Minggu, 29 Mei 2016

Bengkel Seni YAMUYAKA ( Catatan Sejarah Seni Di Kota Ambon )




Di kota Ambon pada era antara tahun 1984 hingga tahun 1995, nama Bengkel Seni YAMUYAKA (Yang Muda Yang Berkarya) atau disingkat BS.Yamuyaka(BSY), sangat populer dikalangan pegiat seni dan dikenal luas di masyarakat kota Ambon.

Sebagaimana aktifis seni atau seniman dan kelompok-kelompok pegiat seni lainnya, Bengkel Seni Yamuyaka terpublikasi oleh berbagai aktifitas seni baik secara kelembagaan, maupun personil anggota serta generasi muda hasil binaan terhadap bakat seninya.

Bengkel Seni Yamuyaka merupakan lembaga pemerhati seni yang beraktifitas dihampir semua bidang seni, tetapi berbeda dalam hal keanggotaan, pengurus dan manejemen pengelolaannya. Dinamai Bengkel Seni, tidak sebagaimana  lazimnya kelompok atau oraganisasi seni yang menggunakan nama Sanggar – Seni. Nama yang terkesan oleh penggunaan kata “bengkel” sebagai tempat perbaikan atau pengerjaan tekhnis sesuatu bersifat mekanis. Padahal urusannya adalah seni, sesuatu yang menyangkut rasa dan imajinasi manusia terhadap sesuatu proses pengalaman, perenungan, penterjemahan, dan kreatifitas sehingga melahirkan suatu karya cipta seni yang indah.

Pilihan pada status sedemikian agar wadah yang digagas dan dibentuk tidak imbas dengan asal bisa, asal tampil dan asal jadi, sisi kualitas karya dan tampilannya harus beda dan lebih menarik sehingga mengesankan tidak latah mengikuti kebiasaan umumnya.

Untuk keanggotaan, hanya terdiri dari beberapa orang bergabung dalam satu wadah yang terorganisir secara rapih, tertib dan dengan program yang tertata secara terencana untuk mencapai target akhir yang maksimal serta monumental. Hasilnya bersinergi dengan kebutuhan dan menjadikan catatan sejarah yang patut diukir di prasasti perjalanan suatu kurun waktu atau jaman.

Sisi idialisme memang sangat kental mendasari semangat bersama, guna membangun sebuah wadah yang lebih berdaya kreasi menampilkan hasil karya cipta sebanding dengan laju pengetahuan masyarakat, tetapi tetap dalam bingkai jiwa seniman yang harus dibebaskan dari kungkungan hal-hal tekhnis mekanis. Akan tetapi dalam kiprahnya kenyataan rasional kehidupan tetap harus dipahami, sehingga mampu menterjemahkan setiap konteks sosial lingkungannya, apapun itu, menjadi inspirasi dan menghasilkan karya yang patut dinikmati dan diapresiasi semua orang.

Terbentuknya Bengkel Seni Yamuyaka

Bermula pada tahun 1980-an dalam pertemanan biasa dan sering bertemu dan menyumbang karya cipta puisi pada acara Puisi & Sastera yang diasuh oleh penyiar Ibrahim Indah – juga seorang seniman sastera dan lukis, pada Radio Amatir Favourite, berlokasi di Taman Ria Remaja Pantai Waihaong Ambon. Keakraban yang dibangun dalam satu kecintaan terhadap seni, melahirkan pemikiran untuk ditindaklanjuti menjadi sebuah wadah permanen dengan kemampuan dan ketrampilan seni lukis sebagai dasar dan serta spesifikasi khusus oleh masing-masing orang.

Gagasan awal oleh saya pribadi – Ghalip MTh (nama seniman - Sastera),  bersama Cecen IR (Husein Laturua - Lukis), N.W.Kelana (Nohor Wally - Kria), Nano(Suyatna - Tari), dan M. Donal(Muhammad Donal - Kria))* dan Aan (Aan Suherman – Modifikasi Otomotif).  Terdapat hanya 6(enam) orang tersebut di atas dengan status sebagai Anggota Tetap, masing-masing memiliki kahlian tersendiri di bidang seni lainnya, tetapi sama-sama memiliki keahlian utama seni melukis, selebihnya yang lain adalah sebagai kontributor, anggota binaan, simpatisan dan anggota kehormatan, serta tidak terlibat secara struktural dalam badan oraganisasi.

Selain hanya anggota tetap yang juga sekaligus pengurus, terdapat beberapa lagi yang ikut serta berkontribusi, seperti Yusuf Idrus – Abang Ucu, beliau karyawan pada arena hiburan rakyat Ambon tersebut. Kemudian bergabung M. Sidik L(Muhammad Sidik Lukman – seniman lukis), Umar Silawane, pematung natural juga ikut bergabung dengan keahliannya untuk seni patung. Mudammad Dun Basyir, seorang Dokter tentara yang berpangkat Kapten, bertugas pada Rumah Sakit Tentara Ambon, bergabung bersama dengan seni lukis ekspresionis khususnya tentang cerita Pewayangan.

Di bulan Agustus 1984, untuk pertama kalinya kami bersama bergabung secara organisasi dan mengikuti Pameran Pembangunan Maluku yang berlokasi di arena dimaksud. Karya-karya seni, lukisan, seni kerajinan termasuk sablon dan cipta seni lainnya kami tampilkan dalam stand khusus seni satu-satunya pada pameran itu dan menggunakan nama resmi pertama kalinya yaitu Bengkel Seni Yamuyaka.

Antara penciptaan karya seni dan usaha bagi kebutuhan hidup, seiring dalam perjalanan pengembangan organisasi. Sebagian karya cipta seni hanya untuk menuangkan ide dan gagasan, selebihnya hanya kepuasan bathin, begitulah jiwa seniman. Untuk kebutuhan dana dan pembiayaan, usaha reklame produk dagang berupa spanduk, cetak sablon berbagai atribut, billdboard maupun landskap taman, dekorasi, maupun kerajina seni kria, dijadikan sebagai sumber pendapatan baik untuk kepentingan ekonomi pribadi masing-masing anggota dan disisihkan buat pendanaan aktifitas program organisasi. 


  Persiapan Materi Seni Kerajinan menjelang keikut-sertaan BS.Yamuyaka pertama kali     
 pada Pameran Pembangunan Provinsi Maluku, Agustus 1984 (Foto Repro.Dok)

Bengkel Seni Yamuyaka, seiring waktu terus berkiprah dalam berbagai aktifitas kesenian di kota Ambon. Beragam prestasi dan partisipasi kreatif diukir dan tersematkan. Oleh (dulu) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Kotamadya Ambon dan Bidang Pembinaan Generasi Muda Depdikbud Provinsi Maluku menjadikan cara pengorganisasian yang kami praktekan sebagai model contoh terhadap pembinaan dan pengembangan Sanggar-sanggar seni, khususnya di kota Ambon dan Provinsi Maluku, saat itu.

Dalam kepengurusan organisasi tetap dengan hanya mengandalkan Anggota Tetap yang hanya dibatasi sebanyak 6(enam) orang, tidak pernah bertambah, kecuali berkurang, itupun tanpa penggantian dengan anggota baru. M. Donal adalah yang pertama menjadi Ketua, sementara saya sebagai Sekretaris, hingga kemudian M. Donald wafat pada tahun 1988.  Selanjutnya saya menjadi Ketua dan Cecen IR sebagai Sekretaris, hingga vakumnya aktifitas sejak dipenghujung tahun 1995 hingga saat ini, karena saya harus berpindah domisili untuk kegiatan usaha di Jakarta. Aktifitas rutin event akbar yaitu Festival Qasidah Walikota Cup pun berakhir, bersamaan dengan keputusan saya untuk diakhiri setelah penyelenggaraan festival yang ke – 10(sepuluh) pada tahun yang sama - 1995.

Bengkel Seni Yamuyaka untuk memaksimalkan kapasitas, maka diprogramkan agar lebih menitikberatkan kepada kualitas karya dan hasil pembinaan seni kepada peserta binaan dan dalam setiap partisipasinya di masyarakat.
Sebab maksud pembentukannya tidak hanya dikhususkan buat kepentingan kalangan anggota sendiri saja, tetapi diperuntukan buat siapapun secara luas di masyarakat.

Penonjolan pada pewadahan bersifat total seni yang representatif dan berbobotkan seni secara konstruktif  dalam pemahaman, matang dalam implementasi dan menghasilkan prestasi, serta untuk dapat ditampilkan ke publik. Hal ini  memungkinkan harapan terpatri pada hasilnya  dapat berkesinambungan untuk dilanjutkan generasi penerus berikutnya. Karena pada dasarnya, prinsip seni bukan untuk diri sendiri, sebaliknya diri sendiri atau siapapun selalu akan membutuhkan seni, sebagai pengasah kehalusan jiwa agar terbangun kepekaan dan tanggap terhadap nilai kebajikan untuk dipraktekan dalam kehidupan.


Festival Qasidah dan Para Tokoh

Sederet tokoh berperan serta secara kontinyu terjalin komunikasi yang akrab melalui perhatian dan pembinaan terhadap keberadaan Bengkel Seni Yamuyaka saat itu.

Untuk Piala Bergilir Walikota Cup yang terdiri dari (dua) buah piala untuk tingkat anak-anak dan Remaja atau umum. Pertama kali piala disumbangkan oleh Walikota Ambon Albert M. Purwaela dan piala bergilir kedua oleh Walikota Dicky Wattimena. Piala bergilir pertama tingkat remaja atau umum, dimatikan di SMAN II Ambon sebagai Juara Umum 3(tiga) kali berturut-turut, dan piala bergilir ke-2 berakhir ditangan Sanggar Seni Mayangsari Waehaong, berkenaan penghentian festival. Terdapat dua piala bergilir, masing-masing untuk katagori tingkat Remaja atau umum dan tingkat anak-anak. Piala bergilir tingkat anak-anak, belum pernah dijuarai 3(tiga)kali secara berturut-turut olh peserta group anak-anak selama berlangsungnya fetival, sehingga tidak pernah diganti. 

Selama penyelenggaraan festival, terdapat dua orang tokoh Sekretaris (Sekda) Kota Ambon, pertama Fatah Syah Doa dan kemudian Sekda Jop Tamtelahitu, mereka rutin dan tidak pernah absen sekalipun untuk hadir untuk membuka maupun menutup acara festival.

Peran luar biasa oleh Jan P. Mailoa Kepala Kantor Depdikbud Kota Ambon, dengan pembina tekhnis Kepala Seksi Kebudayaan Frans Lansamputty, yang langsung di lapangan dan sangat aktif rela membagi ilmu seni suara dan seni musik kepada para peserta Festival. Beliau begitu sabar dan rela menempuh perjalanan jauh, diwaktu siang dan malam hari, hanya untuk menemui para peserta di tempat latihannya masing-masing. Tulus membagi ilmunya, melakukan pelatihan singkat olah vokal, olah musik, keserasian irama musik dan lagu untuk keindahan bernyanyi, cara membaca notasi lagu, bahkan mengajarkan cara mengarang atau mencipta lagu Qasidah menggunakan partitur not angka.
Festival Qasidah Walikota Cup selama sepuluh kali atau sepuluh tahun penyelenggaraan (1985 – 1995), telah melahirkan begitu banyak pemusik, penyanyi, pencipta lagu, hingga berlanjut menjadi pelatih. Happy ending – nya, meneguhkan keyakinan dan kebanggaan diri bermusik Qasidah, dan menapaki karier scara berani dan pasti di dunia music umumnya, khususnya dikalangan generasi seniman musik Muslim di Kota Ambon.

Qasidah, jenis musik berlatar nuansa Muslim yang hanya dikhususkan sebagai media da’wah, dengan tifa rebana sebagai alat musik utama, sebelumnya hanya dimainkan asal-asalan dan tidak memuaskan untuk dinikmati sebagai sebuah persembahan seni musik dan seni suara. Kesan “musik kampungan” kental, sehingga jarang ada yang bangga.

Melalui cara dan sistem pengelolaan festival yang cerdas sebagaimana dipraktekan dan kembangkan Bengkel Seni Yamuyaka sebagai penyelenggara, mampu membawa musik Qasidah ke jenjang terhormat dan membanggakan, selain dapat lanjut positifnya menghasilkan begitu banyak bibit pemusik dan penyanyi Muslim Ambon. Kita sama tau, sebelumnya bukan apa-apa, karena memang tidak ada pembinaan lebih baik.

Sebagai media pembinaan, keterlibatan yang luas dan beragam dari peserta telah mencapai sasaran. Peserta tidak saja dari kalangan organisasi atau Sanggar seni, Taman Pengajian, Remaja Islam, Remaja Komplek, tetapi juga dari lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta di kota Ambon, seperti SMAN 1, 2, dan 3, SMA Muhammadiyah, SMA KCK dan lain-lain. SMAN 2 Ambon adalah yang paling sukses karena berhasil menjadikan piala bergilir pertama menetap di sekolahnya, karena 3(tiga) kali berturut-turut merebut Juara Umum.

Berlaku sejak tahun 1997, “gengsi” event festival makin dimantapkan dengan dimasukan secara resmi sebagai salah satu dari sejumlah mata lomba tetap dalam agenda kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun(HUT) Kota Ambon. Di malam puncak peringatan HUT Kota Ambon tahun tersebut di Lapangan Merdeka, Piala Bergilir Festival Qasidah Walikota Cup merupakan satu-satunya piala yang diserahkan oleh Walikota Ambon Dicky Wattimena, mewakili secara simbolis penyerahan piala-piala para juara dari puluhan mata lomba yang lain.

Tidak sia-sia hasil dari festival dimaksud, seniman nyanyi dan musik dari kalangan Ambon Muslim antara lain seperti Amir Palembang, Abuya Bahaweres, Ela Bin Umar, Lily Kari, Efendi Patty, Gatot P.Hallauw, hingga Onco A. Sopalauw, Jefri Banama, Edy Wakano, Bustamin, hingga Gabriel Attamimi. Adalah beberapa nama dari sekian banyak yang terbina, mahir dan besar oleh keberadaan panggung Festival Qasidah Walikota Cup. Terdapat beberapa orang peserta yang sejak anak-anak sudah  pernah mengikuti festival pada group tingkat anak-anak, dan ketika sudah berusia remaja atau dewasa, masih kembali melanjutkan menjadi peserta di group tingkat remaja.

Pada setiap tahun penyelenggaraan festival, selalu berganti personil kepanitiaan yang ditunjuk sebagai pelaksana oleh BS.Yamuyaka. Terdapat mantan Ketua Panitia Festival seperti Zainuddin Boy, sekarang adalah ketua DPRD Kabupaten Buru Selatan, sebelumnya Ketua DPRD Kabupaten Buru, juga Abdullah Marasabessy, sekarang anggota DPRD Provinsi Maluku, selain mantan Ketua Panitia yang lain, ada yang sebagai Dosen maupun sebagai pejabat dipemerintahan. Memang tidak dengan menjadi pelaksana event seni seperti itu, kemudian baru bisa menjadi sesuatu hari ini, hanya sekadar catatan sejarah perjalanan yang kebetulan pernah bersentuhan dengan aktifitas program pembinaan BS.Yamuyaka. Nilai plus-nya adalah menjadi salah satu cara lain dalam mematangkan kemampuan generasi masa depan, adalah memperluas ragam kiprah dengan tantangan berbeda untuk kematangan mental dan kemampuan kepemimpinan selanjutnya.

Apresiasi diberikan kepada mereka para tokoh, pelaku, dan penyelenggara, yang telah berjasa dalam melahirkan episode generasi musik Qasidah modern sebagai media pembinaan bakat dan prestasi, menjadi kebanggaan yang pantas ditampilkan untuk dinikmati sebagai sebuah tontonan karena keindahan musik dan suara indah penyanyinya, selain pesan bijak dalam syair-syairnya.

Kesan luar biasa yang tidak dapat dilupakan, adalah bahwa musik Qasidah yang adalah musik bernuansa Islami, mendapatkan dukungan partisipasi yang bernilai indahnya kesatuan dalam kemajemukan kehidupan bersama. Betapa tidak, para tokoh tersebut di atas, lebih khusus Frans Lansamputty, para pelatih Group dari SMAN 1, 2, SMA KCK, SMAN Lateri dan sebagian pelatih di group-group  Qasidah, sebagian pemain musik, dan penyanyi seperti dari SMAN 1 adalah beragama Nasrani.

Ada yang sempat mempertanyakan keterlibatan maupun keikutsertaan pelatih dan pemain dari bukan Muslim kepada BS.Yamuyaka, dijelaskan bahwa letakkanlah landasan pijak berpikir adalah sebagai media pembinaan dasar untuk mengembangkan bakat seni generasi muda Ambon. Intinya adalah wadah belajar, ajang berekspresi dan berkreasi dibidang seni musik dan seni suara, kebetulan saja bernuansa Islam. Tidak ada yang berbeda dengan belajar aliran musik lainnya, karena penyanyi atau pemusik dapat menampilkan dan atau memainkan aliran musik apapun, tanpa harus mengganti keyakinan agamanya, hal yang seharusnya demikian. Sumbangsih dan partisipasi tentu patut diapresiasi dan diingat, bahwa kemajuan yang dicapai dalam cara bernyanyi dan bermusik Qasidah di kota Ambon, ada  kontribusi perbaikan dari basudara Sarani(Saudara, beragama Kristen).
BS Yamuyaka telah menerobos sekat dan menjadikannya aula yang menghimpun dan menyatukan rasa dan membangun tekad kebersamaan dalam cara pembinaan bakat generasi muda di kota Ambon. Panggung disediakan secara berkala dan membebaskan dengan penataan cara dan aturan yang mengarah kepada sasaran peningkatan dan pencapaian hasil maksimal.

Dalam penyelenggara festival ke–10 tahun 1995, kepanitiaan ditunjuk dari salah satu organisasi seni dan budaya Cabang kota Ambon, hanya saja sangat disayangkan kemudian. Sebab oleh sang ketua panitia yang ternyata menggunakan keramaian festival untuk berkepentingan sepihak, yaitu ajang publikasi sebuah partai politik. Syahwat politik praktis dikontaminasikan dalam kegiatan festival termasuk untuk penentuan juara-juara. Festival terciderai, keluar dari rel makna luhur maksud awal yang telah lama terjaga dan terpelihara. Menjadi anti klimaks sekian waktu penyelenggaraan, maka sejak itu festival diputuskan berhenti, hingga saat ini.

Makna luas dari maksud penyelenggaran Festival Qasidah Walikota cup, bersifat multi guna dalam praktek cara pembinaan dan pengembangannya.  Ini adalah kerja pengorbanan, tetapi dapat secara tulus dilakukan dengan tanpa ada indikator kepentingan yang tidak berhubungan dengan semata pembinaan bakat dan prestasi generasi muda, khususnya seni musik Qasidah di kota Ambon. Mesti juga demikian menjadi contoh untuk bidang seni musik dan seni suara umumnya, dan untuk bidang yang lain.
  
 Menerima Piala Bergilir Walikota Cup, dari Sekretaris Daerah Kota Ambon  Jop. Tamtelahitu,
pada malam final Festival ke-5/1989 di Gedung Islamic Centre Ambon (Foto Repro.Dok)


Partisipasi dan Prestasi

Sidang Raya Dewan Gereja Indonesia (SR.DGI) X di kota Ambon tahun 1987, mengagendakan acara lomba lukis poster, dilaksanakan dberlokasi di halaman depan gedung Gereja Bethel Mardika Ambon. Peserta dibagi 3(tiga) orang per kelompok. BS.Yamuyaka dengan 6 (enam) orang saja anggota tetapnya menjadi 2(dua) kelompok, yaitu Yamuyaka I dan Yamuyaka II. Hasil akhir penilaian Juri lomba yang bertema “Yesus Kristus Kehidupan dunia”- sama dengan tema SR DGI X, yang diumumkan sore harinya di dalam ruang ibadah gereja Bethel.  Yamuyaka I dengan judul poster “Bersatulah Dalam TanganKu” sebagai Juara I dan Yamuyaka II dengan judul poster “Ikutlah di jalanKu” sebagai juara II. Lomba yang menoreh prestasi luar biasa, memberikan kesan indah. Betapa tidak, saat sebelum Pendeta memulai memimpin do’a setelah pengumuman juara  disore hari lombanya, sempat beliau berkomentar ; “Beta pung ana-ana Slam ternyata lebe mangarti katong pung tema Sidang Raya daipada ana-ana Srani”.

Bahwa hanya peserta dari BS.Yamuyaka memang yang Muslim dan bisa berhasil sebagai juara mengungguli puluhan kelompok lain. Tetapi sebenarnya sederhana jawabannya, letaknya ada pada kemampuan memahami makna tema lomba dan membedakan lukisan biasa dan lukisan poster.    Selain karena sehari sebelum lomba,  telah sempat keluar masuk beberapa Gereja dan bertemu dengan para Pendeta untuk bertanya dan berdiskusi tentang makna luas dari tema Sidang Raya yang juga menjadi tema lomba dimaksud. Hal itulah yang membedakan dengan peserta lain, bukan hanya kemampuan tekhnik melukis.

Masih dalam event yang sama – SR DGI X, oleh Walikota Ambon Albert Purwaela, BS.Yamuyaka, mendapat tugas “unik” yaitu membuat sebuah anak kunci dari besi seukuran tangan orang dewasa. Anak kunci tersebut disepuh atau dilapisi emas murni, dibuat
untuk diserahkan kepada Presiden Soeharto – beliau berhalangan hadir dan diwakili kalau tidak salah oleh Menteri Agama RI, saat tiba di Bandara Pattimura. Anak kunci dimaksud secara simbolis digunakan membuka Gerbang Maluku melalui Kota Ambon, sebagai penyelenggara acara Sidang Raya DGI X. Kami menyanggupi menyelesaikannya lalu diserahkan langsung kepada beliau di rumah kediaman Walikota di Batu Meja Ambon.

Saat ini, masyarakat sudah dapat menyaksikan dan memanfaatkan jembatan penghubung Teluk Ambon antara Galala – Poka/Rumahtiga, jembatan Merah Putih namanya. Impian yang mungkin sebelumnya belum terbayangkan atau dipikirkan orang lain, tetapi ternyata sudah dilukis sebelumnya dalam bentuk lukisan poster oleh pelukis BS Yamuyaka ;  Nano Suyatna. “Ambon di masa depan”, merupakan tema lomba lukis poster HUT Kota Ambon di tahun 1988. Lukisan tersebut memperoleh juara III dan dipamerkan si sepanjang pagar pembatas lapangan Merdeka Ambon bersama lukisan poster yang lain.
Suatu imajinsi brilian sang pelukis karena dapat menjangkau masa depan yang ternyata kemudian terbukti jembatan imajinernya sekarang telah terbangun. Lukisan dengan jembatan tersebut perspektifnya terlihat dari teluk dalam dengan latar belakang kota Ambon. Hanya saja dalam lukisan tersebut suasana jembatan terlihat sepi, terdapat bentangan ikatan pita dari samping ke samping tangan jembatan. Ketika oleh juri lomba dipertanyakan, kenapa tidak ada terlihat - dalam lukisan, kendaraan atau manusia yang lalu lalang. “Sebabnya jembatan belum diresmikan, belum pengguntingan pita”, jawab sang pelukis. Jawaban politis, karena yang bersangkutan sebenarnya berbohong hanya untuk menutup kelemahannya yang memang tidak bisa melukis manusia secara natural.  

Lomba lukis poster HUT Kota Ambon secara berturut-turut dari tahun 1987, 1988 dan 1989 BS Yamuyaka selalu menempati Juara pertama dan kedua. Sesuatu yang kemudian kami hentikan keikutsertaan di tahun-tahun berikutnya untuk memberikan kesempatan kepada yang lain bisa juga menjadi Juara.

Bersama Cecen IR dan saya, kami ditunjuk mengikuti Karyawisata Pameran Produksi Indonesia (PPI) 1985 di Jakarta, dengan status mewakili Maluku sebagai  Pemuda Berprestasi Mandiri. Selain itu saya sendiri terpilih sebagai peserta pria dan berpasangan dengan peserta wanita yang berasal dari Sekolah Tinggi Theologia(STT) GPM Ambon, kami berdua mewakili Maluku pada ajang Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional yang laksanakan di arena PPI. Kami berdua tidak mendapat juara, tetapi saya sendiri masih berhasil lolos masuk ke babak final.

Ide-ide kreatif selalu diciptakan oleh BS Yamuyaka saat itu. Kepada pemerintah kota Ambon, sumbangsih ide, pemikiran untuk memperindah kota Ambon diusulkan. Seperti usulan untuk membangun Pusat Kerajinan Rakyat Maluku di atas lahan Taman Victoria, guna menjual souvenir khas Maluku dan menjadi Taman Reakreasi masyarakat kota Ambon. Usul itu disampaikan di jaman Walikota Ambon Johanis Sudiono. Demikian juga dengan penempatan pot-pot kembang di trotoar jalanan dalam kota Ambon, ide original karya ciptanya berasal dari BS,Yamuyaka, yang diperuntukan untuk digunakan oleh Forum Komunikasi Karang Taruna(FKKT) Kota Ambon.

Karya cipta partisipasi yang lain, seperti kendaraan hias pawai pembangunan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia milik (dulu)Departemen Kesehatan Provinsi Maluku, 2(dua) kali berturut-turut menyabet juara I. Demikian juga mampu membuat maket atau miniatur Stasiun Penampungan BBM Indonesia Timur – Waiyame Ambon.

Oleh pemerintah kota Ambon, BS Yamuyaka pada di tahun 1987, juga diminta merancang monument tanda persahabatan antara kota Ambon (Indonesia) dan Darwin (Australia). Maka terciptalah aikon atau perlambang dengan model berupa patung Lumba-lumba(Aikon kota Ambon) menyatu bersama Kanguru(Aikon kota Darwin)”. Sebanyak 6(enam) buah rancangan gambar dihasilkan. Semua rancangan gambar diserahkan kepada pemerintah kota melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Entah kenapa, monument yang rencananya saat itu hendak dibangun di pertigaan (sekarang ; lampu lima) Hatiwe Kecil, tidak pernah berdiri hingga saat ini.


Prasasti Dan Koversi Pengabdian Seni

Bengkel Seni Yamuyaka, merupakan wadah berhimpun generasi kreatif yang melakukan sesuatu hanya berdasar inovasi untuk pengabdian membina bakat dan kreatifitas bagi orang lain, tanpa menonjolkan siapa-siapa dibaliknya. Hanya menampilkan apa yang diperbuat dan dipersembahkan, tanpa harus mengenalkan kreatornya. 

Kemampuan seni yang dimiliki, lebih pada ketekunan belajar secara otodidak, sehingga usaha luar biasa dilakukan oleh personil BS Yamuyaka dengan mencari dan menghimpun pengetahuan melalui buku-buku seni, berita dan tulisan tentang beragam bidang seni pada koran dan majalah. Menghimpun katalog pameran-pameran lukisan pelukis nasional dan intrnasional, berkorespondensi dengan berbagai seniman besar Indonesia, antara lain A.D.Pirous, para pelukis alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta (untuk pelukis), W.S. Rendra, Putu Arya Tirtawirya, Diah Hadaning, Sutarji C. Bahri(untuk sastera). Berlangganan Majalah Sastera Horizon.

Belajar kepada senimana lokal pun dilakukan, seperti pelukis yang juga sastrawan Ibrahim Indah, pelukis dan pembina pelukis muda Maluku pada Musium Siwalima Ambon ; Lambert Yoseph. Sejarah dan perkembangan kesusasteraan di Maluku seperti karya puisi dan sejarah dari 2(dua) pujangga Maluku, Dominggus W. Syaranamual dan Luck Wairata, juga dipelajari dan dikaji, ditulis dalam Buletin Sastera Tanase.

Bidang seni lukis adalah salah satu dari bidang seni lainnya yang ditekuni dan dikembangkan BS Yamuyaka. Selain itu bidang kesusasteraan, rutin penciptaan puisi maupun cerpen, sebagian pernah dimuat dimedia nasional seperti koran Kompas minggu, koran Shimponi, majalah Sahabat Pena untuk karya cipta puisi, dan majalah remaja Anita dan majalah Kumpulan Cerpen, untuk cerita pendek(Cerpen).

BS Yamuyaka secara rutin antara satu hingga dua bulan sekali penerbitkan Buletin Sastera Tanase, sebagai media komunikasi dan publikasi karya sastera antara sesama anggota se-Indonesia atau Nusantara, yang tergabung dalam jaringan lembaga Himpunan Penulis Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N). Buletin sederhana yang dibuat dengan mesin ketik manual dan diperbanyak dengan cara difoto-copy. Arsip terbitan Buletin Sastera Tanase masih dapat ditemui hingga saat ini di Pusat Dokumentasi Sastera H.B Yasin Taman Ismail Marzuki, Cikini – Jakarta.

Semua itu dilakukan secara terencana agar bisa mengetahui dan memahami perkembangan seni secara nasional maupun daerah Maluku sendiri.

Pengabdian terhadap pengembangan seni, secara lebih lanjut kemudian dikonversikan menjadi keahlian untuk menjalani dan mengembangkan usaha ekonomi produktif. Keahlian dan ketrampilan yang secara kreatifitas dan bahkan bernilai ekonomi, sebelumnya sebagai putra-putra Maluku masih jarang atau enggan menekuni bidang yang berhubungan dengan profesi ”belepotan cat” atau “berkotor-kotor ria”, padahal nyatanya menjadi rejeki bagi orang lain yang datang dari luar Provinsi Maluku. 


Pengerjaan Billboard Reklame Minuman ,tahun 1991(foto Repro. Dok)


Konversi dari penguasaan seni lukis atau menggambar, pengembangannya dengan melalui penguasaan tekhnik pembuatan reklame billboard, tekhnik cetak sablon, spanduk dan seni kerajinan lainnya. Semua usaha peningkatan pengetahuan, kemampuan maupun keahlian dilakukan secara sungguh-sungguh sehingga mampu mengadopsi dan menguasainya. Selanjutnya ditekuni sebagai usaha untuk mendapatkan penghasilan guna kebutuhan ekonomi masing-masing anggota. selanjutnya diajarkan kepada anggota binaan.

Demikian catatan aktifitas, peristiwa, yang pernah dilakukan dan ditekuni. Disampaikan ke publik untuk diingat kembali sebagai sesuatu yang bernilai motivasi dan inspirasi, khususnya bagi generasi muda dan masyarakat kota Ambon di masa kini.
Detailnya mungkin tidak tersampaikan secara lengkap karena ditulis secara tulisan lepas, sehingga bisa saja ada yang terlewati, atau bahkan terlupakan. Sejatinya inilah sepenggal ceritera apa adanya oleh yang mampu pernah diperbuat, setidaknya agar tak lekang oleh waktu dan tidak sampai terhapus dari kenangan masa.

Bengkel Seni Yamuyaka, menjadi bagian dari catatan sejarah perkembangan seni dan kontribusinya dapat dijadikan sebagai motivasi mengembangkan aktifitas seni yang lebih baik lagi. Biarlah yang tinggal hanya sejarahnya, paling tidak ada sebentuk monumen dalam catatan singkat kreatifitas, inovasi, karya, prestasi, dan partisipasi bagi dunia kesenian.

Catatan ini sebentuk sumbangan motivasi terhadap cara mengasah kemampuan generasi muda, dalam menterjemahkan masanya agar lebih bermakna dan bernilai lebih baik lagi. Dan kisah tentang Bengkel Seni Yang Muda Yang Berkarya mungkin telah berakhir, atau akan berlanjut dengan kisah baru bersama wajah yang lain.

Di haribaan kenangan, biarlah Bengkel Seni Yang Muda Yang Berkarya bersemayam dengan cerita manis dari karya indah prasasti sejarah seni dari suatu kurun waktu, terhadap pembinaan dan pengembangan bakat seni generasi muda yang pernah ada di kota Ambon - manise.

Ditulis di ; Kota Depok, 03 April 2016


                                                                                                 Muhammad Thaha Pattiiha )*

------------------------------------------------------------------
)* Mantan Ketua Bengkel Seni YAMUYAKA
Catatan :
-   Tulisan ini semata mengandalkan daya ingat.
Sebab sumber dokumentasi data, catatan, dan foto,

telah lenyap pada peristiwa Tragedi Maluku 1999.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini