Selasa, 14 Maret 2017

MANUSIA ; KELAHIRAN DAN KEHIDUPANNYA


          Kelahiran seorang manusia siapapun dan hingga kapanpun ke dunia, slain karena ditakdirkan oleh Tuhan untuk terlahir, pada dasarnya tidak dapat ditentukan sendiri oleh yang terlahirkan. Seseorang yang terlahir tidak dapat memilih dan menentukan, dari siapa, di mana, manusia yang bersangkutan akan terlahirkan. Adanya ketika sudah terlahirkan, demikianlah keberadaan dan keadaan itulah yang ditemui, dihadapi dan akan dijalani dalam perjalan kehidupannya di dunia, yang secara nyata ditemui serta dialami.

Kita sebagai manusia, sebagaimana makhluk dunia lainnya, terlahir karena telah ditakdirkan – menurut keyakinan keagamaan, kemudian hanya boleh menjalani dan meneruskan posisi kehidupannya apa adanya. Karena ketiadaan pilihan sebelum kelahiran ke dunia, maka tentu tidak mungkin memilih tidak untuk tidak menjalani apapun kehidupan nyata yang ditemui dan akan dijalani nantinya.

Dalam hal ketiadaan pilihan, manusia siapapun secara alami akan mengikuti bawaan lingkungan dimana dan dengan siapa, seperti apa akan dialami dan dijalani selanjutnya. Berarti setiap manusia dituntuk untuk kemudian melakukan penyesuaian untuk menyatu dalam lingkungan, komunitas dan keadaan bagaimanapun. Dikatakan terpaksa, juga tidak, tetapi kenyataan karena sebelum itu memang tidak dapat memilih untuk menentukan keberadaannya untuk berada di dunia.

Ketidak-berdayaan manusia dari kelahirannya terbatas kesempurnaannya, dengan tidak bisa memilih menjadi laki-laki atau perempuan, oleh orang tua atau ayah dan ibu seperti apa, di mana harus dilahirkan, berada pada suku-bangsa atau negara apa, ras atau warna kulit. Begitu juga  dengan keinginan-keinginan lainnya, tidak tersedia untuk itu. Selain berada pada kenyataan menerima seperti apa adanya sebagaimana ditemui saat terlahir ke dunia.

Dunia manusia adalah planet bumi yang menjadi tempat keberadaan kehidupannya. Tidak lebih luas bila dibandingkan dengan planet lain, dan luasnya alam semesta yang tersedia dan terlihat. Bumi sebagai lingkungan kehidupan manusia, menampung setiap kelahiran manusia sejak semula hingga saat ini. Di planet lain di alam raya, mungkin juga manusia dapat menjangkau dan menjalani kehidupan di sana, tetapi itu masih menjadi impian manusia, entah nantinya bisa atau tidak, masih dalam pemikiran dan usaha oleh manusia.

Sifat dasar hidup kemanusiaan manusia di bumi sebagai lingkungan kehidupan, telah terbentuk dengan berbagai hal yang terjadi berupa kebaikan dan keburukan, silih berganti atau masih sedang berlangsung. Persamaan dan perbedaan, kebersamaan dan pembedaan, keberagaman dan keseragaman, penyatuan dan perceraian, bermusuhan dan berdamai, penyambungan dan pemutusan, saling suka atau benci, bersama atau sendiri, atau siklus alami kehidupan, yaitu kelahiran dan kematian. Beragam sifat dan keadaan yang merupakan kenyataan terjadi dan dijalani di dalam kehidupan yang bukan saja terjadi pada manusia, tetapi juga seisi alam raya. Hanya saja dikecualikan kepada manusia, karena unggul secara kodrat oleh kesempurnaannya karena memiliki akal sebagai alat berpikir, tidak hanya naluri sebagaimana makhluk hidup lainnya.

Manusia unggul secara akal dan naluri, sehingga mampu melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Mampu berpikir mendahului suatu tindakan dan akibatnya. Sudah bisa memperkirakan target dengan melalui suatu  perencanaan sejak awal tentang sesuatu yang akan dilakukan. Hasil yang diinginkan bisa baik atau buruk, untung atau rugi, kalah atau menang, menjadi dasar berpikir serta keinginan tindakan suatu kehendak. Tentu yang terbaik yang diharapkan, tetapi juga porsi terburuk bisa juga diinginkan karena prihal alasan sesuatu itu.

Antara satu manusia dengan manusia yang lain, karena ketidak-samaan berdasarkan asal-usul kelahirannya dan kemudian dengan sejarah perjalanan kehidupannya, perubahan, pembentukan, dan kenyataan kekiniannya, akan selalu berbeda secara fisik dan mentalnya. Sebaliknya kebutuhan akan kepentingan keterkaitan dan ketergantungan diantara sesama manusia, menjadi sifat persamaan yang menghubungkan dan menyatukan perbedaan.

Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, tidak ada kehidupan yang sempurna karena terpisah secara sengaja, tanpa kebersamaan dalam keberagaman dan perbedaan yang disatukan. Ketergantungan selalu hadir disaat kapanpun untuk hal apapun, terhadap kebutuhan pada orang lain guna menyempurnakan hidup sendiri atau kehidupan bersama. Bahkan terhadap makhluk hidup lain dan lingkungan alam kehidupan, saling bergantung dan sama-sama membutuhkan keterkaitan untuk memenuhi hasrat dan kekurangan masing-masing.

Kita manusia, lahir dalam kesendirian, lalu menjalani hidup kemudian nyatanya ada dengan orang lain, karena kita memang butuh atau dibutuhkan orang lain. Kebutuhan, beban, dan tanggungjawab dalam hidup dan selama menjalai kehidupan, yang mengharuskan kita tidak selalu mampu menghadapi dan menyelesaikannya sendiri, selain dengan bantuan orang lain atau sesuatu selain kita. 

Kesempurnaan kehidupan dengan hanya menjalani kesendirian hidup dengan kemampuan sendiri, adalah kemustahilan yang pasti dan melawan kodrat kehidupan makhluk hidup umumnya dan keberadaan manusia khususnya, walaupun manusia sesungguhnya telah sempurna sejak dilahirkan dan berada pada tempat dan situasi bagaimanapun. Sempurna dengan adanya akal, tetapi bila tidak mampu secara bijak menggunakannya untuk berpikir sempurna pula, hanya akan menghadirkan keburukan bagi diri sendiri, berdampak kepada orang lain, serta berbahaya bagi lingkungan kehidupan yang lebih luas.

Akal bagi manusia adalah anugerah kekayaan tidak ternilai yang membedakan dengan makhluk hidup seperti hewan. Hewan hanya memiliki naluri, ketika lebih bijak hidupnya, maka manusia harusnya lebih setingkat di bawahnya.



Depok, 10 Pebruari 2017

Muhammad Thaha Patttiha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini