Sabtu, 24 Februari 2018

MOZAIK WAKTU - Kumpulan Puisi (III)




Mozaik Waktu
 
jangan berdebat lagi itu mengulang tangis
lembutkan sayatan guna hadirkan teduh
diujung keluh berbisiklah selama bisa
lepaslah bila masih menggantung paksa
jatuhkan dengan nyanyian jiwa 
agar dipeluk raga
 
tenggelamkan ragu dengan suara puitis
yakin tidak terbuang karena sudah terkisah
 
kenapa malam disuasana sepi masih tanya
bertanya bilakah setelah saling sepakat
 
rebahkan retak puing agar tidak merenung
mencarikan lagi awal sebelum ada janji
titiknya membelunggu kadar bening
setara warna kilau buih dikegelapan
berpindah menyapu malam
 
memohon harap terbawa angin utara
menata kembali keping memori yang kembali
 
Januari 2017




Cinta

cinta tidak selamanya
untuk dimiliki
tetapi tidak juga bisa
dirasionalkan
karena perasaan
tidak bisa direkayasa
apalagi dipaksa
sebaliknya jodoh
adalah kenyataan
dijalani sebagai takdir
temukan kebahagiaan
dari sisi yang berbeda
padukan bersama romantisme
masa lalumu
sebatas pikiran




Lorong Waktu

dilembar hari
yang memenuhi benak
beragam galau
bak tong sampah
sulit terurai oleh
mesin waktu
sedang lamunan
menyajikan betapa
ketiadaan
masih mengusung
kehampaan




RASA DI RELUNG WAKTU

Di ujung lidah rasa itu mengambang
Bukan biasa yang selalu dinikmati
Memang sulit menentukan ukuran dan kadar
Karena selalu dengan kebiasaan yang hanya mengira

Lama dalam waktu yang bertahun sudah
Kita menaruh kebersamaan masih bertepi
Menganggap segala telah menyatu hanya bayang
Lalu berlalu mengiring waktu waktu yang dilewati

Cilodong-Depok ; 02.27,20062916




DUNIA MAYA

rana maya tidak berbatas ruang dan waktu
memuat ragam peluang dengan selaksa makna
dari ceritera manusia kala  berkisah
makin sibuk bertafsir

menata urusan dengan menyusun rencana
mengikuti godaan asa dan mimpi-mimpi
pada era berkabar maya tidak terkira

dengan beningnya jiwa
tidak juga menghapus gejolak pikir
akan ketakutan-ketakutan
tentang hari esok yang maya

matahati sepertinya kian memuai
menjadikan warna apapun berubah
sepi dari keindahan
terburai dalam badai ambisi
bersama sepinya keinginan berbagi
terburu-buru menangkap apapun
buruan di sabana gurun
sedapat apapun harus tidak disisakan
hingga dunia maya pun
terasa mulai sempit

06/08/2016




Berdamai Dengan Malam


katakan apapun
dan buatlah menjadi racun 
dengan marahmu yang tak tentu arah 
mungkin persinggahan saat menarik napas 
bisa mengulur waktu untuk berpikir bening 
bahwa apapun itu hanya khayal 
bakal pupus bersama emosi 
saat sama sedang terdiam 
kita bisa saling membaca 
karena jarak tak terpisahkan 
meski berulang seperti biasanya 
selalu akan ditelan malam 
diam di haribaan mimpimu

depok 20022016






























MENUJU PAPUA

yang pertama menuju papua
menumpangi kapal besar bermuatan
manusia, barang dan harapan

teluk ambon menebar pesona sepi
tanjung alang mendekatkan karangnya
pada lebamnya khayal
sambil menambang suasana
yang tak mudah untuk hati
pada perjalanan melayari bathin

di anjungan berusaha menebar pandang
luas melebar pada laut yang diam
arus yang bersahabat dengan cuaca
matahari siang tengadah menuju senja
di bagian timur pulau manipa yang membelah
antara gelorah yang mestinya tak berkabung

pergi untuk kembali menandai kasih
buat adinda yang tak lagi pernah bersua
menemui pusara yang selalu menggantung rasa

biarlah ini yang pertama dan mungkin terakhir
bukan bagian dari pikir yang merana
oleh jarak dan usia yang terus berlari

masih dengan malam membangun bathin
kapal terus melaju arah utara
punggungi pulau alifuru bernama seram
dek dua tengah no 116 depan toilet wanita
suara musik dangdut dan tangis bocah
menyatu bersama bau pesing dan debu rokok

00.44 waktu timur indonesia 11 november 2015
 suara laut di dinding kapal mengalirkan buih
merebahkan malam yang kian pulas
menata jemari membelai sepi
menuliskan kisah sambil berharap
bisa kembali lagi di suatu waktu


KM.Gunng Dempo 11/11/2015, 00.51






 Hanya Daun Kering

lembutnya bayu
mengibas
dedaunan rontok
entah di mana kira
berakhgir terpeluk bumi
hanya sedikit yang menoleh
tidak banyak yang peduli


depok, 07082015






ANAK-ANAK SAHUR

Bunyi dari suara-suara dengan irama tanpa rasa
Selalu disetiap menjelang waktu sahur
Te’h ika te’h dewi ayo kota sahur
Hanya dua nama dari tiga halaman penghuni
Sudah bertahun-tahun syair itu tidak berubah

Berbaris dengan kaleng dan galon air isi ulang
Selalu di setiap ramadhan bulan berpuasa
Belum berganti dominasi suara koor yang asal
Mereka anak-anak yang masih tumbuh seiring masa

Terasa butuh bila keributan itu belum muncul
Di balik pagar gang niman kampung bendungan


03.05, 20062016, Cilodong-Depok





indonesia

indonesia, adalah matahari pagi yang cerah
bening sesejuk embun mengbangunkan hari

indonesia, adalah dunia kecil di bola bumi
selaksa impian menggantung
di mega cakrawala

indonesia, adalah selaksa angan
yang menghimpun cita dan sejuta rasa
tidak hanya sebatas horizon di ujung pandang

indonesia, lahir dari beragam karya monumental
bersama cucuran darah dan keringat
jiwa dan nyawa-nyawa yang melayang
alam dan kekayaan
agama dan keyakinan
bunga dan airmata

indonesia, kugenggam cita-cita di hari kemerdekaan
kukibarkan selembar puisi kebebasan
pada pundak hari
kuletakkan harapan
sampai di mana aku mesti bermimpi
seperti mimpi para pejuang merah putih
yang dibumikan berbutir-butir peluruh musuh

indonesia, di ujung senja negeriku sabang
kutangkap fajar merauke
dengan matahari sanggupkah kau
bangunkan bumi pertiwi
halau awan hitam gantikan dengan bunyi seruling
untuk meninabobokan anak-anak negeri
agar esok menjadi milik siapapun
semua anak negeri merdeka

indonesia, tanah merdeka







Kata-kata

mengatakanpun harus memilih kata
mendiamkan adalah pilihan 
untuk tidak mengatakannya 
setelah riak mendayung mengurai musim 
kadang sesak menumpuk untuk diurai 
perlahan mendendam tersimpan rapi 
lalu menebarkan wangi sepi 
dikejar waktu yang terus menurun 
menapaki lereng hingga tapak melemah 
dan tidak pernah berkata lagi 
biarkan kata membangun sendiri mimpi-mimpi





kematian adalah keniscayaan
nyata ketika dihadapkan pada
ketidak perharapan
dan kadang kita disadarkan
bahwa hidup hanya kesia-siaan
untuk menakar keyakinan
mengukur kesiapan
menghadapi - Nya





Masa

segelas kopi meneriakkan
malam yang basah
udara lembab menebarkan
aroma pula
bermimpi tentang matahari
dan bulan dalam dekapan
bumi menambatkan pergiliran waktu
bagi makhluknya yang terus berlari
bahkan menapaki gelap seakan
siang tak akan ada lagi

sepertinya musim apapun
hanya pergeseran masa
bersama catatan sejarang yang
tidak pernah akan berhenti


Cilodong Depok 09052015



Pada Akhirnya

roboh
kering
tandus
sendiri
sepi
........

berakhir







ROKOK ITU

Batang racun menjadi potongan-potongan
Pada wadah yang penuh debu dan itu sampah
Sepertinya sadar dalam keburukan yang parah

Dalam sehari berapa yang lenyap terbakar
Hanya buat meretas waktu yang sulit dikonversikan
Buat ukuran-ukuran rasional searah hasilnya
Sepertinya hanya menjadi mainan bibir
Sulit memastikan makna gunanya


02.45,20062016, Cilodong-Depok.






Sabtu

Hari yang setiap waktu 
diakhir pekan 
dalam seminggu putaran malam
kembali ke siang dipergilirkan
seperti roda
ketetapan yang tetap

tepat hingga kapanpun
dalam umur setiap manusia
yang tidak tentu
kapan berakhir
siapa pun hanya mampu menghitung
mengikuti perjalanan waktu
tanpa kuasa menghentikannya

09052015 Cilodong Depok





Yang Terlupakan

Sepi
kata jimat untuk mengungkap ketiadaan
dalam harapan harusnya tidak
bagi sebuah peristiwa istimewa
berbaik sangka pada lupa
agar jiwa tidak merana
dan pikiran tetap bening meraba
memaknai galauanya rasa
agar membantu mengibiri prasangka
yang menggoda dalam relung dilema

benarkah itu terlewatkan sangat
oleh waktu-waktu penuh beban
untukmu karena untukku
biarlah, lupakan saja


03.27, 22062016, Cilodong Depok




-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Newsletter

Cari Blog Ini