tanpa sadarpun kadang kita mengkondisikan sendiri tanpa menyadari dampak buruknya bagi keutuhan dan persekutuan bersama.

Orang Maluku Pantang Ditantang”, Harga diri Orang Maluku ada pada kemampuan mempertahankan hak dan keyakinannya, teguh membela hak atas diri sendiri, keluarga, sahabat maupun daerah asal, serta keyakinan dalam spiritual agamanya, salam atau sarani (Islam atau Kriten) sama saja. Titik lemahnya, dimanfaatkan oleh yang berkentingangan secara politik dan diujungnya mereka dapat memetik durian runtuh keuntungan ekonomi dan singgasana jabatan. Peristiwa mongo-mongo (“Tragedi Konyol”) tahun 1999, yang memperhadapkan sesama Orang Maluku,  oleh kemampuan rekayasa “tangan-tangan setan”, adalah contoh terbaik yang sangat mengerikan, dengan memanfaatkan secara taktis kekuatan harga diri.

Kekuatan dalam kesatuan yang dibalik itu ternyata memiliki entry point kelemahan untuk disalah-gunakan dan dimanfaatkan oleh pihak lain, sehingga perpecahan antar sesama orang basudara (bersaudara) rentan muda terjadi.

Patut disyukuri, bahwa harga diri sebagai sesama Orang Maluku pula yang berbalik menyadarkan para pihak sehingga peristiwa dimaksud di atas dapat diakhiri. Itu pun bukan karena oleh campur tangan negara atau pemerintah dengan pasukan bersenjatanya(polisi dan tentara), tetapi kesadaran melalui implementasi kesejarahan yang masih terjaga yaitu kekayaan kearifan tatanan adat. Kearifan tatanan adat-lah yang inti berperan mengingatkan dan menyadarkan semua, bahwa telah menjadi korban rekayasa kepentingan pihak lain.

Kalimat-kalimat keramat di atas berperan mengingatkan dan mengembalikan kesadaran kita bersama bahwa sesungguhnya katong satu, satu darah, satu nenek-moyang,  satu wilayah, satu Orang Maluku, dari satu sukubangsa yaitu Alifuru.

Katong patut bersyukur kepada Tuhan dan Orang Maluku yang masih peduli, sehingga pada kenyataannya kekuatan ikatan dasar nilai-nilai tatanan adat dan budaya Maluku yang bersumber dari suku-bangsa Alifuru, hingga saat ini masih terjaga, terpelihara dan bertahan dari pengaruh luar.  Kecuali dalam hal ritual menurut keyakinan agama yang dianut, masih secara baik dipadukan dan diserasikan dalam praktek adat dan budaya, tetapi dengan begitu makin memperindah kekayaan budaya lokal, selain sebagai cara agar tetap terpelihara.



Satu Alifuru Satu Maluku

       Penyatuan berarti melakukan upaya atau usaha mengumpulkan dan memadukan perbedaan, dengan adanya perbedaan diketahui untuk dihimpun beragam kemampuan sehingga terbentuklah kesatuan kekuatan. Maluku secara geografis dan komunitas pemukiman boleh terpisah-pisah oleh laut, tetapi perasaan sebagai sesama Orang Maluku – satu ras, satu sukubangsa Alifuru, menjadi perekat penyatuan dan itulah kekuatan. Tidak menjadikan keterpisahan oleh beda keyakinan agama, beda pulau, beda kota dan atau kabupaten bahkan provinsi.  

Pembedaan oleh pembedaan secara sengaja karena hanya oleh pemisahan secara administratif pemerintahan, akan melemahkan unsur kesatuan, yang demikian menjadi pintu masuk berbagai kepentingan melemahkan bahkan menghacur-luluhkan keinginan demi kepentingan bersama atas anugerah kekayaan luar biasa yang dimiliki bumi Maluku, harusnya diperuntukan guna mensejahterakan semua Orang Maluku, tidak untuk sepihak orang atau kelompok tertentu.

Sebagai Orang Maluku adalah suatu keharusan bahkan menjadi kewajiban, katong bersekutu dan menyatu oleh adanya “Satu Darah” dari garis keturunan yang sama yaitu Suku-Bangsa Alifuru. Slogan umum yang sudah sering kita dengar, “bersatu katong kuat, baku-cere katong ancor” (Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh), bukanlah tanpa makna berarti dari yang tersirat.

Kesatuan sudut pandang, satu suara, sama-sama berbuat sebagai satu sukubangsa, satu wilayah utuh dan satu kepemilikan atas kekayaan alam, menjadi kekuatan tekanan secara bersama-sama kepada Pemerintah Pusat atas pilihan opsi pengelolaan gas alam Blok Masela. Tekanan bersama, satu suara, telah “memaksa” Pemerintah Pusat tidak punya opsi lainnya, selain mengikuti keinginan Orang Maluku untuk kilang proses pengolaan gas Blok Masela dibangun di daratan Maluku(Onshore), bukan kilang anyor-anyor(mengapung) di laut(Offhore). Sebuah contoh yang manis untuk kepentingan bersama bagi banyak urusan dan kepentingan yang lain milik Orang Maluku yang selama ini masih terus dinikmati pihak lain.


                                                                                         Satu Darah”, Komunitas (orang) Maluku yang berdomisili di berbagai negara di benua Eropa(Foto; Chris Maelissa 24/5/2010)


Kekuatan dalam kesatuan “Satu Darah” yang merupakan momok menakutkan bagi bangsa-bangsa penjajah ketika berkali-kali dalam sejarah perlawanan Orang Maluku mampu melawan dan mengalahkan bangsa-bangsa asing dan penjajah.

Orang Maluku yang lebih dulu berperang melawan bangsa asing – penjajah, di kepulauan Nusantara. Sebaliknya ketidak-satuan pula yang melemahkan kekuatan dan menggagalkan keinginan dan  usaha sebagian Orang Maluku membentuk negara sendiri pasca kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Faktor keturunan atau karena pilihan dalam kepercayaan dan keyakinan terhadap suatu agama, adalah pilihan jiwa bersifat manusiawi, tetapi harus terbebas dari kepentingan menjadikannya sandungan atau bahkan alat untuk saling berjarak dan apalagi hingga memunculkan berbedaan.

Manusia terlahir dengan persamaan dan perbedaan, juga apapun makhluk dan seisi alam yang kita tempati, oleh Sang Pencipta – Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, menambatkan ciptaan-Nya – apapun itu, dengan dua sifat ; sama dan beda. Berbeda memang, tetapi tidak mesti saling membedakan. Utuh menyatu tanpa ada intrik dan tidak parsial. Satu karena sebagai keturunan Alifuru berarti satu sebagai Orang Maluku, tidak dibalik. Maka kekuatan dan daya pertahanan, tekan, serang, dan tentu hasil akhirnya adalah katong berhasil menang.

Memahami perbedaan dalam kesatuan bahkan persekutuan, sebagai makhluk  Tuhan yang memiliki akal dapat mencerna maksudnya, bahwa adanya perbedaan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan, apalagi menjadi hambatan dalam kebersamaan menjalani peri kehidupan bersama. Sesuatu itu sama dan sesuatu itu beda, ketika dipadukan, disatukan, disekutukan, untuk kepentingan bersama, akan menghasilkan sesuatu yang hebat dan menyenangkan.


Watak dan jiwa Orang Maluku terbentuk sebagaimana alamnya, salah satunya petik hikmah dari pohon yang menjadi sumber makanan utama Orang Maluku, sagu. Kesatuan dalam rumpun dan berfungsi multi guna, lurus berdiri menusuk ke langit, kekar mencengkeram bumi, tegar menantang badai.


                                                 Pohon Sagu(Rumbia), sumber makanan utama masyarakat Maluku (Foto ; @embun01)


Bersatu oleh adanya kesatuan suku-bangsa Alifuru, berarti satu darah, satu asal-usul, satu keturunan, satu nenek-moyang, satu Suku-bangsa Alifuru, dengan itu menyatukan, mengikat, dan menjadikan sesama semua Orang Maluku adalah “SATU DARAH”, laya upao)2.


     Maluku Satu Darah


   Darah Alifuru

   Hetu miki, hanue yama upao
  
   Alifuru mesee ! )3



                                                                                                                                                         Depok, 29 Maret 2016

Penulis

                                                                                                                                                    M. Thaha Pattiiha )4
1) Penghormatan dengan bahasa tana – Kapata, bahasa(ibu) kuno Bangsa Alifuru
              Terjemahan ;
1.     Tuan-tuan yang saya hormati, dan saya junjung.
3.     Ayo kejar, bangun negeri(daerah) Alifuru-Maluku, Alifuru hebat.
           2) Laya Upao ; Darah Alifuru
           3) Pekik semangat Bangsa ALIFURU
           4) #Orang_Maluku, domisili sementara di Kota Depok, Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini