Alifuru Supamaraina: CATATAN - Kumpulan Puisi (II)

Friday, February 23, 2018

CATATAN - Kumpulan Puisi (II)


Waktuku Dalam Catatan

menatap pada waktu yang terus merambat
mengingatkan saat penghujung yang maya
dengan segala yang ada dan tiada
sebelum dan sesudah tidak pernah bisa terukur
untuk memastikannya pun hanya ilusi

sudah begitu baik tersedia dan diijinkan
dijalani dan menyaksikan dibatas mampu
bisa menggapai yang tak terkira
sebagai keindahan catatan dalam ingatan
tentang apapun siapapun diwaktu kapanpun

hidup memang mistis dalam khayal
biarlah kepasrahan merangkum segalanya
dalam cerita dari kisah yang ditulis
karena sesuatu selalu bermula dan berakhir
selamanya ada pada genggaman usia


04.48, 0062016, Cilodong-Depok







Catatan Hari

keramaian memungut begitu banyak roman
yang diramu kedunguan hiruk pikuk langgam alam
guman suasana alam
yang bisu di kedalaman misteri
dengan suasana yang terbungus
lembaran keabu-abuan
harapan menyentuh pikiran dan
bergantung begitu saja
selaksa asa digores warna warni di dinding horizon
berbagi imbang akhir dan awal menjemput masa
bagai musim menerbangkan
daun-daun layu dan tua
memunculkan pucuk baru
mengiring langkah menggiring arah
mengurai bayu kepastian dengan temaram
ada yang tertinggal karena msti dilewati
banyak yang tidak tergapai
tapi tidak harus disesali



Catatan Hari (II)

langkah waktu lanjut menapak
lorong zaman menawar bimbang
pada wajah wajah yang berharap
memahat guratan asa bertahun
untuk memaqtri simpul yang lepas

kita terbangun seperti biasa
sekarang hari ini dan besok
masih menemui siang dan malam
kadang buram dalam meramunya

apalah kita di pusaran takdir
hak tuhan menciptakan
bumi manusia
hanya memaknainya





Catatan

aku menulisnya dalam bahasa puisi
kalimat jiwa yang membebani benak selama ini
itu terjadi pada rerumputan yang mengajak diam
saat segalanya tidak lagi mampu mengantar gelorah
kita telah kembali dengan bisu
saat engkau memulai berharap lagi
aku terdiam dalam catatanmu
tak lagi ada alasan mencari makna
dalam jejak yang ditoreh di buku harian
tentang hati yang menanti untuk disentuh
sayangnya tidak dalam takdir yang sama





Catatan (II)

aku akan selalu menunggumu
seperti tahun tahun yang lalu
terjaga untuk menjaga mimpimu tidak terganggu
anggap itu baktiku buat cintamu
sebagai catatan persembahan
kebersamaan melewati tahapan masa
lelaplah untuk mengurai bebanmu
dan menidurkan lelahmu
tenggelamkan ke dalam kebaikan sekujur jiwa
yang masih belum seluruh kupahami
aku masih saja terjaga
bersama kisah dilangit khayalku
untuk mengurai warna awan
di jendela malam
sambil membagi ruang
guna rebahkan garis waktu

menyisipkan sebagian asa sebisa yang ku bisa
bukan biasa tetapi kadang perlu dijalani
untuk membanding cara
merapikan hari hari yang kusut
menata lebih santun alur tapak
berharap kembali berkabar indah
disaat kau terbangun




Catatan Waktu

saatnya mengurai, menakar lalu menghitung
semua yang dilewati, tersapu, dilangkahi
sebagian tercatat pada prasasti masa
selebihnya mungkin rapuh untuk dibentuk lagi
biarkan semua yang berlalu tak kembali
hidup tidak selalu mudah dengan kebaikan
tidak juga sulit karena kalah
serba mungkin ketika bisa digapai
kadang tersendat saat kesempatan hilang
meski dapat digenggam untuk sebagian
setidaknya itulah pencapaian yang diraih
bukan semata apa adanya tetapi dengan yang ada
adalah anugerah untuk disyukuri
tanpa melepas impian-impian sederhana
tentang ketulusan berbagi
untuk ditulis dalam ingatan
dan dipatuhi sebagai kebajikan
hidangkan walau sepotong pesan bijak
sebagai monumen
untuk jadi catatan hati dalam memori masa
karena waktu berbatas takdir pada kurun usia
maka hidup mesti dihidupkan
dengan bingkai kenangan
bersama cinta yang menabur keindahan
sejujurnya bagi kehidupan
selagi sempat memahatnya didimensi waktu

manis, pahit, getir
hanya ukuran sederhana dibatas rasa
menjalaninya sebagai tapak emas bisa juga karang terjal

adalah catatan langkah yang kadang nyata kadang ilusi
antara keinginan dan kenyataan bedanya pada impian

sejatinya hidup sebatas garis yang dilalui
tidak selalu dipastikan terkira untuk diukur
maka biarkan kehidupan bebas menata jalur
agar hidup tidak menjadi beban untuk dijalani




                                                           --------------------- foto latar ; dokumentasi pribadi




No comments:

Post a Comment