Alifuru Supamaraina: BLOK MASELA (Abadi LNG Project) DAN PRAHARA KUDA TROYA

Friday, December 20, 2019

BLOK MASELA (Abadi LNG Project) DAN PRAHARA KUDA TROYA

Oleh ; M. Thaha Pattiiha
(Bagian Pertama)
BLOK MASELA (Abadi LNG Project)  DAN PRAHARA KUDA TROYA
BLOK MASELA DAN PRAHARA KUDA TROYA
(Abadi LNG Project)
Ilustrasi dari sumber;  Het Paard van Troje, Giovanni Domenico Tiepolo, 1773 & Paard van Troje op een Middeleeuws Manuscript, Historiek.net/INPEX/SKK Migas/Kemen.ESDM.(Infografis; mth_@embun01/2019)

Prolog
          Bila hendak berandai-andai, mungkin saja sebidang wilayah – yang dikhayalkan, tentang “taman surga” yang dinampakkan Tuhan – Allah, di muka bumi adalah kepulauan Maluku. Taman indah yang sempurna untuk menikmati kebahagiaan hidup, dengan ketersediaan beragam impian yang dibutuhkan. Anugerah tak ternilai dari tanah, air, udara, lengkap dengan isi alamnya, itu ada di Maluku. Wilayah bumi yang pernah dikenal sebagai The Spice Islands, yang telah merubah kehidupan dunia menjadi era baru hingga seperti saat ini. Maluku, entah sampai kapan bisa lepas dari sebab yang menjadi alasan umat manusia dari berbagai belahan bumi - dengan beragam cara, saling bersaing berebut untuk menguasainya. Kiasan dari kisah dan sejarah posisi Maluku yang tersurat dan tersirat, sebagai catatan ketika menakar perjalanan megah_proyek pertambangan gas alam Abadi di Blok Masela. Baik atau buruk dampak kehadirannya relatif ukuran penilaiannya, tetapi  - sebagai Orang Maluku, menarik untuk terus diamati, dikaji, dikritisi, agar bisa diantisipasi. “Prahara (Kuda)Troya" sebagai rujukan membedah fenomena “trik” berbagai pihak di proyek Blok Masela. Satu – lagi, dari berbagai sumber daya alam Maluku yang akan dikuras, sementara Orang(pribumi) Maluku masih saja belum juga menikmati indah dan manisnya anugerah kekayaan taman surgawi hak-milik-nya.

Prahara Kuda Troya

          Membaca narasi waktu dan batang tubuh utuh rangkaian sejarah perjalanan megah-proyek energi gas alam cair – LNG - Liquified Natural Gas, Lapangan Abadi Blok Masela, memunculkan pernik-pernik pertimbangan rasio yang menggugah alam sadar. Makin menarik ketika mendalaminya, terbaca seperti sedang dipraktekkan ulang – mencontoh, episode dari sejarah konflik – ada yang menganggap hanya mitos atau campuran antara keduanya, dari masa lalu di lebih dari satu abad Sebelum Masehi(SM). Mungkin saja termasuk katagori history believed – satu dari tiga jenis sejarah, menurut Bernard Lewis - sejarawan Amerika, yaitu sejarah yang umumnya diyakini di kalangan masyarakat tertentu, bisa benar tetapi bisa juga hanya sebuah mitos. Suatu prahara dalam sejarah kehidupan manusia modern. Peristiwa konflik yang memunculkan istilah Kuda Troya yang kini melegenda, sebagai ungkapan sinisme atas perilaku akal-akalan manusia yang dipraktekkan guna efektifitas taktik dan strategi memenangkan kepentingannya.

Istilah “Kuda Troya” muncul dari taktik dan strategi saat Perang Troya, yang merupakan sebuah epos dalam Mitologi Yunani kuno. Diperkirakan terjadi menjelang pertengahan abad 13 SM – bukti aerkolog menerangkan terjadi di akhir abad 12 SM. Konflik berawal dari urusan cinta antara raja kerajaan Mycenae – Yunani, dengan pangeran dari kerajaan Troya - nama Yunani kuno disebut Ilios atau Ilion, terjadi di periode zaman Perunggu. Perang yang telah mengilhami para penulis zaman Yunani kuno, dari Homer, Herodotus, dan Sophocles hingga Virgil.

Kisah perang yang diangkat dari budaya tutur atau tradisi lisan – oral story, orang Yunani kuno, kemudian untuk pertama kali ditulis Homer dalam “Iliad” - sekitar 762 SM, dan lanjutannya pada karyanya “Odyssey” - 725 SM. Ditulis Homer 470-an tahun perkiraan setelah peristiwa konflik berlangsung. Mengisahkan konflik akibat perselingkuhan cinta dalam rumah tangga raja Mycenae, dianggap menjadi sebab tumbulnya peperangan dan pengepungan benteng kota Troya kerajaan Troya selama 10(sepuluh) tahun oleh ribuan pasukan yang melibatkan puluhan kerajaan di Yunani. Sampai akhirnya, sebuah “kuda kayu” (Δούρειος Ἵππος, Doúreios Híppos, dalam dialek Yunani Ionia), menjadi sebab pasukan Trojan dapat dikalahkan – habis dibantai, di dalam benteng pertahanannya sendiri, dan kerajaan Troya berhasil dihancurkan dan ditaklukkan oleh pasukan Yunani. Kisah yang pada abad terakhir SM, dinarasikan ulang dalam “Aeneidoleh Virgil – dianggap karya puisi epik klasik terbesar ketiga. Namun demikian ada anggapan dari pengamat sejarah dunia, banyak bagian dari epik Perang Troya yang sulit dibaca secara historis.

Penulis meragukan peristiwa perselingkuhan bukan rekayasa jebakan oleh Odysseus, yang sebelumnya sudah direncanakan bersama Menelaus. Odysseus dikenal sangat cerdas dalam berdiplomasi, serta pandai dalam hal menyusun taktik dan strategi dengan cara tipu muslihat. Jebakan direkayasa, agar dapat dijadikan alasan menyerang dan menaklukkan kerajaan Troya. Bagaimana mungkin puluhan ribu anggota pasukan Yunani yang dikumpulkan dari puluhan kerajaan beserta seribu lebih kapal, hanya bermaksud membebaskan seorang Helena dengan cara kekerasan – peperangan. Mengapa bukan menggunakan jalur diplomatik untuk negosiasi sebagai cara damai, Odysseus mampu sebagai dutanya. Bukankah terbalik anggapan, bukan kecemburuan  atau sakit hati Menelaus kepada Paris. Lebih dari itu – peselingkuhan, tujuan utama adalah untuk menghancurkan kejayaan kerajaan Troya, yang nampaknya disudah lebih maju dan makmur dari kerajaan-kerajaan di wilayah Yunani.

Bukti arkeologi dari situs kerajaan Troya yang digali dan diteliti pada tahun 1870 di bawah arahan arkeolog Jerman Heinrich Schliemann. Troya sebagai kota Zaman Perunggu yang sudah sangat maju dan tertata baik, ditunjukan dengan dengan kokoh dan indahnya benteng, istana dan bangunan administrasi kerajaan Troya. Setelah Troya runtuh – Arkeolog menandai waktunya 1.180 SM, kemudian diduduki dan dibangun kembali oleh Yunani dan berlanjut ke zaman Romawi hingga Ottoman. Wilayah yang sangat strategis, jembatan penghubung laulintas perdagangan – ekonomi, Eropa dan Asia, selain wilayah antara – jembatan, dalam sejarah politik penaklukkan dan perluasan kekuasaan selama ribuan tahun.

Helen hanya umpan – modus, menjebak pangeran Paris dari Troya yang berulang berkunjung ke Sparta. Paris dan Helena dibiarkan di istana Sparta, sementara Menelaus sengaja pergi ke Kreta, yang juga dengan begitu mudah Paris melarikan Helena ke kerajaan Troya. Helena terkenal karena kecantikannya, tetapi telah menjadi istri raja Sparta Menelaus - putra Atreus. Dengan modus perselingkuhan, Menelaus mengajak saudaranya Agamemnon raja Mycenae, dan  Agamemnon memimpin seribu lebih armada kapal menyeberangi Laut Aegean ke Asia Kecil – Turki sekarang, dengan alasan menuntut Priam - raja Troya, mengembalikkan Helena. Ekpedisi puluhan ribu pasukan Yunani  dari seluruh wilayah Hellenic, guna mengepung dan menyerang kerajaan Troya yang menghabiskan waktu 10 tahun hanya untuk “membebaskan” Helena. Nyatanya, Menelaus – yang telah menuduh istrinya berselingkuh, tidak menghabisi nyawa Helena saat ditemui di dalam istana Troya, bahkan dibawa pulang ke Sparta untuk kembali menjadi istrinya,.

Peringatannya akan bahaya kuda kayu yang ditarik masuk ke dalam benteng kota Troya, diabaikan para Trojan – pasukan Troya.
Putri Raja Troya, Priamos (Lukisan menurut George Romney). Peringatannya akan bahaya kuda kayu yang ditarik masuk ke dalam benteng kota Troya, diabaikan para Trojan – pasukan Troya.

Lebih dari 3000 tahun lalu kisah kuda troya, kuda kayu yang sesungguhnya adalah kuda rekayasa, hingga kini tetap viral sebagai kata kiasan argumen diplomatis maupun politis. Peristiwa yang sering dijadikan contoh perumpamaan perilaku gaya strategi dan daya taktis tipu-menipu menaklukkan lawan, dan sebaliknya gambaran gegabahnya sasaran – mengabaikan peringatan, sehingga mudah menjadi korban sia-sia akibat kesalahan sendiri. Cara yang juga digunakan di teknologi komputer, sebuah program tipuan bernama Trojan dirancang untuk menembus keamanan sistem komputer sehingga pengguna yang terserang menjalankan program secara sukarela tanpa disadari adalah program berbahaya.


Adu Kuat Mafia Di Blok Masela

Rencana lokasi Logistic Supply Base (LSB) Abadi Field Masela Block  di Petuanan adat Olilit, Kec. Tanimbar Selatan (Pulau Yamdena) Kab. Kep. Tanimbar
Rencana lokasi Logistic Supply Base (LSB) Abadi Field Masela Block
di Petuanan adat Olilit, Kec. Tanimbar Selatan (Pulau Yamdena) Kab. Kep. Tanimbar (Edit; @embun01 /foto; M.Lorulung)

Istilah Kuda Kayu di dunia modern sekarang disebut sebagai kuda tunggangan atau kuda bebab dalam pengertian sebagai perbuatan negatif, sebab dilakukan dengan cara penuh tipu-muslihat. Menggunakan cara perantaraan untuk menjalankan sesuatu niat atau maksud, guna mencapai tujuan, ketika terhalang sesuatu atau tidak dapat dilakukan langsung. Memanfaatkan pihak tertentu, bisa dari kalangan sendiri, pihak lain atau pihak tertuju. Perantaraan – melalui, berfungsi hanya jembatan – bisa alat atau orang, yang memudahkan tercapai yang diinginkan. Dalam istilah lain disebut mendompleng, agar mencapai suatu tujuan dan memuluskan berhasilnya suatu kepentingan. Secara metaforis, istilah kuda troya mengacu kepada tipu daya yang membuat sasaran tipu daya mengundang musuh ke tempat yang seharusnya terlindungi.

Apa hubungannya kisah konflik perang Troya dengan “carut-marut” proyek energi gas alam cair – LNG, “raksasa” Lapangan Abadi Blok Masela. Tentu tidak ada hubungan langsung. Kecuali, memaknai kisahnya – secara tidak langsung,  guna menerjemah berbagai gejala dari peristiwa-peristiwa menarik yang muncul ketika mendalami sejarah perjalanan sejak persetujuan dimulainya eksplorasi, hingga menjelang eksploitasi saat ini, serta untuk membacanya di masa depan.

Proyek Blok Masela sesungguhnya selain untuk memenuhi kebutuhan energi, adalah kepentingan bisnis – murni masalah ekonomi, yang oleh negara Indonesia dikuasakan penglolaannya 100%(seratus persen) kepada pihak asing, yaitu Inpex Masela Ltd  - (Inpex Corporation, Jepang) dan Shell Plc - (Royal Dutch Sheel, Belanda – Inggris). Sekalipun menggunakan sistem bagi hasil produksi – keuntungan penjualan, tetap saja ada ruang – gelap, bermain bagi para pemain tertentu – para “Mafia” Minyak dan gas bumi(Migas), karena pemerintah – melalui pengawasan SKK Migas, hanya mendapat laporan akhir di ujung setiap tahap proses oleh Kontraktor PSCProduction Sharing Cotract. Dan mafia, menjadi mahluk tertuduh praktek di ruang gelap apabila ada yang tidak beres. Anehnya, sering disebut tetapi tidak pernah nampak wujudnya, sepertinya hanya bisa diraba.

Mafia sebagai istilah umum dalam praktek – negatif, dunia bisnis, terjadi melalui praktek “perselingkuhan”- direkayasa atau disengaja secara sadar, sebagai modus pelaku ekonomi kapitalis dan neo liberalis – mafia ekonomi pasar bebas, guna meraup untung sebesar-besarnya. Kekuatan modal dijadikan kuda troya yang dengan mudah disambut pemangku kebijakan – pemegang kekuasaan negara maupun daerah – eksekutif maupun legislatif, bahkan yudikatif. Bisa terjadi karena masing-masing pihak saling butuh memenuhi kepentingannya. Ada dimand – permintaan, tentu akan ada suplay - pemasok, dan ada harga berlaku sesuai kebutuhan yang disepakati. Pelaku bisa beragam dan melibatkan banyak pihak dalam memuluskan  lintasan menuju kepentingan di tujuan akhir.

Melalui kekuasaan – pemerintah, adalah cara paling efektif. Apabila berhasil, maka atas nama kekuasaan, sesuatu yang disepakati disamarkan dan disusupkan melalui regulasi dan praktek kebijakan, sebagai cara paling efektif dan tidak mudah diketahui rakyat umumnya. Berbagai kasus yang diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK–RI)) yang melibatkan pejabat publik, sama penggunaan teori dan rumus – memanfaatkan jabatan, dalam praktek kisah kejahatannya. Bermula dengan selingkuhan – kolusi dan nepotsme, antara dua atau lebih pihak, maka lahir kejahatan korupsi.

Peristiwa paling menarik perhatian, adalah adu kuat kubu opsi Offshore vs opsi Onshore; Seteru Konstitusi vs Neolib Di Blok Masela. Muncul menjadi wacana publik akibat adu argumen terbuka Rizal Ramli (RR) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (2015-2016) yang bertahan pada opsi Onshore. Adu kuat dengan berbagai pihak pendukung opsi Offshore,  karena Menko RR rakyat jadi tahu soal Blok Masela.

Perseteruan berakhir ketika Presiden Indonesia Joko Widodo memutuskan pilihan pada opsi Onshore Kilang Blok Masela dibangun di darat - daratan Maluku. Keputusan bijak dan tentu saja konstitusional. Hal itu telah memutus hubungan perselingkuhan pihak yang sudah bersusah payah berniat – para penunggang kuda troya, menggarap untung besar melalui opsi terapung Offshore floting LNG. Dengan kilang LNG terapung yang berada di tengah laut – lepas, gas disedot, dipisahkan yang tidak perlu lalu “dilarikan” untuk diproses ditempat lain, selanjutnya dijual. Maluku bakal tau apa, berapa kaki kubik gas yang disedot, diproses, dan dijual, dari hasil kandungan abadi jutaan tahun rahim “Ina Marsela” bumi Alifuru - Maluku.

Peristiwa menarik muncul melalui berita Majalah Tempo edisi cetak 18-24 November 2019, jadi cover-nya, tentang kehadiran salah satu Taipan bermodal dan berjaringan usaha besar, di Tual - kabupaten Maluku Tenggara. Kehadirannya – bersama generasi kedua penerus usahanya, guna menawarkan lokasi dermaga kepunyaan salah satu anak perusahaannya di bidang perikanan yang sudah berhenti beroperasi, untuk digunakan pihak kontraktor proyek Blok Masela sebagai Logistic Supply Base(LSB) - pangkalan pemasok logistik.  Sebelum dihebohkan dengan kehadiran sang Taipan, dermaga dimaksud lebih dulu sudah disuarakan Gubernur Maluku Murad Ismail.

LSB sangat diperlukan sebagai fasilitas vital penunjang pekerjaan proyek Blok Masela, baik di laut maupun di darat - Offshore Onshore Logistics, dan dibutuhkan selama proyek Blok Masela beroperasi. Sebelum menjadi heboh – oleh Tempo, rencana pembangunan LSB sudah dimulai sejak tahun 2015, yang diperkirakan habiskan dana belanja modal US$0,4 Milyar.  Dimulai dengan pembebasan tanah lokasi yang  berada di wilayah petuanan adat Negeri Olilit, kecamatan Tanimbar Selatan – Pulau Yamdena. Di lokasi ini - arah barat daya kota Saumlaki, berjarak 115 kilometer dari titik lokasi Blok Masela di laut Arafuru dan sangat dekat dengan lokasi kilang di darat.

Masyarakat adat pemegang hak tanah – 11,5 hektar, sebanyak 52 orang rela melepaskan tanah miliknya, kecuali 30 hektar yang sudah lebih dulu dikuasai pengusaha – sepertinya masih satu keluarga dan bukan masyarakat adat setempat, dan sebagian tanah malah sudah bersertifikat. Muncul kabar warga MTB tolak jual lahan ke Inpex, nyatanya hanya oleh satu keluarga yang berjumlah 10 orang – bukan pribumi, sebagai pemilik 30 hektar dimaksud. Pernyataan keberatan – kata “manis” dari penolakan, secara tertulis mereka sampaikan kepada pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar(d/h MTB - Maluku Tenggara Barat), bahwa tanah tersebut tidak dijual dan akan dibangun pangkalan logistik untuk disewakan. Mereka tidak sendiri, akan mengajak serta – trik kuda troya - juga, perusahaan lain dari Jakarta.

Bandingkan dengan dermaga yang ditawarkan sang Taipan(konglomerat) – siap pakai, di Tual yang berjarak dengan Blok Masela lebih dari 400 kilometer. Timbul lagi polemik baru, sebab dikuatirkan bisa membengkakkan biaya proyek yang sebelumnya oleh pemerintah – melibatkan juga KPK, telah disetujui proposal revisi pengembangan Blok Masela -  Plan of Development (PoD), dan sudah diserahkan kepada kontraktor. KPK dilibatkan untuk mencegah potensi korupsi dalam pengembangan blok yang memiliki investasi besar dengan sistem PSC, yang berlaku Cost Recovery ekplorasi.

Contoh miris yang terkuak ke publik, menggambarkan betapa berkuasanya kekuatan modal – kapitalis, mengalahkan kepentingan umum dan bahkan membungkam kekuasaan pemerintah. Cara tega kapitalis – mafia juga, meraih untung sepihak dengan mengorbankan pihak lain, walaupun itu publik.

Seperti itu, jangan sampai terus marak dan makin masif terjadi, karena dapat memupus harapan besar akan dampak positif berganda - multiplier effect,  yang jadi alasan Onshor LNG Blok Masela. Harus dibuktikan Onshor bukan keputusan keliru dan multiplier effect hanya sebatas “iming-iming”, tetapi keputusan benar dan akan hadir peluang yang melibatkan banyak tenaga kerja melalui berbagai bidang usaha hilir dan berbagai efek ekonomi lain.  Saat ini belum ada yang dimaksud - multiplier effect, seperti akan dibangun pabrik pupuk dan petrokimia, selain kesibukan kontraktor dan pemerintah sedang menyiapkan lokasi rencana pembangunan kilang LNG. Kecuali pebisnis kapitalis liberal dan mafia – termasuk calo, yang berkepentingan, yang makin sibuk membangun dan memikirkan cara bagaimana bisnisnya lancar, berkembang, dan untung sebesar-besarnya, dengan trik kuda troya agar berhasil masuk ke dalam pekerjaan raksasa proyek Blok Masela.

Bersambung ke bagian kedua Participating Interest 5 Blok Masela Sebagai Kuda Troya

                                                                                                                                                       Kampung Bulak, 20 Desember 2019.

---------------------------------------------------
Link sumber rujukan, tulisan berwarna

No comments:

Post a Comment